Ibarat Genangan Air

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa


HARI Minggu pagi itu ayah tampak gagah dengan pakaian olahraga yang dikenakannya. Kaus polo putih dipadu celana pendek hitam dan sepatu olahraga putih. Di lehernya tergantung sebuah handuk kecil. Ayah yang sebelumnya bergegas hendak keluar, sempat menghentikan langkahnya ketika melihat Andre berbaring malas di ruang tengah sambil menonton film kartun di televisi.

"Dre, lebih baik kamu ikut ayah berolahraga. Kita jalan-jalan santai mengitari komplek perumahan ini. Selain mencari keringat, kita juga dapat menghirup udara pagi yang masih segar. Di samping itu kita juga dapat bertegur sapa dan berkenalan dengan tetangga-tetangga jauh kita," ajak ayah.

"Ah, malas, Yah. Lebih baik Andre nonton film kartun saja. Andre tidak suka berolahraga. Hanya membuat nafas Andre tersengal-sengal dan tubuh berkeringat saja. Biar ayah berolahraga sendiri saja," jawab Andre. Matanya tidak lepas dari televisi di depannya.

"Ya sudah kalau begitu, biar ayah berolahraga sendiri saja. Ayah pergi dulu, ya," pamit Ayah sambil melangkah keluar. Andre tetap pada tempatnya. Dengan badannya yang tambun itu Andre jadi malas bergerak. Karena untuk bergerak, dibutuhkan tenaga ekstra. Karena terus makan dan tidak bergerak, maka dari hari ke hari tubuh Andre yang sudah tambun itu kian bertambah tambun.

***

Akhir-akhir ini Andre jadi lebih sering sakit. Hari ini pilek, besok demam, minggu depan sakit kepala, tidak lama berselang pilek lagi. Hal tersebut membuat sekolah Andre jadi terganggu. Andre sendiri pun menjadi tidak betah dengan sakit yang terus-terusan dideritanya. Dengan diantar Ibu Andre memeriksakan diri ke dokter.
"Kamu kurang berolahraga, ya, Dre. Hal itulah yang membuat kamu sering menderita berbagai gangguan penyakit. Keadaanmu saat ini ibarat sebuah saluran dengan genangan air. Seperti yang biasa kita saksikan di mana terdapat genangan air di situ terdapat lumut, juga jentik nyamuk dan tempat hidup berbagai jenis bakteri lainnya," jelas dokter.

"Kok bisa begitu, dok," sela Andre tak percaya.

"Jika kamu berolahraga, maka metabolisme tubuhmu akan meningkat," kata dokter.

"Metabolime itu apa, dok?" tanya Andre tidak mengerti.

"Tubuh kita terdiri dari ribuan pembulu darah. Dengan bergerak atau berolahraga, maka darahmu akan mengalir lancar melalui pembuluh itu mengantarkan makanan dan oksigen ke segenap penjuru tubuh. Dengan mendapat suplai makanan dan oksigen yang cukup, maka sel-sel darah yang ada dapat bertahan melawan berbagai jenis bakteri penyebab penyakit yang terdapat di dalam tubuh," jawab dokter.

"Kalau malas berolahraga, dok?" Andre ingin tahu lebih lanjut.

"Jika kamu malas berolahraga, maka aliran darah di dalam pembuluh itu akan terhambat oleh lemak yang berlebihan di dalam tubuhmu. Akibatnya tidak semua sel darah di dalam tubuhmu mendapatkan makanan dan oksigen sebagaimana mestinya. Tidak mengherankan kalau sel darah itu dapat dengan mudah dikalahkan oleh bakteri penyebab penyakit. Sehingga tidak berlebihan kalau dalam sepekan kamu bisa mengalami sakit dua sampai tiga kali," urai dokter.

"Kan sudah ada obat dari dokter?" sela Andre.
Obat yang saya berikan ini hanya berfungsi untuk menyembuhkan penyakitmu sesaat. Tetapi bukan untuk menjaga kesehatanmu selamanya. Kamulah yang seharusnya menjaganya. Caranya gampang, ya dengan berolahraga itu," pesan dokter.

***

"Ayah, ayah, aku ikut," seru Andre ketika dilihatnya Ayah sudah gagah dengan pakaian olahraganya. Ayah heran dengan perubahan sikap putera semata wayangnya itu. Namun dia berusaha menyembunyikan keheranannya itu agar Andre tidak merasa malu karenanya.

"Tumben, mau ikut ayah berolahraga. Apa kamu tidak takut nanti nafasnya tersengal-sengal dan tubuhnya berkeringat?" tanya Ayah.

"Ayah kan bisa berjalan perlahan-lahan bersama saya. Sehingga nafasnya tidak sampai tersengal-sengal dan keringatnya pun tidak sampai membanjir. Namanya juga jalan santai," mohon Andre. Ayahnya mengangguk setuju. Andre bergegas berganti pakaian dan berjalan bersama Ayah.

Tanpa disadarinya Andre telah berhasil mengelilingi komplek perumahan itu dalam waktu satu jam. Meski nafasnya tidak tersengal-sengal, namun keringat mengucur deras dari tubuhnya. Ayah menyodorkan handuk kecil untuk menglap keringat Andre.

Biarkan saja, Yah. Sekarang Andre tidak takut lagi untuk berkeringat. Lebih baik Andre berkeringat dan sehat. Daripada tidak berkeringat tetapi menjadi sumber penyakit seperti genangan air, tegas Andre.

Ayah hanya tersenyum mendengarnya. Dia senang karena Andre telah memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatannya sendiri. (*)


Pos Kupang Minggu, 28 Maret 2010, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda