Samuel Haning, Otak, Watak dan Otot


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Samuel Haning


MANUSIA bisa merencanakan, Tuhan yang menentukan. Kata-kata ini agaknya pas untuk Samuel Haning, S.H, MH. Pria bertubuh kekar ini dikenal sebagai seorang pemuda yang lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan. Ia pun tumbuh menjadi seorang petinju yang handal. Ini dibuktikan dengan meraih medali emas dalam suatu kejuraan tinju di Bali beberapa tahun silam.




Watak keras tidak terlepas dari kehidupan yang menempahnya. Meskipun sepintas berperilaku kasar, pria ini juga bisa melakukan pekerjaan yang lembut dan menggunakan kecerdasan pikiran. Tidak heran bila ia diterima menjadi staf pengajar di Universitas PGRI NTT-Kupang. Dan, siapa sangka pria yang kerap tampil pelontos ini kini memimpin Universitas PGRI NTT.

Ditemui di kantornya beberapa waktu lalu, pria yang bisa disapa Sam ini mengatakan, ia terpilih menjadi Rektor Universitas PGRI merupakan rencana Tuhan melalui kepercayaan pihak lembaga Universitas PGRI. Baginya, tanggung jawab ini berat untuk dilaksanakan. Namun sebagai pemimpin, ia memiliki cara untuk menjalankan tugas ini dengan baik. Cara yang dipilihnya adalah otak, watak dan otot. Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Samuel Haning.

Anda kini menjadi Rektor Universitas PGRI. Apa yang Anda lakukan?
Kegiatan pertama meningkatkan mutu pendidikan agar masyarakat dapat mengikuti dengan jelas, menilai dengan jelas perkembangan pendidikan di suatu institusi khususnya Universitas PGRI NTT. Baru-baru ini lembaga ini telah akreditasi 11 program studi. Masih dua program studi yang belum diakreditasi, sementara diproses.

Dua program studi yang belum diakreditasi, yaitu Ekonomi Akuntansi dan Bahasa Inggris. Dalam waktu dekat pasti terakreditasi karena semua persyaratan yang diminta oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi telah kami urus. Hanya masih perlu pembenahan staf administrasi dari segi pelayanan, termasuk dosen. Dosen lebih fokus pada kompetensi kegiatan perkuliahan tatap muka dan kompetensi yang dimiliki dosen itu sendiri. Juga kita perlahan-lahan memperbaiki satu kurikulum yang namanya kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi ini harus dimiliki semua institusi. Apalagi Universitas PGRI ini semakin dikenal luas.


Apakah ini merupakan langkah PGRI untuk bersaing dengan lembaga pendidikan lain di NTT?
Jangan pandang sebelah mata lembaga ini, pengguna lulusan perguruan tinggi tahu Universitas PGRI ini cukup berkualitas. Saya ambil contoh, dalam acara wisuda PGRI belum lama ini, di mana sambutan Gubernur NTT yang disampaikan Wakil Gubernur NTT, Ir.Esthon L Foenay, menyatakan

lulusan terbanyak dalam semua tes CPNS di NTT dan kabupaten/kota adalah lulusan Universitas PGRI. Itu hal yang luar biasa. Artinya, dari segi kualitas kami sudah siap melakukan hal-hal seperti itu. Kami juga masih melakukan perbaikan dan pembenahan infrastuktur. Pembangunan gedung yang sementara untuk menampung seluruh aktivitas kegiatan mahasiswa.

Tapi dulu ada juga alumni yang menyatakan tidak puas...
Memang jujur beberapa alumni dan mahasiswa yang menyampaikan pendapat rasa tidak puas dengan pelayanan. Ketika saya jadi rektor, maka yang utama saya lakukan memberikan pelayanan publik. Itu yang diutamakan. Contoh staf adiministrasi tidak ada pekerjaan yang ditunda sampai besok sehingga ketika setelah wisuda, lulusan langsung terima ijazah dan transkrip nilai. Jadi terobosan pertama yang saya lakukan itu. Sekarang tidak ada lagi yang mengeluh soal pelayanan. Jadi, saya sudah merapatkan barisan dengan para dekan, ketua program studi, untuk sama-sama menberikan perkuliahan dengan baik agar menciptakan SDM yang berkualitas untuk NTT dan Indonesia umumnya.

Anda tokoh muda, di lembaga ini banyak senior. Bagaiman Anda menempatkan posisi Anda?
Yang pertama kita sama-sama saling menghargai satu dengan lainnya. Yang senior saya anggap bapak saya, saya tidak anggap staf atau bawahan saya. Jujur, pembantu rektor 111 adalah senior saya. Di atas 60-an tahun. Tetapi saya anggap mereka itu orangtua saya dan ketika kita melakukan itu adalah keputusan bersama. Saya juga menerima pertimbangan-petimbngan dari mereka ketika saya mengambil keputusan. Supaya kita tidak ada ketersinggungan antar satu dengan lainnya. Saya katakan itu karena kita juga manusia, Saya katakan saya lebih muda dari mereka tapi saya tidak boleh dipermudahkan. Ketika saya menghormati, menghargai seluruh orang-orang tua yang ada di sini, pasti mereka menghargai dan menghormati saya.

Kenapa mau jadi rektor?. Ini merupakan lembaga pendidikan tinggi tidak muda untuk memimpinnya. Anda dulu kan petunju?

Jadi saya mau katakan, saya juga tidak tahu bisa sampai seperti ini. Tapi ini adalah maksud Tuhan yang menempatkan saya menjadi seorang pemimpin di institusi ini. Kenapa saya katakan begitu? Karena dulu saya di Undana hanya sebagai staf administrasi, sekitar 18 tahun. Setelah staf adiminstrasi saya tertarik menjadi dosen di Universitas PGRI pada Fakultas Hukum. Nah, dalam perjalanan itu kita tidak bisa menilai diri kita sendiri karena diri kita ini diatur dan dinilai oleh orang lain. Diukur oleh orang lain ini maksudnya, kita pantas dan mampu atau tidak? Ternyata dalam perjalanan ya seperti ini. Saya juga terkejut ketika teman-teman memilih saya menjadi rektor dan jadi saya pikir ini adalah suara senat dan suara teman-teman adalah suara Tuhan. Saya juga seperti terbangun dari mimpi. Karena saat saya mengajar, saya tidak ingin jadi pemimpin. Saya mengajar untuk menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat dan sehingga orang tahu perilaku saya yang hardstyle. Ternyata saya sekarang menjadi lembut diantara masyarakat dan teman-teman yang ada.


Waktu terpilih jadi rektor, apakah Anda pernah berpikir bisa atau tidak menjalani tugas ini?

Saya pikir apapun yang terjadi kita harus siap. Kenapa saya katakan harus siap karena seorang pemimpin, bukan sebagai seorang komando. Filosofi saya sebagai seorang pemimpin pertama adalah sebagai pelayan. Artinya, melayani dengan baik kepada seluruh masyarakat dan kepada seluruh jajaranan yang ada di kampus ini. Kedua bersikap manajer, mengambil keputusan bersama-sama, tidak dengan cara komando dari atas ke bawah. Ketiga bersikap sebagai seniman. Artinya ketika kita harus senang ya senang bersama-sama, susah juga harus sama-sama.

Tetapi tidak boleh menyusahkan orang lain, tidak boleh menyakiti orang lain. Itu penting. Keempat adalah gaya profesional. Kita harus bersikap profesional saat menjalankan tugas. Kenapa saya katakan itu karena kalau kantor saya buka satu kali 24 jam, maka saya juga ada di sini satu kali 24 jam. Di sini buka setiap saat dan siapa saja boleh masuk, termasuk masyarakat luas, mahasiwa dan pegawai boleh saja datang. Organisasi kepemudaan, OKP lain datang untuk diskusi, saya layani.

Anda menyinggung tentang kelembutan. Tapi gaya bicara Anda itu keras. Jadi anggapan orang Anda selalu marah....
Memang kalau orang sudah tahu saya, maka akan berkata itu hanya suara saja Pa Sam, tapi hatinya romantis..ha.. gitu... Suara memang besar tapi tidak marah, itu memang gaya saya. Saya memang begini, sehingga kadang-kadang orang langsung bilang wah Pa Sam ini suaranya keras. Tapi kalau sudah biasa sama saya, bapak itu suaranya memang keras, tapi hatinya lembut seperti salju dan romantis...

Menurut Anda, lebih gampang mana, latih tinju atau jadi rektor?
Jadi jujur saja, untuk tanggung jawab besar itu adalah jadi rektor. Anda pikir saja, sekarang ada lebih dari 5.000 mahasiswa ditambah dosen dan karyawan. Jadi ada sekitar 6.000 orang dengan karakter yang berbeda-beda, persoalan yang berbeda-beda. Ini tanggung jawab yang luar biasa berat sepertiya harus satu kapal semua sekitar 6.000 orang ini, kalau saya membawa salah maka ini bisa tenggelam semua. Ini tanggung jawab besar, karena untuk membina, membimbing, mendidik, orang itu sampai orang itu sukses tidak segampang kita membalik telapak tangan. Tapi yang itu saya katakan, kalau saya latih tinju paling top saya kontrol dua jam. Tapi jadi rektor ini saya bisa sampai 10 jam di kantor. Jam 5, jam 6 baru pulang. Bagaimana membangun kinerja institusi ini agar bisa bersaing dengan institusi yang lain itu penting, menjaring lobi-lobi dengan instansi terkait, baik pemerintah daerah maupun pemerintah itu sangat penting dan tidak gampang.

Bila latih petinju bisa dengan cara kasar, tapi di sini tidak bisa begitu?
Di sini hanya memakai otak, watak dan otot. Artinya, otot itu bukan pukul, otot itu fisik kerja kalau ada sakit ngapain dia kerja. Watak, bahwa tidak semua di sini dia main dengan cara-cara kekerasan, tinju harus keras. Watak, artinya seperti yang saya katakan tadi yaitu seni kita bermain, mencubit orang tapi orang tidak merasa sakit, hanya rasa saja. Jadi otak, sangat penting bagi kita karena kalau tidak ada otak sama seperti tong kosong nyaring bunyinya. Otak itu menyangkut intelektual, intelegensi. Watak, tidak harus keras dan kita selalu memilih jalan yang terbaik. Saya memang omongnya keras, tapi tidak kasar, hanya senyum saja.
Masih aktif di dunia tinju?
Kalao tinju masih aktif. Saya sebagai Sekretaris Pertina NTT.

Anda hoby tinju, apakah di sini juga ada sasana tinju?
Saya sudah bentuk semua cabang olahraga di Universitas PGRI ini, namanya unit kegiatan kemahasiswaan. Yang pertama adalah olahraga kempo, kedua silat, ketiga tim bola voly, keempat tinju, kelima atletik. Nah, sekarang ini kami melakukan pembinaan olahraga. Jadi suatu institusi itu ada UKMnya, tentu UKM itu kita laksanakan secara profesional. Kenapa demikian karena minat dan bakat mahasiswa itu harus sesuai dengan sasarannya. Contoh, Juni tahun 2008, ada mahasiwa kita, Muhamad Ledo, ikut kejuaraan kempo di Aceh. Dan, saat itu Ledo mendapat medali perak. Kejuaraan tinju di Bali, yang ikut Atris Neolaka. Dia mendapat medali emas. Di Surabaya, Adrianus Dae ikut silat juga sukses. Itu namanya pembinaan sehingga benar-benar bina bakat mahasiwa ini bisa mengharumkan NTT, bukan Universitas PGRI saja. Saya pikir begitu. Jadi membantu pemerintah untuk melaksanakan program kerja di bidang keolahragaan.


Anda hidup dalam dunia yang keras dan lembut. Bagaimana Anda mengelola diri Anda dalam dua dunia ini?
Begini, kita ini kan manusia, kalau ular saja bisa berubah kulit, bagaimana manusia berubah perilaku? Yang menentukan manusia hidup seseorang, kemajuan seseorang tergantung orang itu sendiri. Kenapa saya bilang begitu? Saya punya filosofi satu, saya ini maju, saya berhasil karena Tuhan dan saya juga berhasil karena memakai baju orang lain dan memakai sepatu orang lain. Anda paham? Karena dulu, saya memakai sepatu saya sendiri, misalnya, nomor 43, sekarang saya sudah mengubah nomor sepatu saya menjadi nomor 44. Maksudnya, perilaku yang lama jangan dipertahankan lagi. Sekarang kita harus mengubah perilaku kita untuk menjadi lebih baik. Kenapa orang lain itu bisa, lalu kita tidak bisa. Kita harus bisa berubah. Kalau kita mau mengubah diri kita, kita harus melihat orang lain. Kita harus mengubah perilaku kita bahwa orang lain bisa, maka kita juga harus bisa. Kalau bukan kita yang mengubah nasib kita, ya siapa lagi. Karena tidak ada orang lain. Kita juga harus tetap ora et labora.

Anda masuk kantor jam berapa?
Saya sekarang sudah terbiasa masuk pukul 07.00 Wita, dan pukul 07.30, semua harus sudah mengisi daftar hadir. Masuk kantor ini adalah kewajiban. Jadi terkadang saya duluan dari karyawan, tapi ada juga bersamaan masuk, tergantung kesibukan saja.

Saat pulang kantor, apakah karyawan menunggu Anda pulang dulu baru mereka pulang?
Tidak juga, karyawan bisa pulang usai jam dinas, yaitu pukul 02.00 Wita. Tapi saya biasanya selesai kerja pukul 17.00 Wita, baru pulang. Tergantung tingkat kesibukan juga. Karena saya tidak bisa atau tidak biasa tinggalkan pekerjaan sampai besok. Kerja hari ini harus selesai hari ini juga. Tapi kalau ada yang lembur, maka mereka dianggap melakukan kerja lembur. (alfred dama)



Data Diri Nama : Samuel Haning, S.H, M.H Tempat Tanggal Lahir : Kupang 9 September 1964 Agama: Kristen Protestan : Istri : Elisabet Waluwanja. S.H Riwayat Pekerjaan 1. PNS di Universitas Nusa Cendana 2. Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas PGRI NTT 3. Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Universitas PGRI NTT 4. Pembantu Dekan I (Bidang Akademik) FH Universitas PGRI NTT 5. Pembantu Dekan II (Bidang Administrasi dan Keuangan) Universitas Nusa Lontar Rote Ndao 6. Pembantu Dekan III (Bidang Kemahasiswaan) FH Universitas PGRI 7. Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Universitas PGRI NTT Profesi lain 1. Konsultas Hukum Kantor Bulog NTT 2. Penasehat Hukum Organisasi 1.Wakil Ketua I DPD I Partai Golkar NTT 2. Ketua Angkatan Muda Partai Golkar NTT 3. Ketua MPW Pemuda Pancasila 4. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Koni NTT 5. Sekretaris Pertina NTT.


Pos Kupang Minggu 4 April 2010

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda