POS KUPANG/ALFRED DAMA dr. Octavio A.J.O. Soares, M.Kes bersama keluarga

SAAT meninggalkan pekerjaan lama sebagai dokter pada Rumah Sakit Pertamina Balikpapan-Kalimantan Timur, dr. Octavio A.J.O. Soares, M.Kes dianggap telah melakukan keputusan yang keliru. Sebab, bekerja sebagai dokter di rumah sakit bertaraf internasional tersebut bukan saja mendapat penghasilan yang di atas rata-rata, tetapi juga kebanggaan.


Tidak semua tenaga kesehatan bisa diterima dengan muda bekerja di rumah sakit perusahaan minyak terbesar di Indonesia tersebut. Bagi dr. Octavio A.J.O. Soares, M.Kes bisa bekerja di rumah sakit tersebut juga merupakan sebuah kebanggaan. Tetapi baginya, kembali ke Timor merupakan panggilan yang harus dijawabnya. Apa saja rencana dan kiprah dokter ganteng ini, berikut perbincangan Pos Kupang dengannya.

Anda dulu ikut mengungsi dari Timor Timur ke NTT dan memilih hijrah ke Kalimantan. Mengapa?
Waktu saya pergi bukan hanya melarikan diri dari cita-cita. Tahun 2000-2001, kami memiliki problem sosial yang begitu besar. Kami pindah dari Dili akhir tahun 1999 sampai tahun 2000 tidak ada yang kami perbuat. Yang kami tahu adalah menyelamatkan diri karena banyak yang mati.

Saat mengungsi ke sini, saya tidak banyak berbuat karena saya mengungsi dengan nenek saya. Bisa bayangkan saya mengungsikan nenek-nenek usia 80-an tahun. Kita melewati perjalanan panjang dan hampir tiga kali mau dibunuh sama gerombolan Besi Merah Putih di perbatasan Maubara dan akhirnya kita bisa sampai di sini. Boleh dibilang akhir tahun 1999 sampai tahun 2000 kami hanya sekadar mau survive.

Pada masa itu muncul banyak ide dan pemikiran dengan Bapak Abilio Soares, dan kami sering diskusikan banyak hal termasuk pembangunan sebuah rumah sakit. Tapi, kita kami pikir-pikir di sini kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kebetulan kami hanya bisa mendirikan Yayasan Harapan Timor tahun 2000. Kami melihat NTT ini over load, satu hal yang kami lihat pada masa itu over load oleh anak-anak usia sekolah.

Anda mengungsi dengan siapa saja saat itu?
Saya dari Timor-Timur ke sini kami mengungsi dengan 12 KK, tidak terhitung dengan keluarga dekat saya seperti nenek, tanta, mama, adik, dan anak usia sekolah sebanyak 47 orang. Bisa dibayangkan. Kami pertama mengungsi di SD GMIT Atambua.

Saya melihat bahwa problem terbesar adalah anak-anak itu, mereka tidak sekolah, dan dengan yayasan ini kami mengungsikan mereka ke Jawa. Saya kebetulan ada hubungan baik dengan para suster di sana. Nah, tahun ini semua sudah tutup dan tidak ada lagi program itu, dan kita anggap pemerintah NTT setelah 10 tahun sudah punya infrasturuktur dalam hal ini sekolah yang cukup.

Karena ya, waktu itu kan tiba-tiba, pemerintah hanya berpikir resetlemen untuk orang hidup dan bukan untuk orang sekolah. Kami saat itu berusaha membantu walaupun sangat sedikit saat itu, yakni dengan membawa mereka ke Jawa untuk sekolah. Kami bersyukur sekarang di antara mereka ada delapan orang yang rencananya ada yang mau jadi suster dan pastor. Nah, mereka ini tidak pulang ke sini, ada yang di Boro, Kabupaten Progo, Magelang, di Mertoyudan. Dan ada yang di Wonosari.

Anda sendiri mengapa ke Kalimantan?
Saat itu situasi tidak menentu, muncul milisi bersenjata ngancam sana ngancam sini, hadang orang di sana-sini. Termasuk saya beberapa kali dihadang di Noelbaki, Tuapukan, karena saya masih sering bolak-balik untuk kegiatan asistensi kesehatan pengungsi Timor-Timur di sini. Pernah saya dihadang di Noelbaki oleh anak muda pengungsi. Mereka tidak tahu saya dan ketika saya memberitahukan siapa saya, baru mereka minta maaf.

Jadi bikin malu saja. Kondisi-kondisi seperti ini kan bikin kita harus prihatin. Tetapi itu bukan alasan untuk kita memperkenankan seperti itu. Itu juga yang membuat saya berpikir waktu itu dan apalagi saya baru menikah tahun 2001. Waktu itu saya berdoa, saya katakan Tuhan, saya baru menikah, istri saya juga bukan orang Timor. Di sini juga sudah banyak masalah, yah saya malu kalau hanya kumpul dan bikin masalah. Makanya saya mencoba merantau ke Kalimantan.

Saya sebenarnya minta waktu kepada almarhum Abilio Soares lima tahun. Setelah lima tahun saya bisa mengabdi, bisa menjadi pembantu di negeri orang, saya siap memimpin dan ayah saya mau kasih apa saja, saya siap. Saya pindah ke Kalimantan, semua Tuhan yang atur. Saya sampai ke sana dan saya hanya sempat menganggur empat bulan dan saya melamar di semua tempat. Akhirnya saya diterima di Rumah Sakit Pertamina, sesuatu yang saya tidak pernah bayangkan. Saya testing di semua perusahaan termasuk di pegawai negeri sipil, saya tidak diterima.

Masalahnya satu saja, yakni agama saya berbeda dengan umumnya orang di sana. Tapi berkat Tuhan datangnya sangat misterius dan saya tidak tahu. Di Balikpapan, tanpa persiapan apa-apa, tanpa ada koneksi apa-apa saya diterima dan saya mulai bekerja. Setelah tujuh bulan saya di Kalimantan, almarhum ayah saya datang hanya untuk memastikan kalau anaknya betul kerja atau apa.

Apa yang ayah Anda katakan saat ia temui Anda di Balikpapan?
Pertama, ketika ayah datang kami berdua bersitegang. Maklumlah, anak sama ayah, apalagi anak laki-laki. Dia lihat rumah, lihat kondisi kami dan dia bilang kalian bisa tinggal di sini. Tapi dia katakan kalian tetap harus pulang ke Kupang. Memang saat itu, kami sering bertemu karena kantor pusat Pertamina ada di Jakarta dan dia sering bolak-balik ke Jakarta dan kami bertemu di Jakarta.

Sementara dalam proses perjalanan, Tuhan juga mengatur yang lain dan saya sudah dalam posisi sudah siap-siap dan saya mundur dari pegawai Pertamina ketika almarhum Abilio meninggal. Tapi biasalah, idealisme kita kadang-kadang susah. Saya kerja di Pertamina sama seperti saya ketika tidak mau jadi PNS juga karena idealisme saya. Saya khawatir dengan profesi saya dengan latar belakang filosofi hidup saya. Saya anak yatim sejak lima tahun, ayah saya dibunuh oleh Fretelin dan kalau boleh dibilang kami hidup dari janda.

Makanya dalam filosofi hidup saya kalau boleh hidup yang normal-normal sajalah, tanpa kontaminasi yang aneh-aneh. Sama seperti ayah saya meninggal tanpa meninggalkan kami apa-apa, tapi mengagumkan. Buat saya itu suatu mujizat dan saya bisa jadi dokter, padahal saya tidak pernah bayangkan, dari lulusan UGM lagi. Suatu hal yang tidak ada di benak saya dan saya memaknai itu untuk hidup saya bahwa Tuhan itu bekerja, kalau kita juga bekerja.

Apa yang Anda lakukan setelah keluar dari RS Pertamina?
Dalam perjalanan setelah saya mundur dari Pertamina, kemudian balik lagi. Keluarga memang banyak kenal dengan tokoh-tokoh nasional. Salah satunya Prabowo Subiyanto. Beliau dengan almarhum Abilio dan paman saya di Denpasar sekarang seperti kakak adik. Waktu beliau masih letnan di Timtim, saya tidak sombong, tapi rumahnya di Cendana 9 itu saya sudah masuk keluar.

Bagaimana hubungan Anda dengan Prabowo?
Hubungan kami sangat baik, seperti keluarga. Kami juga sempat menghuni rumahnya di Cianjur dan sudah seperti keluarga, tetapi saya tetap hormat. Waktu beliau buat partai, dia menghubungi saya di Kalimantan. Dia katakan, kamu bisa bantu saya, dan katanya dia membutuhkan orang yang bisa membantunya.

Ya, saya tidak bisa buat apa-apa. Karena saya jujur saya ketemu Pak Subiyanto terakhir ketika pemakaman ayah saya. Walau almarhum (Abilio Soares) tidak ada tetapi beliau tetap menunjukkan hubungan kekeluargaan yang begitu besar. Dan ketika dia menelepon saya tahun 2009 untuk mengurus partainya di sini, sebagai tanda terima kasih saya harus menjawab permintaannya. Saya katakan saya siap.

Saya pulang memang agak kalut, karena sudah kerja baik-baik dan harus pulang, tetapi istri saya katakan, kan kamu sama beliau sudah seperti keluarga. Yah, akhirnya saya berpikir bahwa Tuhan menggiring saya untuk ke sini. Saya bersyukur bahwa walau kecil-kecil bantuan saya tetapi di NTT Partai kami lumayan punya gigilah.

Lalu Anda pulang?
Ya, akhirnya saya pulang ke sini dan saya pikir adik-adik saya banyak yang sudah selesai sekolah dan tidak bisa diserap oleh pekerjaan. Dan iklim investasi di sini untuk menciptakan pekerjaan sangat tidak kompetitif dan agak susah. Jadi saya pulang dengan misi sederhana, membangun klinik ini, dan berharap bahwa mimpi yang dulu pernah diungkapkan oleh almarhum belum sempat terwujud tetapi mulai perlahan-lahan.

Walau kami baru mulai merayap tetapi bisalah, sehingga adik- adik yang belum diserap oleh pasar bisa mulai belajar bekerja di sini dan sambil menemukan apakah bisa tidak.

Tapi di Kupang sudah banyak klinik....
Saya sih hanya berharap kepada masyarakat bahwa kami juga bisa menjadi alternatif. Artinya kesehatan itu semestinya bisa memberikan option. Jadi misalnya si A berobat ke dokter A dan penjelasan dokter A kurang jelas, dan si A bisa cari lagi dokter B. Sebenarnya bukan untuk menentukan diagnosis atau mengobati, tetapi paling tidak bisa memberikan ketenangan kepada pasien bahwa apa yang dijalaninya sudah benar atau apa yang diadvis oleh dokter sudah benar.

Itulah alternatif dari saya yang bisa ditawarkan kepada masyarakat di NTT khususnya Kota Kupang dan sekitarnya. Kalau untuk keluarga kami yah saya bisa memberdayakan adik- adik saya yang ada di sini dan bekerja sama dan merintis kembali apa yang diinginkan oleh almarhum tetapi tidak bisa. Jadi lebih pada perjalanan sejarah balik.

Rencana dirikan RS itu akan tetap dilanjutkan?
Oh jelas. Itu masih menjadi obsesi saya. Mungkin agak sombong kalau saya bilang saya punya network lumayan. Saya pernah bekerja dan saya punya cukup pengalaman. Saya dulu pernah ditawari oleh seorang teman saya, seorang dokter senior dari RS Mounth Elisabeth Singapura.

Terakhir baru sebulan yang lalu kami kontak dan dia ingin membangun rumah sakit. Biasalah kalau orang mau bangun rumah sakit, tapi ini pelayanan, dan tidak mungkin menghidupi rumah sakit kalau tidak ada targetnya untuk bisnis. Harus diakui bahwa membuat RS sekarang tu tidak mudah. Kalau dari sisi manajemen rumah sakit idealnya satu ruangan sekitar Rp 600 juta, kalau 10 ruangan silahkan bayangkan berapa. Artinya kalau ingin membangun RS yang ideal kita harus tahu bahwa dia oksigennya harus sentral, tidak ada yang namanya tabung didorong masuk sana-sini. Kalau kita mau bangun rumah sakit yang bagus mestinya biar kecil tapi nyaman. Jadi investasi untuk rumah sakit tidak main-main.

Saya pernah studi banding di beberapa negara di Amerika, Eropa, Jepang. Yang menarik buat saya sebetulnya di Jepang. Di sana perawat tidak pakai baju putih seperti yang punya kita. Jadi kalau di anak-anak, bajunya dibuat menarik sehingga anak-anak merasa tidak takut dengan perawat, kamarnya juga dibuat bagus.

Ini sebenarnya bisa kita ambil, bahwa orang Timor memang hitam, keriting yah, tetapi apakah karena dia hitam dan keriting dia tidak layak mendapatkan fasilitas seperti yang ada di Jepang. Saya pikir semua orang layak dan pantas untuk mendapatkan hal-hal seperti itu.

Kenapa Anda pilih keahlian di Manajemen RS, bukan keahlian pada penyakit tertentu?
Balik lagi ke filosofi saya, saya anak yatim. Jadi dokter saya sudah mujizat. From zero to hiro, saya selalu tahu diri. Jadi ketika saya mulai merencanakan saya punya masa depan, saya sudah berpikir bahwa saya harus sudah tahu diri. Kalau orang Jawa katakan ngono yo ngono, ngiyo ojo ngono, tetapi kalau boleh jangan begitu.

Orang Jawa katakan orang tu harus selalu ingat dan mawas diri. Nah, ini yang sering saya bawa. Ketika lulus sebagai dokter umum, ada yang menawarkan untuk lanjut ke spesialis bedah. Saya masih ingat sekali dengan beliau senior kami spesialis bedah anak, dr. Rohadi. Dia kejar saya seperti anaknya. Saya katakan tidak mungkin. Memang ini anugerah Tuhan buat saya, tetapi saya harus tahu bahwa ada hal lain yang saya pikir.

Saya ingat saja dari perang saudara tahun 1975 tahun 1999, suatu lagi dan saya katakan Tuhan masih cukup sayang buat saya dan saya jangan cari-cari penyakit baru. Saya memang berprinsip saya akan lanjut sekolah dengan meminimalisir problem dengan membayar sendiri sekolah saya. Dan Tuhan sudah mengatur, saya kerja di Pertamina selama tiga tahun, pertama saya punya duit untuk sekolah, saya punya rumah dan saya beli mobil.


Bagi masyarakat NTT yang tidak mampu, biaya ke dokter mahal sekali. Padahal dokter kerja untuk manusia. Apa alasan sekolah dokter mahal menjadi pembenaran?
Kalau saya lihat, saya ahli kesehatan masyarakat dan bicara dalam sistim kesehatan masyarakat tanpa tendensi apa-apa. Saya pertama melihat kewenangan itu harus dibatasi dan kami harus dikontrol oleh nilai-nilai yang benar-benar nilai kemanusiaan.

Saya biasa bicara kami dokter memang mudah sekali menjual dan mudah sekali dibeli. Tetapi bukan karena itu, tapi karena nilai kemanusiaan dan nilai profesi kami sebagai dokter. Kita semua boleh berhitung duitlah, ayah saya dan ibu saya menginvestasi berapa buat saya menjadi dokter.

Tapi begitu Anda dibayar oleh negara, dibayar oleh daerah, hukum itu tidak berlaku, itu semua mestinya dipotong. Kok kamu dibayar oleh daerah kok, mendapat pesan pegawai negeri, dikasih duit. Terus di sini tiga tahun, empat tahun terus mau keluar ke tempat lain, nggak ada. Saya tidak setuju itu. Saya berani omong karena saya sekolah bayar sendiri.

Mestinya budaya malunya harus ada, dan kita tidak ada budaya malunya. Itu harus dibatasi. Itu tadi regulator harus bisa main di situ. Kewenangan yang besar seorang dokter harus dibatasi, rule of game-nya apa. Kalau rule of game-nya sudah ada harus dilihat suplay and demain-nya seberapa. NTT ini suplay and demain masih kurang, masih sangat tinggi keinginan masyarakat untuk berobat, tetapi ketersediaan dokter sangat sedikit.

Kadang-kadang masyarakat tidak tahu karena harus ke dokter yang mahal, karena ke dokter yang mahal pasti obatnya paten, padahal tidak tahu kalau dokternya mahal juga sama saja. Di Jawa dan kalimantan memang sudah sampai ke titik seperti itu, yakni pemberdayaan pasien. Hampir setiap perusahaan kesehatan di Kalimantan sudah menggunakan jasa health manajer (manajer kesehatan) yang bisa menjadi karyawan, tetapi juga menjadi konsultan.

Kembali ke zero to hero. Waktu masih kanak-kanak sudah berpikir menjadi dokter atau seperti kebanyakan anak-anak begitu?
Lucu, saya ini hidup dari dua dunia. Saya lahir sebagai orang Portugis, besar sebagai orang Portugis. Ibaratnya kalau sekarang saya mau merevitalisasi kembali nasionalisme saya sebagai orang Portugis sebenarnya juga tidak susah. Tapi saya melihat bahwa pikiran saya adalah pikiran orang Indonesia, karena ayah saya almarhum, walau meninggal sebagai orang Portugis bukan orang Indonesia.

Waktu kecil, keluarga saya keluarga seminaris, kakek saya dosen di seminari, ayah saya sampai seminari tinggi di Baukau dan pulang tidak jadi pastor, malah jadi camat dan jadi bupati. Saya waktu kecil mau jadi pastor sampai SMP. Kemudian ketemu dengan teman-teman yang kebetulan dari sini, anak- anak polisi yang dari NTT.

Anak-anak polisi sekolah dengan saya dan saya ubah mau jadi polisi. Tapi ada cerita lucu, waktu masih di SDK Balidi, itu jauh sekali dari rumah karena kami tinggal di Farol, di SDK Balidi punya susteran. Kami harus jalan kaki selama empat tahun ke sekolah. Dalam perjalanan selalu berkelahi dan berkelahi dengan anak-anak polisi di Gargado. Dulu ada perumahan polisi di Gargado dan Kiwal, teman-teman saya anak polisi Kiwal dan kami berkelahi dengan anak polisi Gargado.

Ayah saya jadi benci juga, ngapain anak saya jadi polisi kok berkelahi terus. Tapi saya masih ingat, ketika masih SD, saya dikasih hadiah oleh mama saya yakni tas gambar UGM. Jadi kakak saya dapat yang UI, adik saya Unair dan dapat ITB dan saya yang di UGM.

Dari situ saya bayangkan kalau sudah besar mau kuliah di UGM dan saat itu saya bercita-cita mau jadi dokter. Saya sempat sekolah SMA di Bali di SMA Swastiastu dan saya mematok harga bahwa saya harus jadi dokter. Saya mulai belajar dan lebih banyak di A2 dan saya lulus dan masuk di UGM walaupun tidak termasuk mahasiswa brilian dan tidak termasuk mahasiswa terancam DO.

Apakah kuliah di kedokteran harus orang pintar?
Tidak juga. Saya punya teman yang mau jadi dokter sama seperti saya, kemudian ada dua orang yang kemudian tidak mau jadi dokter, satu malah menjadi ahli IT dan melupakan idealismenya sebagai dokter.

Yang satunya jadi pengusaha. Jadi sebenarnya bukan masalah pintar atau tidak pintar, tetapi profesi dokter atau profesi sebagai dunia medis lebih seperti gurulah. Ada panggilan. Jadi seperti pastor atau suster musti ada panggilan di dalam untuk bisa mengabdi. Karena kalau tidak seperti itu tidak akan bisa, karena walau dia lulus cum laude dengan IP 4,00 tetap tidak akan menjadi dokter yang baik.

Dalam perjalanannya, ada dokter yang bisa menjadi peneliti (saintis), dia pintar sekali tetapi hanya untuk menjadi peneliti, untuk mendiagnosis penyakit dia tidak bisa karena kemampuan komunikasi putus. Nah, ini yang jangan sampai terjadi dalam profesi dokter. Kalau saya tahu diri saya adalah saintis, jangan berhubungan dengan pasien, karena nanti semua pasien saya anggap seperti angka-angka penelitian saya (just only number). Nah, kalau pasien hanya number repot, semua bersifat kelinci percobaan terus. Wah ini susah. (apolonia dhiu/alfred dama)




Curriculum Vitae:
Nama : Octavio A.J.O. Soares, dr., M.Kes.
Tempat Tanggal Lahir 20 Juni 1969
Status : Menikah
Istri : Jaine Elisabeth Kamagi O.S.
Anak 4 orang :
- Zeze O. Soares,
- Deia O. Soares,
- Zsazsa O. Soares
- Bebe O. Soares
Pekerjaan : - Dokter Umum, praktek di Klinik Keluarga "Timor Medika"
- Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STiKes) CHMK, Kupang



POS Kupang Minggu 6 Juni 2010, hal 03

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda