Romanus Woga:"Saya Seorang Agresor"


SEMAKIN tinggi jenjang pendidikan yang dicapai dan semakin banyak gelar akademis yang disandang, isi otak orang semakin padat, wawasan semakin luas, way of thinking berubah dan orang semakin bertalenta.


Betulkah itu? Wallahualam bissawab! Tetapi titian sejarah hidup Romanus Woga membuktikan sebaliknya. Meski cuma tamat SMEA, Romanus menyingkirkan begitu banyak orang bertitel dari perguruan tinggi. Dia sukses meraih posisi puncak sebagai Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) di Indonesia 15 Mei 2010 lalu.

'Kursi panas' ini berhasil diraihnya tidak terutama karena prestasi akademik atau kemampuan inteligensi, tetapi karena kerja keras, kemauan membaja dan semangat pengorbanan.

Di tangan Romanus, nasib kopdit di Indonesia tiga tahun ke depan ditentukan. Bagaimana kisahnya sehingga laki-laki berkulit hitam ini meraih kursi Ketua Inkopdit? Seperti apa pandangannya tentang koperasi? Ikuti pendapatnya menjawab pertanyaan wartawan Pos Kupang, Tony Kleden, yang mewawancarainya di Hotel Marina, Kupang, Kamis (10/6/2010) lalu.


Bagaimana ceritanya sehingga Anda terpilih menjadi Ketua Inkopdit Indonesia?
Waktu pemilihan itu ada 12 orang maju. Masing-masing berbicara sekitar sepuluh menit memaparkan program kerjanya. Ada sekitar 600 orang yang hadir. Saya katakan kepada mereka semua yang hadir, if you can not be a clever person, be a kind one (jika Anda tidak bisa menjadi orang yang pintar, jadilah orang yang baik). Menurut saya, saya orang baik. Pernah menjadi anggota DPRD Sikka, menjadi penasehat Dekopin NTT, sudah keliling dunia kunjungi 20-an negara, tahun lalu dapat penghargaan dari presiden sebagai tokoh koperasi NTT. Kepada mereka saya katakan, pencalonan saya ini dari Maumere. Banyak pengurus kopdit di Indonesia memilih dan mendukung saya.

Anda nekad maju?
Ya, banyak yang tanya, Pak Romanus, mau kok jadi ketua? Kami mau dukung. Saya bilang, saya mau dan berambisi. Harus ada ambisi. The man without ambition, like a bird without wing. Orang yang tidak punya ambisi sama seperti burung yang tidak punya sayap.

Seberapa banyak sih dukungan untuk Anda?
Saya dapat 65 dari 90 suara yang memilih. Kemenangan besar seperti ini baru pertama kali terjadi. Biasanya selisih suara sedikit saja, lima sampai sepuluh suara. Berarti saya menang cukup mutlak.

Bagaimana perasaan Anda waktu terpilih?
Setelah kertas suara masuk ke kotak suara dan siap dihitung, saya pergi tidur di kamar di hotel. Kepada manejer saya, saya minta diberitahu hasil pemilihan melalui sms. Tidak lama, ketua lama dari Lampung, FX Siman, sms saya. Dia bilang, Romy (panggilan untuk Romanus), suara terbanyak. Saya belum percaya. Saya minta kawan satu kamar dengan saya coba sms tanya ke manejer saya. Manejer saya bilang, Mo'at dapat suara terbanyak. Saya langsung berlutut dan membuat tanda salib. Saya turun ke ruangan rapat. Semua yang hadir langsung serbu memberi ucapan selamat. Saya lihat sambutan luar biasa. Itu suatu kebanggaan. Padahal waktu itu saya hanya bilang dalam hati, untuk periode ini biar saya jadi pengurus saja, tidak berpikir untuk jadi ketua. Tetapi karena suara begitu mayoritas dan menang mutlak, saya tidak bisa tolak lagi.

Sebagai orang NTT, apa yang Anda rasakan waktu itu?
Itu suatu kebanggaan luar biasa, karena sama sekali di luar dugaan. Prof. Thoby Mutis, Rektor Trisakti bilang, Pak Romanus, Anda terpilih karena campur tangan dari Atas. Tetapi saya merasa punya beban berat, punya tanggung jawab besar. Pengurus di daerah-daerah meminta kunjungan kalau saya terpilih.

Saya terpilih tanggal 22 Mei 2010, dan tanggal 28 Mei saya jalankan tugas pertama meresmikan salah satu kantor kopdit di Jakarta Pusat. Saat membawakan sambutan, Prof. Thoby Mutis bilang, Pak Romanus, Anda punya sambutan ini luar biasa, sampai bulu badan saya berdiri..

Apa isinya?
He, he, he... Saya bilang, kemarin saya tiba di Jakarta. Malamnya saya ke Golden Truly beli buku tulis dan tadi pagi setengah enam saya tulis (sambutan). Saya tulis, vox audita perit, littera scripta manet. Apa yang didengar akan hilang, apa yang tertulis akan tetap tinggal. Saya bilang, peresmian kantor ini adalah langkah awal tugas saya.

Kiprah Anda terlibat di koperasi seperti apa, dan dari mana mulainya?
Saya ini cuma tamatan SMEA. SMEA Syuradikara, Ende. Saya dengan Prof Thoby Mutis itu teman sekolah, dia di SMA Syuradikara, saya di SMEA. Kami satu asrama. Ketika dia beri ceramah, saya bilang, Pak Thoby ini kami kawan sekolah, tetapi sekarang dia seorang profesor saya agresor. He.. he.. he... Tahun 1969 saya tamat SMEA. Setelah tamat, saya kerja dan bergabung dengan Pater Heinrich Bollen, SVD. Tetapi saya juga ingin kuliah pajak di Denpasar.

Pater Bollen bilang, banyak sarjana di Jakarta nganggur. Ada satu perspektus yang beredar, namanya Kuperda (Kursus Perkembangan Desa) di Bogor, cuma satu tahun. Itu terjadi tahun 1972. Setelah kuliah pajak itu juga tidak jadi, saya mau ke Malang, mau masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial di Malang. Saya sudah tanya kapal ke Malang. Pater Bollen tanya, di Malang berapa lama?

Saya jawab tiga tahun. Wah, lama juga, kata Pater Boleng. Dia tanya lagi, ke Malang dengan apa, saya bilang naik Kapal Ratu Rosari. Pater Boleng tidak putus asa. Dia bilang, kalau ke Kuperda Bogor, kau naik pesawat. Besok juga bisa pergi.

Wah, naik pesawat? Baik juga nih. Akhirnya saya katakan, baik pater, saya ke Bogor. Besoknya kami dua ke Kapolres urus tiket pesawat. Lalu saya dengan pesawat ke Surabaya, kemudian naik kereta api ke Bandung. Dari Bandung baru saya Bogor. Tahun 1973 waktu kembali ke Maumere, dia bilang kamu urus credit union (CU). Mulai tahun itu, selain tugas juga di Yaspem, saya mulai kembangkan CU dari desa ke desa beri motivasi.

Berijazah SMEA tapi fasih bahasa Inggris?
Ceritanya, tahun 1976 Pater Bollen ke Jerman. Banyak tamu dari luar negeri ke Maumere. Saya tidak tahu bahasa Inggris. Hanya yes no, yes no saja. Saya tulis surat ke Jerman, ke Pater Bollen, minta ikut kursus bahasa Inggris di Jakarta. Pater balas, kalau di Jakarta kamu hanya omong bahasa Inggris di dalam kelas, di luar kelas kamu omong bahasa Indonesia.

Lebih baik kamu ke Philipina. Makanya tahun 1977 saya ke Philipina ikut kursus South East Asia Rural Soscial Leadership Development di Xavier University Ataneo de Cagayan. Tahun 1979 saya kembali. Jadi bahasa Inggris saya bisa jadi baik.

Anda tetap kembali ke Maumere?
Ya, pulang dari sana saya kembali ke Maumere. Tahun 1982 ada program P3D (Program Pemugaran Perumahan Desa) dari Menteri Perumahan Rakyat. Karena Maumere jadi pilot project program itu, maka saya diminta beri ceramah di Yogya, di Malang tentang bagaimana melalui koperasi kredit orang bisa bangun rumah bertahap.

Tidak tertarik jadi PNS?
Oh, saya ditawari jadi PNS di Maumere. Suatu hari di rumah jabatan bupati (Dan Palle), kami bertemu dengan asisten menteri. Pak Dan Palle bilang, kalau besok masukkan lamaran, lusa diangkat. Waktu itu Pak Lorens Say juga ada. Dia bilang, sebaiknya kita tanya dulu Pater Bollen. Romanus ini dia punya orang. Malam-malam kami naik ke Watublapi tanya Pater Bollen.

Apa jawaban Pater Bollen?
Dia bilang, ya, Romanus sudah dewasa. Dia bisa tentukan sendiri bagaimana maksud saya membiayai dia. Wah, saya tidak bisa dengar jawaban seperti itu. Lemah memang. Malam itu juga kami kembali lagi ke rumah jabatan bupati.

Berat juga ya..?
Ya, Pak Dan tanya bagaimana? Saya bilang, saya pikir-pikir dulu malam ini. Pak Dan minta lagi, besok masukkan lamaran. Besoknya saya tidak masukkan lamaran. Waktu itu saya dijanjikan di Bagian Ekonomi.

Merasa rugi tidak jadi PNS?
Saya kemudian berpikir, kalau jadi PNS tidak mungkin saya keliling dunia seperti sekarang ini karena serba dibatasi.

Terus, kapan mulai gencarkan koperasi kredit?
Dari saat itulah kami mulai gencarkan koperasi kredit. Pater Bollen perintis, saya penggerak dari desa ke desa. Dalam perkembangan harus ada badan koordinasi untuk tingkat Flores. Dalam pertemuan kita di Ende dibentuk badan koordinasi CU seluruh Flores dengan kantor koordinatornya di Ende dan sub koordinatornya di Maumere.

Saya jadi Ketua Sub Koordinator Maumere. Karena semakin berkembang, maka wilayah kerja Sub Koordinator Maumere yang sudah mencakup Sikka, Flotim dan Lembata ditambah dengan daratan Timor. Karena itu saya mesti bolak-balik Kupang-Maumere.

Ada pengalaman istimewa waktu itu?
Ya, saya membuat kursus dasar tentang koperasi kredit pertama di Kupang. Saya lihat daftar peserta, wah, semua bergelar Drs, SH, Drs, SH. Saya gugup juga. Tetapi Pak Sumantri (pembantu di daratan Timor) bilang tidak apa-apa. Kami ini sarjana, tetapi tidak tahu credit union. Akhirnya saya berani juga.

Apa beda Kopdit dengan BK3D?
Ya, karena kita semakin berkembang dan maju, badan koordinasi tadi kita lepas dan membentuk BK3D (Badan Koordinasi Koperasi Kredit). Dan sejak zaman reformasi kita dapat badan hukumnya. Pada zaman orba sulit dapat badan hukum untuk koperasi kredit.

Kok susah dapat badan hukum?
(Angkat bahu) saya tidak tahu kenapa. Masuk zaman reformasi, Menteri Koperasinya, Pak Adi Sasono, dia kenal baik sama orang LSM. Dia minta agar masukkan berkas. Akhirnya Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) terbentuk dan berbadan hukum.

Berapa banyak anggota kopdit di wilayah Sikka, Flotim dan Lembata saat ini?
Sekarang anggota kita sekitar 80 ribu. Tetapi kalau dilihat dari penetrasi jumlah penduduk, itu belum apa-apa. Idealnya 30 persen dari jumlah penduduk.

Bagaimana Anda melihat penting dan bermanfaatnya koperasi kredit bagi masyarakat banyak?
Oh, masyarakat sendiri yang sekarang secara spontan katakan dengan adanya koperasi kredit saya bisa bangun rumah. Dengan koperasi kredit anak saya sudah sarjana. Dengan koperasi kredit saya bisa tebus gadai tanah. Itu kesan mereka. Ada pengalaman unik.

Waktu saya naik perahu motor dari Lembata ke Larantuka ada seorang haji datang ke saya. Dia bilang, Bapak Romanus, terima kasih. Tahun 1980-an bapak datang, kami bangun koperasi. Motor ini sebagian modalnya saya pinjam dari koperasi. Saya bangga, koperasi kredit betul-betul bermanfaat bagi masyarakat. Hal lain, kopdit juga membantu siapkan lapangan kerja. Sekarang ini kopdit itu butuh banyak sarjana untuk kerja. Kami juga umumkan kalau butuh tenaga. Dulu mana orang mau kerja di koperasi? Hanya orang-orang tua saja. Sekarang, ramai sekali.

Jalan Anda diwarnai banyak sukses. Apa sih rahasianya?
He... he... Tadi pagi sebelum ke sini, saya beri ceramah di Wisma Nazaret Nele, Maumere. Saya katakan, kenapa sekarang pengurus kopdit itu tingkat pendidikannya minim seperti yang saya alami? Tetapi saya mau katakan bahwa yang penting adalah niat, tekad dan mau mengabdi untuk masyarakat. Kalau mau mengabdi, maka Yang di Atas akan perhatikan. Kalau kita kerja hanya pikir uang, itu tidak bisa.

Semua staf saya waktu mereka lamar saya bilang, kalau mau uang cari kerja di tempat lain, tetapi kalau mau mengabdi untuk masyarakat boleh kerja dengan saya. Itu tertulis, sehingga kalau besok lusa tidak ada kenaikan gaji saya bilang, Anda kan mau mengabdi, bukan uang.

Gubernur gencar dengan Propinsi Koperasi. Apa komentar Anda?
Saya dukung langkah itu. Gubernur bertekad jadikan semua kabupaten di NTT kabupaten koperasi pada tahun 2013. Sekarang baru empat kabupaten. Kita ini sudah berjuang sejak dulu untuk majukan koperasi. Tetapi waktu Romanus Woga jadi Ketua Inkopdit, iklan ucapan selamat hanya dari kopdit-kopdit saja. Kenapa pemerintah tidak beri ucapan selamat? Kalau pemerintah juga beri ucapan selamat, maka masyarakat akan baca dan tahu bahwa ternyata benar pemerintah juga beri perhatian dan mendukung koperasi.

Apa langkah yang harus dilakukan pemerintah?
Tahun lalu saya berceramah di Larantuka tentang koperasi. Waktu itu ada orang pemerintah bilang akan hidupkan lagi KUD, hidupkan lagi koperasi-koperasi yang sudah mati. Saya bilang, omong gampang sekali. Menurut saya, KUD tidak mungkin hidup lagi.

KUD di mata masyarakat sekarang itu sama halnya dengan koperasi kopra dulu. Citranya sudah jelek, tidak mungkin hidup lagi. Menurut saya, jika kita ingin kembangkan koperasi maka yang harus dilakukan adalah memasyaratkan koperasi melalui jati diri koperasi.

Di KUD, orang masuk KUD hanya untuk jual komodoti, tetapi dia tidak tahu apa itu KUD. Tetapi di kopdit tidak. Jadi anggota harus pendidikan dulu, harus tahu tiga elemen penting koperasi, yaitu definisi koperasi, nilai-nilai koperasi dan prinsip-prinsip koperasi.

Penting sekali berarti pemahaman tentang koperasi, sehingga tidak macet....
Betul. Banyak koperasi macet justru karena orang tidak dibekali pengetahuan yang memadai tentang koperasi. Koperasi itu adalah sekumpulan orang yang bersepakat untuk sama-sama membentuk modal dengan menabung. Modal itu dipinjamkan lagi dan harus diangsur dengan membayar juga bunganya.

Pinjaman itu untuk usaha produktif demi kesejahteraan anggota. Sederhana sebenarnya koperasi itu. Pemahaman kepada masyarakat tentang koperasi itu harus diberikan secara baik dan benar sehingga masyarakat menjadi anggota yang berkualitas.

Sekarang banyak bantuan dari pemerintah untuk koperasi. Apa itu sudah benar?
Saya tidak setuju dengan program bantuan-bantuan melalui koperasi. Karena itu hanya memanjakan dan mematikan koperasi. Terbukti koperasi kredit yang mendapat bantuan itu mati. Tidak tahan bantingan. Karena kalau koperasi terima dana itu, berarti koperasi telah hilang daya swadaya dari para anggotanya. Anggota akan berpikir, tidak menabung juga dapat bantuan.

Di koperasi tidak bisa seperti itu. Tetapi kalau aset koperasi sudah besar dan bantuan dari pemerintah kecil, itu tidak apa-apa. Seperti Obor Mas, modalnya sudah Rp 150 miliar. Kalau ada bantuan Rp 5 miliar dari pemerintah, itu tidak apa-apa. Kalau aset masih kecil, dapat bantuan lebih besar, maka koperasi akan mati karena aset sendiri ditindis oleh bantuan. Ada tiga pilar koperasi yang harus dipahami jika ingin koperasi maju.

Yaitu pendidikan, swadaya dan sosial ekonomi. Jika masyarakat NTT mau koperasinya maju tiga pilar itu harus dipegang betul. Harus paham betul apa artinya koperasi. Koperasi bisa hidup dari swadaya anggota sendiri. Kemudian saling tolong menolong di antara anggota. Kalau tidak pinjam, harus kembalikan pinjaman sehingga menolong anggota lain yang mau pinjam.

Anda PD (percaya diri) kalau tampil di forum-forum resmi dan dihadiri orang-orang yang bertitel akademis?
Oh, PD saya. Saya pernah beri ceramah di India tentang kredit mikro. Sebelum saya ke sana, saya diwawancarai oleh seorang profesor yang datang ke Solo. Dari wawancara itu saya akhirnya disetujui untuk beri ceramah. Yang dengar itu sekitar 600 orang dari 20-an negara. Saya berani tampil. Waktu itu ada Profesor Mubyarto. Dia juga dorong dan katakan Indonesia harus tampil. *

Data Diri
-----------------

Nama : Romanus Woga
Istri : Matilde Klementina
Menikah : 27 Mei 1979
Anak-anak : * Emanuel Woda
* Robertus Woga
* Maria Matildis Woga





Pos Kupang Minggu 20 Juni 2010, halaman 03

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda