STEPHANUS Djawanai, putra NTT asal Kabupaten Ngada, dikukuhkan menjadi guru besar (profesor) bidang linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (6/11/2010). Dia menjadi profesor keempat asal NTT di UGM.

Sebagai seorang linguis, dia sudah melahirkan berbagai gagasan di bidang bahasa dan kebudayaan. Dia juga memberikan perhatian yang serius terhadap bahasa-bahasa daerah (lokal). Menurut dia, bahasa-bahasa itu harus dilestarikan karena memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seseorang dan menjadi sumber gagasan.

Berikut petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Agus Sape, dengan Prof. Dr. Stephanus Djawanai di Kupang, bulan lalu.

Bolehkah Anda mengemukakan makna dari pengukuhan Anda?

Untuk saya pengukuhan itu adalah pengakuan akademik dari komunitas di Universitas Gadjah Mada (UGM). Oleh karena itu, saya rasa penting. Saya sebenarnya sudah pernah menjadi guru besar di universitas di Nagoya antara tahun 1996 - 1999.

Sedangkan di UGM belum, karena waktu itu belum diurus. SK guru besar itu baru keluar dari Menteri Pendidikan Nasional pada tanggal 1 Agustus tahun 2008. Sebenarnya pada tahun 2008 itu, saya sudah ingin segera pidato pengukuhan. Karena pidato pengukuhan ini sebenarnya menceritakan kembali filsafat pribadi saya mengenai pendidikan. Saya mengambil topik, Telaah Bahasa, Telaah Manusia.

Apa yang ingin Anda kemukakan melalui topik ini?
Saya sebetulnya ingin sekali membangun, setidak-tidaknya awal dari suatu teori manusia, berdasarkan pendidikan sebagaimana yang saya lihat dan yang saya alami sendiri. Karena saya suka sekali pada experiencial learning. Bahwa kita itu harus belajar dari apa-apa yang kita alami sendiri, yang kita tahu betul. Itu sebetulnya saya pelajari dari pendidik yang baik seperti Romo Mangunwijaya yang mengajarkan dalam dinamika edukasi dasar. Hal semacam itu sebetulnya yang perlu kita tanamkan dalam pendidikan.
Pada saat pidato pengukuhan itu, saya menggunakan forum betul untuk menyatakan diri saya, pertanggungjawaban saya sebagai sarjana, guru besar, setelah berjalan sekian puluh tahun itu. Pertanggungjawaban saya dalam arti pemahaman saya mengenai pendidikan itu apa.
Tema yang saya pakai waktu itu -- dan saya selalu pakai untuk perkuliahan S1, S2 maupun S3 -- adalah apa yang disebut rote learning, proto learning dan deutero learning.

Apa maksudnya?
Yang dimaksudkan dengan rote learning itu sebetulnya hafalan. Dari kecil itu kita diberi pengetahuan, kita hafal, kita tahu itu. Lalu proto learning, kita sendiri mulai mengamati menggunakan perspektif sendiri, kemudian mempelajari keadaan di sekitar kita. Sedangkan deutero learning menyangkut hal dasar bagaimana kita belajar.
Tapi yang lebih penting dalam pendidikan, dan itu yang saya mau ceriterakan dalam pidato pengukuhan saya itu, adalah to learn hard to learn. Bagaimana manusia itu dan hanya makhluk manusia yang terlibat dalam mendidik dirinya sendiri. Dia belajar untuk belajar sehingga kita bisa sebut dalam bahasa mentereng homo educandus et educandum, orang yang terpelajar dan terus-menerus mau belajar dan mendidik dirinya sendiri, makhluk lain tidak ada yang seperti itu. Itu yang mau saya ceriterakan dalam disertasi saya.
Sebetulnya ada konsep yang lain di situ yang ingin juga saya kemukakan sebagai sesuatu yang tidak banyak dilihat orang yaitu konsep yang saya sebut sebagai konsep singularity (singularitas): manusia dan bahasa sebagai satu-kesatuan. Itu juga saya ambil dari konsep ilmu Fisika Stephen Hawking yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari satu wujud tunggal. Saya melihat manusia dan bahasa sebagai satu-kesatuan itu merupakan singularitas.

Buktinya dari mana?
Ya, saya kutip injil Yohanes 1:1 yang mengatakan: Pada mulanya adalah firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan firman itu adalah Allah. Itulah sebetulnya filsafat manusia. Kita harus mengerti dan memahami bahwa kita ini bagian dari wujud yang besar. Itu yang harus ditanamkan pada anak.
Dalam pidato itu saya katakan bahwa kita pada zaman ini sibuk dengan misalnya pemanasan global dan segala macamnya. Nah, kalau ada pemanasan global, siapa yang bisa menyelamatkan planet ini. Tidak ada makhluk lain mana pun selain manusia, hanya manusia, karena dia belajar dan terus-menerus mengajarkan dirinya. Hanya dia yang bisa menyelamatkan planet ini. Semua makhluk lain tidak bisa. Itu keistimewaan manusia yang mau saya tunjukkan, dan semua itu selalu diceritakan, diungkapkan dalam sejarah peradaban kebudayaan manusia.

Anda khawatirkan punahnya sejumlah bahasa lokal, kenapa?

Betul. Saya sebutkan itu karena matinya satu bahasa, artinya kita kehilangan satu ensiklopedi. Peradaban dan kebudayaan ada di situ. Dia tertangkap, tertera, ditempa dalam perjalanan hidup. Ya, di dalam bahasa itu. Jadi jangan sampai itu hilang.
Dalam pidato sebagai guru besar saya mau menunjukkan kepada semua kita ilmuwan dan orang yang bekerja di masyarakat bahwa bahasa itu unsur penting dari manusia; bahasa itu unsur penting dari pendidikan; bahasa itu unsur penting dari sejarah; bahasa itu unsur penting dari peradaban. Jangan kita meremehkan bahasa, baik untuk pendidikan maupun untuk hal- hal yang lain.

Anda bisa menjelaskan alasan Anda?

Begini, semua orang kalau berbicara mengenai ilmu dasar, pasti yang dimaksudkan adalah Matematika, Fisika, Biologi. Baik semua itu. Tapi, jangan lupa ilmu dasar juga bahasa. Kalau ditanamkan apa-apa yang baik pada anak, pemahaman tentang bahasa sejak kecil, dia mencintai bahasa, karena bahasa itu yang membuka baginya dunia pengalaman. Dia bisa membaca dan bisa belajar karena ada bahasa. Kalau tidak ada bahasa, tidak mungkin bisa yang lain. Sebagai linguis saya merasakan itu. Sejak saya lulus tahun 1980, saya selalu merasakan bahwa -- mungkin saya salah -- orang sepertinya mengesampingkan soal bahasa itu lalu urus yang lain. Itulah menurut saya tidak benar. Bahasa itu harus menjadi dasarnya.
Itu juga saya pelajari dari Gregory Bateson (antropolog, linguis dari Inggris, 9 Mei 1904 - 4 Juli 1980), bahwa bahasa itu yang membuka pada kita, membawa kita kepada berpikir secara ekologis. Jadi ekologi pikir, ekologi sosial, ekologi alam. Hanya kita manusia yang bisa omong-omong dengan dirinya sendiri. Manusia bisa melihat alam, mengagumi lalu membicarakan dan merenungkannya. Hanya manusia yang bisa merenungkan.
Tetapi, proses perenungan itu mengikuti logika bahasanya. Tidak bisa tidak. Oleh karena itu, bahasa itu yang membuka pola pikir kita.
Di dalam disertasi saya, saya ungkapkan terima kasih kepada bahasa Ngada dari Bajawa. Kenapa? Karena bahasa itulah yang membuka pengalaman dunia ini kepada saya. Karena pada waktu saya lahir, saya tidak tahu apa-apa. Sebagai anak tidak tahu. Tapi orangtua, saudara dan sekeliling bercerita kepada saya mengenai hidup sehari-hari dalam bahasa Ngada. Jadi bahasa itu yang mengantar saya dalam proses mendidik diri saya menjadi manusia.

Anda tampaknya memberi perhatian pada teori manusia?

Ya, karena menurut saya, pendidikan itu harus bisa menghasilkan manusia yang baik. Kita lulus dengan nilai yang bagus dari sekolah, dari perguruan tinggi, itu baik. Tetapi menurut saya, lebih penting lagi kita harus berhasil lulus sebagai manusia. Kalau kita gagal sebagai manusia, apa yang tersisa dari hidup kita, tidak ada lagi. Kalau manusia berarti kita harus cinta kasih kepada orang lain, cinta kasih kepada Tuhan. Itulah yang disebut manusia, dan itu diceritakan selalu dalam bahasa. Coba kita periksa semua teks cerita dongeng dari semua suku bangsa di dunia, pasti dia menceritakan hal itu, dan itu bisa diwariskan dalam bahasa. Oleh karena itu, kalau sebuah bahasa mati, habis, kita mau tanya siapa lagi. Itu sebetulnya habis, hapus, terbakar suatu ensiklopedi, dan itu tidak tergantikan.

Sekarang orang cenderung membedakan antara bahasa modern dan bahasa daerah. Orang yang menggunakan bahasa daerah dianggap kampungan.

Itu sesuatu yang agak menakutkan pada masa sekarang ini karena orang tidak lagi merasa bangga, merasa memiliki bahasa daerah atau bahasa-bahasa suku yang ada. Semua orang sepertinya menganggap prestisius kalau bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Lebih lagi kalau dialek Jakarta. Pada waktu kita tidak lagi memperhatikan bahasa sendiri, itu sama dengan kita tidak lagi mengingat lingkungan yang membesarkan kita. Seperti kacang melupakan kulit. Kulit kita adalah bahasa itu. Bahasa itulah yang membuka bagi kita pengalaman. Memang bahasa modern mungkin lebih canggih, lebih maju. Tetapi bahasa tradisional yang kita pelajari dulu sejak kecil itu juga sudah memainkan peranan penting dalam pengembangan diri kita sebagai manusia. Dan, itu hal yang amat mahal. Sangat disayangkan kalau kita sendiri tidak menghargainya.

Dalam Sumpah Pemuda kan sudah dikatakan, kita menjunjung bahasa persatuan, tidak pernah disebut satu bahasa. Bahasa persatuan, bahasa Indonesia itu. Itu sebetulnya mengimplikasikan bahwa kita harus menghargai, meneliti, memelihara semua bahasa daerah sebagai kekayaan.
Dalam semua bahasa itu pasti ada apa yang disebut pembicara yang baik. Mereka itu sebenarnya pujangga tradisional. Dan, kalau kita lihat semua bahasa tradisional, orang selalu bicara dalam bentuk-bentuk metafora. Melalui metafora itu dia menggambarkan pengalamannya. Kalau saya mengemukakan sesuatu, janganlah saya menyakiti hati orang lain, Saya ungkapkan melalui metafora. Metafora itu justru mengajak kita untuk terus memberi interpretasi yang baru sehingga suatu bahasa menjadi kuat.

Hal-hal lain yang saya takutkan adalah bahasa Indonesia menjadi terlalu kuat. Saya sama sekali tidak ingin meremehkan fungsi bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa, tapi bahasa ini menjadi terlalu kuat dalam pengertian begini, sebenarnya bahasa Indonesia itu kan fungsi pokoknya itu adalah hal-hal yang formal, resmi. Hal-hal yang sehari-hari, keluarga, itu seharusnya porsi bahasa daerah. Di rumah orang berbahasa daerah. Persoalannya, sekarang juga bahasa Indonesia sudah mengembangkan ragam informal yang begitu kuatnya. Itu sebetulnya yang mengalahkan bahasa-bahasa daerah itu. Ragam formalnya tidak apa-apa.

Bagaimana memperbaiki pemahaman mengenai bahasa daerah ini?
Ya, harus ada penelitian, pemetaan bahasa dengan baik. Itu khasanah pengetahuan yang harus kita catat. Lalu kita tanamkan kembali pelan-pelan bahwa ini mempunyai fungsi penting dalam pengembangan kepribadian kita.
Anak-anak di Amerika saja sekarang banyak yang mulai berpikir, loh kita ini kok bisanya hanya bahasa Inggris ya. Kita juga harus belajar bahasa lain, dan dia mempelajari bahasa nenek moyangnya. Di Australia bahkan ada peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap anak Australia memahami bahasa asing lainnya, dan di antara itu harus ada bahasa Asia. Kenapa kita kok malah tidak mau mempelajari bahasa kita sendiri.

Mungkin karena orang menganggap bahasa daerah itu tidak logis

Ah, bagaimana bisa bahasa daerah dianggap tidak logis? Tidak bisa. Dia memiliki logikanya sendiri. Tidak logis itu hanya anggapan orang, karena dia menggunakan kaca mata orang lain. Dia tidak melihatnya dari dalam dan tidak melihat bagaimana sumbangan bahasa itu dalam membangun peradaban lokal.
Saya selalu melihat bahwa bahasa-bahasa lokal yang kecil-kecil atau bahasa daerah itu justru suatu ciri khas keegaliteran berbahasa. Kita itu merasa bahwa bahasa saya ini juga sejajar dengan bahasa Indonesia, bisa saya gunakan dalam waktu dan tempat yang tertentu. Tidak semua, tapi dia itu egaliter. Adanya bahasa-bahasa begitu banyak karena orang merasa egaliter.

Hanya kita sekarang ini kan celaka. Bunyi-bunyi bahasa daerah yang bagus saja, seperti kalau kami di Bajawa, ada bunya dental "dha". Anak-anak semua memakai "da" karena "da" itu apiko dental. Kenapa? Karena bahasa Indonesia itu dianggap lebih modern. Jadi dia menggunakan bahasa daerah, tetapi tidak lagi menggunakan "dha" yang berasal dari bahasa daerah, tetapi dengan bunyi "da" yang diambil dari bahasa Indonesia. Jadi orang sebut Ngada, padahalnya Ngadha. Itu kan bunyi inklusif. Jadi kita kehilangan sesuatu yang istimewa, karena ternyata bunyi-bunyi itu justru menceritakan mengenai kekunoan sejarah bahasa ini. Bunyi-bunyi itu adalah pretensi perkembangan dari bahasa yang lampau.

Dari situ orang melihat, oh dulu bahasa-bahasa ini mungkin saling berhubungan lalu kemudian dia berpindah dan menyebar ke mana-mana. Jadi dengan mempelajari bahasa, mengikuti itu semua, kita bisa melacak hubungan kekerabatan antarbahasa dan bagaimana penamaan tanaman dan hewan. Kita bisa tahu, oh ya, tanaman ini dalam bahasa daerah kita disebut ini, tetapi yang ini kok kita pakai bahasa Indonesia, berarti yang ini memang asli di sini. Dia lebih kuno, dan dengan demikian kita bisa mempunyai gambaran, oh migrasi penduduk dulu itu begini. Kita bisa lihat dari bahasanya, bagaimana bahasa itu dipakai untuk menamakan tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman pohon kayu untuk kita bangun rumah maupun di dalam upacara-upacara.

Apa tanggapan orang atas pidato Anda? Saya senang karena setelah pidato saya itu ada banyak yang menyampaikan kepada saya bahwa ternyata penting juga mengetahui bahasa itu, ternyata penting juga melihat ciri rancang bahasa manusia itu. Ciri rancang bahasa manusia menurut penemuan saya itu ada 22. Ciri rancang ini yang memungkinkan bahasa bisa berkembang sampai begitu canggih dan begitu modern. Ciri rancang itu tidak ditemukan dalam sistem komunikasi lain mana pun. Itu yang saya buat.

Anda tadi katakan bahwa Anda sudah pernah dikukuhkan jadi profesor di Jepang. Apakah mungkin seseorang dikukuhkan profesor lebih dari satu kali?

Begini, pada waktu saya bekerja di Jepang, tahun 1996- 1999, saya diundang untuk mengajar di suatu perguruan tinggi, kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang, antara Universitas Gajah Mada dan universitas yang di sana (Jepang). Di sana saya disuruh mengajukan semua bahan yang dibutuhkan supaya bisa diajukan kepada Departemen Pendidikan untuk dinilai. Dari penilaian itu saya dihargai sebagai profesor. Hanya, itu tidak menempuh prosedur pemerintah Indonesia.

Ada beda tidak prosedurnya?

Sama, hanya kita di sini ada aturan penjenjangan. Kalau di sana tidak. Begitu dia lihat baik, langsung diakui. Begitu dia lihat disertasi diterbitkan di Australian National University (ANU, di Canberra, Red), langsung dia bilang, ini sesuatu yang amat bernilai, berhak diangkat sebagai guru besar. Tapi itu di luar, ndak apa-apalah.

Anda dikukuhkan sebagai guru besar di Indonesia setelah berapa tahun sebagai dosen?

Saya mulai sebagai pegawai negeri sipil itu pada tahun 1973. Jadi kalau SK profesor itu tahun 2008, berarti saya jadi profesor setelah 35 tahun. Pidatonya kapan saja kita mau, tapi SK-nya 1 Agustus 2008.

Apakah pertama kali Anda langsung mengabdi di UGM?

Sebelumnya, saya menjadi guru SMA di Bajawa, kemudian di Yogya dan Semarang saya bekerja sebagai direktur akademi bahasa asing. Saya juga pernah mengajar di Universitas Diponegoro Semarang. Tapi saya diangkat sebagai pegawai negeri sipil itu di UGM tahun 1973.

Dari awal Anda memang di jurusan linguistik?

Sebetulnya saya dulu dari sastra Inggris. Saya ke linguistik itu karena kesenangan saja. Karena dari kecil saya suka dengan bahasa. Dari kecil saya sudah tinggal di Ruteng, lalu sekolah di Ende, belajar bahasa Ende, bahasa Belanda dan pendidikan di seminari. Karena pendidikan di seminari itu kita diberi kesempatan untuk belajar (sendiri) segala macam bahasa. Bahasa Perancis, Bahasa Jerman, Bahasa Kawi, Bahasa Arab, Bahasa Latin dan Bahasa Inggris. Waktu di kelas IV (kelas I SMA) Seminari, kami sudah bisa pidato dalam bahasa Inggris. Jadi saya memang sudah sangat suka dengan bahasa.
Kemudian saya sekolah di Amerika. Di sana saya belajar bahasa Sansekerta, karena bahasa ini mempengaruhi bahasa-bahasa lain cukup besar. Saya harus tahu sedikit. Lalu pengetahuan saya tentang bahasa Latin, meskipun tidak begitu dalam, amat menolong saya untuk memperkaya pengetahuan saya tentang bahasa Inggris. Karena saya mengajar sejarah Bahasa Inggris, dengan sendirinya saya harus urut semua ke belakang.

Apakah Anda punya prestasi sehingga bisa mengajar di UGM?
Lumayan. Karena begini, kita sebetulnya, ciri khas anak-anak Flores, itu juga yang selalu saya tanamkan kepada mahasiswa yang baru sekarang, kita itu boleh memiliki ini-itu segala macam, kita mau bersaing dengan orang lain, harta kita tidak punya. Kehebatan secara fisik kita tidak punya. Kita ini kan daerah kecil. Kita harus bisa bersaing dari sini (menunjukkan keningnya, intelek). Makanya saya selalu bilang, ekologi pikir. Dari otak yang baik kita bisa bersaing, kita masuk. Begitu kita masuk, bekerja yang benar, jujur, sebaik-baiknya, kerja keras. Orang dengan sendirinya menghargai. Begitu juga saya.
Jadi saya itu di UGM. Saya orang NTT keempat yang diangkat menjadi profesor di UGM. Pertama, profesor Johannes untuk bidang nuklir, kedua Profesor Charles Rangga Tabu untuk bidang kedokteran hewan, ketiga, Profesor Yeremias Keban, keempat, saya. Itu melalui seleksi yang amat ketat.*


Pos Kupang Minggu 28 Maret 2010, halaman 03

1 komentar:

Selamat untuk Bpk. Prof. Dr. Stephanus Djawanai yang dikukuhkan sebagai guru besar UGM. sebagai salah satu muridnya dulu di STBA LIA Yogyakarta, saya sangat bangga akan keberahsilan beliau sebagai salah satu putra terbaik NTT yang dikukuhkan sbg guru besar karena saya tidak meragukan lagi akan kemampuan beliau dan talenta yang dimiliki sebagi budayawan sejati yang cinta akan bahasa teristimewa bahasa daerah. sekali lagi selamat buat Bapak dan salam hangat dari anak anak NTT di STBA LIA Yogyakarta

21 April 2010 00.47  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda