Foto amahawu.blogspot.com
Penyadap air dari pohon lontar untuk membuat gula air di Sabu




MUSIM hujan yang tidak menentu tahun 2009 hingga 2010 di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi ancaman serius bagi ketersediaan pangan untuk masyarakat. Ancaman ini terjadi untuk wilayah Kecamatan Sabu Raijua.

Intensitas hujan di wilayah Kabupaten yang baru berdiri tahun 2009 lalu ini sangat minim. Sejak awal musim hujan di NTT akhir tahun 2010 lalu, di wilayah ini hanya terjadi beberapa kali hujan. Akibanta banyak tanaman pertanian yang gagal tanam.

Keadaan iklim di pulau Sabu dipengaruhi letaknya yang berdekatan dengan benua Australia. Sehingga pulau ini mempunyai ciri-ciri khas dengan musim kemarau yang panjang dan dengan curah hujan rendah. Dalam setahun hanya 14-69 hari musim hujan. Sejauh mata memandang hanya nampak bukit-bukit kapur yang kurang subur dengan beberapa puncak perbukitan yang menjulang, namun ketinggiannya tidak melebihi 250-an meter.

Kabupaten yang berdiri berdasarkan UU Nomor 52 Tahun 2008
Tanggal 26 November 2008 ini memiliki luas wilayah 460,54 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 76 ribu orang.

Penjabat Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, M.Si yang ditemui di Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) NTT, Rabu (3/3/2010) mengatakan, curah hujan di Sabu yang minim semakin parah pada tahun ini. Ini tentu akan berdampak serius serius pada ketersediaan pangan di wilayah itu. Padahal, sebagian besar penduduk Sabu Raijua adalah petani termasuk penada nira lontar dan pembuat gula air.

Di sisi lain, pulau ini juga terkenal sebagai penghasil gula air (gula sabu), namun hampir sebagian besar produksi gula air dari Sabu ini dipasarkan ke luar daerah. "Setiap kapal ferry masuk ke Sabu, selalu membawa keluar begitu banyak gula air. Gula ini biasanya dijual ke Waingapu-Sumba Timur," jelasnya.

Padahal gula sabu termasuk stok pangan untuk masyarakat Sabu. Menurutnya, masyarakat Sabu tidak perlu tergesa-gesa menjual gula ini ke luar daerah. Gula yang ada sebaiknya disimpan untuk persediaan pada masa-masa sulit nanti. "Tahun ini pasti kita mengalami kesulitan. Kita punya potensi gula air, ini yang harus kita simpan," jelasnya.

Gula air ini bisa disimpan dan dijual pada saat-saat sulit, namun ia lebih baik agar gula air ini dibarter dengan kebutuhan pangan seperti beras. "Saya pikir mungkin lebih baik ditukar dengan beras, kalo simpam uang ini kan bisa saja digunakan untuk hal- hal lain seperti judi. Sementara kita sedang butuh makanan," jelasnya.

Menghadapi ancaman kekurangan pangan tahun ini, masyarakat Sabu Raijua juga diharapkan mulai berhemat. Mulai menyediakan pangan saat ini, agar pada masa paceklik nanti masyarakat suda siap menghadapinya. (alf)


Gula Sabu, Makanan Minuman dari Sabu.

GULA Sabu merupakan panganan khas Pulau Sabu yang sangat unik dan bermanfaat. Sepintas, gula sabu berbentuk cairan yang sangat kental dan lengkel berwarha coklat kehitaman.

Jenis makanan ini dibuar dari bahan dasar yang disadap dari pohon lontar. Di daerah lain, gula jenis ini juga bisa dibuat dari bahan yang disadap dari pohon enau atau kelapa.

Gula Sabu merupakan hasil olahan pertanian mayoritas penduduk Pulau Sabu dan Raijua. Hal ini tidaklah aneh karena Pohon Tuak sebagai sumber nira ( bahan baku pembuatan Gula Sabu ) terdapat hampir di setiap walayah pulau Sabu dan Raijua.

Gula Sabu bahasa sabunya 'Donahu' kalau lengkapnya 'Donahu Hawu'. Bagi Orang Sabu , Gula Sabu adalah panganan utama selain beras dan jagung yg melengkapi keseharian mereka ditengah kondisi geografis Pulau Sabu yang rawan kekeringan .

Jika terjadi gagal panen pada tanaman palawija dan stok makanan menipis, maka gula sabu juga dipakai sebagai panganan untuk tetap bertahan.

Cara menikmati gula sabu adalah hanya disendok pada tempat yang terdapat gula lalu dimakan. Cara lainnya adalah gula yang ada di seduh ke dalam air, kemudian di minum seperti teh atau kopi.

Gula sabu diyakini memiliki kalori yang cukup, sebab beberaoa sendok gila air ini maka akan terasa kenyang.

Di kalangan masyarakat Kupang-NTT, gula sabu atau gula air ini juga sering dijadikan minuman terapi untuk menyembuhkan penyakit maag. Dan, gula sabu juga bisa dijadikan bahan campuran untuk jenis panganan lainnya. (orangsabu.blogspot.com)


Pemanasan Global Amat Pengaruhi Curah Hujan

BERDASARKAN penelitian iklim, suhu rata-rata dunia akan naik sekitar 1 derajat Celcius di pertengahan abad ini, jika manusia tidak mengubah prilaku lingkungannya dan terus menghasilkan gas rumah kaca seperti yang sekarang ini terjadi.
Kendati begitu, rata-rata iklim dunia, tidak mengungkapkan apapun mengenai apakah yang bakal terjadi pada iklim kawasan, contohnya curah hujan di Amerika Serikat bagian barat atau di pulau-pulau surgawi seperti Hawai'i.

Dengan menganalisis model pemanasan global yang digunakan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim, tim ilmuwan diketuai meteorologis Shang-Ping Xie dari Universitas Hawaii pada Pusat Riset Pasifik Internasional di Manoa, menemukan fakta bahwa pola cuaca samudera di kawasan tropis dan subtropis akan berubah ke tingkat yang mengubah secara signifikan pola curah hujan.

Hasil penelitian yang akan dipublikasikan di Jurnal "Climate" bulan ini tersebut, menumbangkan landasan peramalan cuaca yang ada. Sebagian besar dari ilmuwan ini berpendapat bahwa permukaan samudera-samudera di Planet Bumi akan lebih sering menghangat di kawasan tropis. Perubahan ini akan membuat "yang basah makin basah" dan "yang kering makin kering."

Tim pimpinan Xie ini telah mengumpulkan bukti bahwa kendati suhu di permukaan samudera diperkirakan naik di sebagian besar wilayah planet ini sampai pertengahan abad ini, kenaikan suku itu berbeda hingga 1,5 derajat Celcius, tergantung wilayahnya.

"Dibandingkan dengan rata-rata perkiraan kenaikan 1 derajat Celcius, perbedaan-perbedaan itu agak besar dan bisa mempengaruhi iklim tropis dan subtropis dengan mengubah pola pemanasan atmosferik, lalu terhadap curah hujan," kata Xie.


Dia melanjutkan, "Hasil penelitian kami secara umum menunjukkan bahwa kawasan dengan suku permukaan lautnya di puncak akan semakin basah, dan kawasan yang relatif dingin akan semakin kering."

Kenaikan suhu maksimum di Pasifik terjadi di sepanjang garis khatulistiwa. Terbukti kini bahwa wilayah pasifik khatulistiwa mempengaruhi ritme iklim global seperti diperlihatkan oleh dampak global Badai El Nino.

Pita lebar suku puncak di khatulistiwa ini mempengaruhi pemanasan atmosferik pada model-model iklim. Dan dengan melabuhkan pita hujan serupa yang terbentuk selama terjadinya El Nino, model iklim itu mempengaruhi iklim di seluruh dunia melalui telekoneksi atmosferik. Pola pemanasan samudera dengan dampaknya yang besar terhadap curah hujan lainnya yang dicatat Xie dan para koleganya, terjadi di Samudera India dan akan mempengaruhi hidup miliaran manusia.
Tertutup oleh pemanasan Samudera India selama setengah tahun adalah apa yang para ilmuwan sebut dengan Dwikutub Samudera India yang terjadi sekali dalam setiap satu dekade. Jadi, model yang menunjukkan bahwa pemanasan di Samudera India bagian barat mengeras, mencapai 1,5 derajat Celcius, sedangkan Samudera India bagian timur menjadi basah hingga 0,5 derajat Celcius. "Pola ini semestinya secara dramatis diperkirakan menggeser curah hujan di seluruh wilayah Afrika timur, India dan Asia Tenggara. Kekeringan bisa melanda Indonesia dan Australia, sedangkan daerah-daerah di India dan kawasan Afrika yang berbatasan dengan Laut Arab menjadi lebih sering hujan."
Pola pemanasan suhu dan pengendapan permukaan laut berubah pada 2050 dibandingkan pada 2000. (ant)


Pos Minggu 7 Maret 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda