Persinggahan Bocah "Indigo"

Cerpen Anice Tunayt

MATAHARI kira-kira berada pada derajat ke-45 dilihat dari posisinya terbit. Di bawah pohon asam di sebuah pekarangan rumah berdinding bebak, dalam buaian angin sepoi-sepoi basah, orang-orang ramai berkumpul.

Perempuan yang sudah beruban dan berkonde, dan yang masih kencang wajahnya, mencari kutu kepala. Sedang makhluk berkumis berjenggot, yang sudah botak beruban hingga yang masih merah-merah mukanya, menikmati legitnya laru gula, laru putih serta membakar daging babi sebagai teman minum.

Sesekali ada beberapa perempuan datang dan ikut membakar daging babi, membumbuinya dengan garam dan cabe merah lalu memasukan ke dalam mulutnya. Mereka mengobrol ria, tertawa terpingkal-pingkal. Suara tawa mereka melintasi jalanan, melewati rumah-rumah penduduk hingga sampai di ujung lapangan. Mereka menyebut kegiatan keseharian itu sebagai menikmati hidup.

Sedang anak-anak mereka yang masih kecil, yang belum waktunya ikut serta dalam program pemerintah Wajib Belajar Sembilan Tahun’ dibiarkan berkeriapan di bawah matahari yang mulai panas, sambil sesekali meraup debu tanah merah lalu menghamburkannya ke udara. Mereka berteriak-teriak senang.

Dari arah timur, muncul seorang bocah perempuan seumuran anak- anak yang sedang bermain itu, dengan buku kecil di tangannya, buku lusuh yang sudah tak bersampul lagi.


Mengenai buku lusuh itu, bocah ini menerimanya dari tangan seorang perempuan muda yang dijumpainya di jalanan pinggir kota beberapa tahun lalu.

Dan, karena buku lusuh itulah, bocah ini mulai merasa dan berpikir bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, ditambah lagi dengan satu buku kecil yang didapatkannya secara cuma-cuma, maka sudah sepantasnya iapun membagikannya kepada orang lain, mesti juga dengan tanpa mengharapkan imbalan.

Maka itulah, dengan perizinan ibunya, ia berniat mengembara dari kampung ke kampung, dari ke kota kota, dengan buku lusuhnya. Dan tempat dia berada sekarang adalah tempat keduanya setelah yang pertama di sebuah perladangan yang tak jauh dari rumahnya yang mana ia diterima baik disana.

Kemunculan bocah perempuan ini sungguh mengejutkan orang- orang yang sedang menikmati hidup di bawah pohon asam itu mengingat mereka tidak pernah melihat sang bocah sebelumnya. Semua mereka yang berkegiatan menghentikan keasyikannya sejenak lantas menoleh ke arah bocah asing’ ini. Dengan heran dan sinis mereka menatap apa yang ada di tangan sang bocah.

Sang bocah diam sejenak, mencoba menenangkan dirinya sebelum bergabung dengan mereka. Ia masih mengira-ngira reaksi apa yang akan ditunjukan orang-orang disitu. Beberapa menit berlalu ditemani perasaan mencekam dalam diri sang bocah. Maklum ini adalah kali pertama dia datang untuk turut dalam perkumpulan keseharian orang-orang disitu.

Saat masing-masing mereka kembali asyik dengan kegiatannya, sang bocah perempuan ini mengajukan idenya. Ia berkehendak menceritakan kisah-kisah inspiratif kepada mereka di sela-sela kegiatan itu serta mengajak mereka berkomentar tentangnya.

Mereka yang banyak itu lantas tertawa berbarengan lalu melanjutkan kegiatannya tanpa mengacuhkan suara dan kehadiran sang bocah. Seseorang diantaranya yang belum selesai ketawa memaksakan diri bersuara. Ia menyuruh sang bocah lebih baik pergi dan bergabung dengan kelompok anak-anak mereka, bermain debu tanah merah di bawah terik matahari yang makin lama makin panas itu.

Bego! Orang aneh” umpat sang ketua kelompok sambil mencomot sepotong daging babi yang baru dikeluarkan dari bara api lalu melicinkan tenggorokannya dengan satu setengah mug air berwarna itu. Umpatan sang ketua disambut pula dengan tawa dan cercaan dari para pria dan wanita pada sang bocah.

Kenapa dia datang untuk menawarkan pembicaraan yang berbeda? Kenapa pula dia datang mesti dengan buku? Kenapa tidak makanan? Kenapa tidak laru atau sopi? Kenapa tidak bumbu-bumbu buat daging babi biar makin sedap? Kenapa tidak yang lain, yang menggairahkan kita mungkin? Kenapa perlu pikir macam-macam? Apa dia pikir itu menarik? Yang bisa menarik perhatian kita? Hah?” semprot sang ketua itu kesal.

Orang disini tak perlu merubah cara-cara yang sudah mendarah daging, kalau menikmati hidup ya bicara hal-hal yang menyenangkan kita. Apa ini, acara kesenangan, kita malah bicara hal yang susah-susah? Yang berat-berat? Apalagi mau pegang buku? Kita semua sudah begini baik, kenapa dia sendiri yang begitu?” Kini sang ketua bernada heran sambil melirik pada sang bocah.

Harusnya dia lupakan ide gila itu, kubur rapat-rapat dan tak menyisakan cela. Dan buku itu, harusnya dia buang ke jalanan, dilindas truk dan motor, atau ke tungku, dilahap api, menjadi abu dan kemudian lenyap tak berbekas.

Kalau tidak, buang saja buku jelek itu ke kali, biar luluh lantak, hanyut bersama air kali yang mengalir menuju laut, lenyap disitu. Kemudian beramai-ramai kita membakar babi, minum laru gula, laru putih, bersenang-senang sepanjang hari, sepanjang malam tanpa harus berpikir macam-macam.” Seperti ayam betina kehilangan anaknya, ia terus berkotek-kotek sambil menoleh pada kumpulan orang-orang yang diam mendengarkan.

Kita sudah baik. Jagung ada, ubi kayu ada, air ada biar coklat dan kuning warnanya, toh masih bisa dipakai mandi, cuci, masak, minum. Toh tubuh kita sehat dan kuat.

Justru dengan menempuh jarak berkilo-kilo untuk mencari air di kali di bawah sana, tubuh bertambah kuat, otot bertambah keras, malah kita lebih kuat dari orang-orang lain di luar pulau. Sudah terbukti kita menjadi orang kuat di tanah Jawa, di Bali, di Jakarta, di tanah rantau manapun. Dengan bekerja sebagai tukang pukul orang, orang pulang kampung mengantongi banyak uang, juga cerita-cerita hebat.

Sedang pakaian ada melekat di badan. Tali dari daun gewang dan bebaknya masih bisa untuk melindungi badan dari terik matahari, guyuran hujan, tiupan angin malam.

Kita disini sapi ada, babi ada, ayam ada. Kalau perlu uang tinggal tangkap satu ekor dua ekor, jual dan terima uang.
Saat hari mulai gelap, kita ada lampu pelita, kayu kering dan daun- daun kering ada untuk jadi api unggun. Bulan juga lagi terang dan bisa sekedar untuk melihat pekarangan di waktu malam atau jalan- jalan keliling kampung.

Sedang anak-anak kita yang kita sekolahkan demi memenuhi kewajiban pemerintah dapat BKM* tiap semester, kita sendiri dikasih RASKIN** tiap 3 bulan, dan kalau beruntung, subsidi BBM 100 ribu tiap bulan itu berjalan terus, apalagi yang kurang? Apa lagi? Ayo apa lagi?” Ia berkoar terus sembari merentangkan kedua tangannya. Mulutnya penuh dengan daging babi bakar.

Bocah perempuan ini terpana. Ia menatap nanar ke arah sang ketua. Begitu heran dirinya akan reaksi demikian. Saat ia menyapu pandang sekilas pada orang-orang banyak itu, mereka hanya tampak melongo. Sedang anak-anak kecil di bawah terik matahari masih asyik dengan permainan mereka tanpa tahu menahu persoalan disini.

Hidup sudah enak, kenapa tidak disyukuri? Kenapa tidak dinikmati? Terima saja hidup ini, nikmati saja! Rasakan sentuhan lembut angin sepoi basah! Jarang-jarang orang mengalami kesenangan seperti kita, menikmati hidup di bawah pohon ditingkahi sejuknya belaian angin semilir.

Orang sudah begini enak, tidak bersyukur malah berlelah-lelah. Heran aku dengan orang-orang macam bocah perempuan yang baru lahir kemarin sore itu.” kata sang ketua itu lagi sambil menggeleng-geleng kepala. Nadanya mulai mereda. Tapi kemudian…

Ah! Dasar orang gila!” teriak sang ketua, lantang, sambil menoleh pada teman-temannya yang diam menatapnya.

Kenapa mesti ada perubahan? Kenapa mesti ada pembaharuan? Kenapa orang tidak menikmati hidup saja” umpat sang ketua kelompok itu lagi sembari meludah jarak jauh, berbunyi keras, mencipratkan ludah merah, coklat dan kuning, bercampur. Jadilah warna keruh itu menyentuh tanah dan kering seketika saking panasnya tanah disitu.

Oh…!” desah sang bocah sambari menarik napas. Ia berdiri mamatung, diam tanpa berniat membantah ucapan menyengat itu.
Mereka bilang aku orang aneh. Mereka bilang aku gila. Mereka bilang aku cari susah, cari lelah, tidak menikmati hidup” batin bocah itu lagi.

Apakah kalau lakuku begini, itu mencerminkan aku tidak menikmati hidup? Apa aku perlu menikmati hidup yang harus dengan cara mereka? Apa aku harus menyangkali dan menyingkirkan energi yang bersarang dalam tubuhku, yang direncanakan dan disediakan padaku sebelum diriku hadir di bumi, lantas turut bergabung untuk bersama-sama kami menikmati hidup dengan laku yang sama? Apa aku perlu mengkhianati dan meninggalkannya? Apa aku perlu bergabung agar dilihat menikmati hidup, padahal aku tahu aku hanya berpura-pura?” ia bertanya- tanya dalam hati. Tak ada seorangpun disitu yang mengetahui pergulatan batin sang bocah.

Ya sudah! Kalau ini kengerian buat mereka, biarlah ini keindahan buatku. Biarlah energi dalam diriku tetap menjadi alasan aku datang di planet bumi yang gersang ini. Aku menikmati hidup dengan menawarkan apa yang ada padaku. Entah diperhatikan, entah dipedulikan, entah dihargai, entah ditanggapi, aku tak peduli, aku menikmatinya.

Aku tetap berusaha. Dalam usahaku, aku tahu akan ada banyak air mata tumpah dari dua bola bulat di wajahku. Biarkan! Aku menikmati hidup!” ia mengangkat alis matanya dan meregangkan kedua sudut bibirnya.

Aku menikmati hidup dengan laku seperti ini karena kehendak kehidupan. Aku menikmati hidup dengan laku seperti ini karena mau dan untuk menunjukan kehidupan. Aku mau menikmati hidup demi kehidupan itu sendiri.” tegas sang bocah dalam hatinya, dengan keyakinan penuh.

Bocah perempuan ini pelan-pelan berbalik badan. Ke arah darimana ia muncul, kakinya diayunkan menuju ke sana. Demikianlah, sang bocah meninggalkan tempat itu, pulang.
Sedang orang-orang itu, yang menikmati hidup di bawah pohon, tetap melanjutkan kesenangannya. **

Keterangan
* BKM: Beasiswa Kurang Mampu
** RASKIN: Beras Miskin


Pos Kupang Minggu 14 Maret 2010, halaman 06

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda