POS KUPANG/ALFRED DAMA
Beatrix Soi



MAKANAN bergizi tidak selamanya harus mahal. Makanan lokalpun bisa memberikan nilai gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Makanan lokal khas NTT seperti jagung sebenarnya bisa menjawab kebutuhan gizi untuk anak-anak.

Masalah gizi buruk di NTT juga tidak terlepas dari pengetahuan orangtua tentang nilai gizi yang ada pada makanan lokal. Jenis makanan seperti umbi-umbian, kacang-kacangan dan jagung khas NTT merupakan persediaan pangan lokal yang bisa menjawab kebutuhan gizi untuk anak-anak.

Ketua Jurusan Gizi-Politeknik Kesehatan (Poltekes ) Departemen Kesehatan (Depkes), NTT, Beatrix Soi, SST, Spd, M.Kes mengatakan persediaan pangan di NTT sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi. Hanya saja, anggapan bahwa makanan seperti jagung, umbi-umbian dan kacang- kacangan tidak lebih dari beras membuat para ibu cenderung tidak memanfaatkan jenis makanan lokal khas NTT tersebut.

Orangtua yang kurang memahaki kebutuhan gizi anak dan kurang mengetahui potensi makanan lokal merupakan penyebab masalah gizi buruk pada anak.

Kehadiran Jurusan Gizi pada Politeknik Kesehatan (Polteks) Kupang merupakan jawaban untuk mengatasi masalah gizi buruk di wilayah ini, hanya saja tenaga ahli gizi ini masih minim dan belum sepenuhnya di manfaatkan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kekurangan gizi di NTT.

Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Beatrix

Setiap tahun NTT selalu dihadapi masalah gizi buruk. Apakah masyarakat kita memang tidak memiliki persediaan makanan yang bergizi?
Ini yang perlu kita diskusikan bersama. Sebenarnya kandungan gizi makanan lokal kita seperti jagung dan sebagainya tidak lebih rendah dari beras. Dan, masih banyak makanan lokal yang memiliki nilai gizi yang memadai seperti pisang. Budaya makan jagung di NTT bukan berarti kita hanya makan jagung saja, selalu ada campuran dengan jenis makanan lain seperti sayur- sayuran, kacang-kacangan dan sebagainya. Jadi makan jagung yang sudah ada campuran sayuran dan kacang-kacangan. Ini sudah saling melengkapi dan kandungan gizinya memadai.

Namun terkadang terjadi adalah jenis makanan ini sulit diberikan pada anak-anak, khususnya berusia dibawa lima tahun (Balita) sedangkan orang dewasa bukan masalah seperti makan jagung rebus, jagung bose dan lain-lain dan campuran kacang-kacangan dan sayur-sayuran.

Apa masalahnya dengan anak-anak?
Untuk anak-anak diperlukan perhatian atau ketelatenan orangtua karena sulit bagi anak-anak memakan jagung ini. Mungkin jagung ini harus diolah dulu menjadi tepung beras jagung sehingga bisa diberikan pada anak-anak. Pengelahan jagung memang lebih rumit dari beras, tapi persediaan jagung kita cukup banyak dan itu bisa diolah ketimbang harus membeli beras atau menunggu ada beras.

Dan, sebetulnya nilai gizi tidak kalah dengan nilai kandungan gizi pada beras. Menurut saya, makanan lokal cukup lengkap kandungann gizinya untuk orang dewasa, karena kebudayaan kita tidak makan jagung kosong, selalu rebus jagung dan ada kacang-kacangan yang dimasukan di dalamnya secara bersamaan.

Yang menjadi masalah pada anak-anak karena budaya kita tidak terlalu ahli dalam mengelola jagung itu untuk kebutuhan anak- anak Balita, sehingga kadang kita lihat anak-anak gizi buruk tapi ibunya gemuk-gemuk.

Berarti dalam hal ini persediaan pangan lokal ada, tapi mungkin tidak punya waktu atau keterampilann untuk mengelola makanan atau orangtuanya hanya mau menggunakan cara gampang dalam mengelola makanan sehingga anak tidak cukup untuk mendapat asupan makanan.

Kemudian, anak-anak inikan bila mau makan biasa meminta. Pada waktu anak-anak, ketergantungan pada orangtua untuk memberikan, dia kan tidak bisa minta sehingga kapan orangtua sadar memberikan baru mereka mendapat asupan makan.

Kecuali anak yang sudah lebih besar, dia akan katakan lapar maka bisa minta pada orangtua. Pada anak yang dibawa tiga tahun, dia belum punya pola untuk menyampaikan bahwa dia lapar dan minta pada orangtua. Sehingga anak kurang dapat asupan sesuai kebutuhannya.

Apakah anggapan orang lebih suka makan nasih ketimbang jagung?
Ini ada perubahan dan pergesaran nilai. Pada jaman dahulu makanan utama kita adalah jagung tapi akhir-akhir ini, dimana terjadi komunikasi gampang dan sebagainya sehingga masyarakat merasa misalnya ada dengan pemberian beras dari pemerintah atau beras yang mudah di beli sehingga lebih merasa bergensi kalau sumber makanan itu dari beras saja.

Pengelolaan beras pada saat ini juga sudah membuat kanduangan zat gisi dalam beras itu berkurang. Beras saat ini digiling dengan mesin, kemudian di proses lagi sehingga terlihat lebih bersih dan putih, nah tahapan-tahapan ini membuat kanduangan gizinya juga makin berkurang. Lain halnya bila beras dari hasil padi yang ditumbuk. Rasanya pun sudah beda. Kandunagn gizi beras itu kan tidak sebanding dengan beras yang ditumbuk.

Apalagi petani-petani sekarang memamen sendiri, mereka sudah cenderung menggunakan mesin giling, padahal sel seratnya sudah hilang saat penggilingan, vitaminnya juga hilag saat pengolahan.

Makanan lokal kita seperti jagung, umbi-umbian. Apakah kadar kebutuhan gizi atau kalori untuk kebutuhan kita sehari- hari sudah bisa dipenuhi?
Makanya di ilmu kesehatan, kita menggunakan istilah keragaman pangan. Saya tidak bisa mengatakan dengan memakan umbi-umbian saja sudah cukup, karena itu dibidang pangan dan gizi kita selalu menyarankan pada masyarakat misalnya pada pedoman gizi seimbang, kita meminta masyarakat untuk mengkonsumsi beragam makanan.

Kalo ubi saja belum tentu mencukup kebutuhan, jadi misalnya pagi dia makan ubi dan siang dia akan jagung dan malam makan lain lagi maka itu saling melengkapi kebutuhan. Misalnya di NTT, masyarakat kita sudah terbiasa dengan bubur kacang yang direbus menjadi makanan. Kacang hijau saja direbus dan dijadikan ketupat sudah menjadi kebutuhan karbohidrat sekaligus protein yang bagus, sehingga kekurangan di ubi itu bisa di lengkapi dengan kacang-kacangan.

Keragaman makanan ini juga terkait dengan pencernaan juga. Fungsi pencernaan kita terkdang bermasalah
Orang sering berpikir keragaman makanan itu sama dengan setiap hari berganti jenis makanan. Padahal keragaman makanan ini berbagai macam, ada fungsional food itu itu bumbu- bumbunya sudah menjadi bagian dari jenis makanan. Jadi bukan setiap hari dia harus mengganti jenis makanan hari jagung, besok apa lagi, bukan itu yang dimaksudkan. Masyarakat kita di desa yang mengelola makanan dengan bumbu-bumbu lokal, dengan sere jahe, kunyit dan lainnya. Sebenarnya itu sudah dalam bentuk makanan hanya disebut fungsional food atau makanan yang memperlancar metabolisme tubuh. Jadi bukan setiap hari harus berjenis-jenis. Kalau di negara maju, keragaman makanan itu sehari itu sudah berjenis-jenis, jenis makanan bisa sampai 20-an.

Tapi di daerah kita dengan kondisi ini tidak dituntut tiap hari harus dengan makanan yang berubah-ubah terus......
Atau yang punya kebun juga jumlahnya tidak banyak juga, ada aneka jenis umbi-umbian. Saya ingat dulu waktu di desa itu labu kuning yang nilai karotinnya sangat tinggi itu kita kukus sudah bisa menjadi makanan bahan makan pagi atau makanan makan malam.

Kita potong-potong sepeti roti itu sudah jadi makanan yang enak, selain itu kadar karbohidratnya tinggi, karotinnya tinggi, vitamin A nya tinggi dan cukup untuk melengkapi kebutuhan akan vitamin dan kebutuhan lain.

Jadi artinya makanan lokal NTT tidak menjadi alasan anak- anak kita di desa kekurangan gizi.....
Sebetulnya makanan lokal di NTT cukup beragam, jadi tidak ada alasan untuk mengalami kurang gizi. Menurut saya dalam hal ini ada masalah yang terjadi. Menurut saya bukan pada ketersediaan pangan, contohnya banyak anak-anak yang orangtua yang tidak tahu persis kapan anak-anaknya harus mendapat makanan tambahan. Seperti saya temukan di Belu, itu ibu-ibu yang punya anak kecil selama masih ada air susu, si ibu tidak memberikan makanan tambahan pada anaknya karena dia pikir air susu maih ada maka bisa memenuhi kebutuhan anak. Jadi menurut saya, masalahnya adalah ibu-ibu kita di desa belum mengerti tentang kebutuhan gizi untuk anak-anak mereka. Ibu- ibu ini tidak merasa kalau anaknya kurus itu bisa menjadi masalah. Ia baru merasa kesehatannya anaknya bermasalah bila anaknya demam , sakit perut atau sakit apalah. Jadi kalau berat anaknya tidak bertambah atau menurut itu berarti sudah terjadi ketidak seimbangan antara makanan dan kebutuhan asupannnya anak itu. Jadi ketersediaan pangan betul-betul keculi ada keluarga miskin yang tidak menjangkau.

Kekurangan gizi ini bukan karena kemisikinan?
Kalau mau dibilang miskin, masyarakat kita di desa itu punya kebun, punya sawah, ternak jadi tidak masuk akal bila masalah kekurangan gizi karena miskin. Ini hanya masalah ketidaktahuan orangtua pada potensi yang ada di sekitar rumhanya atau kebunnya. Dan, para ibu tidak tahu kalau anaknya perlu makanan tambahan. Saya ingat dulu sewaktu SD itu kita punya kebun sekolah, sehingga kebun yang besar yang dimana setiap hari Sabtu kita rame-rame bakar ubi dan makan di sekolah. Sekarang lokasinya makin sempit jadi sudah tidak ada lagi yang namanya anak-anak dilatih untuk menanam di sekolah dan kemudian dia bisa memanen.


Anda sekarang memimpin Prodi Gizi, apa yang dipelajari mahasiswa Anda?
Saya pernah sekolah perawat, pernah mengajar di kebidanan. Kadang-kadang kita berpikir, semua sekolah kesehatan pasti bisa ngomong tentang gizi padahal sesudah saya menjalani, ternyata tidak bisa. Kan kurikulum berbeda. Kurikulum di keperawatan dan kebidanan juga diajarkan tentang gizi, tapi tidak membahas sampai hal-hal yang detail.

Misalnya, di keperawatan kita mengajar betapa pentingnya protein, karbohidrat dan lain-lain tapi hanya sedikit. Kalai di prodi gizi diajarkan bahan pengganti makanan yang pas untuk mengganti ini bahan yang lainnya.

Misalnya, beras ukuran sekian lalu ubinya berapa banyak untuk mengganti beras yang ukuran sekian. Atau misalnya nasi 50 gram lalu untuk mengganti itu diperlukan singkong yang berapa gram agar kebutuhan gizi dan lainnya itu sama. Lalu diajarkan pula nilai-nilai gizi dan takaran-takaran harus yang harus makan.

Kalau masyarakat kebanyakan atau di desa hanya berpikir ya sudah kenyang ya selesai. Ukuran cukup bagi masyarakat kebanyakan adalah kenyang. Jadi perut sudah terisi dan kenyang maka dianggap cukup. Padahal, zat gizi itu ada banyak jenis dimana zat yang satu mempengaruhi zat yang lainnya untuk metabolisme tubuh. Misalnya vitamin itu bisa berfungsi kala ada zat lain. Misalnyta zat besi bisa diserap kalau ada vitamin C.

Artinya kedepan, tenaga ahli gizi sangat diperlukan oleh masyarakat
Menurt saya, suatu waktu orang lulusan ilmu gizi akan diperlukan. Saat ini orang lulusan ilmu gizi hanya dilihat sebela mata oleh masyarakat dan masih dianggap diluar tenaga kesehatan. Tapi menrut saya, suatu waktu mereka akan menjadi pendamping yang baik di masyarakat, minimal untuk memberikan pendampingan pada masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat untuk memberikan pencerahan tentang nilai-nilai gizi. Bahkan kita juga melengkapi cara pengolahan makanan, sehingga anak-anak yang masih kecil itu bisa mendapatkan makanan yang layak dari bahan lokal seperti singkong atau jagung.

Jadi dengan mengikuti kuliah selama tiga tahun, dengan biaya yang relatif tidak besar dibandingkan dengan manfaat untuk puluhan tahun yang dia akan terapkan di masyarakat. Oleh karena itu yang saya harapkan adalah kesadaran baik baik dari pemerintah maupun masyarakat tentang pentingnya tenaga gizi, sehingga kedepan tidak saja untuk masuk ke instusi gizi tapi juga bisa juga memanfaatkan lulusan kami.

Jadi saya pingin lulusan ilmu gizi itu dari Poltekes Depkes-NTT bisa diterima di institusi formal, tetapi juga diterima di institusi tidak formal seperti penyelenggaraan makanan anak sekolah, bukan sebagai pemasak tetapi sebagai supervisor untuk penyelenggara kantin di sekolah-sekolah sehingga penyelenggaran makanan di sekolah itu di awasi oleh ahlinya, oleh lulusan yang punya kompetensi untuk itu sehingga kantin- kantin yang diselenggarakan di sekolah-sekolah itu bisa punya kualitas sesuai kebtuhan anak didik.


Sekarang kan pemerintah sudah membuka formasi untuk ilmu gizi?
Saya bersyukur D3 Ilmu Gizi Poltekes Depkes sudah melulusakan 74 orang, dari jumlah ini yang sudah diterima di sektor pemerintahan sudah lebih daro 50 persen. Dan, juga institusi LSM juga menggunakan tenaga mereka. Saya senang, tapi harapan ke depan itu kesadaran akan tenaga gizi itu bisa dibutukan sama seperti perawat dan bidan. Jangan sampai tenaga ini hanya melengkapi saja, padahal pemerintah dengan program desa siaga itu ya salah satunya adalah menyiapkan tenaga gizi.

Memang sampai hari ini bukan salah pemerintah di NTT juga karena memang belum ada lulusannya yang bisa dimanfaatkan. Mungkin kedepan kalau kita meluluskan banyak maka pemerintah juga bisa memanfdatkan tenaga lulusan kita untuk di Puskesmas-puskemas.

Menurut Anda, di rumah sakit itu idealnya berapa orang tenaga ahli gizi?
Di rumah sakit-rumah sakit yang lebih maju seperti tipe B, tenaga gizi tidak hanya di instalasi gizi. Instalasi gizi mungkin hanya untuk managemen penyelenggaraan makanan, tapi di setiap bangsal bahkan di setiap ruangan yang merawat pasien itu ada tenaga gizi, sehingga bisa mengkaji kebutuhan gizi pasien. Misalnya status gizi pasien itu bagaimana? Berat badannya berapa sehingga pasien itu membuthkan makanan dengan kadar gizi berapa gram itu harus ditentukan ahli yanga ada di bangsal ini. Sehingga manajemen instalasi gizi bisa memberikan makanan pada pasien yang bersangkutan sesuai dengan pesanan yang dibuat oleh tenaga gizi yang ada di ruangan. Jadi idealnya di setiap bangsal, selain di instalasi gizi dan penyelenggara makanan di dapur itu memiliki tenaga gizi. Ahli gizi di setiap bangsa itu minimal satu, yang bertugas mendampingi dokter terkait dengan kebutuhan makanan dan diet pasien.

Apakah Puskemas juga perlu tenaga gizi?
Benar, Puskemas juga perlu tenaga gizi. Sebab, ahli gizi di Puskesman merupakan barisan terdepan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Ahli gizi ini bisa memantau perkembangan kebutuhan gizi anak sehingga masalah gizi bisa diatasi langsung di masyarakat.

Tenaga gizim diperlukan untuk melakukan monitor setiap bulan masyarakat, sehingga bisa mengetahui anak yang mengalami perubahan status gizi, misalnya dari gizi baik menjadi gizi kurang itu ada di Puskesmas atau Posyandu. Oleh karena itu, pemerintah sekarang menempatkan tenaga gizi di tiap Posyandu. Yang menjadi maslah adalah bila tenaga gizi di Puskesmas hanya satu, dia harus mengelilingi Posyandu yang ada itu terlalu berat. Apalagi dengan medan berat dengan fasilitas yang terbatas.

Secara nasional proprosi ideal itu adalah 20 per 100.000 penduduk, di NTT baru 3 per 100.000 penduduk, sekarang sudah menjadi 5 per 100.000 penduduk. Saya kurang tahu persis kebutuhan tenaga gizi untuk puskemasn tapi dengan adanya istilah Desa Siaga diman ada Puskesman, Pustu maka selain tenaga perawat dan bidan juga harus ada tenaga gizi.

Maksudnya untuk kegiatan-kegiatan preventif dan promotif yang mungkin untuk perawat dan bidang yang kegiatan di Puskesman yang tidak sempat mereka laksanakan mungkin hal yang menyangkut meningkatkan status gizi ini diserahkan pada tenaga gizi untuk melaksanakannya.(alfred dama)

Data diri Nama : Beatrix Soi, SST, Spd, M.Kes Tempat Tanggal Lahir : Asuemean-Belu 15 Mei 1954 Jabatan : Ketua Jurusan Gizi Poltekes Kupang Pendidikan Khsusu Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Lela-Sikka, Flores tamat Tahun 1976 Sekolah Guru Perawat Kesehatan SGP Surabaya Tamat Tahun 1983 Akademi Perawat (DIII) Kesehatan Akper Malang --1993 Diploman VI Keperawatan Anak Universita Airlangga- Surabaya 2000 Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris Unwira-Kupang,-2002 Magister (S2) Gizi dan Kesehatan UGM Yogyakarta-2006 Keluarga Suami Prof.Dr. Mans Mandaru Anak 1. Romualdus B.Paskaliano 2. Silvania S.Epiphania 3. Fulgentius R.Canisio

Pos Kupang Minggu 14 Maret 21 Maret 2010

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda