POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
SIMON SIGA dan MAGDALENA BUNGA


KESEDERHANAAN merupakan motto pasangan Simon Siga dan Magdalena Bunga. Dan, hidup dalam kesederhananaan ini juga diturunkan pada anak-anaknya.

Meski hanya sebagai petugas cleaning service (tukang sapu dan pesuruh) di Kampus Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, pria ini terus mendorong anak-anaknya untuk sukses dalam pendidikan untuk mencapai cita-cita. Alahasil, niat baik tersebut tercapai. Beberapa anaknya sudah bisa mandiri.

Pasangan ini memiliki tiga anak, yakni Moditus Siga, kelahiran tahun 1975, pernah mengenyam pendidikan di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, namun akhirnya keluar dan mengikuti kursus komputer, saat ini sudah bekerja sebagai karyawan di Ramayana. Putri keduanya, Maria Sengo Siga, kelahiran tahun 1985, menamatkan pendidikan di Jurusan Studi Pembangunan-Fakultas Ekonomi Unwira-Kupang, saat ini staf di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Propinsi NTT.

Anak ketiga, Emiliani Siga, lahir di Kupang, Maret 1988, terpaksa harus mengikuti program Paket C saat ini karena memiliki riwayat penyakit yang tak kunjung sembuh.
Kepada Pos Kupang di Kampus Unwira, Rabu (3/3/2010), pria yang lahir di Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, tahun 1951 ini mengatakan, walaupun dirinya tidak berpendidikan dan hanya sebagai tukang sapu di Unwira Kupang, tetapi ia tidak ingin meninggalkan cerita yang tidak baik kepada anak-anaknya.

Sehingga, walaupun hidup dalam keterbatasan dan istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga (IRT), ia tetap berusaha untuk menyekolahkan anak-anaknya agar bisa hidup lebih baik dari dirinya saat ini.

"Saya ini tidak berpendidikan, datang melarat di Kupang tahun 1970-an. Sampai akhirnya saya bekerja di Unwira sejak tahun 1988. Saya sudah pensiun, tetapi mereka dari Program Pasca Sarjana Unwira memanggil saya kembali untuk membantu mereka. Mau bagaimana lagi, kalau tidak bekerja, saya adalah tulang punggung keluarga," kata pria yang sering disapa Om Simon oleh semua karyawan di Unwira ini.

Ia mengatakan, selain anak-anaknya dia juga menampung anak- anak dari kampung yang ingin mengadu nasib di Kota Kupang dan semua anak tersebut sudah berhasil, menjadi polisi, tentara, dosen dan sebagainya. "Saya hidup susah, tetapi saya ingin berbuat sesuatu yang terbaik bagi anak dan keluarganya serta siapapun yang menginginkan bantuan dan uluran tanganku," katanya.

Menurutnya, salah satu prinsip yang selalu disampaikan kepada anak-anaknya adalah ketekunan bekerja dan hidup sederhana. Dengan prinsip inilah yang membuatnya bisa mendidik anak- anaknya dengan baik.

Baginya, pendidikan anak adalah nomor satu dan ia berupaya apapun yang terjadi anak-anaknya harus sekolah. Ia juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih mana yang terbaik bagi masa depan mereka. Namuan demikian, kebebasan yang diberikan tidak sebebas-bebasnya, tetapi anak- anak selalu diarahkan agar mencapai masa depan yang lebih baik.

"Biar saya kuli, tetapi anak-anak saya harus sekolah dan makan minum setiap hari di rumah harus ada. Karena, makan minum itu penting sekali bagi mereka untuk mensuport pertumbuhan mereka. Saya senang karena di hari tua seperti ini anak saya sudah dua orang yang kerja. Anak saya yang bungsu saya tidak terlalu berharap banyak karena kasihan dia sakit-sakitan," keluhnya.

Hal lain yang sering diajarkan kepada anak-anaknya adalah kejujuran dan kerja keras, karena hanya dengan kejujuran dan kerja keras yang membuatnya selalu dipercaya oleh siapa saja di Unwira, baik karyawan, dosen, mahasiswa, maupun pejabat di lingkup Unwira. "Saya tidak pernah gengsi dan bekarja apa saja, selain itu saya selalu menjaga kepercayaan yang diberikan kepada saya. Inilah yang saya tunjukan kepada anak-anak saya," katanya. (nia)

Pos Kupang Minggu 7 Maret 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda