Aku Panggil Namanya Matahari

Cerpen Hengky Ola Sura
(Kru Seniman Kata Uniflor)

DESAU angin parau pada pucuk-pucuk bakau. Sejuk dan hening. Suasana Pantai Ria lengang. Yang terdengar cuma pecahan ombak yang setia datang megecup cahaya matahari pada garis pantai. Entahlah ombak tak hanya cukup merasa bahwa pada biru warnanya yang jadi kemilau sebenarnya diciptakan oleh cahaya matahari yang menjulai, maka ombak harus mendebur dan terus mendebur merapat memeluk cahaya itu.

Matahari dan ombak dua kekuatan alam itu seakan memadu kasih dalam diam-diam dahsatnya cahaya dan debur mereka. Pantai Ria masih lengang. Dua anak manusia yang terjerat dalam jaring cintapun cuma bisa saling menatap debur ombak yang entah kapan berhenti datang mengecup cahaya matahari pada bibir pantai. Desau angin masih parau dan dua anak manusia itu, yang lelaki menggenggam jemari tangan sang perempuannya.

Belum ada yang bicara hanya suara-suara alam terasa memerdekakan suasana hati kedua insan pesiarah jalan cinta itu. Cinta memang tak butuh omong banyak cukup diam dan merasakan suara-suara dan aura alam di sekitarnya.

Cinta punya kedahsyatannya sendiri seperti dua kekuatan alam matahari dan ombak. Lama terdiam sang lelaki akhirnya membuka percakapan. Tari, aku ingin memanggilmu dengan nama baru, nama ini kita baptis bersama dan aku berharap kamu menyetujuinya. Aku ingin memanggilmu dengan nama baru, yakni Matahari.

Sang perempuan yang bernama Tari itu pun menyela, kenapa bukan kamu yang matahari? Lelaki itu menjawab aku ingin menjadi ombak. Bisa kamu katakan alasan mengapa aku yang matahari dan kamu ombak sayang? Lelaki itu lama termenung menatap ombak yang mendebur merapat ke garis pantai.
Tari jujur saja sejak pertama melihatmu dalam diam-diamku aku selalu berharap memilikimu.

Aku memujamu dalam diam-diamku. Sayang aku tak berani saat itu, aku takut kalah bersaing dengan banyaknya kawan-kawanku yang selalu secara lugas dan terbuka mengagumimu. Dan semuanya seolah berlomba untuk meraihmu menjadi milik mereka. Aku hanya orang biasa-biasa dengan mimpi untuk selalu memujamu dalam diam-diamku.

Aku tak mau kawan-kawanku tahu kalau aku juga turut mengagumimu dan berharap memilikimu dalam omong-omong lepas kami setiap menatapmu. Tapi sekarangkan kamu telah menjadi milikku sayang. Benar Tari bahwa aku milikmu, oleh karena itu aku ingin memanggilmu Matahari. Tari mengapa kamu yang aku sapa Matahari? Jawabannya adalah karena setiap menatapmu adalah keberanian ombak menantang matahari, aku tahu dan cukup sadar, sesadar-sadarnya Tari bahwa jangan sampai terlalu menatap dan matamu itu tiba-tiba bersarang topan dan jadi semacam amukkan yang melemaskanku dan suaramu yang menawan saat kau bicara jadi gelegar yang menyumpal nafas dan ragaku.


Aku takut itu sayang. Engkau perempuan luar biasa dan terlalu suci untuk dicintai lelaki seperti aku. Aku, hari ini ku baptis namaku jadi Ombak, panggil aku Ombak ya sayang, dan engkau akan ku panggil mesra Matahari dalam setiap hari-hariku. Lalu kenapa dengan ombak sayang? Tanya Tari sang perempuan yang namanya kini dipanggil Matahari.

Sayang kamu tahukan aku laki-laki biasa dan dalam diam-diamku aku telah berhasil mencuri hatimu untuk ku sematkan dalam perjalanan hari hidupku. Aku hanya punya keberanian dalam tatapan yang curi-curi dan ku bahasakan dalam buku harianku tentang betapa aku memujamu.

Aku bukan hanya pemenang yang telah berhasil mendekapmu terus mencampakan karena telah memenangkan pertarungan tetapi aku mau tetap menjadi seperti ombak yang punya kesetiaan mendebur untuk terus membahasakannya dalam amuk gelora rindu siang dan malam menjagamu.

Apakah tidak terlalu berlebihan sayang? Apanya yang berlebihan Matahari? Aku percaya bahwa engkau perempuan dan punya cahaya yang merona terbitkan rindu padaku untuk terus mendebur dalam birunya rindu seumpama biru ombak samudera.

Aku mau kamu yang jadi matahari agar setiap pagi yang datang kita ciptakan pelangi yang menjulai penuh warna. Lambang kepercayaan kita akan kesetiaan antara matahari dan ombak. Matahari yang ciptakan cahaya dan ombak yang ciptakan debur. Ketika cahaya dan debur itu menyatu terjadilah hamparan peluang sekaligus harapan untuk terus merasakan cinta yang kita ciptakan. Cinta itu cahaya. Cinta itu deburan. Cahaya dan deburan itulah aku dan engkau.

Suasana Pantai Ria masih lengang. Dua anak manusia itu kini saling menyapa matahari dan ombak. Angin yang berdesau parau pada pucuk-pucuk bakau telah turut menyatukan dua hati insan pesiarah cinta itu untuk memaknai dua kekuatan alam yang cipta cahaya dan debur. Nama mereka kini matahari dan ombak.

Matahari kini dalam pelukan sayang Ombak. Lama mereka diam. Mereka menyulam lidah. Merasakan dalamnya rasa yang bergetar pada dada. Sayang janji ya untuk tidak tinggalakan matahari. Lelaki yang bernama Ombak itu semakin erat memeluk Mataharinya. Sayang tahukah engkau bahwa disetiap gelegar deru deburku aku memburu pantai untuk mengecup garis pantai hanya untuk merasakan hangatnya cahayamu.

Aku merasa tidak cukup dengan selimut yang kau ciptakan padaku untuk buatku jadi kemilau. Aku mau terus mendebur ke pantai mewartakan pada dinding-dinding gua dan batu parak pantai bahwa inilah madahku berirama serempak. Inilah aku ombak, yang mau menunjukkan pada semua yang pernah mencoba memisahkan cadar rindu kita.

Semua yang pernah membuat kita menangis dalam gelisah dan cercah yang senewen. Sayang sejak hari ini bila kita saling merindu perkenankanlah kita datang ke pantai ini. Iya ombakku sayang, aku suka tempat ini. Di sini kita melepas canda pada celah desau paraunya angin pada pucuk-pucuk bakau.

Kita heningkan diri kita sendiri, merasakan dua kekuatan alam seumpama dua hati kita yang menyatu dalam satu kata sakti yakni cinta.

Pantai Ria semakin lengang saat senja turun. Matahari masih tersandar mesra dalam pelukkan kekasihnya Ombak. Sayang aku mau tetap di sini. Aku mau terus menatap debur dan birunya ombak samudera itu. Kita harus pulang sayang. Senja mengajak kita untuk sejenak berbenah. Kita harus pergi dari pantai ini tetapi hati matahari dan ombak tetap satu.

Setia dalam cahaya dan debur. Mari kita pulang sayang. Engkau kejaiban terberi dan sejak hari ini engkau aku panggil Matahari. Malam hampir turun sayang masih ada esok buat kita datang ke pantai. Kita hanya punya cahaya dan deburan untuk terus percaya bahwa pasti ada malam-malam panjang tanpa cahaya, tanpa debur yang yang riang. Pasti ada yang terus menista cinta kita karena aku punya keberanian untuk menantang matahari.

Aku memang hanya Ombak tetapi aku punya hati, aku punya deburan, aku punya kemilau tidak untuk siapa-siapa tapi untuk matahariku. Ruang di hati ini telah aku sucikan untuk cahayamu. Engkau matahari selalu berkelebat dalam ruang hatiku. Sayang sejak hari ini engkau ku panggil Matahariku.
(Ende 3 Maret 2010, for Matahari, mat ultah, smoga panjang umur)


Pos Kupang Minggu 21 Maret 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda