Valentino Di Valentine

Cerpen Yohanes F. H. Maget

"Bungaàaku tahu belum ada yang memetikmu
karena itu ingin sekali aku memtikmu
Dan kutakhtakan di taman hatiku
Sayangàaku terlalu takut untuk itu
Mungkinàaku memang tak pantas memetikmu
Karena..aku akan pergi jauh ke alam tak terjangkau..."
Dari: yang mengagumimu..

Ayumi nama gadis itu. Nama ini mirip nama orang Jepang. Tapi..akh, dia bukan orang Jepang. Ia tertegun memandangi sepucuk surat tanpa pengirim yang untuk kesekian kalinya didapatinya di atas meja ini. Ia tak pernah tahu orang yang mengiriminya surat-surat romantis itu.



Ayumi belum sekalipun bertanya pada teman-temannya ataupun kepada Adieth û sosok yang ada di hatinya, sejak dia menerima surat-surat itu dua bulan yang lalu. Selama dua bulan ini hampir setiap hari Ayumi menerima surat kaleng penuh ungkapan romantis yang kadang membuatnya tersenyum bahagia.

Sejak pertama kali menerima surat , Ayumi selalu berusaha datang ke sekolah lebih awal supaya tak ada orang yang tahu kalau dia menerima surat-surat romantis. Ia sering bertanya dalam hatinya, kapan pengirim surat itu datang? Setiap dia tiba di sekolah, dia tak pernah bisa menjumpai orang itu. Hari iniàhari ini dia harus tahu siapa orang itu.

"Hai..Ayumi," sapa seorang sahabatnya. Tita. Ya, Tita sahabat dekatnya yang selalu setia menemaninya. Tapi, Tita pun belum tahu soal surat-surat romantis itu. Ayumi yang terkejut mendengar sapaan Tita itu tak sempat lagi menyembunyikan surat yang ada di tangannya.

Tita tersenyum. Mendekatinya lalu merangkulnya,ö happy valentine, Ay.."

"Happy valentine to.." balas Ayumi.

" Surat dari Adieth, ya?" tanya Tita, "Hari valentine begini memang kalian yang sudah punya pasangan pasti bahagia."

Mereka tak bisa melanjutkan percakapan mereka karena teman-temannya mulai berdatangan. Mereka saling mengucapkan happy valentine. Ada yang saling bertukar kado tetapi ada yang hanya saling bertukar ciuman pipi dan keningàtak ada yang berani sampai ciuman bibir.

"Ti..kita ke kantin sebentar!" ajak Ayumi, "Aku ingin bicarakan sesuatu dengan kamu."

"Tapi.." Tita tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Ayumi sudah menarik tangannya. Mereka melangkah tergesa memasuki kantin dan mengambil tempat agak ke pojokàsupaya tak terganggu anak-anak lain yang sedang bersenda gurau. Maklumlahàvalentine day.

" Ada apa, Ay? Sepertinya penting sekali!" Tita tak sabar ingin tahu, ketika mereka sudah duduk di tempat yang mereka pilih.

"Kamu mau tahu surat ini kan?" tanya Ayumi.

"Ah..tak perlu. Itu kan surat dari Adieth..."

"Bukan. Ini bukan dari Adieth," Ayumi menyodorkan surat itu pada Tita yang langsung serius membacanya.

Hening.

"Siapa penulisnya?" tanya Tita.

"Mana aku tahu. Kalau aku tahu pasti aku tak akan menceritakannya ke kamu."

"Lalu..."

"Begini, Ta. Aku ingin kamu membantuku mencari tahu siapa pengirim surat ini. Aku muak diperlakukan seperti ini. Masa sih masih ada laki-laki yang penakut seperti ini. Hanya berani surat-suratan."

Hening.

"Jangan-jangan ini idenya Adieth?" Tita mencoba menarik kesimpulan," sekarang kan valentine. Mungkin ini kejutan dari dia..."

"Itu tidak mungkin karena surat seperti ini aku terima hampir setiap hari sejak dua bulan yang lalu. Aku juga tahu, Adieth tak terlalu suka mengungkapkan perasaannya lewat surat Dia..."

"Kalau menurutku, tetap Adieth. Mungkin dia hanya mau melakukan sesuatu yang berbeda."

Hening.

"Coba kamu baca dulu bagian awal surat ini,ö ujar Ayumi perlahan,ö si penulis belum tahu kalau aku sudah punya kekasih. Dia bilang aku bunga yang belum dipetik."

"Iya juga, ya...." ujar Tita beberapa saat kemudian. Ia mengangguk perlahan.

"Lambat loading sih..." lalu keduanya tertawa keras. Mereka lalu memesan minuman ringan.

"Kamu mau kan membantuku?"

Tita belum sempat menjawab ketika Adieth muncul.

"Happy valentine, sayang!" ujar Adieth lalu langsung mengecup lembut kening Ayumi. Ia lalu berjabatan tangan (saja) dengan Tita.

"Akuàaku permisi," ujar Tita hendak meninggalkan mereka.

"Jangan, Ta. Aku ingin bicarakan satu hal dengan kalian berdua," Adieth menahan Tita yang hendak pergi. Dia lalu duduk di salah satu kursi yang adaàtepat di samping Ayumi.

"Maksud kamu?" tanya Tita yang merasa tak enak berada dekat dengan pasangan ini.

"Ta, apa kamu benar-benar mencintai Valentino?" tanya Adieth serius.

Hening. Tita tersipu. Ayumi masih tak mengerti.

"Dari mana kamu tahu?" tanya Tita. Ia kebingungan karena Adieth ternyata mengetahui perasaannya. Padahal Ayumi pun tak pernah ia beritahu.

"Aku tak perlu menjelaskannya. Benar kan kamu mencintai dia?" tanya Adieth lagi. Tita mengangguk perlahan.

Hening.

"Ay....sudah dua bulan ini kamu menerima surat-surat kan ?" tanya Adieth. Ayumi tertegun. Jadi, Adieth sudah tahu.

"A........" Ayumi kebingungan.

"Jujurlah, Ay. Aku sudah tahu soal surat-surat itu karenaàkarena aku yang meletakannya di atas meja belajarmu di kelas."

Adieth lalu terdiam.

Ayumi tersenyum memandangi Tita.

"Jadi kamu penulis surat-surat itu?" ada nada ceria dalam suaranya. Tita bangun dari duduknya hendak pergi tapi Adieth memberi tanda supaya dia tetap di tempatnya.

"Bu...bukan aku yang menulis surat itu tapi.."

"Siapa?" tanya Ayumi tak sabar bercampur kecewa karena bukan Adieth yang menulis surat itu.

"Valentino...." ujaran Adieth membuat Ayumi dan Tita terpana. Tertegun, tak mampu berbuat apa-apa. Lonceng tanda pelajaran akan dimulai berdentang.

"Kita tetap di sini!" kata Adieth singkat.

"Ja....jadi... Ayumi kehabisan kata-kata. Valentino? Ia tak pernah merasa mencintai Valentino. Valentino memang baik, menarik, tapi ia tak sedikitpun ingin menjadikannya lebih dari sekedar teman kelas. Hanya Adieth-lah yang ingin dicintainya.

"Maafkan aku, TaàAyàSelama ini aku tak pernah cerita pada kalian. Valentino sekarang tinggal di rumahku karena di sini dia tak punya keluarga. Ayah dan ibunya sudah meninggal dan ia dibesarkan di sebuah panti asuhan yang saat ini sudah tutup lantaran kehilangan para donaturnya. Valentino memintaku merahasiakan semuanya karena diaàdia mengagumi kamu, Ayàdan ingin sekali mengungkapkan rasa cintanya. Sampai saat ini dia belum tahu kalau aku, sahabatnya sendiri adalah kekasih Ayumi. Dia juga belum tahu kalau kamu begitu mencintai dia, Ta."

Hening.

"Lalu ke mana Valentino?" tanya Tita.
Adieth tak menjawab.Diraihnya surat yang masih ada di atas meja itu dan membacanya.

"Aku tak pernah tahu isi suratnya dan.." Adieth tertegun memandangi kalimat terakhir surat itu," tidak! Kiàkita harus menemui dia!"

"Tapi, Dieth." kata-kata Ayumi tertahan.

"Aku sudah atur semuanya. Kita bolos hari ini"

"Itu aku tahu. Kita memang pasti akan bolos. Tapi, bagaimana aku harus bersikap. Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku tak men.."

"Sudahlah, Ay. Aku juga tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, kamu tak perlu cemas karena kita pergi bersama orang yang mencintainya," Adieth memaksakan tersenyum.

Mereka memang bolos dan ini untuk pertama kalinya mereka bolos. Tak apalah. Hal terpenting adalah aku bisa membahagiakan Valentino di hari valentine ini, ujar Adieth dalam hatinya.

* * *

Rumah Adieth sudah tampak sepi. Kedua orangtuanya pasti sudah berangkat kerja. Adieth membuka pintu rumahnya lalu langsung mengajak Ayumi dan Tita masuk. Mereka melangkah perlahan menuju sebuah kamar. Mungkin kamar Valentino. Ayumi dan Tita saling pandang. Mereka pasti bertanya-tanya mengapa Valentino sudah hampir dua minggu ini tak masuk sekolah. Adieth membuka pintu kamar itu danà

"HaiàLen," sapa Adieth. Valentino berbalik dan tertegun. Ia berbaring tak berdaya. Tubuhnya kurus, tampak tak berdaya. Ayumi menahan nafas. Tita hampir menangis.

"Happy valentine,friend," ujar Ayumi dan Tita lalau berjabatan tangan dengan Valentino. Mereka duduk di sisi pembaringan Valentino.

"Len....aku hanya bisa membawa Ayumi dan Tita ke sini sebagai kado valentine buat kamu. Aku...."

"Te...terimakasih, Dieth," ujar Valentino terbata-bata.

Hening.

"Ay...ka...kamu sudah baàbaca suratku kan ?" tanya Valentino.

Ayumi mengangguk perlahan.

Valentine tersenyum.

Tita sedih.

"Ay..aku...me..mang..sa...sangat mengagumi..mu. Ta...tapi aku ta...tahu kamu tak mencin...ta..mencintaiku melainkan mencintai A...Adieth..."

Adieth terkejut. Dia tak tahu kalau Valentino sudah mengetahui hubungannya dengan Ayumi. Tak sadar Adieth sudah meneteskan airmata.

"Ta..tadi waktu kaàkamu berangàkat ke sekolah, aku coàba melihat-lihat ke kamarmu karena a..aku tahu aku aàakan pergi jauh."

Adieth mendekati ranjang Valentino dan menggenggam erat tangan Valentino.

"Kamu tak boleh bicara begitu, Len," Adieth berkata perlahan," ma..maafkan aku."

Adieth terisak. Ayumi dan Tita menangis dalam diam.
"A..aku minta maàaf sudah memàbaca diary-mu. A...aku juga minta maaf pernah mengagumimu, Ay. Aku...ku memang tak pantas dicintai. Tak aàda yang bisa..."

"Tapi aku mencintaimu, Len," Tita berujar di tengah tangisnya. Ayumi semakin tertunduk. Valentine tertegun sejenak.

"Ca...carilah orang la..lain yang leàlebih pantas untuk diàcintai. Akuàaku akan peràpergi.."

"Tidak, Len! Kami akan membawamu ke rumah sakit. Kamu akan sembuh danàdan kita akan terus bersama..." Tita tak melanjutkan kata-katanya karena Valentino sudah terdiam. Dia tak lagi bernafas. Nyawanya sudah pamitàpulang kepada sang Mahaada.

Tita merangkul Ayumi.
"Mengapa, Ay...cintaku pergi saat aku begitu ingin ia ada di dekatku?" Tita terisak meratapi nasibnya.

"Maafkan aku, Len," ujar Adieth. Masih terisak.

Hening alam sekitar.

Hanya tangis yang terdengar.

"Selamat jalan, Len. Maafkan akuàö ujar Ayumi dalam hatinya. Ia hanya menangis dalam diam. Sedih merenungi kisah tragis Valentino di valentine day. Tuhan, terimalah jiwanya dalam bahagia-Mu.."Amin.

Weruoret, 2 Februari 2009



DI SISI PUSARAMU

(Sebuah kelanjutan Valentino di Valentine)

Oleh : Yohanes F. H. Maget

Tita termenung di sisi pusara itu. Tak ada teman. Ia sendirian di kompleks pemakaman ini. Hari ini 14 Februariàberarti genap setahun sudah Valentino pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia yang belum terlampau lama dihidupinya. Meninggalkan Tita yang begitu mendambakan cintanya. Tak sadar ada butiran bening yang menetes jatuh dari matanya dan menyentuh setangkai mawar yang dibawanyaàtepat pada kuncup yang telah mekar itu. Diletakannya mawar itu di atas pusara Valentino. Potret Valentino di atas pusara itu sudah memudar; tak lagi jelas. Mungkin itu pertanda bahwa Valentino memang telah ikhlas meninggalkan kefanaan dunia ini. Tapiàtapi Tita masih punya cinta di hatinya buat Valentino. Ia sepertinya ingin Valentino kembali lagi ke dunia ini.

Mengapa terjadi kepada dirimu

Aku tak percaya kau telah tiada

Haruskah ku pergiàtinggalkan dunia

Agar aku dapat berjumpa denganmuà*

ôTaà.kamu sudah lama ya di sini?ö Tita terkejut ketika mendengar suara Ayumi yang sudah ada di situ bersama Adieth. Pikirannya mungkin telah pergi terlampau jauh. Diusapnya airmatanya cepat-cepat.

ôKok kamu nangis?ö Ayumi langsung meraih Tita dalam pelukannya.

Hanya terisak.

ôAyàakuàaku masih mencintai Valentino. Akuàö

Adieth hanya diam membisu.

ôTaàkamu tak perlu sedih begitu. Kamu harus yakin kalau Valentino pun telah mencintaimu dari dunia yang lain. Diaàö

ôTidak, Ay! Sebelum pergi saja dia bilang kalau dia hanya mencintai kamu. Diaàö

ôTaàpercayalah,ö Adieth ikut berujar,ö aku kenal siapa Valentino. Seandainya hari ini dia masih berdiri di sini sebagai seorang manusia yang masih bernafasàdia akan bilang kalau dia sudah mencintaimu.ö

Hening.

Ayumi melepaskan pelukannya dan memandang Tita.

ôKamu harus percaya pada kata-kata Adieth. Aku tahu kamu memang tak akan bisa melupakan dia tapi kamu harus berusaha perlahan-lahan mulai belajar melupakan dia supaya dia bisa tenang di kehidupannya yang baru.ö

ôTapiàö

ôTaàjanganlah kau kecewakan Chris. Dia mencintaimu begitu tulus. Anggaplah Chris sebagai Valentino-mu yang baru.ö

Hening.

Tita tertunduk dan memandangi pusara Valentino.

ôTaàayolah. Kamu pasti bisa!ö

Hening.

ôLenàaku tetap mencintaimu sampai kapan pun. Happy valentine,ya,ö lalu Tita mengecup potret yang telah memudar di pusara Valentino itu.

Mereka hendak berlalu ketika muncul Chris.

ôHai semuanyaàö sapa Chris ramah,ö happy valentine,sayangàö Chris mengecup lembut kening Tita, lalu berjabat tangan dengan Ayumi dan Adieth.

ôTadi aku ke sekolah kalian dan kata teman-teman, kalian pasti ada di pemakaman ini. Ya, aku menyusul saja ke sini. Kebetulan aku belum bilang happy valentine buat sayangku,ö ujar Chris panjang lebar.

Ayumi dan Adieth tersenyum tulus.

Tita tak begitu bahagia.

ôKamu sakit ya, Say?ö tanya Chris. Ayumi dan Adieth saling pandang. Tita hanya menggeleng perlahan.

ôLaluà?ö Chris tak melanjutkan kata-katanya. Dipandanginya pusara yang ada di dekatnya,ö Valentino. Dia sahabat kalian?ö

Hening.

ôDiàdiaàö Ayumi tak melanjutkan kata-katanya.

ôBegini, Chris,ö ujar Adieth. Tita tertunduk,ö Valentino ini sahabat kami yang meninggal 14 Februari setahun yang lalu. Dia seolah tersingkir dari pergaulan sekolah karena merasa tak ada yang mencintainya. Dia begitu mencintai Ayumi tapiàtapi kamu tahu kan Ayumi sudah punya aku. Di hari meninggalnya barulah dia tahu kalau aku dan Ayumi lebih dari sekedar teman. Dia juga akhirnya tahu kalauàkalau ternyata Tita diam-diam mencintai dia.ö

Hening.

ôJaàjadi Valentino ini begitu berarti buatmu, Taàsampai-sampai di hari valentine ini kamu malah bersedih. Apa kamu tak bisa tersenyum buatku? Akuàaku mencintaimu, Taàö

ôSayàakuàaku masih mencintai Valentino. Akuàö

Hening.

ôLalu aku? Jadi selama ini aku cuma kau permainkan? Aku cuma penghibur sesaat. Hanya sekedar menghilangkan kejenuhanmu memikirkan Valentino-mu ini?ö

ôBuàbukan ituà.akuàakuàö

ôSudahlah! Aku tak butuh penjelasan lagi! Aku memang pria bodoh. Mencintai wanita yang tak pernah mencintaiku. Sialan kau!ö Chris bebalik. Tita menangisàAyumi meraihnya dalam pelukannya.

ôAàaku mencintai dia, Ayàö Tita terisak.

ôTaàberhentilah menangis!ö Adieth berujar tegas,ö mengapa kamu masih saja bilang cinta pada orang mati,Ta. Valentino sudah pergi. Kamu harus sadari itu. Perasaan cintamu biarlah hidup terus. Jangan kamu terus berusaha memasukkan cintamu ke dalam pusara ini. Dia akan hancur bersama tubuh Valentino. Aku yakin Valentino ingin kamu bahagia bersama Chris. Dia mencintaimu, Ta. Diaàö

ôTapiàö

ôTitaàsekali lagi kamu membantah aku akan memanggil orang dan menggali kembali kubur Valentino ini. Biaràö

ôCukup, Dieth! Aku memang telah berusaha belajar untuk melupakan Valentino danàcintaku tak akan pergi karena dia yang pertama kucintai,ö Tita bersuara tegas.

ôLalu Chris? Kamu kok tega ya. Valentino itu sudah tak ada lagi di bumi ini. Sekarang hanya Chris yang perlu kamu beri kesempatan.ö

Hening.

ôBaiklah. Kalau memang dia adalah pengganti Valentino, dia pasti akan memberiku kado terindah malam iniàdi acara valentine sekolah kita.

Tak ada lagi yang bersuara.

Terdiam semuanya.

ôAyàayo kita pulang!ö ajak Tita tanpa peduli pada Adieth yang masih tercengang. Tita dan Ayumi berjalan tergesa dan Adieth tahu kalau saat ini ia tak perlu menyusul mereka. Ia akan menyusul Chris. Ini demi Tita dan supaya Valentino tenang di alam sana ; merasa kepergiannya tak menyakiti siapapun.

* * *

Di tempat Chrisà

ôChrisàö panggil Adieth dari luar. Christian muncul. Wajahnya kusut.

ôMau apa lagi kamu ke sini?ö sambut Chris kasar.

ôAàakuàö

ôPergi!ö usir Chris.

Hening.

ôKamu mencintai Tita kan ?ö tanya Adieth walaupun sudah diusir.

Tak ada sahutan.

ôAyolah, Chris. Kamu jangan membohongi perasaanmu. Kamuàö

ôAku memang mencintai dia. Sangat mencintai. Tapiàtapi ternyata aku salah. Tita tak mencintaiku. Dia masih mencintai sahabat kalian yang sudah meninggal itu. Diaàö suara Chris sudah tak sekasar tadi lagi.

ôKalau begitu dengarkan aku,öaku saat berikutnya Adieth sudah masuk kamar Chris dan keduanya terlibat pembicaraan serius.

Mereka harus meyakinkan Tita kalau Valentino di alam sana merestui hubungannya dengan Chris.

* * *



14 Februari-malam

Ayumi dan Tita tiba di sekolah. Tetapi suasana tak begitu ramai. Hanya puluhan siswa saja yang terlihat. Padahal murid sekolah mereka ratusan orangà750 orang tepatnya. Adieth tadi sudah menelepon dan mengatakan akan menunggu di sekolah karena dia termasuk panitia acara malam ini. Masih ada guratan kesedihan di mata Tita.

ôAyàTaàapa acaranya bisa kita mulai?ö tanya Adieth yang muncul tiba-tiba. Ayumi dan Tita saling pandang.

ôTeman-teman semua,ö Adieth berujar keras,ö selamat malam. Acara malam ini langsung kita mulai saja danàTita, malam ini spesial kami hadiahkan buat kamu.ö

Terdengar sorakan.

ôSekarang pejamkan matamu!ö lalu sebuah kain dililitkan membelit kepala Tita, menutup matanya. Ia tak bisa melihat apa-apa lagi. Hanya gelap. Selanjutnya Tita merasa digendong seseorang diiringi sorakan begitu meriah dari teman-teman maupun adik-adik kelasnya. Tita kemudian merasa sepertinya mereka berpawai. Ia ingin bertanya pada Ayumi tapi Ayumi tak terasa berada di sampingnya. Akhirnya semua hening ketika tiba di suatu tempat. Tita digendong lagi dan akhirnya dia kembali berdiri tapi ia tak tahu di mana ia sekarang. Semua hening dan sesaat kemudian Adieth membuka kain yang menutup mata Tita. Ia tertegun lalu terduduk dan menangis. Sekarang ia ada di sisi pusara Valentino, orang yang amat dicintainya tetapi telah tiada. Semua hening. Cahaya lilin demikian banyak membuat pemakaman itu begitu terang. Rupanya semua teman dan adik kelas yang tak ada di sekolah tadi sudah berkumpul di pemakaman itu.

ôTaàöpanggil Adieth lembut,ö angkat mukamu!ö

Tita perlahan mengangkat wajahnya dan ternyata di hadapannya duduk Chris. Tita tertegun.

ôApa maksudmu?ö Tita berteriak marah karena ia yakin ini pasti ide Chris. Ia bangun dari duduknya. Semua terkejut. Ayumi memegang erat lengan Tita.

ôAku ingin semua orang termasuk Valentino tahu kalauàkalau aku mencintaimu, aku menyayangimu. Mungkin hanya ini kado dariku, membuatmu bisa berada di pemakaman ini dalam suasana yang lain, suasana bahagia. Valentino pasti bahagia, Taàö

ôKamu pikir aku bahagia?ö Tita terisak.

ôAku tak peduli apa katamuàyang jelas aku mencintaimu.ö

Hening.

Tak ada suara.

Tita melangkah mengitari pusara untuk mendekati Chris.

ôChris,ö ujarnya perlahan,ö maafkan kalau selama ini aku sudah mengabaikanmu. Terimakasih karena kamu mau mencintaiku. Akuàaku juga mencintaimu, menyayangimuàö

Chris tersenyum. Dia langsung meraih Tita dalam pelukannya. Dia menangis. Tita pun menangis. Adieh terisak. Ayumi pun terisak tapi bukan sedihàhanya bahagia. Semua yang lain bertepuk tangan termasuk para guruà



Weruoret, 11 Februari 2009

Buat kedua Adikku, Ayumi dan Tita

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda