Pangeran Valentino

(Cerpen Atel Lewokeda, anggota KMKL, arung sastra Ledalero)

GERIMIS baru menyentuh wajah bumi setelah sebuah kemarau panjang. Senja itu Valen diingatkan oleh sebuah petikan puisi yang ditulis oleh seorang sastrawan yang lahir dari bukit matahari bersandar, bahwa ketika daun jatuh rindu bumi berakhir.

Valen terpenjara dalam kesendirian dengan petikan singkat ini. Valen sendiri merenung dan menemukan bahwa akan ada satu kebahagian yang tak terlukiskan ketika sebuah kerinduan terpenuhi. Segala tanya akan mendapatkan jawaban. Tatapan asa yang kabur menemui titik terang penantian.

Fatamorgana harapan menemukan tempat untuk membangun kekuatan. Valen akhirnya menyadari bahwa setiap orang baru akan merindukan orang yang dikasihi kalau ada jarak yang memisahkan mereka.

Dan, untuk bisa merindukan orang yang kita cintai harus ada kenyataan berpisah.Valen menghabiskan kopi panas dengan satu petikan mini yang dipahatnya sendiri pada dinding hati bahwa tiap kebersamaan adalah langkah awal untuk berpisah dan tiap perpisahan adalah pintu untuk bisa bertemu kembali.

Orang hanya bisa bertemu kembali kalau pernah berpisah. Kesibukan menyelesaikan studi pasca sarjana membuat Valen lupa memberi waktu untuk mencintai lagi dan menemukan lebih dalam makna dari sebuah kerinduan ini.

***
"Empat belas Februari nanti genap 25 tahun usiaku.., kurindukan kehadiranmu semua untuk berbahagia bersamaku". Tulisan singkat ini ada pada halaman depan sebuah undangan mini yang disisipkan ke dalam kotak surat di depan kamar Valen. Valen sendiri tidak tahu undangan itu dihantar oleh sapa. Tapi yang ia tahu pasti adalah identitas pengirim dan juga alamat yang dituju. Kebingungannya hilang ketika nada dering di HP nya berdering. Tampak ada nomor baru yang memanggil. Tanpa percakapan yang panjang, suara dari ujung sana langsung memburu Valen dengan satu pertanyaan singkat; "Kamu akan hadirkan pada hari ulang tahunku nanti? Sebelum Valen sendiri memberi jawaban yang pasti, suara yang sama langsung menyambar dengan sebuah ucapan singkat; "Terima kasih, aku tungguh di hari ulang tahunku nanti, malam jam tujuh.

***
Ruangan acara ulang tahun disulap dengan sangat asri. Dari semua undangan yang hadir Valen datang bersama undangan yang lain sebagai rombongan terakhir sebelum acara syukuran ulang tahun dimulai. Sebagai rombongan yang terakhir Valen mendapat tempat yang paling belakang.

Dalam hati ia bergumam; rupanya nasihat bijak yang terakhir menjadi yang terdepan tidak berlaku. Pintu ruangan lantai dua rumah megah itu ditutup dan semua undangan yang hadir serentak berdiri menyambut kedatangan sang yubilaris.

"Aleksandra Gracia Trisna da Lopes", dekorasi di layar dinding menampilkan tulisan ini dengan diikuti kalimat syukuran atas hari ulang tahun yang kedua puluh lima. Valen tak percaya menyaksikan tampilan yang sangat mempesonakan tiap pandangan itu. Sang putri yang berbahagia berdiri anggun seperti bidadari. Semua mata yang mampu menangkap keindahan yang terberi ini pasti akan mengamini bahwa karya Tuhan yang satu ini sangat sempurna.

Suatu kesempatan yang sangat pasti bahwa tiap perayaan ulang tahun, yang berbahagia diberikan kesempatan untuk menyampaikan apa saja yang dialami, dirasakan termasuk juga mengungkapkan isi hatinya. Semua undangan diminta kesediaan untuk memberi perhatian kepada sang yubilaris yang akan berbicara.

Dengan wajah yang anggun, Trisna berjalan ke panggung utama. Gaun panjang warna putih yang dikenakannya sangat serasi dengan postur tubuhnya yang sangat mengagumkan. Pada tarikan nafas panjang yang terakhir Trisna mulai mengungkapkan isi hatinya.

"Terima kasih buatmu semua yang telah rela menghadiri syukuran hari ulang tahunku, juga terima kasih untuk semua doa dan ucapan selamatnya. Hari ini genap dua puluh lima tahun usiaku dan juga genap lima tahun aku merayakan hari ulang tahun tanpa orang yang paling aku sayangi. Sejujurnya aku harus mengakui bahwa tidak pernah ada rasa sayang yang sangat dalam yang pernah aku miliki untuk orang lain seperti rasa sayang yang kumiliki untuknya. Dalam tiap syukuran ulang tahunku sejak lima tahun yang lalu aku selalu berharap semoga dia bisa hadir lagi pada saat aku merayakan hari ulang tahunku seperti ini".

Butiran bening kecil mulai mangairi pupil mungil Trisna. Sesekali ia mengeringkan riak kecil yang meluap dari matanya. "Dia cinta pertamaku. Dia adalah orang yang mengajari aku tentang artinya kesetiaan, pentingnya sebuah keterbukaan dan betapa dasyatnya kekuatan dari saling percaya", Trisna melanjutkan.

Kepergiannya karena keegoisan saya yang terlalu cepat menaruh cemburu bahkan menuduhnya bermain hati. Lima tahun selepas kepergiaannya, aku merasakan bahwa ada separuh jiwaku telah pergi. Di kota ini kami pernah bersama menulis sebuah kisah namun kisah kami harus berakhir karena kelemahan manusiawi seorang Trisna. Malam itu purnama bersembunyi di sela daun akasia yang berayun pelan karena sapaan bayu. Pada hari kami berpisah ia menyerahkan tulisan mini ini untuk saya.

"Aku harus kuat untuk menerima kenyataan ini. Mata memang kelihatan tersenyum ketika kata-katamu tertangkap oleh daun telingaku. Tapi hati menangis dalam perih untuk sebuah perasaan. Aku tidak pernah menyesal untuk kesetiaan yang kubangun. Aku banyak belajar dari semuanya ini. Ternyata tidak cukup upaya membangun sebuah cinta hanya dengan kesetiaan, keterbukaan dan saling percaya. Sekarang aku tahu, dasar dimana aku berpijak ini ternyata belum terlalu kuat. Keputusanmu mengajarkan aku untuk berani berkorban termasuk merelakan orang yang sangat kita cintai membawa cinta kita pergi.

Mungkin tidak cukup pengertian, perhatian dan kesetiaan diberikan olehku. Aku hanya sesalkan ketidakjujuranmu. Aku akan lebih bahagia kalau engkau sendiri yang menyampaikan kepadaku.

Terus terang selama ini aku korbankan segala rasa. Aku membangun tembok dalam hati untuk terus bertahan dalam deraan rindu. Terima kasih atas keputusanmu yang lahir dari satu prasangkah dangkal dan opini dinih untuk mendeklamasikan kecemburuan. Dengan identitas diriku sambil mempertimbangkan kelayakan diri, aku memang tidak layak untuk orang seindah kamu.

Aku berdoa semoga engkau selalu bahagia dengan keputusanmu sekarang. Tapi aku hanya ingin kamu tahu sampai seumur hidup ini aku tetap mencintai dirimu, karena aku tidak pernah melakukan apa yang menjadi kecemburuanmu. Hanya satu pintaku, temani aku dengan tiap nafas doamu, walau aku tahu itu sulit. Yang selalu mencintaimu, Mario Valentino Parera.

Trisna berhenti sejenak sebelum menutup kembali lembaran yang Valen tulis untuknya lima tahun silam. Valen masih tidak percaya ternyata Trisna masih menyimpan dengan lembut suara yang tertuang dalam goresan tangannya itu. Ia berusaha untuk tidak memberikan tanggapan tapi tetap terpanah memandang Trisna. Tak satu pun orang yang tahu kalau malam ini Valen juga hadir dalam acara ulang tahun Trisna.

"Seminggu yang lalu aku mendapatkan nomor telponnya dari salah seorang teman akrab kami waktu masih sama-sama duduk di bangku SMA. Aku tidak tahu seandainya malam ini ia ada di sini, apakah dia mampu mendengar curahan hati ini", lanjut Trisna.

Aku merasa bahwa lukisan hati mini ini ia tulis dengan hati berdarah. Ia coret dengan tangan polos yang merangkul jiwanya yang terluka. Ia memahat ini dengan nurani dingin yang menantikan kehangatan. Dari temannya aku membaca sebuah kisah bahwa seorang lelaki juga merasa sakit kalau dikecewakan. Seorang lelaki juga bisa setia.

Aku hanya ingin bertemu dengan dia lagi suatu saat dan menyampaikan bahwa dia mempunyai kebebasan untuk mencintai lagi seorang hawa. Dan, kalau mungkin aku ingin mendengar langsung dari ucapannya kata maaf agar aku mampu tidur lebih lelap lagi di malam-malamku selanjutnya.

Seandainya diizinkan, aku berharap bisa bermimpi lagi bersamanya suatu saat nanti melewati malam dengan langit sepi tanpa bintang. Valen meletakan gelas minuman ke meja di samping tempat ia berdiri. Ada tekat untuk mengatakan bahwa ia ada di sini, Trisna.

Dengan senduh dan lirik penuh harap Trisna melanjutkan petikan mazmur kalbunya, "Aku kehilangan orang yang sangat berarti. Sampai sekarang sedikit pun tidak ada niat untuk mencari wajah lain karena aku yakin, aku masih punya kesempatan untuk kedua kalinya. Saat dimana kami tersenyum bersama lagi dan menikmati senja bersama di Tanjung ketika matahari mulai terbenam. Merasakan hangatnya sentuhan suhu kota kamboja ketika malam datang memeluk. Menyanyikan bersama tentang kota Maumere manise sambil menghabiskan malam di tengah keramaian Glora Samador. Dan, sampai sekarang aku makan terus berharap untuk bisa melihat wajahnya kembali dari dekat, seperti hari-hari yang pernah terlewatkan."

Trisna tidak sanggup melanjutkan litani batinnya. Air matanya menjadi kata terakhir. Semua undangan merasa seperti pengalaman sendiri ketika Trisna mengungkapkan kisah manis bersama dengan orang yang sangat ia sayangi. "Air mata hanya akan menghalangi setiap orang yang ingin memandang sedikit lebih jauh ke depan", sebuah suara merduh memecah keheningan ruangan.

Mata semua orang coba mencari dan menjelajahi sumber suara merdu yang ada. Dengan langkah sedikit gugup Valen melangkahkan kakinya menuju tempat Trisna yang sedang mengeringkan sisa tetesan kecil di kedua bola matanya.

"Malam ini segala kerinduanmu mungkin akan terjawab. Aku tidak tahu, aku minta maaf mungkin kehadiranku malam ini bukan menjadi hadiah ulang tahun terindah buatmu, Tris. Juga bukan sebuah sutra yang bisa mengeringkan tiap tetes air matamu ketika rasa bersalah datang menderah dirimu. Malam ini tak ada kata maaf yang diucapkan secara langsung, tapi semoga engkau sanggup merasakan bahwa kehadiranku ini bisa menjagi suatu permohonan maaf dariku dan juga lantunan maaf untukmu.

Aku sendiri juga tidak ingin malam-malammu terganggu dan coba membuat malam-malammu menjadi lebih indah lagi. Dan kalau diijinkan lagi aku akan buktikan senja di Tanjung bisa terulang lagi. Melewati udara malam kota bersama bisa terjadi lagi. Dan kita akan kembali saling memandang lagi dari jarak yang sangat dekat di bawa purnama yang tersenyum cemburu. Valen menggenggam erat tangan Trisna sambil mengucapkan selamat ulang tahun.

Semua undangan yang sempat hadir serentak memberikan tepukan tangan dan teriakan, "cium pipihnya, cium pipihnya, cium pipihnya"! Trisna memandang tajam wajah Valen yang sekarang berdiri di hadapannya. Desakan dan teriakan dari semua yang hadir semakin menjadi-jadi. Dengan mata sedikit gugup, Valen menunduk dan mencium kening Trisna. Rangkulan Trisna yang begitu erat memberikan sebuah permintaan agar Valen tidak akan pergi lagi.

Ino, sapa Tris dengan lembut sambil membiarkan wajahnya hangat dalam dekapan Ino. Tris sudah lima tahun tidak menyapa Valen dengan Ino sebagai sapaan manisnya. Tris, Ino mulai membuka kegembiraan mereka. "Di tempat ini beberapa tahun silam kita pernah sekata untuk bersama. Apakah kesempatan itu bisa terulang lagi?" tanya Ino dengan tenang. Tris membiarkan wajahnya rebah lebih dalam lagi ke rangkulan Ino.

Purnama baru menyapa langit malam. Sementara bintang-bintang dari tadi sudah memberikan senyumnya yang terindah untuk bumi. "Biarkan purnama malam ini mencatat pada dinding langitnya bahwa permaisuri telah menemukan kembali pangerannya di hari ulang tahunnya".


Senja di Jl. Souverdi,
Nice Place, Maumere




Pos Kupang Minggu 28 Februari 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda