POS KUPANG/ALFRED DAMA
Soleman Dapa Taka


SEJAK berdiri tahun 2002 lalu, Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen Mercusuar Kupang sudah enam kali mengikuti Ujian Nasional (UN). Enam kali berturut-turut pula sekolah ini lulus 100 persen UN. Sungguh suatu yang luar biasa, sementara sekolah-sekolah yang lebih usia kebanyakan sulit lulus 100 persen, bahkan ada yang lulus nol persen.

Adalag Drs. Soleman Dapa Taka, MA yang mampu membawa sekolah ini meraih prestasi tersebut. Pria berdarah Sumba yang kini menjadi Kepala SMA Kristen Mercusuar ini mengatakan, daya dukung pihak yayasan sebagai pemilik sekolah serta penerapan metode mengajar yang tepat serta tenaga guru yang memiliki dedikasi tinggi merupakan kunci keberhasilan sekolah ini.

Karena konsisten menjaga kepercayaan dan kerja keras, lulus 100 persen setiap tahun menjadi hal yang biasa bagi sekolah ini.

Berikut petikan perbincangan dengan Pos Kupang dengan Soleman Dapa Taka.

Sekolah ini boleh dikatakan masih baru, tapi Anda sudah bisa membawa sekolah ini sukses enam tahun berturut-turut.

Saya sebagai kepala SMA Mercusuar sejak tahun 2002 saat sekolah ini dibuka diuntungkan oleh situasi yang memungkinkan saya untuk bisa maksimal di sekolah ini. Pertama, ini sekolah swasta. Konteks kita di NTT -- mungkin di daerah Jawa-Jakarta, swasta atau negeri itu tidak terlalu masalah, tapi di NTT beda.

Permasalahan pendidikan di NTT sangat jelas dan ini sudah sering dibawa ke forum-forum seminar, diskusi dan lainnya, tapi pendidikan kita begini-begini saja. Nah, bagaimana saya bisa membawa sekolah ini enam tahun lulus 100 persen, menjaga kualitas pendidikan pada swasta, yaitu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Hal lainnya adalah konsep dan kebijaksan yayasan yang memungkinkan kita bekerja maksimal.

Misalnya begini, kalau saya punya keinginan untuk memajukan sekolah ini, maka yayasan selalu mendukung. Jadi tidak sulit bagi saya untuk mengembangkan sekolah ini untuk bisa berprestasi secara akademik.

Bagaimana dukungan yayasan?
Baik, kita lihat bahwa konsep awal Mercusuar adalah harus memilih, menentukan sekolah model apa yang kita mau bangun. Tidak sekedar melihat orang lain bikin sekolah dan kita juga bikin sekolah ,tanpa mengetahui produk yang hendak kita jual itu apa dan bagaimana.

Karena itu Ketua Yayasan, Pak Hendri Riyadi ini sudah menentukan bahwa sekolah ini harus punya kelas sendiri. Mungkin itu tidak ditulis secara eksplisit, tapi cita-cita beliau sekolah ini harus punya kriteria sendiri. Untuk menciptakan sebuah sekolah yang punya standar tersendiri atau punya kelas tersendiri itu banyak hal yang harus dilakukan.

Pertama, harus punya modal, seperti punya gedung sendiri atau tidak pinjam-pinjam atau sewa gedung milik pihak lain dan modal untuk bisa survive untuk lima tahun itu harus ada. Sekolah baru itu masih harus mencari identitas, cari pengakuan dan lain-lain dan harus juga bisa membuktikan kepada masyarakat. Untuk bisa membuktikan kepada masyarakat, kerja keras luar biasa.

Apakah lulus 100 persen itu pembuktian sekolah ini?
Saya pikir bagaimana kita harus menghasilkan lulusan yang baik itu, ya kita butikan pada masyarakat, itu yang berdampak baik pada survive-nya sekolah ini. Kalau kita buka sekolah dan hasilnya sama saja, seperti anak-anak ikut ujian banyak yang tidak lulus, maka orang tidak melihat ada sesuatu yang menarik untuk mereka datang ke sekolah ini.

Tapi kalau kita berani tunjukkan bukti seperti lulus 100 persen, orang akan coba untuk mempertaruhkan anak-anaknya datang ke sekolah ini. Tapi lulus 100 persen bukan yang utama, menghasilkan lulusan yang berkualitas mungkin yang paling utama.

Apakah target 100 persen merupakan satu-satunya tujuan di sekolah ini?
Ah, salah satu satu saja sebenarnya, tapi orang biasanya melihat kalau lulus 100 persen itu menunjukkan kualitas sekolah yang kelihatan, tetapi lulus 100 persen itu merupakan hasil yang lumrah kalau sistem yang kita jalankan sudah bagus, karena tidak mungkin kita mau dapat hasil yang lulus semua, tapi sistem dan prosesnya tidak benar.

Kita sebenarnya sangat menekankan proses. Proses untuk bisa jalan dengan baik, bisa mengisi anak-anak dengan betul, anak- anak tidak saja lulus tetapi dia punya moral, punya etika. Sistemnya itu ada di dalam itu. Masa proses selama tiga tahun berada di sekolah ini, dididik di sini, itu sangat menentukan masa depannya. Untuk menentukan proses yang baik itu, kita harus menentukan varibel-varibel apa yang menentukan kelulusan itu.

Satu misalnya guru, guru itu tidak asal memilih guru, tidak asal menerima guru yang hanya bisa cari kerja, karena keluarga atau orang yang kita kenal karena bisa mengajar. Belum tentu keluarga atau kerabat itu bisa mengajar dengan baik, padahal kita harus punya kelas dengan standar tersendiri. Karena itu memang harus berani seleksi guru, siapa pun dia. Kebetulan keluarga, tetapi kalau dia tidak bisa yang memenuhi syarat, dia tidak masuk.

Bagaimana dengan jumlah siswa?
Kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas agar bisa berhasil dengan baik, bisa berkualitas itu harus dengan jumlah siswa yang ideal. Untuk sebuah KBM seperti halnya di luar negeri hany 15 orang paling banyak dan kita bisa bandingkan 15 orang dalam satu kelas dengan yang 40 orang, pasti yang lebih efektif yang 15 orang itu. Nah itu yang kita juga terapkan di sekolah ini dan secara konsisten.

Tidak boleh dipengaruhi faktor lain seperti inflasi atau ekonomi memburuk. Itu tidak boleh dan itu tetap kami pertahankan dan jaga dengan baik, konsistensi untuk mempertahankan jumlah siswa kami yaitu 20 orang perkelas.

Tidak hanya jumlah siswa yang perlu diatur, tetapi metode mengajar juga dan setingan ruang kelas. Nah untuk KBM yang efektif yang jumlah sudah ideal, ruang kelas juga memungkinkan anak-anak bisa berinteraksi yang baik dan semua bisa mendapat kesempatan dalam proses pembelajaran.

Kalau banyak siswa itu mungkin yang dapat giliran menjawab itu hanya satu atau dua saja. Tapi kalau jumlah kecil dan dibagi lagi dalam kelompok-kelompok kecil, maka dalam waktu yang bersamaan itu mereka ikut ambil bagian dalam kelas itu sehingga tidak ada yang pasif. Semua bisa aktif.

Setingan ruang kelas di sekolah ini bagaimana?
Setingan ruang kelasnya kita buat paling buruk itu leter U karena leter U itu tetap satu fokusnya, walaupun mereka masih dimungkinkan saling tatap, tapi yang paling bagus itu "O " kecil atau meja bundar, itu baru memungkinkan mereka berinteraksi satu dengan lainnya.

Dalam proses KBM tidak boleh dilarang siswa yang kerja sama, mereka memang membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, untuk berdiskusi. Kalau dengan guru mungkin ada faktor psikologis yang menghambat, mereka harus bebas untuk menyampaikan pertanyaan pada sesama teman dengan leluasa. Atau sesama teman dia bisa leluasa.

Jadi secara psikologis sangat membantu siswa untuk mengekspresikan diri sehingga turut membentuk kepribadiannya. Siswa yang diberi keleluasaan ini sangat berbeda dengan siswa yang dalam belajar mengajar dijaga dengan ketat, belajar juga harus menghadap ke depan. Mungkin penerapan manajemen ini, saya juga belajar dari sekolah-sekolah yang sudah lebih maju seperti SMAK Giovanni yang disiplinnya sangat terkenal, ada hal-hal penting yang juga memberi andil bagi saya bisa kelola sekolah ini dengan lebih baik.

Tentang guru, di sini guru masih muda semua. Apakah Anda sengaja memilih guru yang energik? Kenapa tidak pilih guru yang senior, kan lebih berpengalaman?
Kalau mau pengalaman ya kita cari guru-guru yang sudah tua atau yang senior, tapi saya pikir itu bisa kita tutupi dengan kemampuan atau potensi guru yang kita ambil, guru yang baru walau dia masih muda. Guru yang cukup cerdas sehingga hanya omong sekali, tapi langsung bisa mengerti, bahkan dia bisa kreatif. Orang-orang yang kita cari adalah orang-orang kreatif sehingga sekali baca buku, dia bisa kembangkan sendiri.

Guru senior juga memiliki kelebihan atau tidak kalah, tapi tidak selamanya umur atau masa kerja itu menentukan kualitas kerja. Juga yang senior-senior kita hindari di sini karena ini lima lantai dan standar kita sudah pasang tinggi sehingga mobilitas juga sangat tinggi, kalau kita punya guru yang umur 50 tahun wah bisa kacau.

Misalnya saya instruksikan apa dan ingin cepat lihat hasilnya, kalau senior kita suruh turun dan naik lagi, kalau lima kali ya bisa mati orang itu. Jadi memang disengajakan untuk itu dengan tidak bermaksud untuk tidak menghargai yang senior-senior. Saya malah kasihan yang senior, sudah tua dan harus naik sampai lantai dua dan sudah terengah-engah, nanti bagaimana dia bisa mengajar, bagaimana bisa naik lagi sampai lantai lima, bagaimana dia bisa mengawasi anak-anak.

Bagaimana bentuk pengawasan terhadap guru untuk bekerja seperti yang Anda harapkan?
Itukan ada evaluasi dan supervisi ataupun yang terus menerus, tidak harus masuk di kelas, tapi evaluasi secara terus menerus terhadap kinerja guru. Kebetulan saya tidak menggajar, jadi saya bisa leluasa melakukan begitu banyak hal pada manajemen, sehingga gampang ke sana-kemari untuk melihat pembelajaran di kelas. Manajemen itu yang sangat penting adalah delegation, memberi delegasi atau pembagian tugas kepada bawahan.

Karena itu, semua harus jelas, instruksi harus jelas dan kepala sekolah harus mampu menerjemahkan apa yang kita instruksikan. Dan, dia bisa dipercayakan untuk bisa mengerjakan sampai tuntas semua pekerjaan, antara lain mengawasi guru dan melaksanakan supervisi baik langsung maupun tidak langsung. Evaluasi bulanan itu yang rutin, tapi yang mingguan itu kita selalu lakukan untuk melihat hal-hal yang kurang yang mana sehingga kita bisa putuskan dengan cepat.

Satu kelas berapa wali kelas?
Jadi satu kelas itu antara 15 hingga 20 orang tetap dengan dua guru wali. Karena yang kita kejar adalah meminimalisir masalah yang ada pada siswa. Siswa kalau terlalu banyak, maka banyak pula masalah yang tidak terpecahkan, tidak tersentuh, tidak ada yang memperhatikan permasalahan yang dihadapi, maka sulit untuk pelajaran itu bisa berhasil. KBM sangat ditentukan bagaimana kita mengatasi kendala-kendala yang dihadapi siswa.

Bahkan kalau bisa tiga guru mengajar sekaligus dalam satu kelas. Lebih banyak guru yang memperhatikan, maka lebih ringan. Dan, standar kami dua orang guru untuk 20 orang, artinya satu berbanding 10. Nah, satu orang walaupun tidak ada pembagian secara khusus atau terpisah, tapi dengan ditangani dua orang, maka semua masalah menjadi ringan. Perkembangan siswa itu bisa diawasi, kelemehan bisa terdeksi sehingga lebih cepat diatasi. .

Apakah guru di sini juga memantau siswa belajar di rumah?
Jadi suasana yang kita ciptakan di sekolah ini adalah menganggap anak itu bukan murid atau bukan siswa, tetapi menganggapnya sebagai anak, sebagai adik atau sebagai keluarga.

Ikatan itu yang kita ciptakan, ikatan antara guru dan siswa, komunikasi antara mereka juga tidak terlalu formal apalagi saat istirahat dan memang saya tegaskan bahwa guru harus punya ikatan emosional dengan anak-anak, sehingga masalah apa pun itu anak-anak tidak akan sungkan-sungkan untuk menyampaikannya pada guru.

Guru berkunjung ke siswa bahkan siswa belajar kelompok ke rumah guru, ini karena demikian dekatnya hubungan mereka, sehingga selama tiga tahun siswa berada di sini tidak ada yang tidak pernah dikunjungi oleh guru atau tidak ada siswa yang tidak kenal gurunya di sekolah ini. Semua siswa pasti tahu di mana rumah gurunya terutama wali kelasnya.

Sekolah ini pada awalnya dianggap mahal atau sekolah mewah. Menurut Anda?
Sebenarnya mahal itu relatif sekali. Saya pikir semua orang akhirnya sadar bahwa slogan untuk sekolah murah berkualitas itu sebenarnya sangat tidak masuk akal. Ini sama dengan kebutuhan lain, misalnya kita ingin baju yang bagus tapi uangnya hanya Rp 10 ribu, jadi itu mustahil.

Oleh karena itu pendidikan berkualitas itu butuh biaya. Kita definisikan dulu apa itu pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas itu didukung dengan fasilitas, anak-anak itu tidak buta teknologi dan untuk itu diperlukan komputer di sekolah. Nah kalau tidak ada komputer satu unit pun karena uang sekolah hanya Rp 10 ribu perbulan, bagaimana pendidikan bisa berkualitas.

Apa saja fasilitas di sekolah ini?
Yang terakhir itu untuk bisa akses buku sekolah elektronik (BSE) itukan harus ada akses internet. Nah, anak-anak ini hampir sebagian besar bawa laptop ke sekolah. Itu karena kita pakai Wi-Fi, dengan hot spot dari lantai I sampai lantai V.

Jadi para siswa ini membawa laptop dan bisa akses internet dan mata pelajaran melalui internet. Karena guru memberikan penugasan mandiri dan mencari bahan untuk bikin tulisan atau rangkuman materi dan paling cepat dapat di internet itu. Dan, anak-anak diperkaya dengan teknologi seperti itu.

Kalau soal komputer, multimedia LCD, itu sudah dari dulu. Itu semua butuh biaya dan tidak murah. Gaji guru juga tidak kecil, karena ini terkait dengan motivasi para guru untuk mengajar. Di situlah terletak biaya tinggi, tapi istilah mahal ya tergantunglah, atau mau makan enak ya tidak bisa dengan modal Rp 2 ribu. Sama juga dengan pendidikan, jadi relatiflah.

Jadi IT di sekolah ini sudah hal yang biasa.
Ya..kalau ada sekolah yang belum ada IT, itu ketinggalan sekali. Tergantung kemauan sekolah. Tinggal kemauan kita untuk mengadakannya. Kita ada lab IPA yaitu Fisika, Kimia, Biologi dan Geografi. Kalau lab bahasa itu sebenarnya tidak terlalu efektif juga. Kita pakai cara mendengar melalui speaker saja, sehingga telinga siswa terbiasa mendengar yang demikian, kalau dengan headset kurang baik. Nanti di ujian juga mendengar pakai speaker juga.

Apakah seleksi ketat saat kenaikan kelas ini juga dilakukan sehingga sekolah ini terus meraih kelulusan 100 persen?
Berbicara untuk memastikan mereka lulus itu kita tidak bicara satu bulan atau satu tahun sebelumnya, jadi sistem pendidikan baik adalah keseluruhan sistem untuk menggodok siswa dari masuk hingga tamat.

Sehingga bagi kami untuk mempersiapkan anak hingga lulus harus dipersiapkan sejak dia masuk. Bagaimana anak yang kita didik ini lulus saat UN, setelah tiga tahun, setelah melalui tahapan naik kelas II dan ke kelas III itu benar-benar siswa yang siap untuk ikut UN. Harus serius, harus disiplin. Ini merupakan hal-hal yang menentukan. Ada orang yang pintar, tapi tidak disiplin ya sulit. Dan setiap tahun kenaikan kelas kami saring. Untuk naik kelas II, kami seleksi lagi. Jadi tidak semua naik kelas, demikian juga ke kelas III.

Tapi, dari kelas II ke kelas III ini harus lebih ketat karena ini ke kelas UN. Kita jangan hanya senang dipuji-puji karena bisa menaikkan semua anak. Jadi mau lulus 100 persen, jangan semua naik kelas. Karena di mana-mana ada yang paling pintar tapi ada yang paling kurang juga. Kekurangan ini mungkin karena tidak disiplin dan lain-lain.

Anda begitu memiliki motivasi untuk bekerja keras, mengapa?
Karena sudah diberi tanggung jawab, jadi kerja juga harus maksimal. Sia-sia kita membuang waktu kalau kita kerja hanya asal-asalan. Apalagi kita dipercaya oleh yayasan dan diberi penghargaan yang sesuai, jadi pantas juga buat kita untuk kerja maksimal dan tidak hanya yayasan yang kita puaskan, tetapi juga masyarakat. Sebenarnya saya juga merasa terbeban dengan harapan masyarakat pada sekolah ini.

Tidak gampang masyarakat mempercayakan anaknya selama tiga tahun di sekolah ini. Para orangtua ini sangat menginginkan anak-anak mereka bisa sukses dan ini menjadi motivasi bagi kami untuk maju, jadi dengan biaya tinggi menurut mereka.(alfred dama)
Data diri

Nama : Drs. Soleman Dapa Taka,MA
Tempat Tanggal Lahir : 22 Juli 1965
Jabatan : Kepala SMA Kristen Mercusuar-Kupang
Pendidikan :
SDN Lingu Lango-Kec. Tanah Ringhu, tamat tahun 1976
SMPN I Waikabubak, tamat tahun 1980
SMA Kristen Waikabubak, tamat tahun 1984
S1 Bahasa Inggris-FKIP Undana, tamat tahun 1991
S2 La Trobe University-Australia, tamat tahun 1999.

Istri : Maria Mengga
Anak-anak :Fani Dapa Taka
Fajar Dapa Taka
Farel Dapa Taka



Pos Kupang Minggu 13 Juni 2010, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda