POS KUPANG/ROSA WOSO
Adrianus Lusi Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang


SAAT dilantik menjadi Kadis Kebersihan Kota Kupang, 22 Mei 2008, Drs. Adrianus Lusi, MM, meyakinkan Walikota Kupang, Drs. Danie Adoe, untuk menangani sampah di Kota Kupang selama enam bulan. Bila sampah masih 'bermasalah' ia siap diturunkan dari jabatannya.

Seperti apa realisasi dari tekadnya menangani sampah di kota ini, apalagi harus mempertaruhkan jabatannya? Menurut Drs. Adrianus Lusi, MM, sampah bisa ditangani secara baik bila dipercayakan ke pihak swasta dan ada budaya malu dari masyarakat untuk tidak membuang sampah serampangan.

Kepada Rosalina Langa Woso dan Alfred Dama dari Pos Kupang di kediamannya di Oebobo, Jumat (2/7/2010) lalu, Drs. Adrianus Lusi, MM mengemukakan pandangannya dan suka dukanya menangani sampah. Berikut petikan wawancaranya.

Penerimaan trofi Adipura memang target atau kesadaran menjalan tugas dalam menangani sampah?
Trofi Adipura yang diterima Pemkot Kupang sejak tahun 2008- 2010 bukan target. Kita hanya memiliki semangat agar Kota Kupang menjadi kota yang bersih, indah, asri, teduh dan nyaman untuk dihuni semua orang. Setelah bekerja maksimal, mungkin pemerintah pusat merasa pantas untuk memberikan penghargaan. Tetapi Adipura bukan target.

Nanti kalau tidak dapat bisa loyo dan tidak bersemangat. Apalah artinya untuk pemerintah dan masyarakat? Yang penting adalah menciptakan lingkungan yang asri dan nyaman saja sudah cukup. Kita bersyukur sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Alak, sudah ramah lingkungan. Tidak ada lagi kebakaran, asap tidak seperti dulu. Ada perubahan yang cukup signifikan.

Siapa yang paling berjasa?
Masyarakat yang paling berjasa. Pemerintah hanya sekadar mengimbau saja. Kalau masyarakat cuek jadi percuma juga. Masyarakat memiliki peranan penting, peranan ini bila ditingkatkan menjadi kesadaran seluruh warga akan memiliki kekuatan yang luar biasa. Masyarakat sendiri harus sadar bahwa untuk menciptakan kota yang bersih harus mulai dari rumah. Dinas sebagai pelaksana teknis juga berbangga akan penerimaan trofi Adipura ini.

Seperti apakah tanggung jawab teknis itu?
Dinas Kebersihan mengemban tugas perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kami senantiasa bersama dengan teman lainnya baik staf sopir, awak, penyapu, pengawas dan pejabat struktural lainnya bekerja keras di lapangan. Paling tidak, tempat-tempat yang rawan sampah menjadi titik pantau.

Tujuan hanya satu, menciptakan kota bersih, rapih dan indah. Memang kita tahu bahwa wilayah Kota Kupang cukup luas, dengan daya dukung yang serba terbatas, baik tenaga, armada, dana maupun sarana prasarana lainnya. Keterbatasan yang ada tetap dijadikan motivasi untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan visi menjadikan Kota Kupang sebagai kota yang bersih, indah dan asri. Memang membutuhkan kerja sama semua pihak karena volume sampah setiap hari besar.

Di Kota Kupang, berapa produk sampah setiap hari?
Produksi sampah mencapai 926 meter kubik/hari. Sampah organik mencapai 700 meter kubik lebih dan sampah anorganik sekitar 200 meter kubik lebih. Dari jumlah 926 meter kubik sampah itu, sekitar 408 meter kubik yang diangkut ke TPA Alak. Sisanya, dibuang oleh masyarakat ke kali mati, pinggir pantai, tanah kosong, halaman rumah dan dibakar. Sisanya sekitar 38 meter kubik lebih/hari didaur ulang jadi kompos dan barang- barang berharga.

Jadi, banyak sampah yang belum didaur ulang. Ke depan, tidak hanya memindahkan masalah sampah dari kota ke TPA. Luas TPA sebesar 5,7 hektar tidak mampu menampung volume sampah setiap hari.

Guna mengurangi masalah sampah, ada keterlibatan pihak lain. Apa saja yang dikerjakan?
Kerja sama dengan Dinas PU NTT, selesai membangun blok satu tanggul sampah. Dulunya open damping (dibuang dan dibiarkan). Sekarang ditimbun, ratakan, ditutup dengan tanah dan dipadatkan. Tidak ada kebakaran dan bau busuk lagi. Semuanya ini atas bantuan PU NTT. Dan sudah berjalan baik. Ada juga Unicef, Dekranasda Kota Kupang. Semua pihak ini sangat membantu menangani masalah sampah.

Mal dan toko-toko diminta untuk menyiapkan kantong belanja yang bisa digunakan kembali. Tidak menggunakan kantong plastik yang tidak ramah lingkungan.

Selain itu?
Pengolahan dengan mengurangi, menggunakan dan mendaur ulang sampah. Saat ini sudah ada pengolahan sampah yang berskala lingkungan di Batuplat dan Namosain. Kerja sama dengan Unicef yang melatih 35 warga untuk mendaur ulang sampah (kompos) dengan metode takakula (keranjang sampah). Rumah tangga menjadi penghasil sampah terbesar, sampah dapur seperti nasi sisa, tulang ikan, kulit telur dan sayuran.

Semua ditampung, untuk dijadikan pupuk dengan nutrisi tinggi. Ada yang usahanya berkembang baik dari skala rumah tangga ke skala lingkungan.

Apakah ada kebun contoh untuk pemanfaatan pupuk nutrisi tinggi itu?
Hasilnya ada kebun contoh di Kelurahan Oepura, ada bedeng- bedeng yang ditanami sayur bayam dan sayur putih. Sayur yang organik, tidak pakai urea. Rasanya lebih enak dan nyaman dikomsumsi. Ke depan akan mengarah ke sana. Kerja sama dengan mal untuk menampung sayur organik. Tentu berlabel. Mahal, namun lebih sehat. Orang tidak ragu makan sayur karena tidak ada zat kimiawi.

Sebelum masyarakat disadarkan, dinas secara teknis sebagai pengendali. Bisa dijelaskan teknis pelaksanaannya?
Pertama, efektifkan petugas dan armada yang ada. Kedua, bersama pengawas bentuk tim siaga, keliling kota untuk melihat titik-titik yang lemah penanganannya. Ada sampah yang terlambat dan tidak diangkut. Tim siaga turun tangan. Kendaraan yang masuk lebih awal digerakkan untuk mengangkut sampah di titik-titik yang lemah. Ketiga, melakukan calling untuk mengingatkan warga membuang sampah pada tempatnya dan tepat waktu.

Ada begitu banyak sampah yang terlambat dibuang, sudah selesai angkut baru warga buang. Seperti di Jalan Tompello, Lalamentik ada sampah di siang hari karena tidak disiplin membuang sampah. Banyak yang belum disiplin membuang sampah sesuai jadwal, yakni pukul 18.00 Wita sampai 05.00 Wita.

Jadi, belum efektif ?
Semuanya belum efektif. Kami berusaha untuk tidak diangkut satu kali saja oleh tim siaga. Diharapkan agar warga lebih sadar menunggu saat yang tepat membuang sampah. Ada yang buang tepat waktu, ada juga membuang sampah di malam hari asal- asalan saja. Lewat dengan mobil, lempar begitu saja sampah ke TPS.

Tidak peduli, apakah sampah yang dibuang itu masuk ke dalam bak atau tidak. Itu dianggap sudah menjadi pekerjaan petugas kebersihan. Bukan urusan dia. Mindset masyarakat harus drubah untuk masa datang. Paling tidak kota ini dari waktu ke waktu berubah.

Pelayanan kebersihan sampah masih berpusat di pertokoan dan protokol. Mengapa tuh?
Kita berusaha untuk semua kelurahan terlayani. Wilayah pinggiran belum semuanya terjangkau, seperti Kelurahan Naioni, Maulafa, Naimata, Alak, Fatukoa. Ini sebenarnya sangat tergantung dari daya dukung dana dan sarana.

Dinas memiliki 23 unit kendaraan, hanya lima unit yang dioperasikan dalam kota. Sedangkan lainnya, usia kendaraan di atas sepuluh tahun. Kendaraan ini yang harus segera diganti. Melalui lembaga Indonesia Infrastruktur Inisiatif (Indi) akan dibantu penambahan kendaraan.

Tahun 2011 bukan hanya target penambahan armada, tetapi juga merealisasikan amanat UU Nomor 18 Tahun 2008. Bisa dijelaskan amanat itu?
Sesuai UU itu ada dua fungsi, yakni regulasi dan operator. Dua fungsi ini harus dipisahkan. Dinas hanya menangani fungsi regulator, sedangkan operator diserahkan kepada pihak ketiga, yakni swasta. Bila perda ini sudah ada, saya akan jalin kerja sama dengan swasta. Pemerintah siapkan regulasi dan swasta sebagai operator. Bila rangkap dengan operator, bisa menimbulkan asumsi bisa diangkat menjadi PNS. Jadi, ada orang mau kerja di dinas hanya dengan target suatu saat akan menjadi PNS. Setelah menjadi PNS, mindset-nya berubah. Kalau itu sudah jalan, kami hanya sebagai pengawas saja. Saat ini ada 200 pasukan kuning, sebagian besar sudah PNS.

Penanganan sampah oleh swasta, apakah untuk menghilangkan kesan cuci tangan agar aksi protes tidak lagi dialamatkan kepada pemerintah?
Oh tidak. Tidak ada kesan untuk cuci tangan dari pemerintah. Ini sebenarnya untuk efektivitas penanganan sampah di Kota Kupang. Kami ingin meniru penanganan sampah yang dilakukan daerah lain. Di tempat lain, pemerintah memberikan kesempatan kepada swasta untuk menangani sampah. Ya, kita harus mengakui bahwa pemerintah telah bekerja dengan maksimal.

Ada klaim ini dan itu belum beres. Kita cari cara lain untuk mengatasi masalah sampah dengan bekerja sama dengan pihak ketiga. Jadi bukan cuci tangan tangan.
Setiap hari media selalu mengangkat persoalan sampah yang menumpuk. Bagaimana Anda menyikapinya?
Kita harus bersyukur bahwa ada kritik dari masyarakat. Itu artinya ada perhatian dari masyarakat terhadap pemerintah. Saya selalu mengajak teman-teman untuk memahami agar jangan alergi terhadap kritik. Setiap hari wajib baca koran tentang pelayanan sampah. Kalau saya liat ada yang tulis tentang sampah, langsung saya kerahkan petugas untuk mengangkut sampah.

Jadi kami tidak alergi terhadap kritik, justru kehadiran teman- teman media sangat membantu penanganan sampah di kota ini. Jadi, saya lebih senang kalau ada fotonya. Itu artinya fakta yang bicara. Pemerintah punya program yang baik, tetapi kalau masyarakat tidak mendukung, tidak bisa. Masyarakat dan pemerintah adalah mitra yang harus saling mendukung.
Kritik yang disampaikan karena ketidakpuasan dari warga tentang pelayanan sampah, termasuk lokasi tertentu seperti pasar. Bisa dijelaskan?
Daerah pinggiran belum tersentuh. Ada kecenderungan penumpukan sampah di bantaran kali, khususnya dari Pasar Inpres dan Fontein dekat kali. Masih banyak orang yang hobinya buang sampah di kali. Kami berupaya agar setiap bulan ada kegiatan untuk telusuri bantaran kali. Tujuan untuk imbau masyarakat agar jangan buang sampah di kali. Akibat buang sampah di kali, pada musim hujan Gua Lourdes dan Kampus Unika dipenuhi sampah.

Masyarakat belum sadar buang sampah pada tempatnya. Mengapa?
Ada sebagian kecil masyarakat yang belum sadar membuang sampah. Masih ada kelalaian. Harus ada sosialisasi. Saat ini ada kerja sama dengan PU Propinsi NTT. Ada kegiatan pengolahan sampah di enam sekolah dasar bagaimana membuang sampah yang benar dan mencuci tangan sebelum makan. Contohnya, ada yang buang sampah dari atas bemo, tetapi yang pilih sampah itu adalah anak SD St.Yosep Naikoten. Memang mindset orangtua akan sulit diubah, tetapi anak-anak akan lebih mudah untuk diajar membuang sampah pada tempatnya.

Jadi, perlu ada budaya malu dari orang dewasa?
Ya. Benar itu. Perlu ada budaya malu dari orang dewasa dalam perilaku membuang sampah. Sampah berawal dari hulu, rumah tangga-rumah tangga, kantor, dinas, toko. Dari hulu sampai ke pantai. Tidak heran, kalau media selalu menyoroti tentang sampah.

Apakah butuh produk hukum yang menjerat pelaku yang membuang sampah sembarangan?
Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 memang sudah ada. Prosesnya, dua tahun setelah PP harus dikeluarkan Peraturan Daerah (Perda). Langkah awal, yakni menyiapkan regulasinya yakni ranperda pengurangan sampah dan ranperda penanganan sampah. Perda sifatnya umum, namun ada sanksi pidananya. Perda akan didukung dengan peraturan walikota dan instruksi walikota. Bila dua regulasi ini sudah jadi, mudah-mudahan bisa direaslisaikan dengan baik. *


Jangan Terlena Laporan ABS

MENANGANI masalah sampah di Kota Kupang bukan semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran dan kerelaan untuk melakukan kontrol di lapangan. Tidak heran, selama menjabat sebagai Kadis Kebersihan, Drs. Adrianus Lusi, MM sering bangun pagi melakukan kontrol terhadap pasukan kuning.

Baginya, komunikasi yang intens menjadi kunci pelaksanaan tugas setiap hari. Sesekali ia rela bersama awak kendaraan menelusuri jalan dan gang melakukan kontrol terhadap titik-titik rawan. Semua itu hanya untuk satu tujuan, menjadikan Kota Kupang kota yang bersih, indah dan nyaman untuk dihuni.

Baginya, perilaku membuang sampah harus berawal dari rumah. Kediamannya di Oebobo bersisian dengan bantaran kali yang sangat mudah dijadikan tempat sampah. Suami dari Dra. Selfina S. Dethan ini bertekad memberi contoh dari rumah. Buang sampah pada tempat dan waktu yang tepat.

Keteladanannya untuk mendukung trofi Adipura dilakukan dengan hal-hal kecil di kediamannya. Ayah tiga anak ini memiliki hobi menanam bunga. Hasilnya, setiap pojokan rumah tertata apik dengan aneka jenis bunga. Ada kesan sejuk, hijau dan asri. Padahal, lahan yang digarap hanya bententuk persegi tiga. Kebersihan kota bukan hanya dinilai dari sampah tetapi juga kesejukan. Bila setiap rumah tangga memiliki sudut rumah yang asri, niscaya kota ini tidak akan gersang dan panas.

"Saya tidak punya materi untuk diberikan kepada para pasukan kuning. Bagi saya komunikasi yang intens merupakan pendekatan yang manusiawi. Kalau ada kelalaian yang dilakukan petugas harus dicari penyebabnya. Ada pendekatan dari hati ke hati untuk memberikan suport. Jangan terlena dengan laporan Asal Bapak Senang (ABS)," ujar Adrianus, yang ditemui pekan lalu. (osa/alf)

Data Diri Nama : Drs. Adrianus Lusi, MM Istri : Dra.Selfina S Dethan Anak : * Astrid Bonik Lusi * Wosli Adiputra Lusi * Albert Lusi Pendidikan : SD Tahun 1973 ST Tahun 1976 SPG Tahun 1980 FKIP Undana Tahun 1985 Pasca Sarjana Unwira Kupang Tahun 2007 Jabatan Struktural : 1. Kasubag Rumah Tangga Kabu Ainaro Timor-Timor Tahun 1989 2. Kabag Umum dan Humas Kabupaten Ainaro Tim-Tim Tahun 1991 3. Asisten Administrasi Ainaro Tahun 1994 4. Staf Ahli Gubernur NTT Tahun 2000 5. Asisten Adminitrasi Sekda Kota Kupang Tahun 2005 6. Kepala Banwasda Kota Kupang Tahun 2005 7. Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota Kupang Tahun 2008.


Pos Kupang, 18 Juli 2010, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda