Pantang Puasa

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


"JIKA engkau berpuasa, minyakilah rambutmu, basuhlah wajahmu, biar tiada seorang pun yang tahu bahwa engkau berpuasa," pesan indah ini rupanya tidak berlaku bagi Rara. Konon karena puasa, Rara tampil beda. Wajahnya khusut masai, rambut berantakan, tidak tenang, dan sesekali pegang perut menahan lapar.


"Aduh, saya puasa nih, maaf ya tidak ikut makan bersama-sama. Apalagi makan daging, aduh, sorry en maaf ya. Saya pantang daging," demikianlah Rara memproklamirkan dirinya bisa pantang. "Pantang daging selama empat puluh hari, makan kenyang hanya satu kali setiap hari Rabu dan Jumat, menjauhi rokok dan terutama sama sekali tidak minum moke," begitulah kata Rara sambil menghabiskan segelas moke sekali teguk.

***
"Syukurlah!" jawab Benza.
"Tentu saja," sambung Jaki bangga. "Kamis Putih aku akan pantang makan sepanjang siang dan separuh malam. Jumat Agung aku akan puasa selama dua puluh empat jam. Sabtu Paskah aku akan puasa sepanjang siang. Malam Minggu aku akan berdiam diri di kamar, merenungi kebangkitan Kristus. Nah, hari Minggu, baru aku mulai makan," panjang lebar penjelasan Jaki yang ditanggapi Benza dengan senyum berseri. "Aku dan Rara juga berderma, bagi-bagi sembako menyongsong Paskah. Biar puasaku lebih sempurna."

"Jaki," Nona Mia.

"Halo Nona Mia," Jaki kaget setengah mati sebab bualannya didengar langsung Nona Mia.

"Bagaimana pesta semalam? Aku lihat temanku Jaki dan Rara minum sampai mabuk. Wah, rupanya moke adalah bagian dari hidup masih melekat padamu berdua ya. Bukankah kita sudah berjanji untuk saling mengingatkan selama puasa? Bagaimana nih."

"Jaki," suara Benza membuat Jaki langsung pukul testa.

"Bukankah kita berempat sudah sepakat untuk membawa madu pekan suci?"

"Maaf, maaf sorry besar. Aku memang salah sudah ketangkap basah. Tetapi itu semata-mata karena bujuk rayu Rara. Aku sudah melanggar janji. Aku akan membawa madu ditangan kanan kiriku. Betul, aku akan lewati pekan suci dengan sungguh-sungguh serius mati raga... Masih ada kesempatan bukan?"

"Selalu ada kesempatan!" jawab Nona Mia. "Aku pun selama pra paskah ini pantangku bolong sana-sini. Tetapi aku janji untuk memperbaikinya, sungguh-sungguh..."

"Ya, kita bukan malaekat dalam menjalani masa puasa. Tetapi tentu saja bukan malaekat tidak berarti harus jadi setan bukan?"

***
"Halo, Pak Rara selamat bertemu lagi," wartawan menjabat erat tangan Rara. "Apa kabar?"
"Kabar baik, selalu baik!" Rara mengangguk-angguk bangga.

"Bagaimana pesta minggu lalu? Wah, kelihatan Pak Rara menikmati sekali ya. Maaf, sampai mabuk begitu? Waduh, minum moke berapa gelas Pak?"

"Aduh," Rara kaget setengah mati. "Mungkin keliru lihat ya? Yang mabuk minggu lalu itu Jaki bukan saya. Atau, mungkin Benza ya yang mabuk? Saya ini pantang puasa, benar-benar pantang puasa," Rara kelam kabut.

"Oh ya, Benza yang mabuk, bukan Rara!" Jaki
menyambung.

"Terus yang habiskan sate dua piring itu siapa ya? Yang tarik rokok sepanjang waktu pesta, siapa?"

"Saya! Sayalah orangnya. Eh, Nona Wartawan keliru malam ya?"

"Mungkin juga Benza, sebab Benza memang tidak puasa," Rara menegaskan.
***
"Apa tujuan Pak Rara berpuasa?" tanya wartawan.
"Tujuannya untuk pengendalian diri agar lebih mudah introspeksi diri, refleksi diri, evaluasi diri untuk menjadi manusia baru yang bangkit bersama kebangkitan Kristus," jawab Rara dengan sangat sopan.

"Kita juga berupaya agar menjadi teladan masyarakat dalam hal berpuasa."

"Tujuan berbagi sedekah sembako menyongsong pesta Paskah?"

"Mencoba menghayati makna senasib sepenanggungan. Berbagi kasih dengan cara berbagi rejeki. Ya, kita juga perlu menyampaikan kepada khalayak ramai bahwa kita ini orang yang pantas menjadi teladan. Harus banyak-banyak memberi teladan begitu."

"Boleh beri saran Pak? Puasa bicara. Sepanjang pekan suci ini mungkin bapak perlu membisu. Biar hati bapak yang bicara kepada bapak. Bagi kelompok masyarakat kita yang punya tradisi bicara banyak, dan banyak memberi janji. Pekan suci ini saat yang tepat untuk berdiam diri, introspeksi diri. Bagaimana?"

"Ya ya ya, setuju sangat. Memang itu agenda saya untuk minggu ini," Rara mendengar suaranya sendiri terasa janggal. Apalagi saat dilihatnya Nona Mia dan Benza tiba-tiba datang dengan rambut berminyak dan tersenyum berseri-seri.
***
"Aku malu pada Benza dan Nona Mia. Aku malu sekali dengan kelakuanku," Rara tampak menyesal. "Aku menyesal selama ini hanya berpura-pura...Seminggu ini aku benar-benar mau puasa. Mau mati raga, benar-benar..."

"He he mimpi apa mimpi?"

"Aku serius, Jaki!"

Jaki terheran-heran melihat perubahan Rara. "Benza dan Nona Mia kasih makan kamu racun apa sampai kamu berubah total dalam sekejab?"

"Bukan racun tetapi madu! Selamat menjalani pekan suci..." kata Rara.

"Bagi-bagi madunya ya... Selamat menjalani pekan suci juga..." kata Jaki. *


Pos Kupang Minggu, 28 Maret 2010, halaman 01

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda