Faried Harianto : Tidak Kenal Kompromi


POS KUPANG/BENNY JAHANG
Faried Harianto

PENEGAKAN hukum gencar dilakukan pihak kejaksaan. Beberapa kasus korupsi dibongkar oleh korps baju coklat di NTT ini. Pelakunya diseret ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) tanpa mengenal kompromi. Penegakan hukum adalah segala- galanya. Itulah komitmen yang terpatri dalam diri Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Faried Harianto, S,H. M.Hum. Kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian nasional juga terungkap ditangan pria paruh bayah ini.

Bagaimana semua kasus itu terungkap dan apa kiatnya mengisi waktu senggang setelah lelah urus korupsi. Berikut wawancara dengan Pos Kupang beberapa waktu lalu. Hadir saat wawancara Wakajati NTT, Suhardi, S.H, Asisten Intel, I Gusti Nyoman Subawa dan Humas Kejati NTT, Muib, S,H


Biasanya banyak pejabat keberatan ditugaskan ke NTT. Anda mau datang. Apakah karena NTT banyak kasus korupsi?
Begini ya...semula saya belum mendapat gambaran seperti apa NTT, apalagi tidak pernah bertugas di daerah ini. Namun karena pengalaman bertugas di daerah lain, sehingga saya pikir pastilah sama seperti daerah lainnya. Saya tidak tahu kalau di NTT banyak penyelewengannya. Saya mendapatkan informasi ini setelah mendapat masukan dari beberapa pihak di daerah ini. Saya menginginkan ada sesuatu yang harus saya buat selama bertugas di NTT, yaitu penegakan hukum. Orang yang melanggar hukum kita sikat.

Setelah mendalami informasi dari berbagai pihak, itu artinya benar di NTT banyak penyelewengan?
Memang, setelah saya pelajari dan mendapat informasi dari pemberitaan media cetak di Kupang, ternyata banyak dana pembangunan yang diselewengakan. Saya coba dalami dan tentunya pemberantasan korupsi di NTT tetap menjadi perhatian.

Apakah hanya mengedepankan penegakan hukum dalam upaya pemberantasan korupsi di NTT?
Oh...tidak. Penegekan hukum tetap jalan dan upaya pencegahan terjadinya korupsi kita lakukan juga. Saya sudah berkoordinasi dengan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, untuk melakukan sosialisasi dengan dinas-dinas dalam kaitan dengan upaya pencegahan korupsi. Bagimana melancarkan pembangunan sehingga dana yang dialokasi seperti dana alokasi umum (DAU), APBD I dan APBD II benar-benar bermanfaat bagi pembangunan demi kesejahtraan rakyat NTT. Sosialisasi sudah jalan.

Target apa yang Anda akan capai selama menjadi Kajati NTT?

Begini ya. Target saya hanya satu selama di NTT, yaitu supaya jangan ada lagi yang korupsi. Saya lebih mengedepankan upaya pencegahan terjadinya korupsi. Pencegahan itu jauh lebih penting daripada penindakan hukum. Untuk apa kita melakukan penindakan, sementara korupsi menyebar ke mana-mana.

Konkritnya seperti apa upaya pencegahan itu?
Kita akan memberikan pemahaman terhadap para pengelola proyek tentang petunjuk bagaimana upaya pencegahan korupsi, seperti membuat mekanisme kerja. Sehingga tidak ada ruang untuk melakukan korupsi. Saya ibaratnya seperti lalu lintas, saya menjaga di depan daripada mengumpet di bagian belakang. Mengantisipasi korupsi dalam pengerjaan proyek mulai dari perencanaan hingga pengerjaan proyek di lapangan harus diawasi ketat. Kerja saja sesuai dengan petunjuk, maka pasti aman dan tidak diutak-atik penegak hukum.

Dalam proses perencanaan dan pembahasan anggaran proyek memiliki ruang terjadinya korupsi?
Oh iya. saat proses perencanaan sudah bisa terjadi, karena akan terjadi diel-diel seperti itu ketika dilakukan pembahasan anggaran. Banyak kasus korupsi yang pernah kita ungkap di beberapa daerah terjadi saat perencanan anggaran.

Anda gencar memberantas korupsi, bagaimana internal kejaksaan agar tidak ada markus (makelar kasus) di lingkungan kejaksaan di NTT?
Setiap saat kita terus melakukan konsolidasi internal di Kejaksaan Tinggi NTT tentang melakukan penegakan hukum yang benar. Misalnnya, proses penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi dan pidana umum harus dilakukan dengan cepat. Tidak bertele- tele sehingga bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Saya suka dikritik. Lebih banyak kritik lebih bagus sehingga aparat kejaksaan lebih termotivasi untuk bekerja lebih maksimal bagi kepentingan masyarakat. Saya tidak menghendaki ada kasus yang sampai berulang tahun. Kasihan rakyat NTT akan kecewa kalau penegakan hukum seperti itu. Kritik yang kontruktif sangat dibutuhkan, karena orang luar yang bisa mengetahui kelemahan kita di dalam.

Bagaimana dukungan Gubernur dan Pemprop NTT terhadap upaya penegakan hukum oleh kejaksaan ?
Dukungan Pak Gubernur NTT sangat besar. Kita sangat rasakan itu. Pak Gubernur selalu katakan kalau ada stafnya yang melakukan pelanggaran hukum silakan diproses. Saya merasa itu adalah dukungan bagi kita untuk menegakkan hukum.

Ada kesan bahwa penuntutan yang dilakukan JPU terhadap seseorang yang tersangkut masalah bisa diatur. Bahkan ada jaksa yang menjadi 'penasehat' hukum tersangka?

Tidak ada seperti itu selama saya menjadi Kajati NTT. Kalau ada yang nakal akan kita tindak. Saya sudah minta para jaksa koordinasi yang baik dengan penyidik kepolisian, dalam artian positif. Kalau ada kasus yang memang tuntutan ringan harus seperti itu. Jangan kasusnya yang harusnya dituntut ringan malah dituntut dengan hukuman berat. Apalagi kalau tidak terbukti maka dituntut bebas. Untuk mencegah aparat kejaksaan di NTT tenggelam dalam tindakan yang melawan hukum, Kajati NTT mulai pasang kuda- kuda dengan memajang 'rambu-rambu' di lingkungan gedung Kejati NTT. Ini untuk mengingatkan para jaksa agar bertindak profesional dalam penegakan hukum.

Selama menangani berbagai kasus, ada kasus berat yang Anda selesaikan atau ada upaya menyogok Anda?
Bagi saya tidak ada yang berat, kecuali kalau ada kepentingan dari yang paling atas. Itu yang paling susah, tetapi selama ini belum pernah ada. Kalau masalah uang atau rayuan- rayuan uang masih bisa kita tepis, tetapi kadang-kadang intervensi dari pihak lain yang sangat berat. Sering itu. Tetapi saya tidak peduli, tetap saya jalan. Daripada saya yang salah nanti.

Dalam penanganan kasus korupsi di NTT, seperti kasus korupsi dana APBD Ende, ada yang melakukan pendekatan dengan Anda?
Tidak ada itu. Kasus-kasus yang besar saja saya libas, apalagi kasus yang kecil seperti itu. Saya anggap kasus dana APBD Ende dan PD Flobamor adalah kasus kecil. Biasanya saya menangani kasus korupsi miliaran. ( Faried Haryanto lalu menceritakan tentang pengalamanya dalam penanganan kasus korupsi di Depertemen Hukum dan HAM yang menyeret sejumlah pejabat penting di instansi itu.

Bagiamana Anda meluangkan waktu agar tidak stres?
Saya lebih banyak meluangkan waktu untuk kumpul-kumpul dengan para jaksa di kejaksaan. Membahas hal-hal yang lucu, sehingga bisa tertawa lepas. Selain itu, membagi tugas yang jelas dengan para staf. Karena prinsip hidup saya, saya tidak mau susah. Tidak mau pikir yang susah. Cari yang gampang saja. Saya jalani saja apa adanya. Hidup ini hanya sebentar saja. Kita nikmati saja yang sudah ada. Apa yang kita cari lagi.

Apakah Anda sering olahraga?
Saya tidak pernah olahraga. Bagi saya orang sehat itu dari pikiran saja. Kalau pikiran senang, maka saya pasti bisa hidup sehat. Orang yang main golf dan olahraga lain belum tentu sehat apabila selalu dibebani pikiran. Saya tidak mau berpikir yang berat. Saya jalani saja hidup ini apa adanya, sehingga tetap sehat. Memang waktu kecil suka olahraga sepak bola. Saya pemain sepak bola waktu di SMP dan SMA. Sejak bekerja kegiatan olahraga mulai dibatasi. Tetapi kalau main tenis meja mungkin masih bisa sekalipun kurang cepatan dalam mengembalikan bola lawan.

Suka musik?
Kalau nyanyi sekali-sekali, kumpul-kumpul dengan para staf atau keluar. Itu pun nyanyi di rumah saja hanya bermodalkan orgen saja. Tidak pernah saya ke tempat hiburan.

Apa makanan kesukaan Anda?
Saya menyukai semua makanan. Mumpung masih hidup, semuanya kita nikmati. Yang penting senang saja, saya makan saja yang ada. Walaupun demikian karena usia semakin tua tentunya porsi makan juga tetap dijaga. Sampai saat ini belum ada pantangan makanan tertentu. Bagi saya apa saja makan. Kita ini sudah ditakdirkan kapan kita harus mati. Tidak perlu kita khawatir untuk mati sehingga tidak perlu pantangan segala. Yang ada kita makan.

Pengalaman Anda banyak menangani kasus besar. Apakah istri mengintervensi tugas- tugas Anda?
Tidak pernah. Mana berani istri saya mengintervensi. Selama ini tidak ada anggota keluarga saya yang terlibat dalam kasus korupsi. Kalau ada pasti saya proses. Termasuk anak-anak saya, mereka tidak pernah ikut campur kalau saya menangani kasus-kasus korupsi yang menjadi perhatian publik. Mereka tidak ikut campur kerja saya, sehingga saya tetap enjoy dengan tugas-tugas saya.

Banyak kasus korupsi melibatkan pejabat penting di negara ini yang Anda bongkar. Apakah pernah diancam dicopot?
Dalam menjalankan tugas, saya tidak takut dengan siapapun. Saya tidak takut dicopot. Bagi saya kalau dicopot hari ini, akan sama karena suatu saat akan berhenti juga. Makanya saya berani bongkar kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat penting di Jakarta, kalau saya merasa hal itu benar.

Istri dan anak-anak Anda pasti siap mental jika suatu waktu ada hal-hal yang buruk seperti itu?
Mereka selalu siap. Pekerjaan yang saya ini berisiko. Selama ini saya selalu bekerja sesuai aturan saja. Yang salah kita proses.

Anda sepertinya suka membaca?
Oh...membaca itu kesukaan saya. Semua bacaan saya baca. Setiap pagi yang saya utamakan adalah membaca koran terutama Pos Kupang. Semua berita yang ada saya baca untuk mendapatkan informasi terbaru. Kalau ada yang tidak membaca, keliru. Dengan membaca kita mendapat ilmu baru.

Bagaimana menjaga harmonisasi hubungan dengan staf di kejaksaan?
Saya menganggap para staf itu sama dengan saya. Tidak ada yang dibedakan. Saya tidak pernah merasa lebih dari yang lain. Kalau ada kesulitan, saya merasa hal itu merupakan kesulitan bersama. Kita bahas bersama-sama karena belum tentu pendapat saya selalu benar. (ben)


"Eksekutor Penembak Mati"

TUGAS sebagai jaksa dalam suatu perkara tidak mudah. Begitu banyak tuntutan tugas yang dihadapai. Termasuk menjadi jaksa eksekutor hukuman mati. Hal itulah juga dialami Faried Harianto, S.H. Di tangan dia tiga terpidana mati asal Thailand yang terlibat dalam kasus narkoba di Medan tahun 2004, yaitu Ayodya Prakash Cabey, Namsong Sirelak dan Saelow Praset. Ketiganya meregang nyawa setelah ditembak mati regu tembak.

Proses eksekusi itu berlangsung dalam hitungan detik. Tiga nyawa melayang di bawah perintah sang eksekutor. Ketiga terpidana dalam waktu berbeda dan semuanya dipimpin Faried Harianto, sebagai jaksa eksekutor.

"Saya yang melaksanakan eksekusi mati terhadap tiga terpidana mati itu. Saya hanya melaksanakan keputusan saja. Itulah pengalaman yang saya tidak bisa lupakan. Mereka bertiga mati di hadapan saya," ujarnya.

Detik-detik dilaksanakannya eksekusi membuat pria kelahiran Bangkalan, Madura-Jawa Tumur ini sempat stres. Ia stres karena melakukan eksekusi seperti itu tidak mudah. Ini erat kaitanya dengan nyawa seseorang. Apalagi salah seorang terpidana mati adalah wanita yang kala itu usianya sekitar 32 tahun sama dengan usia salah seorang putrinya.

"Waktu mau melakukan eksekusi, saya sempat mengingat anak saya, tetapi mau bilang apa, saya hanya melaksanakan eksekusinya. Memang hati saya tak tega saat itu," tutur Faried, yang kala itu menjabat Kejari Medan, Sumatera Utara.

Pengalaman itu yang terus dingat oleh Faried. Apalagi saat ditembak terpidana mati wanita, Faried berdiri tidak jauh dari korban yang ditembak/dieksekusi.

"Saya sangat kasihan melihat dia. Sulit sekali saya menceritakan perasaan saya kala itu. Saya sangat sedih, tetapi karena tuntutan tugas membuat saya harus melakukan hal itu," ujarnya sambil tatapan matanya memandang ruangan kerjanya seakan mencoba meredam kembali perasaan duka tahun 2004 silam.

Dengan pengalamannya itu, maka tugasnya sebagai jaksa, dari proses penyelidikan sampai eksekusi mati menjadi lengkap. Dalam tangan Faried yang menjadi 'pendekar ' pemberantasan korupsi itu membuat banyak pejabat dan pengusaha besar di Jakarta tidak berkutik ketika kasus korupsinya diungkap Faried.
(benny jahang)

Nama : Faried Harianto, S.H
TTL : Bangkalan, Madura, 31 Januari 1959

Pendidikan :
- Sarjana Hukum Universitas Airlangga Surabaya Tahun 1982
- Magister Sain Bidang Ilmu Hukum Universitas Airlangga 1984

Karier :
- Jaksa pada Kejaksaan Negeri Tanjung Perak -Surabaya 1986
- Kepala Kejaksaan Negeri Medan, Sumatera Utara
- Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi NTB

Pengalaman Kerja:
1. Jaksa eksekutor hukuman mati tiga orang terpidana mati kasus narkoba atas nama Ayodya Prakash Cabey, Namsong Sirelak Saelow Praset tahun 2004.
2. Tahun 2005 koordinator penyelidik intelejen Kejati DKI Jakarta dalam perkara korupsi di PT Indo Farma terkait pemberian bonus dan tantiem yang dilakukan direksi PT Indo Farma.
3. Ketua tim penyidik tindak pidana korupsi sisminbakum di Depertemen Hukum dan HAM dengan tersangka Prof. Dr. Romli Atmasasmita.
4. Ketua tim penyidik dalam kasus korupsi di kedubes RI di Cina dengan tersangka Letjen Pur Kuntara dan A.A. Kustia serta masih banyak kasus besar lainya.
5. JPU kasus pembunuhan Marsina di Surabaya, Jawa Timur tahun 1995.

Pos Kupang Minggu 25 April 2010, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda