FOTO ANTARA/LORENS MOLAN
HUTAN MUTIS--Kawasan hutan Mutis di lereng Gunung Mutis pun terancam rusak bila tidak dijaga dengan baik sejak sekarang



ANCAMAN wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi gurun di masa mendatang akibat terus menurunnya luas tutupan hutan di wilayah ini ternyata bukan menjadi satu-satunya masalah kehutanan. Dalam 20 tahun terakhir ini kerusakan hutan mencapai 15.163,65 hektar.

Kenyataan ini mengancam kelestarian hutan dan lahan di masa mendatang.

Potensi hutan dan lahan di NTT seluas 2.109.496,76 hektar atau 44,55 persen dari luas wilayah daratan NTT yang mencapai 47.349,9 kilometer persegi. Hutan dalam kawasan hutan mencapai 661.680,74 hektar dan di luar kawasan hutan seluas 1.447.816,02 hektar.

Dari total potensi hutan itu, hanya 14 persen atau 295.329,44 hektar di antaranya yang dikategorikan sebagai hutan lebat penghasil kayu. Selebihnya 1.814.617,3 hektar merupakan kawasan kritis sehingga produksi kayu lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat NTT.

Luas hutan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan (SK Menhut) No 423 Tahun 1999 1.808.990 hektar. Kawasan hutan ini terbagi dalam tiga fungsi, yakni hutan lindung seluas 41 persen, hutan produksi seluas 40 persen dan hutan 19 persen hutan konservasi.

Namun kondisi hutan tersebut terus mengalami kerusakan. Terus menurunnya luas tutupan hutan di NTT merupakan masalah umum. Komisi Ombusman Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu menggelar diskusi yang mengangkat permasalahan kehutanan di NTT.

Dalam disikusi ini terkuak berbagai masalah kehutanan, di mana masih banyak masalah sengketa kehutanan baik antarsesama masyarakat, masyarakat dengan aparat kehutanan maupun masyarakat dengan aparat hukum.

Ketua Ombusman RI Perwakilan NTT dan NTB, Dr. Yohanes Tubahelan, S.H, MH yang dihubungi belum lama ini menjelaskan, dari pengaduan dan keluhan masyarakat yang diterima Ombusman terungkap bahwa selama kurun waktu tiga tahun (2008-2009) telah ada 10 laporan dari masyarakat berkaitan dengan masalah kehutanan.

Ke-10 laporan tersebut mulai dari kasus hukum hingga pemanfaatan kawasan hutan. Lima di antaranya merupakan kasus penyitaan kayu yang dilakukan aparat kepolisian dengan keluhan proses hukum yang tak kunjung tuntas.

Sementara lima kasus lainnya antara lain pengaduan masyarakat Pubabu Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), 5 Maret 2009 yang mengeluhkan penebangan hutan di kawasan hutan masyarakat adat oleh empat kelompok penebang yang dibentuk oleh Dinas Kehutanan TTS guna kepentingan proyek Gerhan.

Masalah lainnya adalah pungutan liar oleh oknum di instansi pemerintah hanya untuk izin penebangan hutan, penyerobotan batas wilayah hutan, masalah batas hutan yang tidak jelas seperti yang dialami kelompok masyarakat Desa Silu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang.

Kelompok masyarakat ini mengeluhkan tidak adanya batas yang jelas mengenai kawasan hutan sehingga imbasnya masyarakat dianggap bersalah bisa menebang hutan di sekitar kawasan hutan dan selanjutnya berurusan dengan aparat kepolisian. Masyarakat mengklaim pohon yang ditebang adalah milik mereka sendiri berdasarkan batas pagar batu.

Tubahelan menjelaskan, persoalan kehutanan di NTT dikarenakan, pertama, lemahnya koordinasi antarinstansi terkait dalam rangka penegakan hukum di bidang kehutanan sehingga terkadang tindakan aparat penegak hukum menyalahi aturan.

Kedua, kurangnya sosialisasi dengan baik regulasi atau peraturan teknis di bidang kehutanan kepada masyarakat, stakeholder maupun pemerintah, termasuk penegak hukum dan penetapan kawasan hutan yang memasuki perkampungan penduduk.

Masalah yang paling menonjol adalah penahanan kayu oleh aparat kepolisian. Timpang tindih kewenangan dan aturan yang kurang dipahami kemungkinan menjadi salah satu penyebab aparat penegak hukum bertindak pada pengangkutan kayu. Kondisi ini harusnya tidak terjadi bila masing-masing instansi benar-benar memahami tugas dan fungsinya.

Tumpang tindih kewenangan ini berdampak pada pemilik kayu yang sebenarnya sudah mengantongi perizinan yang sah. (alf)


Selamat Hari Bumi!

SELAMAT Hari Bumi 2010! Jangan lupa matikan lampu selama sejam, jam 20.30 - 21.30 waktu setempat.

Berbagai kota dari 92 negara hari ini bersiap-siap untuk mematikan lampu selama sejam saja untuk memperingati Hari Bumi dan mendukung gerakan penyelamatan lingkungan terhadap perubahan iklim.

Tahun lalu, acara ini diikuti oleh 88 negara. Daerah-daerah baru yang turut serta di tahun 2010 termasuk Kosovo, Madagaskar, Nepal, Arab Saudi, Mongolia, Kamboja, Ceko, Paraguay, Ekuador, dan Kepulauan Marina Utara di Samudera Pasifik.
Panitia pengurus Jam Bumi, yakni kesepakatan mematikan lampu selama sejam tersebut, mengkonfirmasi bahwa di tahun ini 1.100 kota sudah sepakat untuk turut serta.

"Jam Bumi mencerminkan tekad penduduk bumi untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih sehat," tutur Direktur Eksekutif Jam Bumi, Andy Ridley. "Acara ini menyatukan berbagai kota, komunitas, bisnis, dan perorangan dalam usaha penanggulangan perubahan iklim," katanya.

Awalnya Jam Bumi adalah inisiatif dari WWF, dimulai pada tahun 2007 di Sydney, Australia, dimana dua juta warga mematikan lampu mereka selama sejam. Di tahun 2008 jumlah peserta yang terlibat sudah melompat jadi 50 juta orang di seluruh dunia. Di 2009, ratusan juta orang berpartisipasi, dimana lebih dari empat ribu kota mematikan lampu.
Ayo ikut rayakan Hari Bumi, dan jangan lupa Jam Bumi malam ini juga! (kompas.com)


Pos Kupang Minggu 28 Maret 2010, halaman 14 Lanjut...

Ibarat Genangan Air

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa


HARI Minggu pagi itu ayah tampak gagah dengan pakaian olahraga yang dikenakannya. Kaus polo putih dipadu celana pendek hitam dan sepatu olahraga putih. Di lehernya tergantung sebuah handuk kecil. Ayah yang sebelumnya bergegas hendak keluar, sempat menghentikan langkahnya ketika melihat Andre berbaring malas di ruang tengah sambil menonton film kartun di televisi.

"Dre, lebih baik kamu ikut ayah berolahraga. Kita jalan-jalan santai mengitari komplek perumahan ini. Selain mencari keringat, kita juga dapat menghirup udara pagi yang masih segar. Di samping itu kita juga dapat bertegur sapa dan berkenalan dengan tetangga-tetangga jauh kita," ajak ayah.

"Ah, malas, Yah. Lebih baik Andre nonton film kartun saja. Andre tidak suka berolahraga. Hanya membuat nafas Andre tersengal-sengal dan tubuh berkeringat saja. Biar ayah berolahraga sendiri saja," jawab Andre. Matanya tidak lepas dari televisi di depannya.

"Ya sudah kalau begitu, biar ayah berolahraga sendiri saja. Ayah pergi dulu, ya," pamit Ayah sambil melangkah keluar. Andre tetap pada tempatnya. Dengan badannya yang tambun itu Andre jadi malas bergerak. Karena untuk bergerak, dibutuhkan tenaga ekstra. Karena terus makan dan tidak bergerak, maka dari hari ke hari tubuh Andre yang sudah tambun itu kian bertambah tambun.

***

Akhir-akhir ini Andre jadi lebih sering sakit. Hari ini pilek, besok demam, minggu depan sakit kepala, tidak lama berselang pilek lagi. Hal tersebut membuat sekolah Andre jadi terganggu. Andre sendiri pun menjadi tidak betah dengan sakit yang terus-terusan dideritanya. Dengan diantar Ibu Andre memeriksakan diri ke dokter.
"Kamu kurang berolahraga, ya, Dre. Hal itulah yang membuat kamu sering menderita berbagai gangguan penyakit. Keadaanmu saat ini ibarat sebuah saluran dengan genangan air. Seperti yang biasa kita saksikan di mana terdapat genangan air di situ terdapat lumut, juga jentik nyamuk dan tempat hidup berbagai jenis bakteri lainnya," jelas dokter.

"Kok bisa begitu, dok," sela Andre tak percaya.

"Jika kamu berolahraga, maka metabolisme tubuhmu akan meningkat," kata dokter.

"Metabolime itu apa, dok?" tanya Andre tidak mengerti.

"Tubuh kita terdiri dari ribuan pembulu darah. Dengan bergerak atau berolahraga, maka darahmu akan mengalir lancar melalui pembuluh itu mengantarkan makanan dan oksigen ke segenap penjuru tubuh. Dengan mendapat suplai makanan dan oksigen yang cukup, maka sel-sel darah yang ada dapat bertahan melawan berbagai jenis bakteri penyebab penyakit yang terdapat di dalam tubuh," jawab dokter.

"Kalau malas berolahraga, dok?" Andre ingin tahu lebih lanjut.

"Jika kamu malas berolahraga, maka aliran darah di dalam pembuluh itu akan terhambat oleh lemak yang berlebihan di dalam tubuhmu. Akibatnya tidak semua sel darah di dalam tubuhmu mendapatkan makanan dan oksigen sebagaimana mestinya. Tidak mengherankan kalau sel darah itu dapat dengan mudah dikalahkan oleh bakteri penyebab penyakit. Sehingga tidak berlebihan kalau dalam sepekan kamu bisa mengalami sakit dua sampai tiga kali," urai dokter.

"Kan sudah ada obat dari dokter?" sela Andre.
Obat yang saya berikan ini hanya berfungsi untuk menyembuhkan penyakitmu sesaat. Tetapi bukan untuk menjaga kesehatanmu selamanya. Kamulah yang seharusnya menjaganya. Caranya gampang, ya dengan berolahraga itu," pesan dokter.

***

"Ayah, ayah, aku ikut," seru Andre ketika dilihatnya Ayah sudah gagah dengan pakaian olahraganya. Ayah heran dengan perubahan sikap putera semata wayangnya itu. Namun dia berusaha menyembunyikan keheranannya itu agar Andre tidak merasa malu karenanya.

"Tumben, mau ikut ayah berolahraga. Apa kamu tidak takut nanti nafasnya tersengal-sengal dan tubuhnya berkeringat?" tanya Ayah.

"Ayah kan bisa berjalan perlahan-lahan bersama saya. Sehingga nafasnya tidak sampai tersengal-sengal dan keringatnya pun tidak sampai membanjir. Namanya juga jalan santai," mohon Andre. Ayahnya mengangguk setuju. Andre bergegas berganti pakaian dan berjalan bersama Ayah.

Tanpa disadarinya Andre telah berhasil mengelilingi komplek perumahan itu dalam waktu satu jam. Meski nafasnya tidak tersengal-sengal, namun keringat mengucur deras dari tubuhnya. Ayah menyodorkan handuk kecil untuk menglap keringat Andre.

Biarkan saja, Yah. Sekarang Andre tidak takut lagi untuk berkeringat. Lebih baik Andre berkeringat dan sehat. Daripada tidak berkeringat tetapi menjadi sumber penyakit seperti genangan air, tegas Andre.

Ayah hanya tersenyum mendengarnya. Dia senang karena Andre telah memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatannya sendiri. (*)


Pos Kupang Minggu, 28 Maret 2010, halaman 12 Lanjut...

Dokter Valens Yth,
Salam bahagia untuk semua yang di Pos Kupang. Saya menulis surat ini dengan maksud bisa memperoleh satu jawaban yang baik dan bisa saya jadikan pegangan untuk mengambil satu keputusan penting.

Nama saya Nuhan, umur 26 tahun , sudah tamat sekolah dan sudah bekerja di suatu instansi pemerintah. Ketika saya mengenal Nelly kurang lebih 3 tahun lalu, saya langsung jatuh cinta.

Gadis ini menurut saya cantik sekali. Dia anak dari satu keluarga wiraswastawan. Ketika saya mengenalnya dia mengaku belum punya pacar tetap. Ketika awal pacaran saya sudah begitu yakin ini dia rusuk dari rusukku, tulang dari tulangku”.

Dan saya tidak peduli dia pernah punya pacaran atau tidak. Saya juga tidak ingin tanya siapa saja pacar- pacarnya. Saya hanya berpikir bahwa saya akan gunakan segala cara untuk dapatkan Nelly.

Dan..... saya benar benar merasa sangat bangga karena sudah masuk dua tahun ini Nelly akhirnya bisa berada dalam dekapan kasih sayangku.

Nelly sangat mengerti kalau saya sangat menyayanginya. Tapi dia masih sering pergi dengan laki-laki lain. Ketika dia pergi dengan Tanto, dia katakan itu teman lamanya yang baru kebetulan ketemu. Setelah saya cari tahu via teman saya yang lain, mereka bilang dia memang pacaran dengan Tanto. Bahkan dia pernah pergi dan nginap” di rumah Tanto.

Kehadiran saya di rumah orangtuanya diterima baik. Tampak orangtuanya juga tidak tahu hubungan Nelly dengan Tanto. Dulu, saya berpikir lebih baik saya cepat- cepat lamar Nelly agar dia tidak digaet orang lain.

Ketika saya sampaikan maksud saya ini, reaksi Nelly biasa-biasa saja, tetapi reaksi orangtuanya justeru sangat mendukung. Dan saat ini kami memang sudah tunangan. Dokter, tapi ternyata dia masih berhubungan dengan Tanto. Pernah ada teman yang anjurkan saya lepas saja Nelly.

Tapi mana bisa, saya sangat mencintainya. Saya sudah berjuang untuk mendapatkannya, masa saya mau lepas. Biar saya sakit hati sedikit saya akan berusaha terus agar Nelly bisa lepas dari Tanto. Dokter, pada kesempatan ini saya mau tanya

1) Apakah cinta saya kepada Nelly ini baik dan pantas masuk ke dalam jenjang pernikahan?

2) Bagaimana menghentikan perbuatan Nelly yang ternyata masih sering berhubungan dengan Tanto.


3) Saya kadang mau marah, tapi ketika sudah di dekat Nelly saya tidak jadi marah lagi, saya terlalu mencintainya. Mengapa bisa begitu? Mohon dokter jawab surat saya ini agar saya bisa mengambil keputusan. Terima kasih dokter.
Salam Nuhan-Kupang


Saudara Nuhan yang Baik
SALAM bahagia juga untuk Anda. Suasana hati dan situasi yang sedang Anda hadapi saat ini, dapat dijadikan moment yang baik untuk mengevaluasi dan me-review perjalanan hidup yang selama ini dilalui bersama Nelly .

Apakah hubungan cinta kalian ini punya prospek yang baik atau justru sebaliknya. Untuk itu saya menyodorkan dua model cinta yang bisa Anda jadikan sebagai bahan review cinta Anda dengan Nelly. Pertama. Cinta Tak Terbalas.

Ungkapan yang sering didapat dalam model cinta seperti ini adalah "Jika saya tidak mencintainya begitu dalam, saya tidak dapat mentolerir cara-caranya memperlakukan saya.” Seolah-olah ini cukup untuk membenarkan kasih sayang Anda. Anda seperti merasa benar dengan alasan seperti itu.

Dalam buku After the Affair (1996), Janis Abrahms Spring menulis bahwa model cinta tak terbalas dinilai sangat menyedihkan.

Dan tampaknya Anda saat ini berpegang pada model cinta seperti itu. Walaupun bagi pengamat luar jelas bahwa hubungan itu menyedihkan dan kasar.

Dengan keras kepala, kadang-kadang nekat, Anda mencoba membuat pasangan Anda tetap tinggal atau kembali bersama Anda tanpa melihat apakah dia baik bagi Anda atau tidak.

Spring bahkan menilai dalam cinta model ini harga diri Anda menjadi begitu rendah, rasa keberhakan Anda tidak berkembang, bahkan konsep Anda tentang cinta begitu terbatas.

Dalam ilmu psikiatri (ilmu tentang kelainan kejiwaan), ada diagnosa tentang orang yang memiliki kekacauan kepribadian yang membuat mereka tidak dapat dan tidak mau berubah, baik secara emosional maupun secara psikologis.

Individu-ndividu semacam ini menganggap bahwa mereka berhak mencintai dan sesungguhnya tidak mampu untuk membentuk ikatan yang otentik. Mereka gagal menggapai konsep timbal-balik dalam cinta. Mereka disebut sebagai orang-orang Narsistik (mencintai hanya demi memuaskan kepentingan diri sendiri).

Orang seperti ini bahkan disebut juga sebagai seorang sosiopath, antisosial, yang terus terdorong untuk berbohong (realita dan ungkapan berbeda).

Tidak mempunyai rasa tanggung jawab dalam pekerjaan atau kewajiban keluarga. Orang ini biasanya tidak dapat mempertahankan hubungan monogami selama lebih dari setahun.

Ada juga gangguan/kekacauan kepribadian yang lain yang disebut kepribadian histrionik. Orang ini bertingkah laku seperti layaknya pemain teater, dramatis dan provokatif. Mereka bisa bercumbuan di hadapan pacar atau pasangan mereka.

Anda perlu berpikir, bila terus berhubungan dengan Nelly, maka Anda bakal membayar banyak untuk hati Anda yang mungkin bisa hancur secara permanen.

Kedua, Cinta Romantis. "Cinta romantis itu penuh dengan kegairahan, kegembiraan, transendensi dan kebahagiaan," tulis Ethel Spector Person dalam Dream of Love and Fateful Encounters: The Power of Romantic Passion (1988).
Hubungan yang indah ini, seringkali disebut sebagai high chemistry, tidak mempunyai kesulitan dan memenuhi Anda dengan perasaan bahwa Anda telah menemukan pasangan yang amat cocok.

"Barangkali semua romantika seperti itu, tulis Jeanette Winterson dalam The Passion, bukan sebuah kontrak di antara dua pihak yang sejajar. Tetapi sebagai ledakan impian dan keinginan yang membara. Kehidupan terasa begitu dramatis dan berpandar warna-warni bagai percikan kembang api sedang menghiasi langit. Cinta yang dirasakan berwarna indah lain dari biasanya".

Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan Anda yang pertama, saya ingin katakan bahwa ada ungkapan lama yang mengatakan: "dalam hal cinta, lebih baik dicintai dari pada mencintai." Untuk pertanyaan Anda kedua, dapat dikatakan bahwa bila Nelly mencintai Anda, dia tak akan mencari orang lain seperti Tanto, kecuali dia memang berkepribadian narsisistik.

Untuk pertanyaan ketiga, saya ingin ingatkan bahwa jangan sampai Anda akhirnya menggapai cinta model pertama, yakni model cinta tak terbalas. Anda tidak ingin sengsara di ujung cinta, bukan? Selamat mengambil keputusan walau pilihan itu tidak mudah.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 28 Maret 2010, halaman 13 Lanjut...

Suatu Senja di Dome of Cologne


foto wikipedia.org
TERBESAR -- Katedral Koln pernah tercatat sebagai gereja terbesar di dunia dalam kurun waktu 1880-1884.




Oleh Dion DB Putra

KALAU tidak bertemu Jonatan Lassa dalam sisa waktu yang sangat terbatas, mungkin saya melewatkan kesempatan melihat salah satu situs warisan dunia di Jerman. "Om masih punya waktu 45 menit menunggu jadwal kereta berangkat ke Frankfurt. Sebaiknya lihat Dome dulu," kata Jonatan, moderator Forum Academia NTT (FAN) yang datang menemuiku bersama anaknya di Stasiun Kereta Api Koln, Jumat 19 Maret 2010 petang.


Sontak teringat Gereja Katedral Koln (The Dome of Cologne) yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Kami pun bergegas keluar dari stasiun menuju pelataran gereja yang letaknya persis di pinggir Sungai Rhine atau Rhein yang terkenal itu. Panoramanya sungguh indah.

Waktu hampir pukul 18.00 namun pengunjung masih menyemut di sana. Mereka umumnya menenteng kamera foto maupun video, mengabadikan diri dengan latar belakang berbagai sisi gereja yang dibangun sejak abad ke-12 serta didedikasikan khusus untuk St. Petrus dan Bunda Maria tersebut. UNESCO melukiskan gereja ini sebagai karya manusia yang luar biasa. Setiap hari rata-rata dikunjungi 20 ribu orang. Mereka adalah para turis serta peziarah yang datang dari berbagai belahan dunia (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Cologne_Cathedral).

Menyimak data dari situs resmi gereja ini, Katedral Koln sungguh membuat kagum. Pembangunan gedungnya berlangsung selama 632 tahun, mulai tahun 1248 dan baru rampung tahun 1880. Peletakan batu pertama gereja dilakukan Uskup Agung Konrad von Hochstaden 15 Agustus 1248. Setelah mengalami pasang surut pembangunan, gereja ini rampung tahun 1880. Selesainya katedral terbesar di Jerman itu dirayakan sebagai peristiwa nasional yang dihadiri Kaisar Wilhelm I.

Panjang keseluruhan gereja 144,5 meter, lebar 86,5 meter dan tinggi menara kembar 157,4 meter atau 516 kaki. Inilah bangunan indah bergaya gothic dari Abad Pertengahan yang keaslian arsitekturnya masih bertahan. Selama empat tahun, antara tahun 1880-1884 Katedral Koln sempat memegang rekor sebagai gereja dan bangunan terbesar di dunia. Rekornya baru berakhir saat Monumen Washington tegak berdiri di jantung ibukota negara Amerika Serikat.

Salah satu sisi menarik di dalam katedral adalah altar. Altar dari marmer hitam dengan sisi depan dilapisi marmer putih tersebut dibangun tahun 1322. Karya seni lainnya adalah Kuil Tiga Raja, sarkofagus berlapis emas dari abad ke-13 dan tempat pusaka yang secara tradisional dipercaya sebagai kenangan akan Tiga Orang Majus dari Timur. Dekat sakristi ada ukiran salib besar. Patung kayu Santa Perawan Maria dan Bayi Yesus yang dibuat tahun 1290 tampak anggun di sana.

Lolos dari Bom
Kisah-kisah mengagumkan tentang kreativitas manusia serta keajaiban mewarnai keberadaan Katedral Koln. Tanggal 1 September 1939, Jerman menyerang Polandia dan meletuslah Perang Dunia II. Tanggal 3 September 1939 Inggris dan Perancis mengumumkan perang kepada Jerman. Tanggal 8 Desember 1941, Jepang hancurleburkan Pearl Habour dan sehari kemudian Amerika Serikat (AS) nyatakan perang pada Jepang. Tanggal 11 Desember 1941 Jerman dan Italia umumkan perang kepada AS sehingga perang meliputi seluruh dunia.

Perang baru berakhir setelah Sekutu mendaratkan pasukan di Pantai Normandia, 6 Juni 1944, Jerman menyerah pada Sekutu Mei 1945 setelah kematian Hitler, tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom oleh AS dan Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945.

Selama Perang Dunia II (1939-1945), the Dome of Cologne pasukan Sekutu menjatuhkan tujuh puluh kali bom udara di Koln. Kota itu rata tanah, namun gereja dengan menara kembarnya itu tetap tegak berdiri. Luar biasa! Ada pendapat bahwa pasukan Sekutu menjadikan menara kembar gereja sebagai navigasi yang mudah dikenali untuk menyerbu lebih jauh ke wilayah Jerman.

Mungkin inilah alasan mengapa Katedral Koln tidak ikut remuk. Pendapat lain menyebutkan, Sekutu menjatuhkan bom secara membabi-buta di atas Koln namun bom selalu menjauhi gereja yang dibangun selama enam abad lebih.

Pada tahun 1996, katedral ini ditambahkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Tahun 2004 UNESCO peringatkan sebagai "World Heritage in Danger" karena ada rencana untuk membangun gedung bertingkat tinggi di dekatnya yang bakal merusak visual situs.

Peringatan itu dihapus tahun 2006, setelah pihak berwenang di Jerman memutuskan untuk membatasi ketinggian gedung yang dibangun di dekat dan di sekitar Dome of Cologne.

Sebagai Situs Warisan Dunia dengan posisi yang nyaman dan memanjakan para turis atau peziarah, Katedral Koln adalah tempat yang tidak boleh Anda lewatkan jika sempat berkunjung ke Jerman.

Katedral ini dibuka setiap hari mulai pukul 06.00-19.30. Masuk gratis kecuali jika Anda ingin mendaki ke menara gereja melewati 509 anak tangga spiral untuk menikmati keindahan Kota Koln dan keelokan Sungai Rhein dari ketinggian 98 meter. Bila ingin melepas lelah setelah puas mengelilingi Katedral, Anda bisa mampir di rumah makan atau bar yang menjamur di sekitar katedral. *

Pos Kupang Minggu 28 Maret 2010, halaman 11 Lanjut...

Pantang Puasa

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


"JIKA engkau berpuasa, minyakilah rambutmu, basuhlah wajahmu, biar tiada seorang pun yang tahu bahwa engkau berpuasa," pesan indah ini rupanya tidak berlaku bagi Rara. Konon karena puasa, Rara tampil beda. Wajahnya khusut masai, rambut berantakan, tidak tenang, dan sesekali pegang perut menahan lapar.


"Aduh, saya puasa nih, maaf ya tidak ikut makan bersama-sama. Apalagi makan daging, aduh, sorry en maaf ya. Saya pantang daging," demikianlah Rara memproklamirkan dirinya bisa pantang. "Pantang daging selama empat puluh hari, makan kenyang hanya satu kali setiap hari Rabu dan Jumat, menjauhi rokok dan terutama sama sekali tidak minum moke," begitulah kata Rara sambil menghabiskan segelas moke sekali teguk.

***
"Syukurlah!" jawab Benza.
"Tentu saja," sambung Jaki bangga. "Kamis Putih aku akan pantang makan sepanjang siang dan separuh malam. Jumat Agung aku akan puasa selama dua puluh empat jam. Sabtu Paskah aku akan puasa sepanjang siang. Malam Minggu aku akan berdiam diri di kamar, merenungi kebangkitan Kristus. Nah, hari Minggu, baru aku mulai makan," panjang lebar penjelasan Jaki yang ditanggapi Benza dengan senyum berseri. "Aku dan Rara juga berderma, bagi-bagi sembako menyongsong Paskah. Biar puasaku lebih sempurna."

"Jaki," Nona Mia.

"Halo Nona Mia," Jaki kaget setengah mati sebab bualannya didengar langsung Nona Mia.

"Bagaimana pesta semalam? Aku lihat temanku Jaki dan Rara minum sampai mabuk. Wah, rupanya moke adalah bagian dari hidup masih melekat padamu berdua ya. Bukankah kita sudah berjanji untuk saling mengingatkan selama puasa? Bagaimana nih."

"Jaki," suara Benza membuat Jaki langsung pukul testa.

"Bukankah kita berempat sudah sepakat untuk membawa madu pekan suci?"

"Maaf, maaf sorry besar. Aku memang salah sudah ketangkap basah. Tetapi itu semata-mata karena bujuk rayu Rara. Aku sudah melanggar janji. Aku akan membawa madu ditangan kanan kiriku. Betul, aku akan lewati pekan suci dengan sungguh-sungguh serius mati raga... Masih ada kesempatan bukan?"

"Selalu ada kesempatan!" jawab Nona Mia. "Aku pun selama pra paskah ini pantangku bolong sana-sini. Tetapi aku janji untuk memperbaikinya, sungguh-sungguh..."

"Ya, kita bukan malaekat dalam menjalani masa puasa. Tetapi tentu saja bukan malaekat tidak berarti harus jadi setan bukan?"

***
"Halo, Pak Rara selamat bertemu lagi," wartawan menjabat erat tangan Rara. "Apa kabar?"
"Kabar baik, selalu baik!" Rara mengangguk-angguk bangga.

"Bagaimana pesta minggu lalu? Wah, kelihatan Pak Rara menikmati sekali ya. Maaf, sampai mabuk begitu? Waduh, minum moke berapa gelas Pak?"

"Aduh," Rara kaget setengah mati. "Mungkin keliru lihat ya? Yang mabuk minggu lalu itu Jaki bukan saya. Atau, mungkin Benza ya yang mabuk? Saya ini pantang puasa, benar-benar pantang puasa," Rara kelam kabut.

"Oh ya, Benza yang mabuk, bukan Rara!" Jaki
menyambung.

"Terus yang habiskan sate dua piring itu siapa ya? Yang tarik rokok sepanjang waktu pesta, siapa?"

"Saya! Sayalah orangnya. Eh, Nona Wartawan keliru malam ya?"

"Mungkin juga Benza, sebab Benza memang tidak puasa," Rara menegaskan.
***
"Apa tujuan Pak Rara berpuasa?" tanya wartawan.
"Tujuannya untuk pengendalian diri agar lebih mudah introspeksi diri, refleksi diri, evaluasi diri untuk menjadi manusia baru yang bangkit bersama kebangkitan Kristus," jawab Rara dengan sangat sopan.

"Kita juga berupaya agar menjadi teladan masyarakat dalam hal berpuasa."

"Tujuan berbagi sedekah sembako menyongsong pesta Paskah?"

"Mencoba menghayati makna senasib sepenanggungan. Berbagi kasih dengan cara berbagi rejeki. Ya, kita juga perlu menyampaikan kepada khalayak ramai bahwa kita ini orang yang pantas menjadi teladan. Harus banyak-banyak memberi teladan begitu."

"Boleh beri saran Pak? Puasa bicara. Sepanjang pekan suci ini mungkin bapak perlu membisu. Biar hati bapak yang bicara kepada bapak. Bagi kelompok masyarakat kita yang punya tradisi bicara banyak, dan banyak memberi janji. Pekan suci ini saat yang tepat untuk berdiam diri, introspeksi diri. Bagaimana?"

"Ya ya ya, setuju sangat. Memang itu agenda saya untuk minggu ini," Rara mendengar suaranya sendiri terasa janggal. Apalagi saat dilihatnya Nona Mia dan Benza tiba-tiba datang dengan rambut berminyak dan tersenyum berseri-seri.
***
"Aku malu pada Benza dan Nona Mia. Aku malu sekali dengan kelakuanku," Rara tampak menyesal. "Aku menyesal selama ini hanya berpura-pura...Seminggu ini aku benar-benar mau puasa. Mau mati raga, benar-benar..."

"He he mimpi apa mimpi?"

"Aku serius, Jaki!"

Jaki terheran-heran melihat perubahan Rara. "Benza dan Nona Mia kasih makan kamu racun apa sampai kamu berubah total dalam sekejab?"

"Bukan racun tetapi madu! Selamat menjalani pekan suci..." kata Rara.

"Bagi-bagi madunya ya... Selamat menjalani pekan suci juga..." kata Jaki. *


Pos Kupang Minggu, 28 Maret 2010, halaman 01 Lanjut...



STEPHANUS Djawanai, putra NTT asal Kabupaten Ngada, dikukuhkan menjadi guru besar (profesor) bidang linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (6/11/2010). Dia menjadi profesor keempat asal NTT di UGM.

Sebagai seorang linguis, dia sudah melahirkan berbagai gagasan di bidang bahasa dan kebudayaan. Dia juga memberikan perhatian yang serius terhadap bahasa-bahasa daerah (lokal). Menurut dia, bahasa-bahasa itu harus dilestarikan karena memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian seseorang dan menjadi sumber gagasan.

Berikut petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Agus Sape, dengan Prof. Dr. Stephanus Djawanai di Kupang, bulan lalu.

Bolehkah Anda mengemukakan makna dari pengukuhan Anda?

Untuk saya pengukuhan itu adalah pengakuan akademik dari komunitas di Universitas Gadjah Mada (UGM). Oleh karena itu, saya rasa penting. Saya sebenarnya sudah pernah menjadi guru besar di universitas di Nagoya antara tahun 1996 - 1999.

Sedangkan di UGM belum, karena waktu itu belum diurus. SK guru besar itu baru keluar dari Menteri Pendidikan Nasional pada tanggal 1 Agustus tahun 2008. Sebenarnya pada tahun 2008 itu, saya sudah ingin segera pidato pengukuhan. Karena pidato pengukuhan ini sebenarnya menceritakan kembali filsafat pribadi saya mengenai pendidikan. Saya mengambil topik, Telaah Bahasa, Telaah Manusia.

Apa yang ingin Anda kemukakan melalui topik ini?
Saya sebetulnya ingin sekali membangun, setidak-tidaknya awal dari suatu teori manusia, berdasarkan pendidikan sebagaimana yang saya lihat dan yang saya alami sendiri. Karena saya suka sekali pada experiencial learning. Bahwa kita itu harus belajar dari apa-apa yang kita alami sendiri, yang kita tahu betul. Itu sebetulnya saya pelajari dari pendidik yang baik seperti Romo Mangunwijaya yang mengajarkan dalam dinamika edukasi dasar. Hal semacam itu sebetulnya yang perlu kita tanamkan dalam pendidikan.
Pada saat pidato pengukuhan itu, saya menggunakan forum betul untuk menyatakan diri saya, pertanggungjawaban saya sebagai sarjana, guru besar, setelah berjalan sekian puluh tahun itu. Pertanggungjawaban saya dalam arti pemahaman saya mengenai pendidikan itu apa.
Tema yang saya pakai waktu itu -- dan saya selalu pakai untuk perkuliahan S1, S2 maupun S3 -- adalah apa yang disebut rote learning, proto learning dan deutero learning.

Apa maksudnya?
Yang dimaksudkan dengan rote learning itu sebetulnya hafalan. Dari kecil itu kita diberi pengetahuan, kita hafal, kita tahu itu. Lalu proto learning, kita sendiri mulai mengamati menggunakan perspektif sendiri, kemudian mempelajari keadaan di sekitar kita. Sedangkan deutero learning menyangkut hal dasar bagaimana kita belajar.
Tapi yang lebih penting dalam pendidikan, dan itu yang saya mau ceriterakan dalam pidato pengukuhan saya itu, adalah to learn hard to learn. Bagaimana manusia itu dan hanya makhluk manusia yang terlibat dalam mendidik dirinya sendiri. Dia belajar untuk belajar sehingga kita bisa sebut dalam bahasa mentereng homo educandus et educandum, orang yang terpelajar dan terus-menerus mau belajar dan mendidik dirinya sendiri, makhluk lain tidak ada yang seperti itu. Itu yang mau saya ceriterakan dalam disertasi saya.
Sebetulnya ada konsep yang lain di situ yang ingin juga saya kemukakan sebagai sesuatu yang tidak banyak dilihat orang yaitu konsep yang saya sebut sebagai konsep singularity (singularitas): manusia dan bahasa sebagai satu-kesatuan. Itu juga saya ambil dari konsep ilmu Fisika Stephen Hawking yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari satu wujud tunggal. Saya melihat manusia dan bahasa sebagai satu-kesatuan itu merupakan singularitas.

Buktinya dari mana?
Ya, saya kutip injil Yohanes 1:1 yang mengatakan: Pada mulanya adalah firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan firman itu adalah Allah. Itulah sebetulnya filsafat manusia. Kita harus mengerti dan memahami bahwa kita ini bagian dari wujud yang besar. Itu yang harus ditanamkan pada anak.
Dalam pidato itu saya katakan bahwa kita pada zaman ini sibuk dengan misalnya pemanasan global dan segala macamnya. Nah, kalau ada pemanasan global, siapa yang bisa menyelamatkan planet ini. Tidak ada makhluk lain mana pun selain manusia, hanya manusia, karena dia belajar dan terus-menerus mengajarkan dirinya. Hanya dia yang bisa menyelamatkan planet ini. Semua makhluk lain tidak bisa. Itu keistimewaan manusia yang mau saya tunjukkan, dan semua itu selalu diceritakan, diungkapkan dalam sejarah peradaban kebudayaan manusia.

Anda khawatirkan punahnya sejumlah bahasa lokal, kenapa?

Betul. Saya sebutkan itu karena matinya satu bahasa, artinya kita kehilangan satu ensiklopedi. Peradaban dan kebudayaan ada di situ. Dia tertangkap, tertera, ditempa dalam perjalanan hidup. Ya, di dalam bahasa itu. Jadi jangan sampai itu hilang.
Dalam pidato sebagai guru besar saya mau menunjukkan kepada semua kita ilmuwan dan orang yang bekerja di masyarakat bahwa bahasa itu unsur penting dari manusia; bahasa itu unsur penting dari pendidikan; bahasa itu unsur penting dari sejarah; bahasa itu unsur penting dari peradaban. Jangan kita meremehkan bahasa, baik untuk pendidikan maupun untuk hal- hal yang lain.

Anda bisa menjelaskan alasan Anda?

Begini, semua orang kalau berbicara mengenai ilmu dasar, pasti yang dimaksudkan adalah Matematika, Fisika, Biologi. Baik semua itu. Tapi, jangan lupa ilmu dasar juga bahasa. Kalau ditanamkan apa-apa yang baik pada anak, pemahaman tentang bahasa sejak kecil, dia mencintai bahasa, karena bahasa itu yang membuka baginya dunia pengalaman. Dia bisa membaca dan bisa belajar karena ada bahasa. Kalau tidak ada bahasa, tidak mungkin bisa yang lain. Sebagai linguis saya merasakan itu. Sejak saya lulus tahun 1980, saya selalu merasakan bahwa -- mungkin saya salah -- orang sepertinya mengesampingkan soal bahasa itu lalu urus yang lain. Itulah menurut saya tidak benar. Bahasa itu harus menjadi dasarnya.
Itu juga saya pelajari dari Gregory Bateson (antropolog, linguis dari Inggris, 9 Mei 1904 - 4 Juli 1980), bahwa bahasa itu yang membuka pada kita, membawa kita kepada berpikir secara ekologis. Jadi ekologi pikir, ekologi sosial, ekologi alam. Hanya kita manusia yang bisa omong-omong dengan dirinya sendiri. Manusia bisa melihat alam, mengagumi lalu membicarakan dan merenungkannya. Hanya manusia yang bisa merenungkan.
Tetapi, proses perenungan itu mengikuti logika bahasanya. Tidak bisa tidak. Oleh karena itu, bahasa itu yang membuka pola pikir kita.
Di dalam disertasi saya, saya ungkapkan terima kasih kepada bahasa Ngada dari Bajawa. Kenapa? Karena bahasa itulah yang membuka pengalaman dunia ini kepada saya. Karena pada waktu saya lahir, saya tidak tahu apa-apa. Sebagai anak tidak tahu. Tapi orangtua, saudara dan sekeliling bercerita kepada saya mengenai hidup sehari-hari dalam bahasa Ngada. Jadi bahasa itu yang mengantar saya dalam proses mendidik diri saya menjadi manusia.

Anda tampaknya memberi perhatian pada teori manusia?

Ya, karena menurut saya, pendidikan itu harus bisa menghasilkan manusia yang baik. Kita lulus dengan nilai yang bagus dari sekolah, dari perguruan tinggi, itu baik. Tetapi menurut saya, lebih penting lagi kita harus berhasil lulus sebagai manusia. Kalau kita gagal sebagai manusia, apa yang tersisa dari hidup kita, tidak ada lagi. Kalau manusia berarti kita harus cinta kasih kepada orang lain, cinta kasih kepada Tuhan. Itulah yang disebut manusia, dan itu diceritakan selalu dalam bahasa. Coba kita periksa semua teks cerita dongeng dari semua suku bangsa di dunia, pasti dia menceritakan hal itu, dan itu bisa diwariskan dalam bahasa. Oleh karena itu, kalau sebuah bahasa mati, habis, kita mau tanya siapa lagi. Itu sebetulnya habis, hapus, terbakar suatu ensiklopedi, dan itu tidak tergantikan.

Sekarang orang cenderung membedakan antara bahasa modern dan bahasa daerah. Orang yang menggunakan bahasa daerah dianggap kampungan.

Itu sesuatu yang agak menakutkan pada masa sekarang ini karena orang tidak lagi merasa bangga, merasa memiliki bahasa daerah atau bahasa-bahasa suku yang ada. Semua orang sepertinya menganggap prestisius kalau bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Lebih lagi kalau dialek Jakarta. Pada waktu kita tidak lagi memperhatikan bahasa sendiri, itu sama dengan kita tidak lagi mengingat lingkungan yang membesarkan kita. Seperti kacang melupakan kulit. Kulit kita adalah bahasa itu. Bahasa itulah yang membuka bagi kita pengalaman. Memang bahasa modern mungkin lebih canggih, lebih maju. Tetapi bahasa tradisional yang kita pelajari dulu sejak kecil itu juga sudah memainkan peranan penting dalam pengembangan diri kita sebagai manusia. Dan, itu hal yang amat mahal. Sangat disayangkan kalau kita sendiri tidak menghargainya.

Dalam Sumpah Pemuda kan sudah dikatakan, kita menjunjung bahasa persatuan, tidak pernah disebut satu bahasa. Bahasa persatuan, bahasa Indonesia itu. Itu sebetulnya mengimplikasikan bahwa kita harus menghargai, meneliti, memelihara semua bahasa daerah sebagai kekayaan.
Dalam semua bahasa itu pasti ada apa yang disebut pembicara yang baik. Mereka itu sebenarnya pujangga tradisional. Dan, kalau kita lihat semua bahasa tradisional, orang selalu bicara dalam bentuk-bentuk metafora. Melalui metafora itu dia menggambarkan pengalamannya. Kalau saya mengemukakan sesuatu, janganlah saya menyakiti hati orang lain, Saya ungkapkan melalui metafora. Metafora itu justru mengajak kita untuk terus memberi interpretasi yang baru sehingga suatu bahasa menjadi kuat.

Hal-hal lain yang saya takutkan adalah bahasa Indonesia menjadi terlalu kuat. Saya sama sekali tidak ingin meremehkan fungsi bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa, tapi bahasa ini menjadi terlalu kuat dalam pengertian begini, sebenarnya bahasa Indonesia itu kan fungsi pokoknya itu adalah hal-hal yang formal, resmi. Hal-hal yang sehari-hari, keluarga, itu seharusnya porsi bahasa daerah. Di rumah orang berbahasa daerah. Persoalannya, sekarang juga bahasa Indonesia sudah mengembangkan ragam informal yang begitu kuatnya. Itu sebetulnya yang mengalahkan bahasa-bahasa daerah itu. Ragam formalnya tidak apa-apa.

Bagaimana memperbaiki pemahaman mengenai bahasa daerah ini?
Ya, harus ada penelitian, pemetaan bahasa dengan baik. Itu khasanah pengetahuan yang harus kita catat. Lalu kita tanamkan kembali pelan-pelan bahwa ini mempunyai fungsi penting dalam pengembangan kepribadian kita.
Anak-anak di Amerika saja sekarang banyak yang mulai berpikir, loh kita ini kok bisanya hanya bahasa Inggris ya. Kita juga harus belajar bahasa lain, dan dia mempelajari bahasa nenek moyangnya. Di Australia bahkan ada peraturan pemerintah yang mewajibkan setiap anak Australia memahami bahasa asing lainnya, dan di antara itu harus ada bahasa Asia. Kenapa kita kok malah tidak mau mempelajari bahasa kita sendiri.

Mungkin karena orang menganggap bahasa daerah itu tidak logis

Ah, bagaimana bisa bahasa daerah dianggap tidak logis? Tidak bisa. Dia memiliki logikanya sendiri. Tidak logis itu hanya anggapan orang, karena dia menggunakan kaca mata orang lain. Dia tidak melihatnya dari dalam dan tidak melihat bagaimana sumbangan bahasa itu dalam membangun peradaban lokal.
Saya selalu melihat bahwa bahasa-bahasa lokal yang kecil-kecil atau bahasa daerah itu justru suatu ciri khas keegaliteran berbahasa. Kita itu merasa bahwa bahasa saya ini juga sejajar dengan bahasa Indonesia, bisa saya gunakan dalam waktu dan tempat yang tertentu. Tidak semua, tapi dia itu egaliter. Adanya bahasa-bahasa begitu banyak karena orang merasa egaliter.

Hanya kita sekarang ini kan celaka. Bunyi-bunyi bahasa daerah yang bagus saja, seperti kalau kami di Bajawa, ada bunya dental "dha". Anak-anak semua memakai "da" karena "da" itu apiko dental. Kenapa? Karena bahasa Indonesia itu dianggap lebih modern. Jadi dia menggunakan bahasa daerah, tetapi tidak lagi menggunakan "dha" yang berasal dari bahasa daerah, tetapi dengan bunyi "da" yang diambil dari bahasa Indonesia. Jadi orang sebut Ngada, padahalnya Ngadha. Itu kan bunyi inklusif. Jadi kita kehilangan sesuatu yang istimewa, karena ternyata bunyi-bunyi itu justru menceritakan mengenai kekunoan sejarah bahasa ini. Bunyi-bunyi itu adalah pretensi perkembangan dari bahasa yang lampau.

Dari situ orang melihat, oh dulu bahasa-bahasa ini mungkin saling berhubungan lalu kemudian dia berpindah dan menyebar ke mana-mana. Jadi dengan mempelajari bahasa, mengikuti itu semua, kita bisa melacak hubungan kekerabatan antarbahasa dan bagaimana penamaan tanaman dan hewan. Kita bisa tahu, oh ya, tanaman ini dalam bahasa daerah kita disebut ini, tetapi yang ini kok kita pakai bahasa Indonesia, berarti yang ini memang asli di sini. Dia lebih kuno, dan dengan demikian kita bisa mempunyai gambaran, oh migrasi penduduk dulu itu begini. Kita bisa lihat dari bahasanya, bagaimana bahasa itu dipakai untuk menamakan tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman pohon kayu untuk kita bangun rumah maupun di dalam upacara-upacara.

Apa tanggapan orang atas pidato Anda? Saya senang karena setelah pidato saya itu ada banyak yang menyampaikan kepada saya bahwa ternyata penting juga mengetahui bahasa itu, ternyata penting juga melihat ciri rancang bahasa manusia itu. Ciri rancang bahasa manusia menurut penemuan saya itu ada 22. Ciri rancang ini yang memungkinkan bahasa bisa berkembang sampai begitu canggih dan begitu modern. Ciri rancang itu tidak ditemukan dalam sistem komunikasi lain mana pun. Itu yang saya buat.

Anda tadi katakan bahwa Anda sudah pernah dikukuhkan jadi profesor di Jepang. Apakah mungkin seseorang dikukuhkan profesor lebih dari satu kali?

Begini, pada waktu saya bekerja di Jepang, tahun 1996- 1999, saya diundang untuk mengajar di suatu perguruan tinggi, kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang, antara Universitas Gajah Mada dan universitas yang di sana (Jepang). Di sana saya disuruh mengajukan semua bahan yang dibutuhkan supaya bisa diajukan kepada Departemen Pendidikan untuk dinilai. Dari penilaian itu saya dihargai sebagai profesor. Hanya, itu tidak menempuh prosedur pemerintah Indonesia.

Ada beda tidak prosedurnya?

Sama, hanya kita di sini ada aturan penjenjangan. Kalau di sana tidak. Begitu dia lihat baik, langsung diakui. Begitu dia lihat disertasi diterbitkan di Australian National University (ANU, di Canberra, Red), langsung dia bilang, ini sesuatu yang amat bernilai, berhak diangkat sebagai guru besar. Tapi itu di luar, ndak apa-apalah.

Anda dikukuhkan sebagai guru besar di Indonesia setelah berapa tahun sebagai dosen?

Saya mulai sebagai pegawai negeri sipil itu pada tahun 1973. Jadi kalau SK profesor itu tahun 2008, berarti saya jadi profesor setelah 35 tahun. Pidatonya kapan saja kita mau, tapi SK-nya 1 Agustus 2008.

Apakah pertama kali Anda langsung mengabdi di UGM?

Sebelumnya, saya menjadi guru SMA di Bajawa, kemudian di Yogya dan Semarang saya bekerja sebagai direktur akademi bahasa asing. Saya juga pernah mengajar di Universitas Diponegoro Semarang. Tapi saya diangkat sebagai pegawai negeri sipil itu di UGM tahun 1973.

Dari awal Anda memang di jurusan linguistik?

Sebetulnya saya dulu dari sastra Inggris. Saya ke linguistik itu karena kesenangan saja. Karena dari kecil saya suka dengan bahasa. Dari kecil saya sudah tinggal di Ruteng, lalu sekolah di Ende, belajar bahasa Ende, bahasa Belanda dan pendidikan di seminari. Karena pendidikan di seminari itu kita diberi kesempatan untuk belajar (sendiri) segala macam bahasa. Bahasa Perancis, Bahasa Jerman, Bahasa Kawi, Bahasa Arab, Bahasa Latin dan Bahasa Inggris. Waktu di kelas IV (kelas I SMA) Seminari, kami sudah bisa pidato dalam bahasa Inggris. Jadi saya memang sudah sangat suka dengan bahasa.
Kemudian saya sekolah di Amerika. Di sana saya belajar bahasa Sansekerta, karena bahasa ini mempengaruhi bahasa-bahasa lain cukup besar. Saya harus tahu sedikit. Lalu pengetahuan saya tentang bahasa Latin, meskipun tidak begitu dalam, amat menolong saya untuk memperkaya pengetahuan saya tentang bahasa Inggris. Karena saya mengajar sejarah Bahasa Inggris, dengan sendirinya saya harus urut semua ke belakang.

Apakah Anda punya prestasi sehingga bisa mengajar di UGM?
Lumayan. Karena begini, kita sebetulnya, ciri khas anak-anak Flores, itu juga yang selalu saya tanamkan kepada mahasiswa yang baru sekarang, kita itu boleh memiliki ini-itu segala macam, kita mau bersaing dengan orang lain, harta kita tidak punya. Kehebatan secara fisik kita tidak punya. Kita ini kan daerah kecil. Kita harus bisa bersaing dari sini (menunjukkan keningnya, intelek). Makanya saya selalu bilang, ekologi pikir. Dari otak yang baik kita bisa bersaing, kita masuk. Begitu kita masuk, bekerja yang benar, jujur, sebaik-baiknya, kerja keras. Orang dengan sendirinya menghargai. Begitu juga saya.
Jadi saya itu di UGM. Saya orang NTT keempat yang diangkat menjadi profesor di UGM. Pertama, profesor Johannes untuk bidang nuklir, kedua Profesor Charles Rangga Tabu untuk bidang kedokteran hewan, ketiga, Profesor Yeremias Keban, keempat, saya. Itu melalui seleksi yang amat ketat.*


Pos Kupang Minggu 28 Maret 2010, halaman 03 Lanjut...


FOTO ANTARA/LORENS MOLAN
KAWASAN MUTIS--Kawasan Cagar Alam Mutis sering dijadikan tempat menggembalakan ternak oleh warga di wilayah itu.


Oleh Lorensius Molan

SENJA itu, sekelompok awan putih terbang rendah menggapai puncak Mutis, yang konon 'rahimnya' hanya mengandung batu marmer. Suhu udara pegunungan terasa begitu sejuk di senja itu. Para petani perlahan-lahan meninggalkan ladangnya menuju rumah ketika kabut mulai mengepung Nenas, sebuah perkampungan sunyi di kaki Gunung Mutis.

Pemandangan alam di senja itu terasa begitu memesona dan elok di pandang mata. Demikian rekam jejak perjalanan jurnalistik Antara dan Kompas ke kawasan Cagar Alam Mutis seluas sekitar 12.000 hektare sepanjang hari Sabtu (13/3/2010) lalu.

Pesona Cagar Alam Mutis yang letaknya sekitar 45 km barat SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) tampak "merana" karena tidak ada upaya dari pemerintahan setempat untuk menjadikannya sebagai objek wisata.

Hamparan ampupu (Eucalyptus Urophylla), jenis tumbuhan yang menjadi ciri khas ekosistem dalam kawasan Cagar Alam Mutis, hanyalah menjadi arena permainan ternak sapi dan kuda milik penduduk yang bermukim di wilayah kantung (enclave) Cagar Alam Mutis.

"Bagaimana mungkin wisatawan mau berkunjung ke Cagar Alam Mutis dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang mulai dari Kapan, ibu kota Kecamatan Molo Utara sampai ke Nenas di wilayah Kecamatan Fatumnasi yang menjadi bagian dari kawasan Cagar Alam Mutis," kata Kepala Desa Nenas Uria Kore.
Jalan provinsi sepanjang 25 km mulai dari Kapan hingga Nenas, aspalnya sudah terkelupas dan berlubang-lubang sehingga sangat mengganggu kelancaran angkutan umum. "Wisatawan mau berkunjung atau berekreasi ke kawasan Cagar Alam Mutis pasti berpikir panjang, karena kondisi jalan yang sangat tidak memungkinkan dilalui kendaraan roda empat, kecuali kendaraan yang menggunakan derek," ujar Kore.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT Andre W Koreh ketika dikonfirmasi soal buruknya badan jalan tersebut mengatakan, pemerintah Provinsi NTT dalam tahun ini akan segera memperbaiki ruas jalan menuju Cagar Alam Mutis. "Ada anggaran untuk memperbaiki ruas jalan dari Desa Nenas menuju Sutual dalam kawasan Cagar Alam Mutis tahun ini," katanya kepada Antara melalui layanan pesan singkat (SMS) ketika dikonfirmasi melalui telepon genggamnya di Kupang, Senin (15/3/2010).

Jalan beraspal mulus hanya dapat dinikmati dari SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sekitar 110 km timur Kupang, ibu kota Provinsi NTT menuju Kapan, ibu kota Kecamatan Molo Utara sejauh sekitar 20 km.

Akibat buruknya badan jalan tersebut, keindahan alam dalam kawasan Cagar Alam Mutis seluas sekitar 12.000 hektare itu, tak pernah dikunjungi wisatawan dan hasil pertanian rakyat seperti bawang merah, bawang bombai, bawang putih, wortel, kentang dan kacang-kacangan sulit dipasarkan.

"Para petani kami disini menjual semua hasil pertanian dengan amat sangat murah kepada para cukong yang datang dari Kupang. Untuk menjual hasil pertanian ke Kupang, kami harus menyewa truk berkisar antara Rp1 juta sampai Rp2 juta," kata Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas Manuel Estepania kepada Antara dan Kompas di Desa Nenas, Sabtu (13/3/2010) malam.

Andre Koreh mengatakan pihaknya sangat berkeinginan untuk merehab semua jalan provinsi di NTT, namun anggarannya sangat terbatas sehingga lebih diprioritaskan pada kawasan sentra produksi pangan di masing-masing daerah. "Tahun ini, ada sedikit dana untuk ruas jalan Nenas-Sutual. Anggaran kita sangat terbatas untuk tahun ini sehingga perlu dialokasikan lagi untuk tahun-tahun berikutnya," kata Koreh.

Desa Nenas adalah salah satu dari tiga wilayah kantung (enclave) dalam kawasan Cagar Alam Mutis di wilayah Kecamatan Fatumnasi. Masyarakat di desa-desa tersebut diperbolehkan untuk mengolah lahan pertanian dalam kawasan Cagar Alam Mutis oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT.

Menurut Kepala Desa Nenas Uria Kore, wilayah Kecamatan Fatumnasi merupakan salah satu daerah lumbung pangan selain objek wisata alam di Kabupaten Timor Tengah Selatan, namun sarana dan prasarana jalan sungguh sangat buruk sehingga menyulitkan para petani untuk memasarkan hasil pertaniannya dengan baik.

"Jalan dari Kapan ke kawasan Cagar Alam Mutis sepanjang sekitar 25 km, diaspal pada jaman pemerintahan Bupati Timor Tengah Selatan Piet Alexander Tallo (alm) periode kedua antara 1988-1993. Hingga kini kondisinya rusak parah," katanya.
Menurut dia, ketika kondisi jalan masih beraspal mulus, ada sekelompok pengusaha dari Kupang dengan membawa sekitar 30 kendaraan, berkemah di bawah kaki Gunung Mutis untuk menikmati udara alam di kawasan tersebut.

Kawasan Cagar Alam Mutis tidak hanya memiliki tanaman Ampupu yang menjadi ciri ekosistem cagar alam tersebut, tetapi juga ada perbukitan marmer dan hamparan batu mangan yang sangat luas dalam kawasan tersebut. Selain itu, wilayah tersebut menjadi salah satu lumbung pangan bagi masyarakat Timor Tengah Selatan, namun tidak didukung oleh sarana dan prasarana jalan yang memadai.

Mantan Kepala Desa Nenas Simon Sasi mengharapkan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Provinsi NTT memberi perhatian kepada kawasan Cagar Alam Mutis dengan memperbaiki ruas jalan yang rusak itu. "Potensi ekonomi dan pariwisata di kawasan ini sangat menjanjikan, namun tak pernah dipedulikan oleh pemerintah daerah dalam membangun sarana dan prasarana penunjang seperti jalan," kata El Pania, sapaan akrab Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas Manuel Estepania.

"Di kawasan tersebut ada peninggalan rumah milik Belanda, dan mungkin merupakan satu-satunya rumah seng pertama di Pulau Timor," tambah Simon Sasi yang selama 15 tahun menjadi Kepala Desa Nenas.

Selain itu, jika ada raja (usif) atau keturunan bangsawan di Timor yang meninggal, nama mereka sudah tertulis dalam sebuah batu raksasa di Gunung Mutis. "Ini sesuatu yang tidak rasional jika diterima secara akal sehat, tetapi faktanya memang demikian," kata Pania menggambarkan kekayaan wisata alam di kaki Gunung Mutis itu.

"Kami hanya berharap pemerintah dapat memperbaiki badan jalan yang rusak parah ini agar wilayah kami bisa dikunjungi wisatawan serta memudahkan masyarakat kami dalam memasarkan hasil pertaniannya ke SoE maupun Kupang," kata Pania dan Kore.


Bukan ancaman
Masalah penggembalaan liar dalam kawasan Cagar Alam Mutis sempat dikhawatirkan akan menjadi ancaman bagi upaya pelestarian hutan di kawasan tersebut.


"Penggembalaan liar bukan merupakan ancaman bagi proses regenerasi tumbuh kembangnya tanaman di kawasan tersebut.
Sejak dulu kala ternak sapi maupun kuda berkeliaran bebas dalam kawasan Cagar Alam Mutis. Injakan kaki ternak yang 'melukai' akar tanaman selalu menumbuhkan tunas baru, bukan mematikan," kata Edy Oematan, salah seorang tokoh masyarakat dari Desa Nenas.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT Kemal Amas sebelumnya mengatakan Cagar Alam Mutis saat ini mendapat ancaman yang cukup serius dari penggembalaan ternak liar milik warga Desa Nenas yang berada dalam wilayah kantung cagar alam tersebut.

"Injakan kaki kuda atau sapi di kawasan tersebut sangat menghambat proses regenerasi tumbuh kembangnya tanaman di Cagar Alam Mutis. Ini ancaman yang cukup serius dalam menjaga kelestarian hutan," katanya.

Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas El Pania mengatakan masalah penggembalaan liar sudah lama berlangsung dalam kawasan Cagar Alam Mutis, dan tak pernah merusak kelestarian hutan seperti yang dikhawatirkan BKSDA dan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

"Jika tidak ada penggembalaan, rumput-rumput yang ada dalam kawasan Cagar Alam Mutis berpotensi terbakar. Kebakaran dalam kawasan hutan lindung, misalnya, selalu muncul tanpa diduga.

Sampai sejauh ini, kami belum temukan orang yang membakar dalam kawasan hutan," tambah Simon Sasi.

Menurut dia ternak sapi maupun kuda tidak pernah makan atau merusak tanaman Ampupu (Eucalyptus Urophylla) yang menjadi ciri khas Cagar Alam Mutis.

"Ekosistem serta kelestarian alam dalam kawasan Cagar Alam Mutis tetap terjaga hingga kini karena setiap penggembala ternak akan selalu menjaganya. Aturan adat kami di sini sangat tegas sejak ayah saya Leonardus Oematan menjadi raja di wilayah ini," kata Oematan.

"Tanaman yang sudah mati pun dilarang ambil untuk kayu api, apalagi membakar hutan," katanya dibenarkan pula oleh Simon Sasi dan El Pania.

Menuru Simon Sasi, jumlah ternak sapi yang ada dalam kawasan hutan lindung Mutis-Tiimau dan Cagar Alam Mutis sekitar 400 ekor, sedangkan ternak kuda antara 30-40 ekor.

Menurut hasil penelitian WWF (World Wide Fund for Nature) Nusa Tenggara pada 1996, jumlah ternak sapi dan kuda yang berkeliaran bebas dalam Cagar Alam Mutis dan kawasan Hutan Tiimau sekitar 24.000 ekor.


Jumlah ini terus berkurang hingga 23 persen atau sekitar 19.000 ekor pada 2006. Sementara kawasan Cagar Alam Mutis dan kawasan Hutan Tiimau telah berkurang sekitar 75.000 hektare dari sebelumnya sekitar 90.000 hektare pada 1974. "Masyarakat kami di sini (Nenas) sangat patuh pada aturan adat sehingga terus menjaga kelestarian hutan dalam Cagar Alam Mutis. Ternak masyarakat yang ada dalam kawasan cagar alam ini bukanlah menjadi ancaman seperti yang dikhawatirkan banyak pihak," kata Uria Kore.

Jika musim hujan tiba, tambahnya, warga desa dalam wilayah kantung Cagar Alam Mutis wajib menanam pohon dalam kawasan tersebut.

"Anakan tanaman diperoleh dari dalam kawasan hutan atau dari ladang penduduk yang mengolah lahan dalam kawasan itu kemudian ditanam kembali pada areal yang masih kosong atau di samping pepohonan yang sudah tua usianya sebagai bentuk regenerasi hutan," katanya.

Cagar Alam Mutis merupakan daerah tangkapan air (hulu) bagi dua daerah aliran sungai (DAS) besar di Pulau Timor bagian barat NTT, yakni DAS Benenain seluas 384.331 hektare dan DAS Noelmina 191.037 hektare.

Menurut peneliti ilmu pertanian dari Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr L Michael Riwu Kaho, sebagian besar tata air permukaan di Pulau Timor bagian barat NTT diatur oleh hubungan antara hutan dalam Cagar Alam Mutis dan daerah tengah serta hilir dua DAS besar tersebut.

Cagar Alam Mutis berada pada ketinggian sekitar 2.472 meter dari permukaan laut, kawasan itu merupakan salah satu bentang terakhir kawasan hutan di Timor bagian barat NTT. Menurut Riwu Kaho luas hutan di Timor bagian barat NTT hanya 240.109.178 hektare, yang tergolong sebagai hutan primer kering sekitar 6,15 persen dari luas kawasan hutan yang ada.

"Melihat kondisi hutan yang ada, kawasan Cagar Alam Mutis memiliki nilai yang sangat penting karena merupakan salah satu bentang terakhir dari kawasan hutan di Timor bagian barat NTT," katanya menambahkan.(*)


Pos Kupang Minggu 21 Maret 2010, halaman 14 Lanjut...

Aku Panggil Namanya Matahari

Cerpen Hengky Ola Sura
(Kru Seniman Kata Uniflor)

DESAU angin parau pada pucuk-pucuk bakau. Sejuk dan hening. Suasana Pantai Ria lengang. Yang terdengar cuma pecahan ombak yang setia datang megecup cahaya matahari pada garis pantai. Entahlah ombak tak hanya cukup merasa bahwa pada biru warnanya yang jadi kemilau sebenarnya diciptakan oleh cahaya matahari yang menjulai, maka ombak harus mendebur dan terus mendebur merapat memeluk cahaya itu.

Matahari dan ombak dua kekuatan alam itu seakan memadu kasih dalam diam-diam dahsatnya cahaya dan debur mereka. Pantai Ria masih lengang. Dua anak manusia yang terjerat dalam jaring cintapun cuma bisa saling menatap debur ombak yang entah kapan berhenti datang mengecup cahaya matahari pada bibir pantai. Desau angin masih parau dan dua anak manusia itu, yang lelaki menggenggam jemari tangan sang perempuannya.

Belum ada yang bicara hanya suara-suara alam terasa memerdekakan suasana hati kedua insan pesiarah jalan cinta itu. Cinta memang tak butuh omong banyak cukup diam dan merasakan suara-suara dan aura alam di sekitarnya.

Cinta punya kedahsyatannya sendiri seperti dua kekuatan alam matahari dan ombak. Lama terdiam sang lelaki akhirnya membuka percakapan. Tari, aku ingin memanggilmu dengan nama baru, nama ini kita baptis bersama dan aku berharap kamu menyetujuinya. Aku ingin memanggilmu dengan nama baru, yakni Matahari.

Sang perempuan yang bernama Tari itu pun menyela, kenapa bukan kamu yang matahari? Lelaki itu menjawab aku ingin menjadi ombak. Bisa kamu katakan alasan mengapa aku yang matahari dan kamu ombak sayang? Lelaki itu lama termenung menatap ombak yang mendebur merapat ke garis pantai.
Tari jujur saja sejak pertama melihatmu dalam diam-diamku aku selalu berharap memilikimu.

Aku memujamu dalam diam-diamku. Sayang aku tak berani saat itu, aku takut kalah bersaing dengan banyaknya kawan-kawanku yang selalu secara lugas dan terbuka mengagumimu. Dan semuanya seolah berlomba untuk meraihmu menjadi milik mereka. Aku hanya orang biasa-biasa dengan mimpi untuk selalu memujamu dalam diam-diamku.

Aku tak mau kawan-kawanku tahu kalau aku juga turut mengagumimu dan berharap memilikimu dalam omong-omong lepas kami setiap menatapmu. Tapi sekarangkan kamu telah menjadi milikku sayang. Benar Tari bahwa aku milikmu, oleh karena itu aku ingin memanggilmu Matahari. Tari mengapa kamu yang aku sapa Matahari? Jawabannya adalah karena setiap menatapmu adalah keberanian ombak menantang matahari, aku tahu dan cukup sadar, sesadar-sadarnya Tari bahwa jangan sampai terlalu menatap dan matamu itu tiba-tiba bersarang topan dan jadi semacam amukkan yang melemaskanku dan suaramu yang menawan saat kau bicara jadi gelegar yang menyumpal nafas dan ragaku.


Aku takut itu sayang. Engkau perempuan luar biasa dan terlalu suci untuk dicintai lelaki seperti aku. Aku, hari ini ku baptis namaku jadi Ombak, panggil aku Ombak ya sayang, dan engkau akan ku panggil mesra Matahari dalam setiap hari-hariku. Lalu kenapa dengan ombak sayang? Tanya Tari sang perempuan yang namanya kini dipanggil Matahari.

Sayang kamu tahukan aku laki-laki biasa dan dalam diam-diamku aku telah berhasil mencuri hatimu untuk ku sematkan dalam perjalanan hari hidupku. Aku hanya punya keberanian dalam tatapan yang curi-curi dan ku bahasakan dalam buku harianku tentang betapa aku memujamu.

Aku bukan hanya pemenang yang telah berhasil mendekapmu terus mencampakan karena telah memenangkan pertarungan tetapi aku mau tetap menjadi seperti ombak yang punya kesetiaan mendebur untuk terus membahasakannya dalam amuk gelora rindu siang dan malam menjagamu.

Apakah tidak terlalu berlebihan sayang? Apanya yang berlebihan Matahari? Aku percaya bahwa engkau perempuan dan punya cahaya yang merona terbitkan rindu padaku untuk terus mendebur dalam birunya rindu seumpama biru ombak samudera.

Aku mau kamu yang jadi matahari agar setiap pagi yang datang kita ciptakan pelangi yang menjulai penuh warna. Lambang kepercayaan kita akan kesetiaan antara matahari dan ombak. Matahari yang ciptakan cahaya dan ombak yang ciptakan debur. Ketika cahaya dan debur itu menyatu terjadilah hamparan peluang sekaligus harapan untuk terus merasakan cinta yang kita ciptakan. Cinta itu cahaya. Cinta itu deburan. Cahaya dan deburan itulah aku dan engkau.

Suasana Pantai Ria masih lengang. Dua anak manusia itu kini saling menyapa matahari dan ombak. Angin yang berdesau parau pada pucuk-pucuk bakau telah turut menyatukan dua hati insan pesiarah cinta itu untuk memaknai dua kekuatan alam yang cipta cahaya dan debur. Nama mereka kini matahari dan ombak.

Matahari kini dalam pelukan sayang Ombak. Lama mereka diam. Mereka menyulam lidah. Merasakan dalamnya rasa yang bergetar pada dada. Sayang janji ya untuk tidak tinggalakan matahari. Lelaki yang bernama Ombak itu semakin erat memeluk Mataharinya. Sayang tahukah engkau bahwa disetiap gelegar deru deburku aku memburu pantai untuk mengecup garis pantai hanya untuk merasakan hangatnya cahayamu.

Aku merasa tidak cukup dengan selimut yang kau ciptakan padaku untuk buatku jadi kemilau. Aku mau terus mendebur ke pantai mewartakan pada dinding-dinding gua dan batu parak pantai bahwa inilah madahku berirama serempak. Inilah aku ombak, yang mau menunjukkan pada semua yang pernah mencoba memisahkan cadar rindu kita.

Semua yang pernah membuat kita menangis dalam gelisah dan cercah yang senewen. Sayang sejak hari ini bila kita saling merindu perkenankanlah kita datang ke pantai ini. Iya ombakku sayang, aku suka tempat ini. Di sini kita melepas canda pada celah desau paraunya angin pada pucuk-pucuk bakau.

Kita heningkan diri kita sendiri, merasakan dua kekuatan alam seumpama dua hati kita yang menyatu dalam satu kata sakti yakni cinta.

Pantai Ria semakin lengang saat senja turun. Matahari masih tersandar mesra dalam pelukkan kekasihnya Ombak. Sayang aku mau tetap di sini. Aku mau terus menatap debur dan birunya ombak samudera itu. Kita harus pulang sayang. Senja mengajak kita untuk sejenak berbenah. Kita harus pergi dari pantai ini tetapi hati matahari dan ombak tetap satu.

Setia dalam cahaya dan debur. Mari kita pulang sayang. Engkau kejaiban terberi dan sejak hari ini engkau aku panggil Matahari. Malam hampir turun sayang masih ada esok buat kita datang ke pantai. Kita hanya punya cahaya dan deburan untuk terus percaya bahwa pasti ada malam-malam panjang tanpa cahaya, tanpa debur yang yang riang. Pasti ada yang terus menista cinta kita karena aku punya keberanian untuk menantang matahari.

Aku memang hanya Ombak tetapi aku punya hati, aku punya deburan, aku punya kemilau tidak untuk siapa-siapa tapi untuk matahariku. Ruang di hati ini telah aku sucikan untuk cahayamu. Engkau matahari selalu berkelebat dalam ruang hatiku. Sayang sejak hari ini engkau ku panggil Matahariku.
(Ende 3 Maret 2010, for Matahari, mat ultah, smoga panjang umur)


Pos Kupang Minggu 21 Maret 2010, halaman 06 Lanjut...

Puisi Ino Nahak

Ia Telah Pergi
(Buat Sahabat Tercinta)

Wajahnya masih hangat
Dalam kisah kemarin
Ia tersenyum polos
Cinta murni tersibak
Ia torehkan di antara
tatapan sejuta wajah

Kisah itu telah hanyut
Terbawa arus duka
Tergenang antara tangisan dan ratapan
Ia pamit pada bumi
Tergeletak pasrah pada Sang Kahlik

Pergimu begitu cepat
Bagai hembusan bayu sang fajar
Terburu dijembut senja menyengat

Semuanya berlalu
Lenyap
Terkubur dalam waktu

Kau selalu di hati ini
Takkan lenyap
Namamu tercatat
Pesonamu terukir

Walau raga didekap pusara
Namun...
Cintamu tetap mekar
Di hati kami

Komunitas Sastra St. Michael
1 Maret 2010



Pos Kupang Minggu 21 Maret 2010, halaman 06 Lanjut...

Puisi-Puisi F. LELAN

Kau Yang Berkisah

Tentangmu :
Masih pagi kau maknai cerita cinta itu

Embun pun belum menetes
Kantuk pun belum terusir

Masih pagi kau maknai cerita cinta itu
Enggan aku menegurmu
Itulah kreasi menurutku

Masih pagi kau maknai cerita cinta itu
Hingga saat siang datang pun kamu belum beranjak
Kutatap dirimu berbeda di antara rumpun yang meremaja
Sebaris uban terselip di rambutmu
Siaaal......usiamu senja di siang bolong

St. Mikhael, Maret 2010




Puisiku Untukmu

Aku ingin menuliskan puisi untukmu
Untuk padatkan isi
Cukup delapan kata

kuselipkan juga kalimat panjang untukmu
Dengan makna di setiap kata
Biar kamu memaknai puisiku

Pertama untukmu,
Kamu tahu akan arti hidup
Kutuliskan untukmu sebab hidup punya makna

Kedua untukmu,
Kuutarakan kata-kata cintaku
Ada alam hingga nirwana, biar sebentar kamu terbang

Ketiga untukmu,
Kupilih tanda baca, untuk lagu kalimat maksudku
Meski saat kita berbicara tak perlukan tanda baca

Untuk akhir,
Aku jadi enggan memberikannya untukmu
Aku sendiri yang ingin membacanya
Aku tahu, duniamu bukan dunia sastra

St. Mikhael, Maret 2010



Pos Kupang Minggu 21 Maret 2010, halaman 06 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Beatrix Soi



MAKANAN bergizi tidak selamanya harus mahal. Makanan lokalpun bisa memberikan nilai gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Makanan lokal khas NTT seperti jagung sebenarnya bisa menjawab kebutuhan gizi untuk anak-anak.

Masalah gizi buruk di NTT juga tidak terlepas dari pengetahuan orangtua tentang nilai gizi yang ada pada makanan lokal. Jenis makanan seperti umbi-umbian, kacang-kacangan dan jagung khas NTT merupakan persediaan pangan lokal yang bisa menjawab kebutuhan gizi untuk anak-anak.

Ketua Jurusan Gizi-Politeknik Kesehatan (Poltekes ) Departemen Kesehatan (Depkes), NTT, Beatrix Soi, SST, Spd, M.Kes mengatakan persediaan pangan di NTT sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi. Hanya saja, anggapan bahwa makanan seperti jagung, umbi-umbian dan kacang- kacangan tidak lebih dari beras membuat para ibu cenderung tidak memanfaatkan jenis makanan lokal khas NTT tersebut.

Orangtua yang kurang memahaki kebutuhan gizi anak dan kurang mengetahui potensi makanan lokal merupakan penyebab masalah gizi buruk pada anak.

Kehadiran Jurusan Gizi pada Politeknik Kesehatan (Polteks) Kupang merupakan jawaban untuk mengatasi masalah gizi buruk di wilayah ini, hanya saja tenaga ahli gizi ini masih minim dan belum sepenuhnya di manfaatkan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah kekurangan gizi di NTT.

Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Beatrix

Setiap tahun NTT selalu dihadapi masalah gizi buruk. Apakah masyarakat kita memang tidak memiliki persediaan makanan yang bergizi?
Ini yang perlu kita diskusikan bersama. Sebenarnya kandungan gizi makanan lokal kita seperti jagung dan sebagainya tidak lebih rendah dari beras. Dan, masih banyak makanan lokal yang memiliki nilai gizi yang memadai seperti pisang. Budaya makan jagung di NTT bukan berarti kita hanya makan jagung saja, selalu ada campuran dengan jenis makanan lain seperti sayur- sayuran, kacang-kacangan dan sebagainya. Jadi makan jagung yang sudah ada campuran sayuran dan kacang-kacangan. Ini sudah saling melengkapi dan kandungan gizinya memadai.

Namun terkadang terjadi adalah jenis makanan ini sulit diberikan pada anak-anak, khususnya berusia dibawa lima tahun (Balita) sedangkan orang dewasa bukan masalah seperti makan jagung rebus, jagung bose dan lain-lain dan campuran kacang-kacangan dan sayur-sayuran.

Apa masalahnya dengan anak-anak?
Untuk anak-anak diperlukan perhatian atau ketelatenan orangtua karena sulit bagi anak-anak memakan jagung ini. Mungkin jagung ini harus diolah dulu menjadi tepung beras jagung sehingga bisa diberikan pada anak-anak. Pengelahan jagung memang lebih rumit dari beras, tapi persediaan jagung kita cukup banyak dan itu bisa diolah ketimbang harus membeli beras atau menunggu ada beras.

Dan, sebetulnya nilai gizi tidak kalah dengan nilai kandungan gizi pada beras. Menurut saya, makanan lokal cukup lengkap kandungann gizinya untuk orang dewasa, karena kebudayaan kita tidak makan jagung kosong, selalu rebus jagung dan ada kacang-kacangan yang dimasukan di dalamnya secara bersamaan.

Yang menjadi masalah pada anak-anak karena budaya kita tidak terlalu ahli dalam mengelola jagung itu untuk kebutuhan anak- anak Balita, sehingga kadang kita lihat anak-anak gizi buruk tapi ibunya gemuk-gemuk.

Berarti dalam hal ini persediaan pangan lokal ada, tapi mungkin tidak punya waktu atau keterampilann untuk mengelola makanan atau orangtuanya hanya mau menggunakan cara gampang dalam mengelola makanan sehingga anak tidak cukup untuk mendapat asupan makanan.

Kemudian, anak-anak inikan bila mau makan biasa meminta. Pada waktu anak-anak, ketergantungan pada orangtua untuk memberikan, dia kan tidak bisa minta sehingga kapan orangtua sadar memberikan baru mereka mendapat asupan makan.

Kecuali anak yang sudah lebih besar, dia akan katakan lapar maka bisa minta pada orangtua. Pada anak yang dibawa tiga tahun, dia belum punya pola untuk menyampaikan bahwa dia lapar dan minta pada orangtua. Sehingga anak kurang dapat asupan sesuai kebutuhannya.

Apakah anggapan orang lebih suka makan nasih ketimbang jagung?
Ini ada perubahan dan pergesaran nilai. Pada jaman dahulu makanan utama kita adalah jagung tapi akhir-akhir ini, dimana terjadi komunikasi gampang dan sebagainya sehingga masyarakat merasa misalnya ada dengan pemberian beras dari pemerintah atau beras yang mudah di beli sehingga lebih merasa bergensi kalau sumber makanan itu dari beras saja.

Pengelolaan beras pada saat ini juga sudah membuat kanduangan zat gisi dalam beras itu berkurang. Beras saat ini digiling dengan mesin, kemudian di proses lagi sehingga terlihat lebih bersih dan putih, nah tahapan-tahapan ini membuat kanduangan gizinya juga makin berkurang. Lain halnya bila beras dari hasil padi yang ditumbuk. Rasanya pun sudah beda. Kandunagn gizi beras itu kan tidak sebanding dengan beras yang ditumbuk.

Apalagi petani-petani sekarang memamen sendiri, mereka sudah cenderung menggunakan mesin giling, padahal sel seratnya sudah hilang saat penggilingan, vitaminnya juga hilag saat pengolahan.

Makanan lokal kita seperti jagung, umbi-umbian. Apakah kadar kebutuhan gizi atau kalori untuk kebutuhan kita sehari- hari sudah bisa dipenuhi?
Makanya di ilmu kesehatan, kita menggunakan istilah keragaman pangan. Saya tidak bisa mengatakan dengan memakan umbi-umbian saja sudah cukup, karena itu dibidang pangan dan gizi kita selalu menyarankan pada masyarakat misalnya pada pedoman gizi seimbang, kita meminta masyarakat untuk mengkonsumsi beragam makanan.

Kalo ubi saja belum tentu mencukup kebutuhan, jadi misalnya pagi dia makan ubi dan siang dia akan jagung dan malam makan lain lagi maka itu saling melengkapi kebutuhan. Misalnya di NTT, masyarakat kita sudah terbiasa dengan bubur kacang yang direbus menjadi makanan. Kacang hijau saja direbus dan dijadikan ketupat sudah menjadi kebutuhan karbohidrat sekaligus protein yang bagus, sehingga kekurangan di ubi itu bisa di lengkapi dengan kacang-kacangan.

Keragaman makanan ini juga terkait dengan pencernaan juga. Fungsi pencernaan kita terkdang bermasalah
Orang sering berpikir keragaman makanan itu sama dengan setiap hari berganti jenis makanan. Padahal keragaman makanan ini berbagai macam, ada fungsional food itu itu bumbu- bumbunya sudah menjadi bagian dari jenis makanan. Jadi bukan setiap hari dia harus mengganti jenis makanan hari jagung, besok apa lagi, bukan itu yang dimaksudkan. Masyarakat kita di desa yang mengelola makanan dengan bumbu-bumbu lokal, dengan sere jahe, kunyit dan lainnya. Sebenarnya itu sudah dalam bentuk makanan hanya disebut fungsional food atau makanan yang memperlancar metabolisme tubuh. Jadi bukan setiap hari harus berjenis-jenis. Kalau di negara maju, keragaman makanan itu sehari itu sudah berjenis-jenis, jenis makanan bisa sampai 20-an.

Tapi di daerah kita dengan kondisi ini tidak dituntut tiap hari harus dengan makanan yang berubah-ubah terus......
Atau yang punya kebun juga jumlahnya tidak banyak juga, ada aneka jenis umbi-umbian. Saya ingat dulu waktu di desa itu labu kuning yang nilai karotinnya sangat tinggi itu kita kukus sudah bisa menjadi makanan bahan makan pagi atau makanan makan malam.

Kita potong-potong sepeti roti itu sudah jadi makanan yang enak, selain itu kadar karbohidratnya tinggi, karotinnya tinggi, vitamin A nya tinggi dan cukup untuk melengkapi kebutuhan akan vitamin dan kebutuhan lain.

Jadi artinya makanan lokal NTT tidak menjadi alasan anak- anak kita di desa kekurangan gizi.....
Sebetulnya makanan lokal di NTT cukup beragam, jadi tidak ada alasan untuk mengalami kurang gizi. Menurut saya dalam hal ini ada masalah yang terjadi. Menurut saya bukan pada ketersediaan pangan, contohnya banyak anak-anak yang orangtua yang tidak tahu persis kapan anak-anaknya harus mendapat makanan tambahan. Seperti saya temukan di Belu, itu ibu-ibu yang punya anak kecil selama masih ada air susu, si ibu tidak memberikan makanan tambahan pada anaknya karena dia pikir air susu maih ada maka bisa memenuhi kebutuhan anak. Jadi menurut saya, masalahnya adalah ibu-ibu kita di desa belum mengerti tentang kebutuhan gizi untuk anak-anak mereka. Ibu- ibu ini tidak merasa kalau anaknya kurus itu bisa menjadi masalah. Ia baru merasa kesehatannya anaknya bermasalah bila anaknya demam , sakit perut atau sakit apalah. Jadi kalau berat anaknya tidak bertambah atau menurut itu berarti sudah terjadi ketidak seimbangan antara makanan dan kebutuhan asupannnya anak itu. Jadi ketersediaan pangan betul-betul keculi ada keluarga miskin yang tidak menjangkau.

Kekurangan gizi ini bukan karena kemisikinan?
Kalau mau dibilang miskin, masyarakat kita di desa itu punya kebun, punya sawah, ternak jadi tidak masuk akal bila masalah kekurangan gizi karena miskin. Ini hanya masalah ketidaktahuan orangtua pada potensi yang ada di sekitar rumhanya atau kebunnya. Dan, para ibu tidak tahu kalau anaknya perlu makanan tambahan. Saya ingat dulu sewaktu SD itu kita punya kebun sekolah, sehingga kebun yang besar yang dimana setiap hari Sabtu kita rame-rame bakar ubi dan makan di sekolah. Sekarang lokasinya makin sempit jadi sudah tidak ada lagi yang namanya anak-anak dilatih untuk menanam di sekolah dan kemudian dia bisa memanen.


Anda sekarang memimpin Prodi Gizi, apa yang dipelajari mahasiswa Anda?
Saya pernah sekolah perawat, pernah mengajar di kebidanan. Kadang-kadang kita berpikir, semua sekolah kesehatan pasti bisa ngomong tentang gizi padahal sesudah saya menjalani, ternyata tidak bisa. Kan kurikulum berbeda. Kurikulum di keperawatan dan kebidanan juga diajarkan tentang gizi, tapi tidak membahas sampai hal-hal yang detail.

Misalnya, di keperawatan kita mengajar betapa pentingnya protein, karbohidrat dan lain-lain tapi hanya sedikit. Kalai di prodi gizi diajarkan bahan pengganti makanan yang pas untuk mengganti ini bahan yang lainnya.

Misalnya, beras ukuran sekian lalu ubinya berapa banyak untuk mengganti beras yang ukuran sekian. Atau misalnya nasi 50 gram lalu untuk mengganti itu diperlukan singkong yang berapa gram agar kebutuhan gizi dan lainnya itu sama. Lalu diajarkan pula nilai-nilai gizi dan takaran-takaran harus yang harus makan.

Kalau masyarakat kebanyakan atau di desa hanya berpikir ya sudah kenyang ya selesai. Ukuran cukup bagi masyarakat kebanyakan adalah kenyang. Jadi perut sudah terisi dan kenyang maka dianggap cukup. Padahal, zat gizi itu ada banyak jenis dimana zat yang satu mempengaruhi zat yang lainnya untuk metabolisme tubuh. Misalnya vitamin itu bisa berfungsi kala ada zat lain. Misalnyta zat besi bisa diserap kalau ada vitamin C.

Artinya kedepan, tenaga ahli gizi sangat diperlukan oleh masyarakat
Menurt saya, suatu waktu orang lulusan ilmu gizi akan diperlukan. Saat ini orang lulusan ilmu gizi hanya dilihat sebela mata oleh masyarakat dan masih dianggap diluar tenaga kesehatan. Tapi menrut saya, suatu waktu mereka akan menjadi pendamping yang baik di masyarakat, minimal untuk memberikan pendampingan pada masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat untuk memberikan pencerahan tentang nilai-nilai gizi. Bahkan kita juga melengkapi cara pengolahan makanan, sehingga anak-anak yang masih kecil itu bisa mendapatkan makanan yang layak dari bahan lokal seperti singkong atau jagung.

Jadi dengan mengikuti kuliah selama tiga tahun, dengan biaya yang relatif tidak besar dibandingkan dengan manfaat untuk puluhan tahun yang dia akan terapkan di masyarakat. Oleh karena itu yang saya harapkan adalah kesadaran baik baik dari pemerintah maupun masyarakat tentang pentingnya tenaga gizi, sehingga kedepan tidak saja untuk masuk ke instusi gizi tapi juga bisa juga memanfaatkan lulusan kami.

Jadi saya pingin lulusan ilmu gizi itu dari Poltekes Depkes-NTT bisa diterima di institusi formal, tetapi juga diterima di institusi tidak formal seperti penyelenggaraan makanan anak sekolah, bukan sebagai pemasak tetapi sebagai supervisor untuk penyelenggara kantin di sekolah-sekolah sehingga penyelenggaran makanan di sekolah itu di awasi oleh ahlinya, oleh lulusan yang punya kompetensi untuk itu sehingga kantin- kantin yang diselenggarakan di sekolah-sekolah itu bisa punya kualitas sesuai kebtuhan anak didik.


Sekarang kan pemerintah sudah membuka formasi untuk ilmu gizi?
Saya bersyukur D3 Ilmu Gizi Poltekes Depkes sudah melulusakan 74 orang, dari jumlah ini yang sudah diterima di sektor pemerintahan sudah lebih daro 50 persen. Dan, juga institusi LSM juga menggunakan tenaga mereka. Saya senang, tapi harapan ke depan itu kesadaran akan tenaga gizi itu bisa dibutukan sama seperti perawat dan bidan. Jangan sampai tenaga ini hanya melengkapi saja, padahal pemerintah dengan program desa siaga itu ya salah satunya adalah menyiapkan tenaga gizi.

Memang sampai hari ini bukan salah pemerintah di NTT juga karena memang belum ada lulusannya yang bisa dimanfaatkan. Mungkin kedepan kalau kita meluluskan banyak maka pemerintah juga bisa memanfdatkan tenaga lulusan kita untuk di Puskesmas-puskemas.

Menurut Anda, di rumah sakit itu idealnya berapa orang tenaga ahli gizi?
Di rumah sakit-rumah sakit yang lebih maju seperti tipe B, tenaga gizi tidak hanya di instalasi gizi. Instalasi gizi mungkin hanya untuk managemen penyelenggaraan makanan, tapi di setiap bangsal bahkan di setiap ruangan yang merawat pasien itu ada tenaga gizi, sehingga bisa mengkaji kebutuhan gizi pasien. Misalnya status gizi pasien itu bagaimana? Berat badannya berapa sehingga pasien itu membuthkan makanan dengan kadar gizi berapa gram itu harus ditentukan ahli yanga ada di bangsal ini. Sehingga manajemen instalasi gizi bisa memberikan makanan pada pasien yang bersangkutan sesuai dengan pesanan yang dibuat oleh tenaga gizi yang ada di ruangan. Jadi idealnya di setiap bangsal, selain di instalasi gizi dan penyelenggara makanan di dapur itu memiliki tenaga gizi. Ahli gizi di setiap bangsa itu minimal satu, yang bertugas mendampingi dokter terkait dengan kebutuhan makanan dan diet pasien.

Apakah Puskemas juga perlu tenaga gizi?
Benar, Puskemas juga perlu tenaga gizi. Sebab, ahli gizi di Puskesman merupakan barisan terdepan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Ahli gizi ini bisa memantau perkembangan kebutuhan gizi anak sehingga masalah gizi bisa diatasi langsung di masyarakat.

Tenaga gizim diperlukan untuk melakukan monitor setiap bulan masyarakat, sehingga bisa mengetahui anak yang mengalami perubahan status gizi, misalnya dari gizi baik menjadi gizi kurang itu ada di Puskesmas atau Posyandu. Oleh karena itu, pemerintah sekarang menempatkan tenaga gizi di tiap Posyandu. Yang menjadi maslah adalah bila tenaga gizi di Puskesmas hanya satu, dia harus mengelilingi Posyandu yang ada itu terlalu berat. Apalagi dengan medan berat dengan fasilitas yang terbatas.

Secara nasional proprosi ideal itu adalah 20 per 100.000 penduduk, di NTT baru 3 per 100.000 penduduk, sekarang sudah menjadi 5 per 100.000 penduduk. Saya kurang tahu persis kebutuhan tenaga gizi untuk puskemasn tapi dengan adanya istilah Desa Siaga diman ada Puskesman, Pustu maka selain tenaga perawat dan bidan juga harus ada tenaga gizi.

Maksudnya untuk kegiatan-kegiatan preventif dan promotif yang mungkin untuk perawat dan bidang yang kegiatan di Puskesman yang tidak sempat mereka laksanakan mungkin hal yang menyangkut meningkatkan status gizi ini diserahkan pada tenaga gizi untuk melaksanakannya.(alfred dama)

Data diri Nama : Beatrix Soi, SST, Spd, M.Kes Tempat Tanggal Lahir : Asuemean-Belu 15 Mei 1954 Jabatan : Ketua Jurusan Gizi Poltekes Kupang Pendidikan Khsusu Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Lela-Sikka, Flores tamat Tahun 1976 Sekolah Guru Perawat Kesehatan SGP Surabaya Tamat Tahun 1983 Akademi Perawat (DIII) Kesehatan Akper Malang --1993 Diploman VI Keperawatan Anak Universita Airlangga- Surabaya 2000 Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris Unwira-Kupang,-2002 Magister (S2) Gizi dan Kesehatan UGM Yogyakarta-2006 Keluarga Suami Prof.Dr. Mans Mandaru Anak 1. Romualdus B.Paskaliano 2. Silvania S.Epiphania 3. Fulgentius R.Canisio

Pos Kupang Minggu 14 Maret 21 Maret 2010 Lanjut...

Gerson Yonathan Thonak


"Jadi PNS Terlalu Birokrasi"

THONBERS Computer, merupakan salah satu perusahaan yang sedang berkembang di Atambua-Ibu kota Kabupaten Belu, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Letaknya sangat strategis di tengah kota tepatnya di pertigaan Lampu merah, Kelurahan Rinbesi.

Nama "Thonbers" itu sendiri diambil singkat dari nama belakang pemiliknya yaitu "THONAK", yang artinya "Thonak Bersaudara".


Perusahaan ini bergerak dibidang perdagangan umum dan pemasok barang khususnya computer. Perusahaan yang satu ini didirikan tepatnya pada bulan Oktober 2005 dan baru melaksanakan aktivitas selayaknya perusahaan lainnya tepat pada tanggal 01 November 2005. Dalam obsesi, pemilik perusahaan ini bercita-cita merambah seluruh wilayah di daratan Timor dalam pemasaran produk yang dimilikinya. Mau tau ada apa dibalik kesuksesan perusahaan ini, berikut ini penuturan pemilik sekaligus Direktur Thonbers Computer, Gerson Yonathan Thonak, ketika ditemui Pos Kupang di Atambua, Selasa (23/2/2010).

Anda bisa ceritakan sedikitnya awal mula berdirinya perusahaan ini ?

Baiklah. Saya mau ceritrakan bahwa perusahaan ini bergerak dibidang perdagangan umum dan pemasok barang khususnya computer. Perusahaan yang satu ini didirikan pada Bulan Oktober 2005 dan baru melaksanakan aktivitas selayaknya perusahaan lainnya tepat pada tanggal 01 November 2005. Yah, kadang orang bilang, saya terlalu nekad mendirikan perusahaan ini dan saya harus akui bahwa saya bangun perusahaan ini bermodal nekat dan start dengan modal yang pas-pasan.

Pada 5 tahun yang lalu masyarakat NTT umumnya dan khususnya masyarakat Belu masih merasa bahwa computer adalah barang mewah dan mahal. Saya bekerja ekstra untuk mengenalkan dan menunjukan kepada segenap masyarakat bahwa computer bukan lagi barang mewah dan mahal. Meski tertatih-tatih saat awal berdirinya perusahaan ini, toh kami tidak patah semangat. Saya punya keyakinan, semua usaha kalau berjuang dengan sepenuh hati, pasti akan menuai hasil menggembirakan.

Saya berikan nama perusahaan ini diambil dari nama belakang Thonak dan kebetulan saya punya saudara maka saya gabung menjadi Thonbers yang artinya, Thonak bersaudara. Tujuan dari pemberian nama ini agar suatu saat perusahaan tersebut menjadi perusahaan besar dan maju maka akan dikembangkan menjadi perusahaan yang dikelola oleh keluarga-keluarga Thonak khususnya anak-cucu dari pemilik perusahaan tersebut.

Meskipun terlihat sebagai perusahaan keluarga, tapi pengelolaan perusahaan ini dilakukan secara profesional. Ini terbukti dengan beberapa jabatan penting yang masih dijabat oleh karyawan yang bukan Thonak tapi dinilai mampu dibidang tersebut. Kalau ada yang kami lihat punya kemampuan, saya tempatkan menjadi kepala misalnya, kepala cabang, accounting, casier dan beberapa divisi service lainnya.


Bisnis computer ini kan tergolong baru. Bagaimana anda mensiasatinya?
Walau dibilang pendatang baru dengan klasifikasi usaha menengah dan dengan target market yang tergolong susah dengan minat beli yang sangat rendah dan dengan makin ketatnya persaingan dibidang yang satu ini tapi Thonbers Computer merupakan toko computer yang punya nama besar di wilayah sedaratan Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya.

Dan berkat tuntunan Tuhan Yang Maha Kuasa, saat ini Thonbers Computer memiliki beberapa anak cabang perusahaan yang tersebar dibeberapa kabupaten berbeda yang juga sangat berkembang. Ini terbukti dengan adanya gebrakan-gebrakan/promo baru yang menarik dewasa ini dan tentu dengan tawaran harga termurah sedaratan Pulau Timor yang kita bisa temui lewat iklan-iklan surat kabar (Harian Pos Kupang & Harian Timex) dan iklan radio. Dan sebagai harapan, saya memasang target, hingga usianya yang ke-50 (lima puluh) tahun perusahaannya sudah harus menjadi perusahaan yang menguasai market computer (hardware, software & maintenance) sedaratan Timor khususnya Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan memberikan pelayanan yang lebih memuaskan dan tentu dengan harga yang termurah terhadap pelanggan-pelanggan Thonbers Computer. Kita terus promosikan usaha ini dan terbukti dengan banyaknya kerja sama yang dijalin baik itu dengan instansi pemerintah dan swasta, LSM, Sekolah-sekolah, Gereja-gereja, Bank-bank, Perusahaan Swasta, dan lain-lainnya.

Kenapa anda tidak mau jadi PNS ?

Saya sepertinya sudah jatuh hati dengan wirausaha. Saya hanya bisa mengatakan tiada kata yang lebih indah selain mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah memberikan saya talenta dan kehidupan hingga saat ini karena tanpa Tuhan Yesus saya tidak bisa seperti sekarang ini.

Saya harus akui kebanyakan orang di Pulau Timor ini setelah menyelesaikan pendidikannya selalu berharap menjadi seorang PNS. Saya memang terlahir dari keluarga pas-pasan, dan tidak pernah berpikir untuk menjadi PNS. Mau tahu kenapa ?.

Karena saya tidak suka diperintah, tidak suka diatur oleh birokrasi yang berbelit-belit. Bila menjadi seorang PNS berarti kita tidak bisa berbuat banyak kepada masyarakat. Makanya saya memilih menjadi seorang wiraswasta agar dengan talenta dan disiplin ilmu yang saya miliki bisa membantu orang lain terutama bisa menjadi berkat buat orang lain. Semua orang punya jalan hidup dan talenta masing-masing, banyak orang meniti karier atau memulai usahanya dengan banyak cara, ada yang tinggal meneruskan usaha orang tua dan sukses, tapi ada yang dengan susah payah memulai dari titik nol tapi sukses juga seperti yang saya jalankan sekarang ini.

Anda kok begitu berani membuka usaha ini ?
Saya mau katakan bahwa kalau mau maju maka harus nekad. Saya memang termasuk orang nekad, ditengah persaingan bisnis komputer yang cukup menjamur di Atambua. Saya kira dengan letak Kabupaten Belu diwilayah perbatasan dengan negara tetangga Timor Leste, bukan tidak mungkin ini merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Kalau orang dari Timor Leste mau beli perangkat komputer, saya kira tidak harus ke Kupang atau ke Jawa, karena kita di Thonbers Computer menyediakan semua perangkat. Bahkan teknisi kami, saya anggap sangat profesional karena tenaga kami selalu mengikuti pelatihan di luar NTT guna memperdalam ilmu.

Produk apa saja yang dipasarkan di Thonbers Computer?
Produk yang berhubungan dengan computer kita pasti jual disini baik itu, personal Komputer (PC) dan Sparepartnya, Netbook/Notebook (dari yang paling murah-mahal) dan Sparepartnya, Accessories Komputer, accessories Netbook & Notebook, LCD Proyektor, LCD Monitor, Kamera Digital, Handycame, Finger Print, Kamera CCTV/ kamera pengintai dan lain-lain. Bahkan kita juga melayani pembuatan Database Toko/Distributor, Absensi Sidik Jari dan sebagainya. Strategi penjualan yang kami tawarkan adalah secara CASH dan CREDIT sehingga masyarakat bisa memilih sesuai dengan kemampuannya. Banyak pelanggan yang sudah menjali kerja sama dengan perusahaan kami. Saya selalu tekankan kepada staf untuk melayani pelanggan dengan hati. Kami juga memberikan garansi minimal 1 tahun bagi warga yang membeli produk dari kami, sehingga pelanggan merasa nyaman untuk memilih kami sebagai tempat untuk membeli Komputer, Netbook/Notebook, Accessories dan termasuk jasa Service kami. Kami menggandeng KOPERASI TALENTA, BPR.

TANJUNG PRATAMA dalam kaitannya dengan jasa perkreditan. Dalam waktu dekat ini kami juga akan menggandeng lagi salah satu perusahaan Kreditur ternama di Indonesia untuk memberi fasilitas kredit dengan persyaratan sangat mudah kepada masyarakat dan ini adalah bentuk kepedulian THONBERS COMPUTER untuk masyarakat khususnya anak sekolah dan mahasiswa yang belum memiliki komputer/ notebook.

Bagaimana dengan tenaga teknisi dan omset?
Untuk masalah maintenance adalah masalah yang butuh orang-orang khusus yang tentunya didukung dengan pengamalan yang lebih sehingga bisa memberi pelayanan yang lebih terhadap user. Teknisi yang ada selalu diberi training dan pelatihan-pelatihan baik itu di service center di Kupang dan service center di Surabaya. Untuk tenaga marketing kami selalu ikutkan di seminar-seminar motivasi karena menurut kami dengan mengikuti training seperti ini bisa mengupdate skill mereka dam hal pelayanan service terhadap pelanggan dan marketing di perusahaan. Saat ini kami punya 13 orang karyawan.

Khusus untuk omset perbulan, memang tidak menentu kadang naik tapi kadang juga menurun tergantung minat pembeli karena selama ini kami lebih banyak melirik market daerah/ kabupaten. Tapi sejauh ini masih bisa mencapai target perbulannya dan saya tetap berharap kedepan kami bisa menguasai market di daratan Timor dan tentu dengan dukungan semua masyarakat dan tidak terlepas dari pihak Bank karena banyak peluang yang masih belum dia capai karena terhambat oleh modal yang terbatas.

Ada bisnis lain yang mau dikembangkan ?
Untuk bisnis diluar pemasaran komputer saya kira belum terpikirkan. Tapi kami saat ini sudah membuka warung internet (warnet) melayani pemakai 1x24jam. Memang saya akui bisnir warnet belakangan ini di Atambua mulai muncul bagai jamur di musim hujan. Saya kira ini sesuatu yang baik. Kita bersaing secara sehat, asal tidak saling menjatuhkan. Selain itu, kami membuka bisnis warnet ini secara tidak langsung memperkerjakan anak-anak daerah (Belu) yang punya kemauan untuk maju. Jadi di warnet juga di thonbers computer rata-rata anak-anak dari Belu yang saya gunakan tenaganya. Saya memang berharap bisnis yang dikembangkan sekarang ini bisa merambah di semua wilayah di Daratan Timor.(yon)

Mulai Dari Titik Nol
'Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian'. Pepatah ini sangat pas dikenakan pada pria Rote-Ndao yang bernama lengkap, Gerson Yonathan Thonak. Putra bungsu dari lima bersaudara pasangan, Yunus Thonak (ayah) dan Martha Doy (ibu) ini termasuk

nekad membuka usaha komputer. Di tengah persaingan bisnis yang 'menggila' di Atambua, Gerson, begitu dia disapa berani menantang keadaan. Dia menuturkan, pembukaan usaha ini dengan cara susah payah.Memulainya dari titik nol. Tetapi bahkan dengan cara yang unik dan dia sendiri tidak menyangkah akan menjadi Pengusaha sukses seperti sekarang.

Rupanya pemilik rambut gaya jabrik ini menyadari bahwasanya dia terlahir dari keluarga yang pas-pasan. Dan oleh karena itu, hidupnya harus irit, makan apa adanya dan sekolah tanpa uang jajan serta harus jalan kaki berkilo-kilo meter untuk menuntut ilmu di sekolah. Hal ini tidak membuat dia patah semangat dalam menuntut ilmu hingga dia menyelesaikan studinya ditingkat SMP di Pulau Rote pada tahun 1998, setelah dia mendapatkan ijazah SMP, dia bercita-cita untuk melanjutkan sekolah di Kupang tetapi cita-cita itu hampir kandas dengan pendapatan orang tuanya yang hanya cukup makan saja.

Walaupun demikian dia tetap nekad berangkat ke Kupang dengan kondisi yang serba kurang. Bermodalkan uang Rp 500.000, saja untuk biaya pendaftaran sekolah di Kupang. Bahkan sejak masuk SMA sampai kuliah sekarang di STIKOM UYELINDO KUPANG, dia harus mencari uang sendiri untuk membiayai studinya ini.

"Jadi saya sudah merasakan bagaimana pahitnya membuka usaha. Tapi saya percaya, Tuhan Yesus ada bersama saya. Saya sangat yakin, setiap usaha apapun, jika kita sandarkan pada pertolongan Tuhan, pasti ada jalannya. Dan terbukti meskipun saya sedang kuliah, tetapi usaha saya tetap berjalan dan cukup sukses di Atambua ini," jelas suami dari Katrina W Ludji ini.

Ayah dari Delphi Gerina Agustine Thonak ini menambahkan, saat ini usaha yang dia miliki yakni, THONBERS COMPUTER-ATAMBUA (Penjualan & Service Center Computer), Jl. Mohamad Yamin KM.1-Atambua, THONBERS SOFTWARE TRAINING CENTER (Lembaga Kursus Center Computer), Jl. Soekarno-Atambua, T24.net (Thonbers 24.net/Warnet 24 Jam), Jl. Soekarno-Atambua, THONBERS COMPUTER-KEFA (Penjualan & Service Center Computer), Jl. Kartini KM.1-Kefamenanu.

"Kalau TUHAN YESUS berkenan dalam waktu dekat saya akan membuka toko yang khusus jual: Laptop/ Notebook, Service Laptop serta Accessories khusus Laptop di Atambua dan Kupang. Dan target berikutnya adalah membuka lagi cabang di Rote dan Soe," tambah pria hitam manis ini.(fredi hayong)

Data diri: Nama : Gerson Yonathan Thonak Ttl : Rote Sanggaoen, 16 Juni 1981 Istri : Katrina W. Ludji anak : Delphi Gerina Agustine Thonak Orang tua & Saudara: Bapak : Yunus thonak (ayah) dan Martha Doy (ibu) Kakak : Nasper Thonak Kakak : Atriana Thonak Kakak : Nehemia Thonak Kakak : Kristofel Thonak Pendidikan 1. SD IUnpres Sanggaoen: Tahun 1989-1995 2. SMP Negeri 2 Ba'a Lobalain: Tahun 1995-1998 3. SMK Pelayaran Kupang-Lasiana: Tahun 1998-2001 4. Stikom Uyelindo Kupang: a. Diploma III (d3) 2001-2005. b. Strata1 (s1) 2008-Sementara skripsi.

Pos Kupang Minggu 14 Maret 2010, halaman 03 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda