Elegi Tambang

Oleh Willem B Berybe

Mendadak kau jadi idola seantero kampungku
Yang sedang haus.Kau memicu rindu
Bermimpi
Tentang indahnya sebuah industrialisasi
Tentang cerobong-cerobong asap yang menggumpal
Tentang parade truk-truk raksasa melintas
Tentang aroma pembangunan


***
Tak terhitung waktu kau membisu
Di dasar planet kehidupan.
Dalam kesenyapan yang bernas itu
Kau tertenun jadi gundukan harta nan misterius.
Warga kampungku tak mengerti
Tentang planet kehidupan.
Mereka cuma tahu mengayuh cangkul
Di atas hamparan sawah dan ladang
Pada kulit bumi yang renyah.
Mereka bergurau dengan alam yang masih jernih
Di antara batang-batang padi keemasan
Serta bulir-bulir jagung kuning langsat berkelebat.
Saban musim
Lumbung-lumbung padi dari kulit kayu raksasa,
Dari anyaman bambu yang artistik
Menari-nari kegirangan menyambut berkah
Jagung-jagung terikat rapi
Tertata di atas perapian dan tonggak-tonggak bambu
Menjulang di alam terbuka
***
Aneh.......
Sang idola disambut tawa sinis serta emosi
Namun ada juga tepuk tangan ria
Para pengagum berlarian datang
Mereka membawa bendera bertajuk:
Pembangunan yang merakyat;
Pembangunan berkelanjutan!
Seluruh warga kampung bingung
Antara ada dan tiada
Antara tuan dan sahaya.
Bak seorang orator besar
Sang idola berbicara tentang visi misi cemerlang
Tentang mercu suar
***
Sejenak mataku tertambat
Pada sepotong doa
Hinggap di atas dahan-dahan cendana yang lunglai
Semoga
Kau jadi `sastra jembatan kemanusiaan'!
Kata-kata Gerson Poyk itu
membangunkan inspirasi baru.
Tambang ...timbang.

BTN,Kolhua, Kupang, penghujung 2009


Pos Kupang Minggu 14 Maret 2010, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda