Djemi Lassa, Berawal dari Jual Kue Keliling


POS KUPANG/ALFRED DAMA Djemi Lassa

MELEWATI masa kanak-kanak hingga remaja dengan bekerja keras merupakan masa lalu yang pahit bagi Djemi Lassa. Sebab, saat anak-anak seusianya menikmati masa muda dengan bermain dan berkreasi, pria asal SoE ini malah harus bekerja keras membantu kedua orangtuanya.

Orangtuanya sebagai pengusaha yang bangkrut menuntutnya ikut menanggung beban keluarga. Bukan saja sebagai penjual kue, dia juga pernah bekerja sebagai pembuat batako, pendorong kereta dan pemikul balok kayu di hutan.


Namun semua ini dijalaninya dengan senang hati, bahkan Djemi merasa ini pelajaran sangat berharga yang membentuk mentalnya untuk menjadi seorang pengusaha.

Usahanya yang kini mulai maju sebenarnya berawal dari usaha menjual komputer bekas. Namun kini Djemi memiliki beberapa unit usaha yang sedang berkembang.

Saat bercerita dengan Pos Kupang di ruang kerjanya di Kantor Timorese Group, Jalan Tom Pello-Kupang, dirinya sangat ingin memotivasi anak-anak dan remaja penjual kue, pendorong kereta dan pekerja lainnya untuk bersemangat.

Karena, kesempatan menjadi penjual kue merupakan sekolah menempa mental mereka. Berikut perbincangan Pos Kupang dengan Djemi Lassa.

Anda kini menjadi seorang pengusaha muda yang sukses. Bagaimana perjalanan Anda hingga sampai saat ini?

Yang menarik itu kalau dihubungkan dengan masa kecil, saya ini anak kedua dari enam bersaudara. Masa kecil saya tidak terlalu bagus. Dalam arti begini, waktu itu papa saya memiliki usaha, tapi bangkrut. Jadi saya ikut kerja membantu keluarga. Kerjanya ganti-ganti. Ini untuk menghidupkan keluarga kami. Bapak saya tanam padi di sawah di sekitar Takari dan tanam hasil bumi lainnnya, seperti bawang dan wortel. Nah, yang menarik saya ketika mulai masuk SD kelas VI sampai SMP itu saya berjualan kue. Kue itu ditaruh di keranjang lalu saya menjual kue keliling kota. Ini saya kerjakan sampai saya masuk SMA. Jualan kue keliling ini mulai pagi pukul 05.00 Wita. Mama mahir buat kue. Jadi kue yang dibuat mama ini saya yang jual. Jualan sampai jam 06.30Wita. Setelah itu kembali ke rumah karena harus sekolah. Nah pulang sekolah jual lagi.

Apa pekerjaan ayah Anda saat itu?
Papa saya itu penebang kayu di hutan. Jadi saya juga pernah ikut papa ke hutan. Kerjaan saya seperti yang lainnya, yaitu memikul balok kayu dari hutan untuk dibawa ke pinggir hutan bahkan sampai di tepi jalan atau di tempat yang bisa dijangkau oleh truk untuk mengangkutnya. Anda bisa bayangkan, saya memikul kayu di hutan, jalan jauh bahkan mungkin berkilo-kilo meter. Jadi dulu saya cari itu dengan cara begitu sampai pernah saya sakit malaria karena tinggal hampir satu bulan di kampung. Ya banyak hal. Saya juga pernah membantu papa waktu usaha sawah, misalnya usir burung di sawah. Itu hal yang bisa kita kerjakan. Bahkan sampai di SMA saya pernah ikut cetak batako. Waktu itu saya dapat honor Rp 100 per batu.
Nah, waktu berjalan saya masuk SMA.

Tapi Anda tetap sekolah? Apa cita-cita Anda waktu itu?
Saya tetap sekolah, dan saya punya cita-cita waktu itu mau jadi dokter. Cuma waktu kelas II dan kelas III SMA, saya mulai berpikir kalau saya sulit jadi dokter dan mama tidak mungkin mengizinkan saya sekolah dokter karena masalah ekonomi keluarga. Karena mama hanya seorang ibu rumah tangga yang membantu papa saya dengan menggoreng kripik dan jualan. Jadi mustahil bisa kuliah.

Tapi Anda bisa kuliah?
Ya, waktu itu ada peluang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan beasiswa. Peluang itu diberikan Universitas Petra- Surabaya tahun 1996. Waktu itu saya tes dan sangat bersyukur bahwa saya lulus. Meski lulus, saya masih bingung karena beasiswaa itu full tanpa uang makan dan minum. Nah, uang makan minum ini dari mana, saya sempat bingung juga karena saat itu ekonomi keluarga kami belum membaik. Tapi saya tetap kuliah, meski setengah mati, mama tetap mengirimkan saya uang Rp 150 ribu perbulan, itu untuk uang penginapan dan makan-minum. Meski hanya Rp 150 ribu, juga tetap sulit, tapi luar biasa juga karena meski dalam keadaan sulit mereka masih mau membiayai saya untuk bisa kuliah di Universitas Petra Surabaya. Waktu itu saya masuk jurusan teknik sipil.

Apa rencana Anda waktu itu?
Saya masuk teknik sipil juga sama seperti teman-teman lain, jadi cita-cita gampang yaitu tamat kuliah kerja pada kontraktor untuk menggarap proyek dan kita sebagai insinyur dan waktu itu lagi ramai-ramainya. Tapi anehnya waktu mulai tamat, pikiran saya berubah. Kebetulan skripsi saya judulnya manajemen proyek. Manajeman proyek ini lebih pada bisnis kontraktor. Jadi tidak ambil di struktur, tapi saya ambil strategi bisnis kontraktor.
Pada era krisis 1997-1999, waktu itu dosen saya bilang begini, Jimy, kamu hanya perlu mempelajari semua strategi bisnis yang ada. Sumber strategi bisinis apa pun dipelajari dan dirangkum. Ketika saya coba dan masuk mempelajari strategi bisnis jadi mulai dari bisnis retail, bisnis kontraktor, bisnis konsultan, maka ketertarikan saya lebih ke arah situ, jadi saya baru sadar memang mungkin jurusan yang saya ambil itu salah. Tapi, saya tetap menyelesaikan kuliah hingga selesai.

Bagaimana Anda bisa berbisnis jual beli komputer?
Jadi sebelum skripsi, saya kembali ke Kupang dan naik kapal lau. Waktu itu, saya baca-baca iklan di salah satu koran. Saya lihat ada orang jual komputer bekas dan komputernya murah yaitu hanya sekitar Rp 1 juta-an. Saya berpikir, wah... ini komputer kayaknya bisa dijual di Kupang. Waktu itu dengan uang sisa yang saya peroleh dari kaka, kebetulan kaka sudah kerja, jadi saya beli satu unit dan bawa ke Kupang. Di Kupang saya tawarkan kepada kawan-kawan, "hai mau komputer" waktu itu saya jual dengan harga Rp 2 juta-an dan ternyata mendapat sambutan baik dan banyak yang pesan. Masalah waktu itu adalah saya pergi beli sendiri di Surabaya dan membawanya ke Kupang dengan kapal Dobonsolo. Saya sendiri yang beli di Surabaya, saya yang pikir sendiri di kapal dan bawa sampai di Kupang. Anda bayangkan, saya pikul komputer ini dalam dos-dos bekas. Kalau komputer baru masih mendingan, ini komputer bekas. Jadi pertama orang pesan dua-tiga unit, lama-lama orang pesan lagi lima-enam unit. Jadi semakin banyak lalu terpikir oleh saya untuk punya tempat semacam rumah sendiri. Saya kontrak rumah. Nah, beta kemudian kontrak rumah di RSS Liliba No D 47. Saya kemudian kembali ke Surabaya dan membeli 10 unit komputer, kemudian mulai tawar kepada teman-teman dan begitu laku. Saya kemudian berpikir pasang iklan di koran. Waktu ikan koran belum ramai, iklan komputer di Pos Kupang juga belum ada. Saya pasang iklan tidak lama baru ada perusahaan penjualan komputer lainnya juga memasang iklan. Jadi saya yang pertama pasang iklan ini.

Berkembang terus usaha Anda ini?
Ya, saya terus berusaha jual beli komputer ini. Waktu berjalan tidak lama, mungkin ada sekitar setahun dan saya sudah punya modal sedikit sekitar Rp 20 juta. Waktu saya lihat iklan ada di gedung Percetakan Negara mau di kontrakan Rp 20 juta. Saya punya uang hanya Rp 20 juta, saya sudah tabung setengah mati dan harus kasih keluar lagi. Saya memang butuh tempat usaha, tapi saya punya uang hanya Rp 20 juta, sementara sewa tempat juga Rp 20 juta. Saya bayar Rp 20 juta berarti uang habis, modal habis, jadi saya merenung terus tentang ini. Tapi saya berpikir, kalau saya tidak kontrak, maka saya tidak akan maju juga, lalu saya terus merenung, saya berpikir kalau uang Rp 20 juta ini tidak dikeluarkan untuk kontrakan ini maka saya tidak akan maju juga. Waktu itu saya yakin saja dan serahkan uang Rp 20 juta ini untuk kontrak dua tahun, ada dua ruangan yang kita kontrak. Kemudian pelan-pelan kita mulai jual beli komputer bekas. Lama-lama mulai dengan jual beli komputer baru. Saya kontrak di percetakan negara selama sekitar tujuh tahun sejak 2002. Kita baru keluar dari situ tahun 2009 lalu.

Apakah Anda memiliki basic ilmu komputer?
Itu masalahnya, saya ini tidak memiliki basik komputer, saya lulusan teknik sipil. Hanya saya tertarik dengan bisnis ini dan saya percaya bahwa komputer ini bisa belajar sendiri. Waktu itu kasih kursus di Surabaya, akhirnya mereka pulang dan bergabung dengan saya.

Kelihatannya usaha Anda bukan jual beli komputer saja?
Benar, waktu berjalan dan memang banyak anugerah yang Tuhan berikan pada saya. Tahun 2002 kita mulai bisinis, ada pengusaha dari Surabaya yang datang ke saya. Pengusaha ini mengatakan, dia punya cabang di Kupang cuma kantor cabang ini bermasalah. Kantor cabangnya adalah distributor spare part sepeda motor, busi Denso. Pengusaha ini menawarkan kepada saya untuk menjadi distributor. Awalnya saya ragu, tapi saya diyakinkan tentang prospek usaha ini. Memang, namanya distributor itu pada awalnya sulit, tapi bisa pemasarannya sudah baik, maka usaha akan maju pesat. Pokoknya saya optimis. Akhirnya saya ambil dan mulai dengan distributor Denso.
Enam bulan kemudian, ada tawaran lagi untuk menjadi distributor SKF, yaitu merek bering atau laher (bagian dari kendaraan bermotor pada bagian as roda), ini ternyata luar bisa. Jadi semua sepeda motor pabrikan itu memakai laher merek SKF. SKF itu, selain memasok kebutuhan sepeda motor bermerk, juga untuk kebutuhan after market atau sebagai suku cadang yang dijual di toko-toko suku cadang ini. Jadi waktu itu saya ambil distributor itu dan berjalan baik. Yang luar biasa, setelah saya pegang SKF, kemudian banyak sekali produk yang ditawarkan kepada saya. Biasanya kalau produk besar itu memerlukan deposit atau semacam uang jaminan. Yang luar biasa, banyak sekali produk brand besar mempercayakan saya sebagai distributor tanda deposit, ini karena mereka percaya saya mampu. SKF itu berjalan sampai 2004-2005.
Tahun 2005 ini, kita juga dipercayakan menjadi servis resmi printer Cannon data skrip Jakarta.

Anda juga melebarkan sayap ke usaha distrubutor. Bagaimana dengan usaha jual beli komputer?
Usaha komputer ini tetap berjalan. Tahun 2005 akhir itu, saya berpikir untuk buka cabang. Cabang pertama itu Petra Komputer di Jalan WJ Lalamentik. Saya bikin dengan konsep berbeda sedikit dengan nama menggunakan nama Petra Komputer. Dua jenis usaha ini tetap berjalan, tahun 2006-2007, kami juga dipercayakan sebagai distributor band Mizzile. Itu kepercayaan yang sangat besar, karena bukan hal yang mudah untuk sebuah perusahaan itu ditunjuk sebagai distributor ban ini, karena dari sisi modal juga harus kuat, karena pesaing-pesaing kita di Kota Kupang sudah pegang merek ini. Tapi mereka bukan distributor. Mestinya mereka yang ditunjuk tapi justru kami yang ditunjuk. Memang deposit ada, cuma waktu itu masih muda dan akhirnya kami untuk ban ini sudah jadi market leader di NTT.
Tahun 2009, kami buka cabang Vision Notebook di Jalan WJ Lalamentik. Dalam satu bulan itu bisa terjual sampai 100 unit, jadi itu memang luar biasa. Hingga akhirnya sampai sekarang dan tempat ini kami bisa beli, ruko pertama kita dan ini sangat membanggakan. Akhir 2008 kami beli toko ini dan sudah tahun kami tempati.



Anda kini telah sukses. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada mereka yang masih berjibaku dengan jualan mereka?
Jadi, yang ingin saya bilang itu adalah kalau orang lihat latar belakang saya ya, orang heran. Ada teman saya yang bilang, wah Djemi kok bisa begini. Yang ada dalam pikiran ini adalah tidak menyangka saya bisa terjun di bisnis ini yang menurut mereka besar. Saya sendiri tidak menyangka bahwa apa yang saya lewati itu dengan senang dan tahu proses itu. Ketika Tuhan mengizinkan saya menjual kue, saya sadar itu suatu proses dan saya tidak pernah malu. Jadi waktu saya mulai bisnis komputer, saya pegang dos-dos bekas untuk isi komputer bekas itu saya tidak pernah malu. Nah, itu mental yang saya dapat luar biasa. Sehingga saya lihat anak-anak di pinggir jalan atau anak-anak yang menjual kue keliling dan mendorong kereta, saya panggil dan saya katakan bahwa saya juga seperti itu. Saya memang dulu pernah dorong kereta.

Apa yang Anda katakan kepada mereka?
Saya katakan kepada mereka, dulu saya kerja begini dan kumpul uang. Saya katakan kepada mereka kalian kumpul uang, menabung, berhemat. Kalau kamu punya cita-cita, maka suatu saat akan tercapai. Kita jangan pernah putus asa ketika kita dilahirkan dalam kondisi yang mungkin kurang beruntung, karena kita putus asa maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi ketika kita mengatakan bahwa saya bisa maju, saya bisa mengubah sesuatu maka saya pikir itu adalah kekuatan yang luar bisa. Saya sudah buktikan bahwa itu luar biasa. Ya perusahaan ini juga menjadi berkat bagi banyak orang, menjadi besar di bawah Payung Timorese Group. Ya, bersyukur karena punya istri yang mendukung dan anak baru satu.

Anda masih muda, apakah masih terus melebarkan sayap usaha?
Benar, tahun ini juga kami buka satu gerai kecil di Taman Kota Kupang, namanya Petra Digital. Kami khusus menjual kamera digital. Kami akan menjadikan tempat itu sebagai toko kamera digital paling lengkap di Kupang. Sudah buka dan sudah berjalan satu minggu. Selain itu mungkin bulan Juni, kami akan menjadi distributor printer Canon untuk area NTT.

Anda seorang sarjana teknik sipil, apa masih berpikir jadi seorang kontraktor?
Saya bermimpi ingin masuk ke bisnis dunia properti, entah mungkin dua atau tiga tahun lagi. Tapi kalau Tuhan mengizinkan ya, setahun lagi. Saya mau usaha properti khususnya membangun perumahan. Itu masih mimpi saya.
(alf)


Lari, Lihat Kawan Cewek

JADI penjual kue pada masa kecil menjadi cerita lucu bagi Djemi Lassa. Bahkan ayah satu anak ini sering dipanggil Djemi si penjual kue. Kenangan yang tak terlupakan itu adalah arus berjualan di depan teman-teman cewek yang dianggapnya cantik atau bahkan ada cewek yang disukainya. "Omong jual kue gini, masa-masa umur kita 13-14 tahun itu masa puber. Jadi malu setengah mati, apalagi ketemu kawan nona. Tapi saya berusaha tidak malu, seperti tadi saya bilang ini proses yang Tuhan izinkan untuk saya melawan rasa malu yang luar biasa," jelasnya.
Namun rasa malu itu tidak bisa melebihi rasa hormat dan keinginan sang mama agar ia menjual kue-kue buatan mamanya itu. "Mama saya bilang ya, kita bisa hidup dengan jual kue. Mama bisa menyekolahkan kita karena jual kue. Bahkan kawan- kawan nona panggil saya, kalau kawan saya maka saya lari. Makanya ada teman saya sekarang ini lihat saya masih ingat saya sebagai Djemi yang dulu jual kue," jelasnya.
Tidak ada siasat khusus dalam diri Djemi untuk melawan rasa malu, yang ada hanya uncapan sang mama yang memaksanya untuk menjual kue-kue tersebut. "Tiak ada siasat khusus, modal nekat saja. Karena mama saya bilang saya harus jual kue. Jadi saya juga harus jual kue, jadi rasa malu itu saya lawan sendiri," jelasnya.
Namun, Djemi mensyukuri apa yang dilakukan saat itu. Karena, menjual kue tersebut merupakan kesempatan baginya untuk menempa mental menjadi seorang pebisnis yang ulet. (alfred dama)


Data diri

Nama : Djemi Lassa
Tempat Tanggal Lahir : 13 Juni 1977
Jabatan : Presiden Direktur Timorese Group
Pendidikan : SD Inpres Nifuboko-SoE tamat tahun 1990
SMPN I SoE-TTS tamat tahun 1993
SMAN I SoE-TTS tamat tahun 1996
S1 Teknik Sipil-Universitas Petra Surabaya, tamat tahun 2001.
Istri : Eliyana Wirawan
Anak : Kineshia Lassa.

Pos Kupang Minggu 2 Mei 2010, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda