Tambang Telur

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


SEMUA telur ayam dibeli. Bahkan ada satu keranjang telur khusus dipilih untuk Bapak Bupati, agar bupati menjadi contoh konsumsi telur dan selanjutnya pengembangan peternakan, pertanian, kelautan, koperasi, dan kebijakan lainnya yang berpijak pada kearifan lokal.
"Untuk siapa telur-telur ini?"
"Untuk Bupati!"

***
Memangnya kamu kenal Pak Bupati? Ketemu kapan, di mana, untuk apa, dan bagaimana bisa kamu kenal beliau? Kalau bertemu saja tidak pernah, bagaimana bisa kenal? Kalau tak kenal, maka tak sayang, bukan? Oh oh rupaya dia memang kenal bukan karena pernah bertemu, tetapi karena ketegasannya menolak tambang.

"Itu! Baru bupati yang kucintai!" Demikian kata Nona Mia sambil tertawa bangga. "Kukenal, makanya kusayang." Maklumlah, jarang menemukan bupati yang memiliki ketegasan seperti Bupati Benza.

Yang selama ini dikenalnya hanya Bupati Rara sahabat karibnya pada zaman susah. Sahabat masa kecil di kampung halaman. Keduanya tidak bersahabat lagi sejak Rara jadi bupati, atau tepatnya sejak Rara setuju tambang, mengeluarkan izin tambang dan membiarkan operasi tambang yang tidak jelas eksplorasi model apa yang dipakai antara penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan. Sebab yang terjadi adalah langsung gali, bongkar, cabut, rusak, dan lingkungan hancur berantakan.
***
"Terserah Rara!" Jaki membela.
"Terserah?" Nona Mia tertegun. "Memang demikianlah gaya bupati model Rara. Terserah! Enak saja. Mentang-mentang baru jadi raja kecil, sok kuasa, tetapi remeh sekali dan mudah ditekuk tambang!"

"Bukankah yang dia lakukan demi kesejahteraan rakyat?" Jaki membela Bupati Rara.

"Kesejahteraan rakyat atau kesejahteraanmu?" Nona Mia balik bertanya. "Apakah tidak ada ide lain yang selaras lingkungan dan budaya kita yang lahir dan ditumbuhkan oleh tradisi agraris sebagai sumber kearifan lokal kita??"

"He he itu dulu. Kearifan lokal zaman purba. Sekarang sih tidak perlu kearifan lokal. Yang penting sekarang kearifan kekuasaan. Jadi ya terserah Rara, bukan? Jelas aku harus mendukung sebab aku ini kepala pertambangan!"

"Ooooooh pantas! Kamu harus dukung Rara. Nyambung benar ya sarjana bahasa Jepang yang hari-harinya mengajar bahasa Jepang jadi kepala pertambangan. Kamu sama pintar dengan Rara, terserah Rara, terserah kamu. Silakan saja!"

"Meskipun aku tidak mengerti seluk-beluk tambang, aku jadi kepala supaya bisa nego dengan pengusaha Jepang...untuk bongkar pulau kita dan gali segenap isinya, bukan?" Jaki yakin seyakin-yakinnya. "Mudah-mudahan Benzamu cepat ditangkap, diproses hukum, karena menghambat tambang! Lihat saja!

***
"Syukurlah! Bupati Benza berani mengeluarkan surat peringatan kepada sepuluh pemegang kuasa pertambangan untuk perlahan-lahan menghentikan aktivitasnya dengan pertimbangan keselamatan lingkungan," kata Nona Mia dalam hati.

"Meskipun mungkin dengan demikian akan berhadapan dengan gugatan hukum! Aku yakin Benza dapat menghadapinya," kata Nona Mia sambil mengirim sms buat Benza.

"Bupati Benza yang tercinta... semoga tolak tambang tidak hanya kamuflase. Semoga ini benar-benar kenyataan, bukan penipuan berwajah kebijakan. Aku percaya padamu. Aku tahu engkau tidak mencari keuntungan material apapun dari peranmu sekarang. Sebab tanpa mencari pun engkau sendiri sesungguhnya beruntung karena rahmat Tuhan besertamu.

Engkau tidak mengenal siapa aku. Tetapi aku mencintaimu karena kebijakanmu yang meyakinkan dan berwajah masa depan tanah leluhur yang masih jauh dan masih sangat panjang bagi anak cucu kita..."

Sms sudah terkirim dan Benza membalas. "Terima kasih, Tuhan melindungimu." Meskipun singkat saja, sms dari Benza membuat hati Nona Mia berbunga-bunga.
***
Nona Mia bertekad memberi kejutan buat Bupati Benza. Dia datangkan dua belas ribu butir telur untuk Benza merayakan hari telur sedunia.

"Kamu jadi datangkan telur sebanyak ini untuk Benza?" Jaki kaget setengah mati.

"Ya kenapa?" Nona Mia balik bertanya. "Bukankah tanggal 08 Oktober 2010 dirayakan hari telur sedunia di Bundaran Hotel Indonesia yang diadakan oleh Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional disingkat PIPUN. PIPUN membagikan 12.000 butir telur sebagai bentuk kampanye makan telur satu butir sehari.

Bukankah tepat kalau saya pun menyumbang dua belas ribu butir telur buat Bupati Benza merayakan hari telur sedunia? Sebagai inspirasi untuk pertahankan budaya agraris dan hidupkan peternakan di tanah leluhur kita ini?"

"Kamu yakin Benza terima?" Jaki setengah mengejek.
***
"Halo Nona Mia," Bupati Benza benar-benar datang. Nona Mia senang setengah mati. Karena Bupati Benza datang bersama Bupati Rara dan Bupati Manggarai Barat untuk merayakan Hari Telur sedunia.

Mudah-mudahan di tanah leluhur benar-benar ada tambang telur, tambang ikan, tambang daging...dan semoga tanah leluhur berpijak pada kearifan agraris...
"Permisi," Rara langsung pamit sebelum acara dimulai. Jaki mengekor di belakangnya...


Pos Kupang Minggu 10 Oktober 2010, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda