POS KUPANG/ALFRED DAMA
drg. Jefferey Yap

GIGI merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi yang sangat penting. Sayangnya, fungsi pentingnya ini kurang disadari. Gambaran kurang terawatnya gigi dilihat dari tingginya kasus caries gigi. Lebih parah lagi, sebagian pasien rawat gigi menginginkan giginya dicabut.

Sebagai seorang dokter gigi, Jefferey Yap sangat prihatin dengan kondisi ini. Ia sedih karena banyak warga NTT yang memilih mencabut gigi ketimbang menambalnya. "Misalnya ada luka pada tangan dan terus membesar serta infeksi, apakah jari ini mau diamputasi? Tentu tidak mau. Nah, ini sama dengan gigi. Kita lupa, gigi juga organ tubuh yang penting juga," kata drg Jefferey Yap, yang juga Ketua Jurusan Kesehatan Gigi- Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kementrian Kesehatan, NTT ini. Berikut perbincangan dengan Pos Kupang.


Bagaimana Anda melihat perhatian masyarakat NTT terhadap kesehatan gigi?
Tentang kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, fakta bahwa tingkat kesadaran untuk itu sangat renda. Kesadaran memelihara mulut dan gigi dengan baik itu masih sangat rendah. Contohnya, perilaku masyarakat kita yang mencari pengobatan gigi itu bilamana sudah sakit. Bahkan mungkin sudah sampai dua hingga tiga hari sakit baru mencari pengobatan. Sebenarnya dari sisi pendekatan kesehatan salah karena spesifik gigi kalau lubang masih kecil itu memang tidak memberikan peluang ataupun keluhan.

Itu ya sesaat saja sehingga itu diabaikan. Bilamana sudah tiga hari tidak bisa tidur wah... itu baru dikatakan sakit gigi. Kondisi ini jelas sangat menyulitkan bagi tenaga kesehatan untuk penanganan kasus karena yang caries atau lubang gigi itu sudah parah. Jadi seperti penyakit kanker itu sudah ada tahapannya, jadi gigi lubang sudah sakit dan sudah berhari-hari itu sudah sudah tahap terminal, jadi kasusnya sudah parah.

Apakah ada data pendukungnya?
Kami pernah melakukan semacam penelitian. Data yang kami peroleh sangat memprihatinkan, jadi ada indikator misalnya ini performa treatmen indeks (PTI) yaitu indeks untuk menunjukkan penambalan gigi itu hampir nol persen. Itu sekolah-sekolah yang ada di kota saja, jadi ada gigi lubang tapi tidak satu pun yang mendapat penambalan gigi. Salah satu sekolah itu nol persen atau tidak ada sama sekali upaya penambalan, sementara tingkat kejadian caries itu tinggi.

Kami ada spot ada penelitian spot pada kegatan kami mencoba berbicara melalui data. Jadi data yang kami dapat saat kerja lapangan, PTI pada SD yang kami kaji itu hanya 2,64 persen yang sudah mendapat pengobatan, sementara 87 persen itu kondisi gigi yang lubang dan tidak mendapat lubang. Jadi timpang sekali. Di SMP yang sudah mendapat perawatan hanya 0,70 persen. Kalao kami kemarin sampling yaitu 1.700 anak dari 6.000 anak, jadi 28 persen kami mendapat data ini. Di SD misalnya, dari 767 anak yang diperiksa itu jumlah gigi yang caries itu 893.

Jadi kalau dibilang pravelensi penyakit mulut dan gigi saya bisa pastikan total 90 persen masyarakat NTT menderita. Kalau dari sisi pravalensi maka caries gigi paling tinggi dibandingkan yang lain, malaria hanya berapa persen. Tapi kalau gigi saya pikir bisa sampai 90 persen yang berlubang.

Dari survai kami siswa SD itu 23 persen anak itu akan kehilangan gigi tetap, di tingkat SMP lebih besar lagi, yaitu 29 persen dari jumlah yang kami teliti itu akan kehilangan gigi tetap, itu karena giginya sudah lubang besar dan harus dicabut, untuk SMA 12 persen.

Kan masyarakat berpikir, sakit gigi tidak mati...
Betul itu, tetapi jangan lupa bahwa secara patofisiologis gigi termasuk salah satu organ tubuh dan dia melekat satu kesatuan. Sehingga di dunia medik itu dikenal dengan istilah vokal infeksi. Vokal infeksi ini adalah penjalaran infeksi yang bersumber dari gigi ke organ tubuh lain dan itu ada. Secara ilmiah ini bisa dibuktikan. Vokal infeksi, misalnya gigi lubang dan tidak ditangani secara baik, maka dia akan menyebabkan penjalaran infeksi ke tubuh yang lainnya seperti jantung, ginjal, hati dan lainnya.

Ada kasus, seorang pasien yang alami infeksi pada gigi bagian muka atas dan merasa nyeri yang luar biasa, lalu dibawa ke rumah sakit di Kupang dan diduga ada keganasan di paru. Ternyata dirujuk ke Surabaya, dan benar ada infeksi di paru dan sumbernya dari gigi. Jadi vokal infeksi itu suatu perjalanan infeksi yang bersumber dari gigi ke organ tubuh yang lain. Semua organ tubuh bisa kena, seperti jantung, radang otak, paru bisa, dan ginjal juga bisa. Ini bisa terjadi karena edaran darah dalam tubuh manusia itu satu kesatuan.

Artinya secara tidak langsung penyakit mulut dan gigi bisa menyebabkan kematian?
Bisa...!! Itu yang melalui vokal infeksi tadi.

Apa dampak ekonomis dari sakit mulut dan dan gigi?
Jadi yang pertama bahwa kita mengambil contoh dari negara maju, perawatan gigi itu paling mahal daripada perawatan penyakit lainnya. Sehingga masyarakatnya sangat sadar untuk menjaga kesehatan giginya supaya tidak sampai timbul kasus yang parah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan jelas itu sangat memakan biaya, jadi high cost. Jadi di negara maju itu perawatan gigi paling mahal.

Kalau dia sampai lubang dan sampai tambal dan perawatan lebih lanjut itu sangat mahal biayanya. Jadi sisi biaya pengobatan itu untuk pengobatan gigi itu termasuk yang paling mahal. Di Indonesia memang dilematis, banyak variabel yang mempengaruhi. Biaya untuk pengobatan bukan sesuatu yang sangat mahal, tetapi dampak ekonominya akan mengganggu produktivitas . Jadi kalau sakit gigi dua sampai tiga hari, tidak tidur ya tidak bisa kerja dengan baik, ini menganggu produktivitas.

Kalau pada anak-anak ya... tumbuh kembangnya terganggu, itu karena mengganggu proses pengunyaan makanan, nafsu makan hilang, makan ogah-ogahan sehingga tumbuh kembangnya menjadi terganggu. Kemudian dari sisi pengembangan pendidikan, ya dia tidak bisa pergi ke sekolah dengan rutin karena gangguan tadi Kalaupun sampai terjadi kemudian harus pengobatan, maka itu juga membutuhkan pembiayaan, ya kalau untuk bahan-bahan gigi itu termasuk high cost, baik peralatan dan sebagainya. Jadi relatif lebih mahal sedikit dibandingkan perawatan-perawatan yang lain.

Banyak orangtua berpikir bahwa gigi hitam pada anak-anak merupakan hal biasa..
Gigi hitam pada anak-anak ya... ini menjadi keprihatinan kita. Dari waktu ke waktu status kesehatan mulut dan gigi tidak semakin baik, tapi kecenderungannya itu semakin buruk. Trend kesehatan gigi cenderung turun. Gigi yang hitan itu itu bisa gigi yang berlubang, atau bisa karena sebab yang lain tetapi pada umumnya sebab gigi lubang tadi. Dari tinjauan medis, mestinya itu tidak boleh terjadi karena gigi yang lubang itu sama dengan sesuatu penyakit dan itu harus mendapat pengobatan segera.

Nah, manusia diberi dua set gigi, yaitu gigi pada anak-anak yang biasa disebut gigi susu kemudian ada gigi dewasa. Idealnya gigi dewasa itu sedapat mungkin dipertahankan, jangan dicabut. Kalau gigi susu sesuai dengan waktunya bisa cabut mulai dari anak usia enam tahun hingga 12 tahun dan itu ada periode pergantian gigi dari gigi susu ke gigi tetap. Jadi idealnya gigi tetap jangan dicabut.

Saya ambil ilustrasi begini, banyak pasien ke dokter gigi minta dicabut gigiya. Banyak keluhan itu, kalau kita ambil prevelensinya mungkin 8 dari 10 pasien itu permintannya gigi dicabut.

Kan lebih baik dicabut...
Terus terang, ini bagi kalangan medis ini cukup memprihatiknkan, karena seolah-olah gigi tidak ada nilainya. Saya sering memberikan ilustrasi, begini, misalnya ada luka di tangan, kita lihat saja begitu tanpa upaya pengobatan hingga sampai suatu saat luka itu sudah besar dan infeksi maka ini dipotong saja, pasti tidak ada yang mau begitu. Ini sama gigi juga. Gigi juga dicabut ya, buang di tempat sampah, bagaimana dengan organ tubuh yang lain. Bagi saya gigi itu juga organ tubuh yang harusnya mendapat penghargaan yang sama dengn organ tubuh yang lain.

Muncul lagi kesadaran yang jauh dari harapan bahwa gigi harusnya dirawat, ini yang masih memang masih kurang. Nah, bagaimana kalau gigi itu sudah dicabut, ya tidak apa-apa gigi itu dicabut saja, kan ada gigi palsu. Ada hal-hal yang menganggu juga misalnya kita memakai barang yang palsu seperti kaki palsu, tangan palsu dan lainnya enak tidak itu?

Itu yang saya sering komunikasikan dengan pasien. Kalau sekedar cabut gigi itu gampang, tapi kemudiannya bagaimana?

Oke ada gigi palsu. Pertanyaan saya, kalau Anda diminta pakai kaki palsu apakah anda rasa nyaman. Nah.. bayangkanlah seperti itu, jadi namanya yang palsu di tubuh kita tentu kita merasa nyaman, tapi untuk rongga mulut masyarakat tidak merasakan itu sehingga dengan suka rela mau mencabut gigi dengan pikiran dari pada susah-susah membuat sakit dan sebagainya. Ini dilematis, bagaimana pemahaman masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut ini sangat rendah.

Bagaimana dengan pola makan dan merawat kesehatan mulut dan gigi?
Pola makan itu sangat mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut, baik itu waktunya maupun jenis makanannya, bagi yang sering ngemil pasti giginya akan banyak yang lubang, kemudian dari sisi jenis makanan ini juga merupakan hal yang sangat mempengaruhi kesehatan gigi pada anak-anak.

Sekarang jajanan sekolah, ini sangat merugikan bila ditinjau dari segi kedokteran kesehatan gigi karena makanan ini sangat bersifat cariogenik (zat yang bisa merusak gigi-red). Kemudian pada anak-anak yang minum susu botol lama, anak kecil yang makannya berjam-jam itu sudah pasti giginya jelek. Dari pola makan kita lihat terjadi cukup banyak pola yang mendasar terhadap perubahan pola makan sehingga ini menjadi membuat kesehatan giginya turun, tidak dibarengi dengan peningkatan kesadaran untuk bagaimana merawat gigi yang baik dan benar.

Tapi pada zaman dulu jarang ya, ada keluhan gigi
Ya...jadi pola makan berubah. Kalau anak-anak zaman dulu itu makannya kan lebih bersifat alamiah, sekarang lebih ke jajanan. Jadi sudah berubah pola makan ini. Kalau ini tidak dibarengi dengan pola perawatan mulut dan gigi maka ini trend kasus banyak yang turun, trend penyakit turun.

Pola asuh dan pola pemeliharaan gigi yang baik bagaimana sih? Yang pertama, yang bisa dilakukan sendiri di rumah ya seperti tadi dengan mengatur pola konsumsi baik waktunya maupun jenisnya. Kedua, bagaimana rongga mulut itu bisa bersih lebih lama, jadi menjaga kebersihan rongga mulut. Caranya mengatur pola makan dan mengatur sikat gigi yang teratur.

Jadi sikat gigi merupakan satu variabel yang sangat vital untuk mencegah terjadinya caries gigi. Jadi sikat gigi merupakan cara yang menentukan tingkat keberhasilan status kesehatan mulut dan gigi yang lebih baik. Jadi sebenarnya di rumah itu saja sudah cukup.

Kalau anak-anak kenapa takut dokter gigi? Padahal mereka juga perlu dokter gigi
Iya..iya... itu manusiawi sekali kalau anak-anak takut ke dokter gigi. Suatu studi sosiologis mengatakan, anak kalau sudah diperkenalkan sejak dini ke dokter biasanya tingkat ketakutan akan berkurang, bahkan akan hilang. Seorang anak yang tidak pernah kenal dokter gigi kemudian pada saat dia sakit dan mengajak dia ke dokter gigi, maka tidak akan mau. Itu wajar.

Apalagi kalau sudah sakit ke dokter gigi ya, disuntik pasti tambah sakit. Nah, seorang anak lebih baik kita memperkenalkan dengan sarana kesehatan pada saat dia tidak sakit kita bawa ke fasilitas sekadar kontrol, maka itu akan lebih positif sehingga dia anggap itu barang biasa, tapi kalo sudah sakit baru kita katakan ayo ke dokter, ya pikirnya pasti suntik ya jadinya takut.

Apakah sudah ada studi medis atau belum bahwa makan sirih itu menguatkan gigi?
Ada sisi positif, tapi sisi negatifnya lebih besar. Sisi positifnya hanya sedikit. Memang secara fisik dalam sirih pinang itu ada kandungan antiseptic dan ada sifat serat tadi. Jadi serat itu membantu membersihkan gigi sehingga bagi yang intensitas sirih pinangnya tinggi biasanya kejadian caries itu rendah karena ada antiseptic tadi dan bersifat serat.

Tetapi di balik itu, pengaruh negatifnya dia merusak jaringan penyangga gigi atau jaringan cariedental yang menyebabkan gusi dan jaringan di bawahnya mengalami iritasi dan ini berkepanjangan sangat mengganggu. Pada usia lanjut, biasanya akan terjadi goyangan gigi. Dan, sirih pinang yang terlalu berlebihan juga menjadi cikal bakal terjadinya kanker pada rongga mulut yang cukup tinggi.

Jadi kalau konsumsi kapur yang terlalu berlebihan itu juga menyebabkan kejadian kanker pada komunitas yang mengonsumsi sirih pinang. Jadi efek positifnya jauh lebih kecil dibanding dengan negatifnya. Tapi ini budaya, jadi untuk menghilangkan orang makan sirih pinang ya susahnya bukan main. Di sisi lain ditinjau estetikanya, kalao makan sirih pinang itu kan nanti buang sana, buang sini.

Akhir-akhir ini para dokter gigi terus mengkampanyekan kesehatan mulut dan gigi. Apakah ini terkait perilaku orang NTT yang belum sadar dengan kesehatan mulut dan gigi?
Ya.. tingkat kesadaran memang rendah, sehingga dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang memang mengkampanyekan pentingnya mulut dan gigi untuk kehidupan kita. Apresiasi yang positif untuk semua pekerja atau komunitas gigi yang tergerak untuk mengkampanyekan. Dari kami sendiri, institusi JKG ini merupakan satu-satunya institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan tenaga perawat gigi. Nah, kami punya visi menjadi kawah candara di muka dalam memperjuangkan pembangunan kesehatan gigi dan mulut di kawasan timur Indonesia.

Bagaimana dengan perhatian pemerintah?
Perhatian pemerintah ada tapi masih sangat kurang. Masih kurang karena dari sisi ketenagaan juga masih kurang. Kemudian dari sisi peralatan dan bahan itu yang paling dikeluhkan oleh banyak tenaga kesehatan gigi yang ada saat ini di lapangan, itu sangat kurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Tugas dari pemerintah untuk mensejahterakan dan menyehatkan masyarakat termasuk salah satu adalah gigi dan mulut.

Ada tenaga di puskemas tapi tidak ada alat dan bahan, jadi mau ngapain mereka? Dari sisi lain, kebutuhan riil dari sekitar 80 masyarakat dalam satu daerah butuh perawatan gigi, tapi alat dan bahan tidak ada. Ada dokter gigi PTT yang sudah digaji mahal-mahal, bertugas di puskemas itu tidak bisa berbuat banyak karena alat dan bahan untuk kesehatan gigi tidak ada. Jadi penempatan tenaga juga perlu dikaji dengan baik bahwa alat dan bahan itu harus tersedia untuk bisa menjamin tenaga yang sudah ada itu bisa diberdayakan untuk sesuai dengan bidangnya.

Di sekolah-sekolah juga ada UKGS (Unit kesehatan gigi sekolah). Bagaimana Anda melihat itu?
Untuk tenaga kesehahtan gigi, tenaga UKGS (Unit kesehatan gigi sekolah) harus direformasi. Kita tidak bisa lagi hanya berbicara- berbicara jadi penyuluh, tapi harus ada upaya proteksi terhadap caries gigi tadi. Tidak sekedar UKGS turun penyuluhan dan selesai tetapi juga menjadi pertnayan alat dan bahan itu menjadi masalah lagi.(alferd dama)


Menyukai Taman

KESIBUKAN sebagai tenaga pengajar sekaligus dokter gigi tidak membuat hobinya membuat dan merawat taman hilang begitu saja. Bahkan, jebatannya sebagai Ketua Jurusan Keperawatan Gigi (JKG) Polteskes Kemenkes RI ini digunakan untuk mengajak para mahasiswa untuk membuat taman gigi di halaman belakang kampus tersebut.

Tempat yang tadinya dijadikan untuk membuang sampah telah diubahnya menjadi sebuah taman dengan bunga-bunga yang indah. Di bawah pohon yang nyaman telah ada beberapa tempat duduk. Ia menamakan tempat ini Ganina Garden.

"Jadi itu sekilas saja, sejak 2006 saya ini mau dibilang sebagai tempat yang kotor. Jadi awal masuk, saya mau wujudkan green, saya juga ingin mengubah back office menjadi front office. Ini dulu tidak ada yang duduk-duduk begini," jelas suami dari Elisabet Tiwu ini.

Karena taman di berada di dalam kawasan Kampus JKG, maka taman ini dipasang beberapa gambar dan ajakan untuk merawat gigi. "Ini tematik outdor exebition. Banyak informasi untuk promosi kesehatan gigi dan mulut dan cukup banyak anak-anak SD yang kami bawa ke sini untuk penyuluhan. Jadi dengan sederet informasi tentang gigi dan mulut, jadi ini memang fasilitas untuk kampanye, " jelasnya.(alf)

Data Diri ---------------- Nama : drg.Jefferey Yap, M.Si Tempat Tanggal Lahir : Atambua 11 Mei 1964 Jabatan : Ketua Jurusan Kesehatan Gigi -Poltkes Pendidikan SDK I Atambua tamat 1981 SMPK Donbosko Atambya tamat 1984 SMAK Syurya Atambua tamat 1987 S1 Fakultas Kedokteran Gigi-Universitas Trisakti, Jakarta selesai thn 1993 S2 Universitas Airlangga-Surabaya selesai tahun 1999 Istri ; Natasya Juliano Jeson


Pos Kupang Minggu 16 Mei 2010, halaman 03

1 komentar:

assaya kagum dg kota NTT damai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat sesama...GOD BLESS u..

27 September 2010 23.57  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda