POS KUPANG/ALFRED DAMA
SMAN 4 KUPANG--Inilah SMAN 4 Kupang di Jalan Adi Sutjipto-Penfui, Kupang.




MENGENAL dan mencintai lingkungan sudah sepatutnya dimulai dari usai sekolah. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Inilah yang dilakukan oleh Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Kupang.

Para siswa di sekolah ini diajarkan mencintai lingkungan saat usia remaja dengan cara memperkenalkan budaya cinta lingkungan. Metode yang dilakukan sekolah adalah memasukan materi tentang lingkungan pada kurikulum sekolah ini.

SMAN 4 Kupang akan mengembangkan sekolah tersebut sebagai sekolah Adiwiyata. Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.

Kepala SMAN 4 Kupang, Dra. Rahel Tallo, yang didampingi salah satu stafnya, Drs. JP Charles Nggolut, kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (24/2/2010), mengatakan, Program ini dicanangkan untuk mendorong dan membantuk sekolah-sekolah agar turut melaksanakan upaya pemerintah menuju kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Rahel, SMA Negeri 4 dalam dua tahun terakhir telah memasukan materi lingkungan hidup ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) secara terintegrasi.

"Kami berpandangan sudah seharusnya di lembaga pendidikan tidak hanya mengedepankan kecerdasan intelektual, tetapi juga emosional dan kreativitas, yakni mampu menciptakan terobosan dalam segala aspek. Bagaimana siswa mampu memanfaatkan sumber daya alam yang ada," katanya.

Menurut dia, pengetahuan tentang lingkungan yang memadai sangat diperlukan semua komponen sekolah dan masyarakat dalam upaya penyelamatan lingkungan alam. Di sekolah ini sudah ada program mewajibkan siswa, guru, pegawai untuk menanam pohon di lingkungan sekolah.

Kelola Sampah Organik
Pelajaran lingkungan tidak sekedar teori saja, para siswa di sekolah ini juga diajak untuk mencintai lingkungan dengan langsung menanam pohon. Saat ini SMAN 4 Kupang sudah menanam 350 anakan pohon di lingkungan sekolah. Jenis anakan pohon yang ditanam, yakni mahoni, mangga, sukun, apotik sehat (lengkuas, sere, cabai dan pepaya), beringin, angsano dan jati.

Anakan pohon tersebut, selain merupakan swadaya sekolah juga bantuan dari Pemerintah Kota Kup[ang dan Badan lingkungan Hidup (BLH) Propinsi NTT.

Bukan itu saja, para siswa juga diperkenalkan dengan proses mendaur ulang sampah. Para siswa di sekolah ini diajarkan untuk mengelola sampah-sampah organik dan anorganik dengan memanfaatkan mesin pencacah sampah yang ada.

Untuk itu, dalam minggu ini dilakukan beberapa kegiatan antara lain seminar tentang lingkungan hidup, pelatihan musik sasando dan akan disiarkan oleh televisi NHK Jepang, penghijaun di empat kelurahan yakni Oesapa Barat, Tengah dan Timur serta Lasiana.
Agar selaras, pelajaran lingkungan diajarkan dengan budaya khususnya kesenian.

Salah satunya tentang musik sasando. Musik sasando merupakan salah satu program muatan lokal yang masuk dalam KTSP sekolah ini. Hal ini dilakukan karena sasando merupakan alat musik yang indah dan sudah menjadi ikon nasional, sehingga masyarakat NTT khusunya siswa harus dibiasakan untuk mengembangkan warisan nenek moyang ini. Sasando yang terbuat dari daun lontar selain untuk musik juga dikembangkan untuk bidang ekonomi lainya tetapi juga untuk pelestarian lingkungan. (nia)



26 Juta Hektar Hutan Dijarah

TOTAL hutan di Indonesia yang dijarah hingga saat ini sudah sekitar 26 juta hektar atau setara 21 persen dari total luasan hutan di dalam negeri. Kawasan ini sudah tidak memiliki tegakan pohon lagi karena sudah sangat rusak.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Selasa (16/2/2010) usai menghadiri Rapat Koordinasi tentang Tata Ruang Nasional yang dipimpin oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurut Zulkifli, kawasan hutan itu mencakup 70 persen dari wilayah Indonesia yang mencapai 180 juta hektar. Dari seluruh wilayah hutan itu, 23 persen atau 43 juta hektar di antaranya masih berbentuk hutan primer yang masih bagus kondisinya.

Adapun, 25 persen lainnya atau 48 juta hektar dalam kondisi separuh bagus separuh rusak karena bekas area HPH (hak penguasaan hutan). Sementara sekitar 21 persen lainnya sudah dijarah dan rusak tidak ada hutannya lagi. "Kami menegaskan, seluruh hutan primer tidak bisa diganggu. Itu termasuk hutan konservasi, dan hutan lindung. Konservasi itu penting buat monyet, harimau dan hewan langka . Hutan lindung juga penting untuk kawasan serapan air," ungkapnya.

Atas dasar itu, Kementerian Kehutanan mengusulkan agar wilayah hutan yang ingin dikonversi untuk kepentingan lain adalah hutan yang sudah rusak tadi. Sebagian bisa digunakan untuk lahan tanaman pangan.

"Namun, pengalihan kawasan ini semua sangat tergantung pada tata ruang. Nah tata ruang inilah yang harus disusun oleh tim terpadu nanti. Pemerintah Daerah harus membuat peraturan daerah dulu. Lalu diusulkan ke tim terpadu. Kalau semua sudah setuju, buat amdalnya (analisis dampak lingkungan)," ujar Zulkifli. (kompas.com)



Masyarakat NTT Belum
Paham Fungsi Hutan

SEBAGIAN besar masyarakat Nusa Tenggara Timur belum paham mengenai fungsi hutan sesungguhnya sehingga melakukan perusakan di berbagai tempat. Padahal, kondisi hutan di daerah itu sudah sangat kritis dan terancam menjadi padang gurun.

Fungsi hutan sesungguhnya harus dipahami berdasarkan peruntukannya. Hutan produksi dan hutan lindung berfungsi untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan, mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Konsultan Kyeema Fondation Johan Kieft, dalam seminar tentang pelestarian hutan Mutis-Timau di Kupang beberapa waktu lalu mengatakan, hutan konservasi meliputi kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) berfungsi untuk mengawetkan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, dan penyanggah kehidupan.

Kawasan pelestarian alam berupa taman wisata alam dan taman buru, keduanya berfungsi untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati, dan ekosistemnya. Fungsi hutan seperti itu belum dipahami warga sehingga hutan selalu dibakar, ditebang, dan dirusak. Kondisi ini tidak menguntungkan masyarakat sendiri.

Kawasan cagar alam Mutis Timau merupakan paru-paru kehidupan bagi masyarakat dan lingkungan di Timor khususnya, dan dunia umumnya. Seminar itu atas kerja sama Yayasan Peduli Sesama, Yayasan Timor Membangun, dan Kyeema Fondation dengan AusAid. Seminar itu untuk menghimpun informasi dari masyarakat dalam rangka persiapan penghijauan dan reboisasi musim hujan 2009/2010. (kompas.com)


Pos Kupang Minggu 28 Februari 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda