Pesona Cagar Alam Mutis Dibiarkan "Merana"


FOTO ANTARA/LORENS MOLAN
KAWASAN MUTIS--Kawasan Cagar Alam Mutis sering dijadikan tempat menggembalakan ternak oleh warga di wilayah itu.


Oleh Lorensius Molan

SENJA itu, sekelompok awan putih terbang rendah menggapai puncak Mutis, yang konon 'rahimnya' hanya mengandung batu marmer. Suhu udara pegunungan terasa begitu sejuk di senja itu. Para petani perlahan-lahan meninggalkan ladangnya menuju rumah ketika kabut mulai mengepung Nenas, sebuah perkampungan sunyi di kaki Gunung Mutis.

Pemandangan alam di senja itu terasa begitu memesona dan elok di pandang mata. Demikian rekam jejak perjalanan jurnalistik Antara dan Kompas ke kawasan Cagar Alam Mutis seluas sekitar 12.000 hektare sepanjang hari Sabtu (13/3/2010) lalu.

Pesona Cagar Alam Mutis yang letaknya sekitar 45 km barat SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) tampak "merana" karena tidak ada upaya dari pemerintahan setempat untuk menjadikannya sebagai objek wisata.

Hamparan ampupu (Eucalyptus Urophylla), jenis tumbuhan yang menjadi ciri khas ekosistem dalam kawasan Cagar Alam Mutis, hanyalah menjadi arena permainan ternak sapi dan kuda milik penduduk yang bermukim di wilayah kantung (enclave) Cagar Alam Mutis.

"Bagaimana mungkin wisatawan mau berkunjung ke Cagar Alam Mutis dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang mulai dari Kapan, ibu kota Kecamatan Molo Utara sampai ke Nenas di wilayah Kecamatan Fatumnasi yang menjadi bagian dari kawasan Cagar Alam Mutis," kata Kepala Desa Nenas Uria Kore.
Jalan provinsi sepanjang 25 km mulai dari Kapan hingga Nenas, aspalnya sudah terkelupas dan berlubang-lubang sehingga sangat mengganggu kelancaran angkutan umum. "Wisatawan mau berkunjung atau berekreasi ke kawasan Cagar Alam Mutis pasti berpikir panjang, karena kondisi jalan yang sangat tidak memungkinkan dilalui kendaraan roda empat, kecuali kendaraan yang menggunakan derek," ujar Kore.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT Andre W Koreh ketika dikonfirmasi soal buruknya badan jalan tersebut mengatakan, pemerintah Provinsi NTT dalam tahun ini akan segera memperbaiki ruas jalan menuju Cagar Alam Mutis. "Ada anggaran untuk memperbaiki ruas jalan dari Desa Nenas menuju Sutual dalam kawasan Cagar Alam Mutis tahun ini," katanya kepada Antara melalui layanan pesan singkat (SMS) ketika dikonfirmasi melalui telepon genggamnya di Kupang, Senin (15/3/2010).

Jalan beraspal mulus hanya dapat dinikmati dari SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sekitar 110 km timur Kupang, ibu kota Provinsi NTT menuju Kapan, ibu kota Kecamatan Molo Utara sejauh sekitar 20 km.

Akibat buruknya badan jalan tersebut, keindahan alam dalam kawasan Cagar Alam Mutis seluas sekitar 12.000 hektare itu, tak pernah dikunjungi wisatawan dan hasil pertanian rakyat seperti bawang merah, bawang bombai, bawang putih, wortel, kentang dan kacang-kacangan sulit dipasarkan.

"Para petani kami disini menjual semua hasil pertanian dengan amat sangat murah kepada para cukong yang datang dari Kupang. Untuk menjual hasil pertanian ke Kupang, kami harus menyewa truk berkisar antara Rp1 juta sampai Rp2 juta," kata Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas Manuel Estepania kepada Antara dan Kompas di Desa Nenas, Sabtu (13/3/2010) malam.

Andre Koreh mengatakan pihaknya sangat berkeinginan untuk merehab semua jalan provinsi di NTT, namun anggarannya sangat terbatas sehingga lebih diprioritaskan pada kawasan sentra produksi pangan di masing-masing daerah. "Tahun ini, ada sedikit dana untuk ruas jalan Nenas-Sutual. Anggaran kita sangat terbatas untuk tahun ini sehingga perlu dialokasikan lagi untuk tahun-tahun berikutnya," kata Koreh.

Desa Nenas adalah salah satu dari tiga wilayah kantung (enclave) dalam kawasan Cagar Alam Mutis di wilayah Kecamatan Fatumnasi. Masyarakat di desa-desa tersebut diperbolehkan untuk mengolah lahan pertanian dalam kawasan Cagar Alam Mutis oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT.

Menurut Kepala Desa Nenas Uria Kore, wilayah Kecamatan Fatumnasi merupakan salah satu daerah lumbung pangan selain objek wisata alam di Kabupaten Timor Tengah Selatan, namun sarana dan prasarana jalan sungguh sangat buruk sehingga menyulitkan para petani untuk memasarkan hasil pertaniannya dengan baik.

"Jalan dari Kapan ke kawasan Cagar Alam Mutis sepanjang sekitar 25 km, diaspal pada jaman pemerintahan Bupati Timor Tengah Selatan Piet Alexander Tallo (alm) periode kedua antara 1988-1993. Hingga kini kondisinya rusak parah," katanya.
Menurut dia, ketika kondisi jalan masih beraspal mulus, ada sekelompok pengusaha dari Kupang dengan membawa sekitar 30 kendaraan, berkemah di bawah kaki Gunung Mutis untuk menikmati udara alam di kawasan tersebut.

Kawasan Cagar Alam Mutis tidak hanya memiliki tanaman Ampupu yang menjadi ciri ekosistem cagar alam tersebut, tetapi juga ada perbukitan marmer dan hamparan batu mangan yang sangat luas dalam kawasan tersebut. Selain itu, wilayah tersebut menjadi salah satu lumbung pangan bagi masyarakat Timor Tengah Selatan, namun tidak didukung oleh sarana dan prasarana jalan yang memadai.

Mantan Kepala Desa Nenas Simon Sasi mengharapkan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Provinsi NTT memberi perhatian kepada kawasan Cagar Alam Mutis dengan memperbaiki ruas jalan yang rusak itu. "Potensi ekonomi dan pariwisata di kawasan ini sangat menjanjikan, namun tak pernah dipedulikan oleh pemerintah daerah dalam membangun sarana dan prasarana penunjang seperti jalan," kata El Pania, sapaan akrab Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas Manuel Estepania.

"Di kawasan tersebut ada peninggalan rumah milik Belanda, dan mungkin merupakan satu-satunya rumah seng pertama di Pulau Timor," tambah Simon Sasi yang selama 15 tahun menjadi Kepala Desa Nenas.

Selain itu, jika ada raja (usif) atau keturunan bangsawan di Timor yang meninggal, nama mereka sudah tertulis dalam sebuah batu raksasa di Gunung Mutis. "Ini sesuatu yang tidak rasional jika diterima secara akal sehat, tetapi faktanya memang demikian," kata Pania menggambarkan kekayaan wisata alam di kaki Gunung Mutis itu.

"Kami hanya berharap pemerintah dapat memperbaiki badan jalan yang rusak parah ini agar wilayah kami bisa dikunjungi wisatawan serta memudahkan masyarakat kami dalam memasarkan hasil pertaniannya ke SoE maupun Kupang," kata Pania dan Kore.


Bukan ancaman
Masalah penggembalaan liar dalam kawasan Cagar Alam Mutis sempat dikhawatirkan akan menjadi ancaman bagi upaya pelestarian hutan di kawasan tersebut.


"Penggembalaan liar bukan merupakan ancaman bagi proses regenerasi tumbuh kembangnya tanaman di kawasan tersebut.
Sejak dulu kala ternak sapi maupun kuda berkeliaran bebas dalam kawasan Cagar Alam Mutis. Injakan kaki ternak yang 'melukai' akar tanaman selalu menumbuhkan tunas baru, bukan mematikan," kata Edy Oematan, salah seorang tokoh masyarakat dari Desa Nenas.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT Kemal Amas sebelumnya mengatakan Cagar Alam Mutis saat ini mendapat ancaman yang cukup serius dari penggembalaan ternak liar milik warga Desa Nenas yang berada dalam wilayah kantung cagar alam tersebut.

"Injakan kaki kuda atau sapi di kawasan tersebut sangat menghambat proses regenerasi tumbuh kembangnya tanaman di Cagar Alam Mutis. Ini ancaman yang cukup serius dalam menjaga kelestarian hutan," katanya.

Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas El Pania mengatakan masalah penggembalaan liar sudah lama berlangsung dalam kawasan Cagar Alam Mutis, dan tak pernah merusak kelestarian hutan seperti yang dikhawatirkan BKSDA dan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

"Jika tidak ada penggembalaan, rumput-rumput yang ada dalam kawasan Cagar Alam Mutis berpotensi terbakar. Kebakaran dalam kawasan hutan lindung, misalnya, selalu muncul tanpa diduga.

Sampai sejauh ini, kami belum temukan orang yang membakar dalam kawasan hutan," tambah Simon Sasi.

Menurut dia ternak sapi maupun kuda tidak pernah makan atau merusak tanaman Ampupu (Eucalyptus Urophylla) yang menjadi ciri khas Cagar Alam Mutis.

"Ekosistem serta kelestarian alam dalam kawasan Cagar Alam Mutis tetap terjaga hingga kini karena setiap penggembala ternak akan selalu menjaganya. Aturan adat kami di sini sangat tegas sejak ayah saya Leonardus Oematan menjadi raja di wilayah ini," kata Oematan.

"Tanaman yang sudah mati pun dilarang ambil untuk kayu api, apalagi membakar hutan," katanya dibenarkan pula oleh Simon Sasi dan El Pania.

Menuru Simon Sasi, jumlah ternak sapi yang ada dalam kawasan hutan lindung Mutis-Tiimau dan Cagar Alam Mutis sekitar 400 ekor, sedangkan ternak kuda antara 30-40 ekor.

Menurut hasil penelitian WWF (World Wide Fund for Nature) Nusa Tenggara pada 1996, jumlah ternak sapi dan kuda yang berkeliaran bebas dalam Cagar Alam Mutis dan kawasan Hutan Tiimau sekitar 24.000 ekor.


Jumlah ini terus berkurang hingga 23 persen atau sekitar 19.000 ekor pada 2006. Sementara kawasan Cagar Alam Mutis dan kawasan Hutan Tiimau telah berkurang sekitar 75.000 hektare dari sebelumnya sekitar 90.000 hektare pada 1974. "Masyarakat kami di sini (Nenas) sangat patuh pada aturan adat sehingga terus menjaga kelestarian hutan dalam Cagar Alam Mutis. Ternak masyarakat yang ada dalam kawasan cagar alam ini bukanlah menjadi ancaman seperti yang dikhawatirkan banyak pihak," kata Uria Kore.

Jika musim hujan tiba, tambahnya, warga desa dalam wilayah kantung Cagar Alam Mutis wajib menanam pohon dalam kawasan tersebut.

"Anakan tanaman diperoleh dari dalam kawasan hutan atau dari ladang penduduk yang mengolah lahan dalam kawasan itu kemudian ditanam kembali pada areal yang masih kosong atau di samping pepohonan yang sudah tua usianya sebagai bentuk regenerasi hutan," katanya.

Cagar Alam Mutis merupakan daerah tangkapan air (hulu) bagi dua daerah aliran sungai (DAS) besar di Pulau Timor bagian barat NTT, yakni DAS Benenain seluas 384.331 hektare dan DAS Noelmina 191.037 hektare.

Menurut peneliti ilmu pertanian dari Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr L Michael Riwu Kaho, sebagian besar tata air permukaan di Pulau Timor bagian barat NTT diatur oleh hubungan antara hutan dalam Cagar Alam Mutis dan daerah tengah serta hilir dua DAS besar tersebut.

Cagar Alam Mutis berada pada ketinggian sekitar 2.472 meter dari permukaan laut, kawasan itu merupakan salah satu bentang terakhir kawasan hutan di Timor bagian barat NTT. Menurut Riwu Kaho luas hutan di Timor bagian barat NTT hanya 240.109.178 hektare, yang tergolong sebagai hutan primer kering sekitar 6,15 persen dari luas kawasan hutan yang ada.

"Melihat kondisi hutan yang ada, kawasan Cagar Alam Mutis memiliki nilai yang sangat penting karena merupakan salah satu bentang terakhir dari kawasan hutan di Timor bagian barat NTT," katanya menambahkan.(*)


Pos Kupang Minggu 21 Maret 2010, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda