Thobias Selan, Laut pun Bisa Menjadi Hijau


Ist
Thobias Selan


DITEMUI di kediamannya Desa Pusu, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), awal Juli 2010. Di rembang petang itu, suara kokok ayam hutan terdengar dari balik rimbunan pepohonan tak jauh dari pekarangan rumah Thobis Selan.

Di tengah "hutan" itu Thobias Selan dan keluarganya menjalani hidup dengan tenang. Jauh dari kebisingan kota.

Ia merenda hidupnya dengan menanam berbagai jenis tanaman, baik komoditi pertanian maupun menanam apa saja untuk menghijaukan lahan itu. Alhasil, sejak puluhan tahun lalu Thobias punya sumber mata air sendiri dan lingkungan menjadi hijau.


Pada pertemuan sekitar dua jam ini ia berbicara banyak hal. Tentang lingkungan yang asri, tentang pertanian, peternakan dan tentang politik yang sudah mengantarnya menjadi ketua partai dan wakil ketua DPRD TTS pada dua periode yang lalu.

Di masanya bahkan hingga kini nama Thobias sangat diperhitungkan dalam kancah perpolitikan di bumi TTS. Meski demikian "asal-usulnya" sebagai anak petani tetap dijalani. Petani yang tak memelas. Petani yang mandiri dan boleh dibilang patut menjadi contoh.

Berikut petikan wawancara Pos Kupang dengan tokoh yang selalu bicara blak-blakan ini.

Apa yang menjadi alasan Anda memelihara hutan di sekitar rumah ini?
Kalau tidak ada hutan mana mungkin ada air. Mana mungkin ada hujan. Hutan memberi kita kehidupan. Dengan menjaga dan melestarikan hutan, tanah menjadi subur. Hutan juga menjaga agar tanah tetap kuat, tak mudah longsor.

Apakah dengan contoh ini masyarakat di sekitar sudah meniru?
Sudah ada yang memulainya. Namun, tak membawa hasil yang maksimal. Masalahnya mereka menanam tapi tak menjaganya sehingga tanaman itu mati, dimakan ternak atau terbakar. Lalu kita juga jangan persetankan alam. Ketika menanam kita harus "permisi" alias meminta restu agar alam juga ikut merawat dan menjaga tanaman kita.

Sejak kapan Anda tinggal di Pusu dan mulai merawat hutan ini?
Sejak saya masih muda. Saya jaga lingkungan ini. Saya minta supaya masyarakat jangan menebangnya. Kalau ada yang melakukan saya marah. Saya berpikir bahwa tanah ini labil. Supaya tanah menjadi kuat maka pohon jangan ditebang. Pertama, dapat menahan arosi, kedua, memupuk tanah agar subur, udara menjadi sejuk dan banyak manfaat lainnya.

Anda punya mata air sendiri?
Benar. Air ini muncul karena ada tanaman. Ada pohon- pohon yang saya jaga. Siapa yang berani menebang atau memotong, terus terang saya berkelahi. Kami sekeluarga memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari- hari. Ketika semua orang berteriak kurang air, kami malah berlebihan karena air tak pernah kering.

Kabarnya, hasil pertanian Anda jadi karena menggunakan humus tanah dari lahan ini. Bisa Anda ceritakan?
Tanah saya sekitar tujuh hektar ini berada pada kemiringan. Hutan ini saya hijaukan di bagian atas. Kalau musim hujan, humusnya akan terbawa banjir ke bawah. Atau bisa saya ambil humusnya untuk menjadi pupuk di lahan pertanian. Itu artinya, kebun saya itu tetap.

Selama kita memiliki kebun tetap, tak akan ada yang namanya tebas bakar. Jika kita sudah mulai berpindah lahan, itu artinya hutan mulai rusak. Lalu, pemerintah dengan proyeknya melakukan reboisasi tak banyak membantu. Itu hanya menghambur-hamburkan uang. Sebab, proyek penghijauan ini selesai, dibakar kemudian tahun depan mulai lagi dengan proyek penghijauan yang sama.

Hasilnya tak ada. Uang sudah bermiliaran rupiah. Waktu menjadi anggota dewan saya bilang, kalau sejak zaman dulu hutan ini dijaga dan dilestarikan, maka jangankan daratan menjadi hijau, laut pun akan menjadi hijau. Laut bisa ditanami berbagai pepohonan. Itu artinya, di daratan sudah tak ada lagi tempat untuk menanam. Justru yang ada, hutan dirusak.

Proyek itu positif, yakni membantu masyarakat. Tanggapan Anda?
Tidak. Proyek tidak membangkitkan daya juang masyarakat. Masyarakat hanya menadah tangan dari pemerintah. Kita lihat saja. Saban tahun itu ada proyek untuk tanam kemiri, tanam jeruk. Tapi, pemerintah drop ke petani sudah pada bulan Maret atau April. Saat itu hujan mulai kurang. Proyek itu milik pejabat-pejabat untuk cari duit. Dan, karena itu saya katakan pada sidang dewan waktu lalu bahwa yang berhasil menghijaukan lahan adalah saya, meskipun hanya secuil.

Di lahan ini Anda menanam apa saja?
Banyak. Saya tanam apa saja. Saya tanam kelapa, pisang, jeruk, nangka, mangga, ubi, kemiri dan tanaman pangan lainnya. Ada juga hutan aslinya. Tanaman ini menjadi sumber uang, dapat menghidupkan keluarga dan membantu sesama. Siapa yang butuhkan saya suruh ambil. Yang penting saya tahu. Jangan mencuri karena saya bisa marah. Datang dengan santun, akan saya beri dengan iklhas karena saya tahu masyarakat membutuhkan. Saya menyadari bahwa dengan kebun ini saya bisa memberi kepada mereka yang butuhkan. Ada nilai sosialnya.

Apakah setiap tahun Anda menanam?
Setiap hari saya menanam. Pertimbangannya ada tanaman yang sudah tua. Perlu kita ganti. Di lahan saya ini, menanam apa saja pasti jadi. Mata air ada. Kalau hujan kurang, saya ambil air yang muncul dari balik akar pohon ini untuk menyiramnya. Semua tanaman tumbuh dengan subur.

Setelah "pensiun" sebagai wakil rakyat dan Ketua DPC PDIP TTS Anda sukses jadi petani. Hasil gabah berlimpah. Apa resepnya?
Saya sudah katakan tadi. Kita harus bersahabat dengan alam. Setiap kali saya menanam padi atau jagung pasti jadi. Tidak mungkin tidak. Karena itu hasil pertanian saya berlimpah setiap musim petik. Saya tak harapkan PPL yang selama ini hanya tinggal di kota. Saya belajar tentang cara bertanam yang baik. Cara bercocok tanam yang baik agar hasilnya baik. Seringkali orang merasa heran mengapa hasil pertanian saya selalu berhasil. Kita kerja juga pakai otak dan harus belajar sana sini.

Anda tersinggung disebut miskin?
Kalau saya dengar siaran televisi dan radio atau membaca koran yang menyebut daerah NTT, khususnya TTS miskin, saya sedih. Kesedihan saya itu beralasan. Benar bahwa daerah ini gersang. Tapi, kita yang hidup di sini harus bisa menyiasatinya. Kondisi yang kering ini harus kita hijaukan sebagaimana yang saya lakukan.
Bisakah Anda jelaskan makna lain dari bersahabat dengan alam?
Saya hanya bisa memberi contoh. Hujan memberi kita berkah. Tetapi ketika saya mengatakan bahwa hujan jangan menghalangi kegiatan saya, seperti saat kampanye pemilu dulu atau ketika ada orang yang bekerja di lahan saya dan meminta jangan ada hujan, pasti terkabuli. Hujan hanya "mengepung" kami atau hanya berada di luar area kebun atau area di mana saya berada.

Anda politisi kawakan. Pernah menjadi ketua partai dan menjadi Wakil Ketua DPRD TTS. Putra Anda, Ampera Selan kini menjadi Ketua Partai Demokrat dan Wakil Ketua DPRD TTS. Apakah itu bentuk campur tangan Anda dalam menyiapkan kader?
Sadar atau tidak, itu sudah menjadi jalan keluarga kami. Dulu, saya sekolahkan Ampera di Fakultas Hukum Unwira, Kupang. Tujuannya setelah dia tamat menjadi pengacara. Dan, benar. Setelah itu ia beracara karena memang dulu juga saya menjadi pengacara di TTS. Mengapa saya sekolahkan dia di hukum karena pengalaman saya, banyak orang kita, orang-orang kecil di TTS yang diperdaya penguasa. Karena mereka tak mengerti hukum, ya ikut saja.
Anda memaknai politik seperti apa?
Politik itu alat perjuangan. Politik itu cita-cita. Politik itu menyangkut sikap dan jati diri. Sekali kita masuk harus eksis, berjuang sampai titik darah penghabisan. Politik itu butuh keberanian. Mental baja melawan kelaliman. (paul burin)

Merantau sampai Kuliah di Jakarta

NADA suara lelaki ini selalu tinggi. Ketika berbicara kadang tangannya diangkat. Hal-hal tertentu ia memberinya aksentuasi. Sebagai penegasan. Ia menggarisbawahi pikirannya dengan mimik wajah dan gerak tubuh. Sambil berbicara ia menguyah sirih dan pinang.

Masa-masa pahit ia lalui ketika masih di kampungnya itu. Di masa yang masihh menganut sistim feodal ia sungguh merasakan betapa "kekuasaan" raja mengungkung kebebasan masyarakat. Raja menjadi segala-galanya. Ada banyak ketimpangan yang dilakukan.

Raja tak pernah kerja tapi setiap musim panen ia mendapat upeti bahan makanan. Masyarakat ramai- ramai mengantar bagian raja ke sonaf (istana raja). Tetapi, akhirnya ia mengatakan karena tangan raja sangat bersih, akhirnya mereka tak memiliki tanah. Kemudian Thobias kecil memilih untuk melanjutkan pendidikan di Kupang. Di Kupang ia tinggal di Airnona dan masuk pada SMP Frater angkatan pertama.

Di sekolah itu Thobias bercerita mendapat banyak "nilai" dari pastor-parto orang barat yang mengajar di sekolah itu. Tentang nilai kedisiplinan. Dan disiplin itulah yang membuatnya bisa mengikuti gaya sang pastor itu. Belajar sampai kelas tiga bahkan karena dinilai cakap, Thobias mengajar di sekolah ini.
Yang membuatnya merasa aneh dan tak mengerti adalah hasil ujian akhir ia dinyatakan tidak lulus. "Saya paling pintar, mengajar lagi, tapi dinyatakan tak lulus," katanya.

Thobias menilai ada permainan terutama raja-raja yang merasa tak puas atas protesnya itu. Sebab, persoalan di kampung halamannya itu sampai membawa dia berdemo di Kupang. Naik truk dan akhirnya demo itu berlangsung.

Thobias yang sudah putus asa akhirnya memilih hijrah ke Jakarta. Dalam usia yang masih belia ia merantau ke Jakarta. Setelah tiga minggu berlayar, Thobias tiba di Pelabuhan Tanjung Periok, Jakarta. Sambil menjinjing tikar dan bantal serta tas, Thobias menelusuri jalan-jalan di ibukota. Ketika itu tahun 50-an. Singgah di beberapa rumah warga Kota Jakarta sekadar menumpang, dia ditolak. Bahkan meminta segelas air putih saja tak diberikan. Pada rumah yang kesekian, Thobias sudah pasrah. Tapi, di sinilah ia justru diterima. Seorang ibu menanyakan dari mana asalnya? Thobias menjawab dari Kupang.

Sang ibu mengatakan Kupang itu di mana? Tak lama berselang ibu itu mengatakan, apakah Kupang sama dengan Oepura? Ternyata ibu ini lebih menghafal asal suaminya dari Oepura, Kupang. Ia kemudian memanggil sang suami dan memberi tumpangan sekitar enam bulan.

Di rumah ini Thobias belajar banyak hal. Penyesuaian di sana sini. Ia kemudian masuk SMP dan melanjutkan ke SMA. Singkat cerita setelah tamat Thobias melanjutkan kuliah pada Universitas 17 Agustus (Untag) Jakarta namun tak selesai. Sampai saat ini kartu mahasiswanya masih dia simpan. "Sekadar mengenang Jakarta," katanya.

Alasan mengapa ia ke Jakarta dalam usia yang masih belia karena ingin mengubah nasib. Dengan berpendidikan ia ingin melawan berbagai bentuk ketimpangan di kampung halamannya. Thobis mengatakan ada banyak pengalaman yang ia petik.

Ia menjadi orang yang sangat berprinsip dalam hidup. Yang sungguh membuatnya berkesan adalah keluarga asal Oepura ini karena telah memberinya tumpangan. Selama di tanah Jawa, Thobias memprakarsai pendirian Persatuan Timor Asli.

Dialah yang mengetuainya kemudian membentuk beberapa cabang di Jawa. Ketika mendirikan cabang di Solo, Thobias jumpa dengan Ibu Marselina Nitbani yang kini menjadi istrinya. (pol)

Curiculum Vitae Nama : Thobias Selan Lahir : Kiubania, Desa Pusu, Kecamatan Amanuban Barat, TTS, 17 April 1935 Istri : Ny. Marselina Nitbani Pendidikan : Universitas 17 Agustus Jakarta (tak selesai) Anak-anak : Ampera Seke Selan, S.H, Sertu (TNI) Edi Kolo Dikson Selan, Orante Sola Selan, Meo Selan, S.T, Boy Selan, Sofia Selan, A.Md dan Keke Selan, S.Pd Karier Politik : Wakil Ketua DPC PNI TTS (1971-1978), Wakil Ketua DPC PDI TTS (1980-1995), Ketua DPC PDIP TTS (1996-2000), Wakil Ketua DPRD TTS (1999-2004), Ketua Badan Pemenang Pemilu (Bapilu) Partai Demokrat TTS (2006-sekarang), pengacara praktik 1978-1999).

Pos Kupang Minggu 8 Agustus 2010, halaman 03

1 komentar:

maaf, saya membutuhkan informasi mengenai proses perceraian berdasarkan adat kupang. mohon bantuannya. Tolong hubungi saya di nietz87@yahoo.com

26 September 2014 00.31  

Posting Lama Beranda