LINGKUNGAN Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang di kampus utama, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kupang sekarang semakin asri saja. Nyaris sama seperti ketika universitas ini dipegang Pater Dr. Herman Embuiru, SVD.

Tetapi ada sesuatu yang lain. Tidak hanya baru, tetapi juga perlu di Unwira saat ini. Apa itu? Akses internet gratis untuk para mahasiswa dan dosen. Dengan sistem hotspot, siapa saja yang punya laptop atau komputer bisa berselancar di dunia maya, internet, di lingkungan kampus Unwira.

Layanan ini dimulai 1 November 2009, dua bulan setelah Pater Yulius Yasinto, SVD, MA, MSc, dilantik menjadi Rektor Unwira, 26 September 2009. Boleh dibilang, inilah tonggak pertama yang dipancang Pater Yulius setelah mengambilalih kemudi Unwira. "Kita ingin kembangkan sistem informasi ilmiah dan sistem informasi administrasi secara online. Dengan sistem informasi ilmiah, para dosen bisa gunakan website untuk memasukkan bahan ajar dan mahasiswa mengaksesnya melalui internet. Dengan sistem informasi administrasi, kita masukkan semua informasi dan data tentang Unwira ke portal Unwira, dan siapa saja bisa mengaksesnya," kata Pater Yul, panggilan akrab Rektor Unwira.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (6/5/2010), Pater Yul menjawab sejumlah pertanyaan penting tentang Unwira. Apa yang dilakukan di Unwira, katanya, tak lain untuk menekankan kembali Unwira sebagai menara ilmu pengetahuan sesuai makna pada namanya, widya mandira.


Tahun ini Unwira memasuki usia ke-28 tahun. Apa makna usia ini bagi Unwira?
Kalau dianalogikan dengan manusia, pada tahun ke 28 ini, Unwira telah memasuki usia dewasa, tapi belum sepenuhnya matang. Sebagai seorang 'ibu' (almamater), Unwira sudah melahirkan 9.600 alumni. Biasanya seorang manusia itu baru menjadi benar-benar matang menjelang usia 40 tahun. Tapi sebuah universitas mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk menjadi matang. Bahwa Unwira tetap eksis sampai usia 28 tahun di tengah masyarakat NTT, bagi kami menandakan adanya kepercayaan masyarakat terhadap produk Unwira dan proses pendidikan dan pembentukan manusia muda yang berlangsung di dalamnya. Namun pada sisi lain, masih ada banyak harapan masyarakat yang belum dapat kami penuhi. Mungkin inilah makna terdalam yang kami petik pada usia ke-28 tahun ini: rasa syukur untuk kepercayaan dan dukungan masyarakat dan sekaligus tantangan untuk menjadi lebih baik dan matang di tahun-tahun mendatang.

Dibanding dengan dulu, sekarang pamor Unwira kok makin menurun? Apa pendapat Pater?
Pamor itu berhubungan erat dengan kesan publik terhadap performans Unwira dan lulusan-lulusannya. Saya sering mendengar bahwa Unwira di masa Pater Herman Embuiru dulu pamornya luar biasa. Lalu makin menurun di periode berikutnya, sempat naik lagi, dan akhirnya anjlok. Tapi menurut saya, pamor dan kualitas itu berbeda. Kualitas itu punya instrumen-instrumen yang jelas untuk mengukur tinggi rendahnya, sedangkan pamor hanya tergantung dari kesan umum yang diperoleh masyarakat. Kalau diukur dari minat mahasiswa, dalam tahun akademik 2009/2010 mahasiswa baru yang masuk Unwira ada 1.300 orang, terbanyak dalam sejarah Unwira. Dulu akreditasi belum menjadi hal yang wajib, sekarang akreditasi merupakan ukuran untuk segala-galanya. Dan sebagian terbesar program studi di Unwira sudah terakreditasi. Dulu Unwira tidak mempunyai banyak saingan, sekarang sudah ada lebih dari 30 PTS di wilayah NTT yang menjadi pesaing Unwira. Dan paling kurang di mata DIKTI dan Kopertis Wilayah VIII, Unwira tetaplah salah satu yang terbaik di kalangan PTS di wilayah NTT untuk kualitas EPSBED, untuk jumlah dan kualitas dosen, dan untuk sarana-prasarana. Selain itu, lulusan-lulusan Unwira sampai sekarang masih relatif mudah memperoleh pekerjaan. Kalau sekarang dikatakan pamor Unwira menurun, saya menduga itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, kelambanan Unwira mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan-perkembangan baru. Dan yang kedua, kegagalan komunikasi publik Unwira.

Unwira adalah salah satu dari enam universitas SVD sejagat. Bagaimana sebetulnya perbandingan Unwira dengan lima universitas lainnya?
Betul, selain Unwira, SVD mengelola lima universitas lain, kebetulan semuanya di Asia dan Pasifik. Fu Jen University di Taipeh (dikelola bersama Jesuit, SSpS dan Keuskupan), Nanzan University di Nagoya, Jepang (dikelola bersama Keuskupan dan awam), San Carlos University di Cebu City, Filipina, Holy Name University di Tagbilaran City, Bohol, Filipina, dan Divine Word University di Madang, Papua New Guinea. Dibandingkan dengan tiga universitas yang pertama, Unwira masih kalah jauh dalam segala-galanya. Tapi perlu diingat, semua universitas itu sudah jauh lebih tua dari segi usia. Fu Jen, misalnya, sudah berusia hampir seratus tahun dan Nanzan sudah ada sejak tahun 1946. Demikian juga San Carlos sudah berusia cukup tua. Ketiga universitas tersebut mempunyai tradisi akademik yang sangat kuat, ditopang oleh staf dosen yang berkualitas, kegiatan penelitian yang intensif dan bermutu internasional, jaringan kerja sama internasional yang luas, dan tentu saja fasilitas/sarana prasarana berstandar internasional. Unwira masih perlu belajar banyak hal dari mereka. Tahun 2011 nanti, pimpinan ke enam universitas SVD sejagat itu akan mengadakan pertemuan koordinasi di Unwira sekaligus menjajagi kerja sama yang lebih luas antara Unwira dengan ke lima universitas SVD lainnya.

Apa komitmen Unwira di tengah persaingan global?
Komitmen kami tentu saja memacu Unwira untuk dapat mencapai standar internasional dalam bidang pengajaran dan penelitian, fasilitas dan mutu pelayanan terhadap masyarakat. Tapi hal ini sangatlah tidak mudah. Persaingan global sekarang berpusat pada inovasi ilmu pengetahuan melalui penelitian (research university) dan penggunaan teknologi secara meluas (technology based university). Untuk itu perlu perubahan etos akademik secara mendasar, terutama di kalangan dosen. Para dosen yang hanya mampu mengajar tapi tidak dapat melakukan penelitian secara kontinyu dan tidak mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran inovatif, tidak laku dalam persaingan global. Universitas yang ketinggalan dalam penggunaan teknologi informasi juga akan kalah dalam persaingan global. Unwira bertekad untuk melakukan perubahan mendasar dalam kedua hal tersebut.

Setelah 28 tahun berdiri, apa sebetulnya keunggulan yang jadi trade mark Unwira?
Dulu trade mark Unwira adalah disiplinnya. Tapi saya pikir itu hanyalah satu sisi dari keunggulan yang harus diciptakan. Unwira sudah, sedang dan akan mengembangkan tiga jenis keunggulan sebagai trade mark-nya: keunggulan akademik, keunggulan karakter lulusan, dan keunggulan citra lembaga. Keunggulan akademik ditunjukkan baik oleh pengakuan formal oleh negara dalam bentuk peringkat akreditasi, maupun oleh meningkatnya mutu penelitian yang dihasilkan Unwira dan bagaimana itu dipersembahkan sebagai kontribusi nyata kepada masyarakat. Keunggulan karakter lulusan ditunjukkan oleh performans alumni Unwira yang dilandasi nilai-nilai kemanusiaan universal (jujur, disiplin, menghargai martabat manusia), yang mandiri, terampil, dan mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Citra unggul lembaga ditandai oleh meningkatkan kepercayaan dan rasa hormat masyarakat terhadap lembaga Unwira.

Dulu orang bangga menyebut diri lulusan Unwira, sekarang ada kesan sebaliknya.....
Menurut saya, kesan seperti ini terlalu menggeneralisasi. Kalau ada sejumlah orang yang tidak berbangga sebagai lulusan Unwira sekarang, mereka pasti mempunyai alasan tersendiri dan kami harus menghormati sikap mereka. Tapi secara umum saya kok tidak mendapat kesan seperti itu. Hampir semua alumni Unwira yang pernah saya temui, entah dari masa dulu maupun yang baru lulus pada tahun-tahun terakhir, tetap bangga menyebut diri sebagai lulusan Unwira.

Juga ada kesan bahwa kuliah di Unwira itu mahal. Betul demikian?
Kesan bahwa kuliah di Unwira itu mahal menjadi semacam stigma yang sulit dihapus dari Unwira. Padahal, selama hampir 10 tahun terakhir Unwira tidak pernah menaikkan biaya kuliah secara signifikan. Pada saat yang sama, ada banyak lembaga pendidikan lain, termasuk lembaga pendidikan negeri, yang biaya pendidikannya sudah sama atau bahkan lebih tinggi dari biaya kuliah di Unwira. Biaya kuliah di Unwira bahkan lebih rendah dari biaya pendidikan di beberapa sekolah menengah swasta favorit di Kota Kupang. Adalah komitmen para pendiri dan pemilik Unwira untuk melayani masyarakat NTT yang mempunyai kemampuan ekonomi pada umumnya terbatas. Karena itu Unwira tetap menyesuaikan biaya kuliah dengan kemampuan ekonomi masyarakat NTT pada umumnya.

Saat menerima estafet, pater lihat apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan?
Di antara sekian banyak persoalan yang saya temukan, saya melihat bahwa problem komunikasi internal dan eksternal perlu mendapat perhatian serius. Sejak awal masa tugas saya, bahkan sebelum dilantik, saya coba memperbaiki komunikasi internal, yakni antara pimpinan dan perangkat struktural lainnya dalam lingkungan universitas, dan antara pimpinan dan para dosen pegawai, serta di antara para dosen dan pegawai. Saya juga mengusahakan komunikasi yang lebih cair dengan Yapenkar, yang adalah pengelola Unwira. Secara eksternal, komunikasi publik Unwira juga perlu perbaikan yang mendasar. Menyediakan informasi yang terbuka, lengkap, cepat dan akurat tentang Unwira kepada masyarakat luas merupakan salah satu prioritas saya.

Perubahan apa yang akan pater bawa untuk Unwira?
Seperti saya katakan di atas tadi, perubahan yang kami mau bangun di Unwira sekarang ini berhubungan dengan peningkatan keunggulan akademik, keunggulan karakter lulusan, dan keunggulan citra lembaga. Ada banyak program kerja yang telah kami tetapkan untuk mengejar tujuan tersebut. Untuk peningkatan kualitas akademik, misalnya, saya mendorong semua program studi untuk secara teratur mengadakan penyesuaian atau update kurikulum agar lebih menjawabi tuntutan masyarakat dan dunia kerja. Kami juga mengadakan perbaikan-perbaikan mendasar di bidang administrasi akademik, mendorong para dosen untuk lebih rajin meneliti. Sedangkan untuk membentuk karakter lulusan, kami menjalankan program-program tambahan untuk pembentukan karakter mahasiswa, agar penekanan tidak berat sebelah hanya pada aspek kognitif. Tapi di atas segala-galanya, ada satu perubahan mendasar yang ingin saya terapkan, yakni 'melayani dengan hati'. Ini menyangkut perubahan etos kerja secara mendasar. Para dosen yang mengajar dengan hati seorang bapa dan ibu, para pegawai yang melayani para mahasiswa dan sesama rekan kerja dengan hati seorang sahabat, para pejabat universitas dan fakultas yang melakukan koordinasi dengan hati seorang gembala.

Bagaimana kualifikasi dosen di Unwira saat ini? Berapa banyak S1, S2 dan S3?
Unwira sekarang ini mempunyai 21 orang dosen tetap berkualifikasi doktor, 108 orang dosen tetap berjenjang S-2 , dan sisanya 69 orang masih berjejang S-1. Dari antara 69 orang yang berjenjang S-1 ini, ada 20 orang yang sedang dan akan mengambil studi S-2 dalam tahun ini. Sisanya akan dibiayai studi lanjutnya dalam 2-3 tahun mendatang. Perlu dicatat, sebagian besar dari dosen yang berjenjang S-2 dan doktor ini dibiayai studi lanjutnya oleh Yapenkar/Unwira, dengan bantuan berbagai sponsor. Jadi, investasi Yapenkar/Unwira untuk peningkatan kualitas dosen selama 28 tahun usianya sangatlah besar.

Eksodus dosen dari Unwira juga banyak. Konon salah satu faktornya adalah gaji dosen yang kecil. Benarkah itu?
Haruslah diakui bahwa eksodus dosen Unwira ke tempat lain akhir-akhir ini cukup banyak. Eksodus paling menonjol terjadi ketika ada pemilihan legislatif. Pada pemilu legislatif 2009, ada 7 orang dosen dan pegawai Unwira yang lolos sebagai anggota DPRD Propinsi dan kota.

Eksodus lain terjadi pada dosen-dosen muda/baru, yang mengikuti test PNS dan lulus, tapi jumlahnya tidak signifikan. Apakah alasannya karena gaji yang kecil? Bisa saja. Toh, banyak orang sekarang yang mengejar kursi legislatif untuk motivasi kesejahteraan belaka, dan bukan karena idealisme, apalagi ideologi. Tapi persentase dosen dan pegawai Unwira yang bertahan dan tetap berkomitmen penuh pada Unwira, walaupun dengan gaji kecil, jauh lebih besar daripada mereka yang eksodus. Kami tetap melakukan usaha peningkatan kesejahteraan, dengan target minimal setara dengan gaji PNS.

Tapi tujuan kami bukan untuk mencegah orang eksodus menjadi anggota legislatif atau PNS. Kalau orang memang sudah lemah komitmennya terhadap profesi dosen, biar dibayar setinggi apa pun, kalau ada tawaran lain yang lebih tinggi dan menarik, dia akan tetap lari juga. Tujuan kami adalah membuat mereka yang masih setia dan kuat komitmennya pada profesi dosen dan pegawai Unwira, merasa mendapatkan imbalan yang layak untuk jasa dan komitmennya. (tony kleden)



Dua Gelar Ketimbang Doktor
DIBANDING dengan para pendahulunya, Pater Yulius Yasinto, SVD, MA, MSc, jauh lebih muda ketika memegang kemudi Unwira. Ketika dilantik menjadi rektor 26 September 2009, Pater Yul, nama panggilannya, baru menginjak usia 44 tahun. Sementara empat pendahulunya, Pater. Dr. Herman Embuiru, SVD, Pater Yan Menjang, SVD, MA, Pater Yan Bele, SVD, MA dan Pater Dr. Cosmas Fernandez, SVD memegang kendali Rektor Unwira ketika sudah di atas usia 50 tahun.

Tentu saja, usia juga ikut mempertebal pundi-pundi pengalaman. Pater Herman Embuiru, misalnya, siapa tidak kenal? Sosok ini seolah dilahirkan menjadi rektor. Dia rektor di mana-mana. Dia piawai, telaten dan punya kharisma menangani sekolah.
Pater Yul, apa yang ada padanya? Percaya diri kekuatan utamanya. Karena itu jangan ragu terhadap anak pasangan Alfonsus Tahu dan Dominika Unut yang lahir di Weleng, Satarteu, Manggarai (sekarang masuk Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur) ini. Meski belum selama para pendahulunya, Pater Yul juga punya pengalaman di dunia pendidikan. Pria yang ditahbiskan menjadi imam 19 September 1993 di Ruteng ini pernah menjadi Kepala SMUK Colegio Maliana, Timor Timur (1995-1998) dan juga Rektor Instituto de Ciencias Religiosas, Dili, Timor Leste (2002 2005).

Pater Yul memang 'muka baru' di Unwira. Dia baru bertugas di Unwira sebagai Sekretaris Yapenkar, pengelola Unwira, November 2008. 'Muka baru' itu seakan distigmakan kepadanya dalam suksesi Rektor Unwira medio tahun lalu. Tetapi dia kuat karena mendapat banyak dukungan. "Saya memang 'orang baru' di Unwira. Tapi saya sebenarnya sudah lama bersentuhan dengan Unwira. Paling kurang dua kali saya hampir ditempatkan di Unwira, yaitu tahun 1994 dan tahun 2002, tapi batal karena ada kebutuhan pada tempat kerasulan yang lain.

Kebetulan juga saya mengambil spesialisasi dalam studi perencanaan sosial bidang pendidikan ketika studi S2 di London. Karena itu saya merasa cukup percaya diri ketika diberi kepercayaan sebagai Rektor Unwira. Tapi lebih dari itu semua, saya merasa kuat untuk maju, karena saya yakin tidak berjalan sendirian. Ada banyak tenaga handal dan berpengalaman di Unwira yang siap membantu saya," kata Pater Yul yang lincah memainkan sejumlah alat musik ini.

Tentang studinya di London, Pater Yul punya cerita sendiri. Mulanya dia ingin mengambil S2 di London School of Economics and Political Science yang bergengsi itu. "Tetapi ijazah sarjana filsafat agama susah masuk di sana. "Makanya, saya kuliah duluan di Universitas Lancaster, Inggris. Di sini sebenarnya hanya batu loncatan untuk ke London School of Economics and Political Science," tuturnya.

Maka, dengan didukung sistem pendidikan di Inggris, Pater Yul menyabet dua gelar S2 sekaligus. Di Universitas Lancaster dia meraih gelar MA di bidang Contemporary Sociology dan di London School of Economics and Political Science, dia menyabet gelar MSc untuk bidang Social Policy and Planning.

"Waktu itu saya pikir, daripada ambil doktor, mendingan ambil dua gelar S2. Kalau dua gelar khan bisa saling komplementer, saling melengkapi, ketimbang hanya satu," katanya. Betul juga! (len)


Pos Kupang Minggu 9 Mei 2010, halaman 03

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda