POS KUPANG/ALFRED DAMA
drg. Jefferey Yap

GIGI merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi yang sangat penting. Sayangnya, fungsi pentingnya ini kurang disadari. Gambaran kurang terawatnya gigi dilihat dari tingginya kasus caries gigi. Lebih parah lagi, sebagian pasien rawat gigi menginginkan giginya dicabut.

Sebagai seorang dokter gigi, Jefferey Yap sangat prihatin dengan kondisi ini. Ia sedih karena banyak warga NTT yang memilih mencabut gigi ketimbang menambalnya. "Misalnya ada luka pada tangan dan terus membesar serta infeksi, apakah jari ini mau diamputasi? Tentu tidak mau. Nah, ini sama dengan gigi. Kita lupa, gigi juga organ tubuh yang penting juga," kata drg Jefferey Yap, yang juga Ketua Jurusan Kesehatan Gigi- Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kementrian Kesehatan, NTT ini. Berikut perbincangan dengan Pos Kupang.


Bagaimana Anda melihat perhatian masyarakat NTT terhadap kesehatan gigi?
Tentang kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, fakta bahwa tingkat kesadaran untuk itu sangat renda. Kesadaran memelihara mulut dan gigi dengan baik itu masih sangat rendah. Contohnya, perilaku masyarakat kita yang mencari pengobatan gigi itu bilamana sudah sakit. Bahkan mungkin sudah sampai dua hingga tiga hari sakit baru mencari pengobatan. Sebenarnya dari sisi pendekatan kesehatan salah karena spesifik gigi kalau lubang masih kecil itu memang tidak memberikan peluang ataupun keluhan.

Itu ya sesaat saja sehingga itu diabaikan. Bilamana sudah tiga hari tidak bisa tidur wah... itu baru dikatakan sakit gigi. Kondisi ini jelas sangat menyulitkan bagi tenaga kesehatan untuk penanganan kasus karena yang caries atau lubang gigi itu sudah parah. Jadi seperti penyakit kanker itu sudah ada tahapannya, jadi gigi lubang sudah sakit dan sudah berhari-hari itu sudah sudah tahap terminal, jadi kasusnya sudah parah.

Apakah ada data pendukungnya?
Kami pernah melakukan semacam penelitian. Data yang kami peroleh sangat memprihatinkan, jadi ada indikator misalnya ini performa treatmen indeks (PTI) yaitu indeks untuk menunjukkan penambalan gigi itu hampir nol persen. Itu sekolah-sekolah yang ada di kota saja, jadi ada gigi lubang tapi tidak satu pun yang mendapat penambalan gigi. Salah satu sekolah itu nol persen atau tidak ada sama sekali upaya penambalan, sementara tingkat kejadian caries itu tinggi.

Kami ada spot ada penelitian spot pada kegatan kami mencoba berbicara melalui data. Jadi data yang kami dapat saat kerja lapangan, PTI pada SD yang kami kaji itu hanya 2,64 persen yang sudah mendapat pengobatan, sementara 87 persen itu kondisi gigi yang lubang dan tidak mendapat lubang. Jadi timpang sekali. Di SMP yang sudah mendapat perawatan hanya 0,70 persen. Kalao kami kemarin sampling yaitu 1.700 anak dari 6.000 anak, jadi 28 persen kami mendapat data ini. Di SD misalnya, dari 767 anak yang diperiksa itu jumlah gigi yang caries itu 893.

Jadi kalau dibilang pravelensi penyakit mulut dan gigi saya bisa pastikan total 90 persen masyarakat NTT menderita. Kalau dari sisi pravalensi maka caries gigi paling tinggi dibandingkan yang lain, malaria hanya berapa persen. Tapi kalau gigi saya pikir bisa sampai 90 persen yang berlubang.

Dari survai kami siswa SD itu 23 persen anak itu akan kehilangan gigi tetap, di tingkat SMP lebih besar lagi, yaitu 29 persen dari jumlah yang kami teliti itu akan kehilangan gigi tetap, itu karena giginya sudah lubang besar dan harus dicabut, untuk SMA 12 persen.

Kan masyarakat berpikir, sakit gigi tidak mati...
Betul itu, tetapi jangan lupa bahwa secara patofisiologis gigi termasuk salah satu organ tubuh dan dia melekat satu kesatuan. Sehingga di dunia medik itu dikenal dengan istilah vokal infeksi. Vokal infeksi ini adalah penjalaran infeksi yang bersumber dari gigi ke organ tubuh lain dan itu ada. Secara ilmiah ini bisa dibuktikan. Vokal infeksi, misalnya gigi lubang dan tidak ditangani secara baik, maka dia akan menyebabkan penjalaran infeksi ke tubuh yang lainnya seperti jantung, ginjal, hati dan lainnya.

Ada kasus, seorang pasien yang alami infeksi pada gigi bagian muka atas dan merasa nyeri yang luar biasa, lalu dibawa ke rumah sakit di Kupang dan diduga ada keganasan di paru. Ternyata dirujuk ke Surabaya, dan benar ada infeksi di paru dan sumbernya dari gigi. Jadi vokal infeksi itu suatu perjalanan infeksi yang bersumber dari gigi ke organ tubuh yang lain. Semua organ tubuh bisa kena, seperti jantung, radang otak, paru bisa, dan ginjal juga bisa. Ini bisa terjadi karena edaran darah dalam tubuh manusia itu satu kesatuan.

Artinya secara tidak langsung penyakit mulut dan gigi bisa menyebabkan kematian?
Bisa...!! Itu yang melalui vokal infeksi tadi.

Apa dampak ekonomis dari sakit mulut dan dan gigi?
Jadi yang pertama bahwa kita mengambil contoh dari negara maju, perawatan gigi itu paling mahal daripada perawatan penyakit lainnya. Sehingga masyarakatnya sangat sadar untuk menjaga kesehatan giginya supaya tidak sampai timbul kasus yang parah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan jelas itu sangat memakan biaya, jadi high cost. Jadi di negara maju itu perawatan gigi paling mahal.

Kalau dia sampai lubang dan sampai tambal dan perawatan lebih lanjut itu sangat mahal biayanya. Jadi sisi biaya pengobatan itu untuk pengobatan gigi itu termasuk yang paling mahal. Di Indonesia memang dilematis, banyak variabel yang mempengaruhi. Biaya untuk pengobatan bukan sesuatu yang sangat mahal, tetapi dampak ekonominya akan mengganggu produktivitas . Jadi kalau sakit gigi dua sampai tiga hari, tidak tidur ya tidak bisa kerja dengan baik, ini menganggu produktivitas.

Kalau pada anak-anak ya... tumbuh kembangnya terganggu, itu karena mengganggu proses pengunyaan makanan, nafsu makan hilang, makan ogah-ogahan sehingga tumbuh kembangnya menjadi terganggu. Kemudian dari sisi pengembangan pendidikan, ya dia tidak bisa pergi ke sekolah dengan rutin karena gangguan tadi Kalaupun sampai terjadi kemudian harus pengobatan, maka itu juga membutuhkan pembiayaan, ya kalau untuk bahan-bahan gigi itu termasuk high cost, baik peralatan dan sebagainya. Jadi relatif lebih mahal sedikit dibandingkan perawatan-perawatan yang lain.

Banyak orangtua berpikir bahwa gigi hitam pada anak-anak merupakan hal biasa..
Gigi hitam pada anak-anak ya... ini menjadi keprihatinan kita. Dari waktu ke waktu status kesehatan mulut dan gigi tidak semakin baik, tapi kecenderungannya itu semakin buruk. Trend kesehatan gigi cenderung turun. Gigi yang hitan itu itu bisa gigi yang berlubang, atau bisa karena sebab yang lain tetapi pada umumnya sebab gigi lubang tadi. Dari tinjauan medis, mestinya itu tidak boleh terjadi karena gigi yang lubang itu sama dengan sesuatu penyakit dan itu harus mendapat pengobatan segera.

Nah, manusia diberi dua set gigi, yaitu gigi pada anak-anak yang biasa disebut gigi susu kemudian ada gigi dewasa. Idealnya gigi dewasa itu sedapat mungkin dipertahankan, jangan dicabut. Kalau gigi susu sesuai dengan waktunya bisa cabut mulai dari anak usia enam tahun hingga 12 tahun dan itu ada periode pergantian gigi dari gigi susu ke gigi tetap. Jadi idealnya gigi tetap jangan dicabut.

Saya ambil ilustrasi begini, banyak pasien ke dokter gigi minta dicabut gigiya. Banyak keluhan itu, kalau kita ambil prevelensinya mungkin 8 dari 10 pasien itu permintannya gigi dicabut.

Kan lebih baik dicabut...
Terus terang, ini bagi kalangan medis ini cukup memprihatiknkan, karena seolah-olah gigi tidak ada nilainya. Saya sering memberikan ilustrasi, begini, misalnya ada luka di tangan, kita lihat saja begitu tanpa upaya pengobatan hingga sampai suatu saat luka itu sudah besar dan infeksi maka ini dipotong saja, pasti tidak ada yang mau begitu. Ini sama gigi juga. Gigi juga dicabut ya, buang di tempat sampah, bagaimana dengan organ tubuh yang lain. Bagi saya gigi itu juga organ tubuh yang harusnya mendapat penghargaan yang sama dengn organ tubuh yang lain.

Muncul lagi kesadaran yang jauh dari harapan bahwa gigi harusnya dirawat, ini yang masih memang masih kurang. Nah, bagaimana kalau gigi itu sudah dicabut, ya tidak apa-apa gigi itu dicabut saja, kan ada gigi palsu. Ada hal-hal yang menganggu juga misalnya kita memakai barang yang palsu seperti kaki palsu, tangan palsu dan lainnya enak tidak itu?

Itu yang saya sering komunikasikan dengan pasien. Kalau sekedar cabut gigi itu gampang, tapi kemudiannya bagaimana?

Oke ada gigi palsu. Pertanyaan saya, kalau Anda diminta pakai kaki palsu apakah anda rasa nyaman. Nah.. bayangkanlah seperti itu, jadi namanya yang palsu di tubuh kita tentu kita merasa nyaman, tapi untuk rongga mulut masyarakat tidak merasakan itu sehingga dengan suka rela mau mencabut gigi dengan pikiran dari pada susah-susah membuat sakit dan sebagainya. Ini dilematis, bagaimana pemahaman masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut ini sangat rendah.

Bagaimana dengan pola makan dan merawat kesehatan mulut dan gigi?
Pola makan itu sangat mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut, baik itu waktunya maupun jenis makanannya, bagi yang sering ngemil pasti giginya akan banyak yang lubang, kemudian dari sisi jenis makanan ini juga merupakan hal yang sangat mempengaruhi kesehatan gigi pada anak-anak.

Sekarang jajanan sekolah, ini sangat merugikan bila ditinjau dari segi kedokteran kesehatan gigi karena makanan ini sangat bersifat cariogenik (zat yang bisa merusak gigi-red). Kemudian pada anak-anak yang minum susu botol lama, anak kecil yang makannya berjam-jam itu sudah pasti giginya jelek. Dari pola makan kita lihat terjadi cukup banyak pola yang mendasar terhadap perubahan pola makan sehingga ini menjadi membuat kesehatan giginya turun, tidak dibarengi dengan peningkatan kesadaran untuk bagaimana merawat gigi yang baik dan benar.

Tapi pada zaman dulu jarang ya, ada keluhan gigi
Ya...jadi pola makan berubah. Kalau anak-anak zaman dulu itu makannya kan lebih bersifat alamiah, sekarang lebih ke jajanan. Jadi sudah berubah pola makan ini. Kalau ini tidak dibarengi dengan pola perawatan mulut dan gigi maka ini trend kasus banyak yang turun, trend penyakit turun.

Pola asuh dan pola pemeliharaan gigi yang baik bagaimana sih? Yang pertama, yang bisa dilakukan sendiri di rumah ya seperti tadi dengan mengatur pola konsumsi baik waktunya maupun jenisnya. Kedua, bagaimana rongga mulut itu bisa bersih lebih lama, jadi menjaga kebersihan rongga mulut. Caranya mengatur pola makan dan mengatur sikat gigi yang teratur.

Jadi sikat gigi merupakan satu variabel yang sangat vital untuk mencegah terjadinya caries gigi. Jadi sikat gigi merupakan cara yang menentukan tingkat keberhasilan status kesehatan mulut dan gigi yang lebih baik. Jadi sebenarnya di rumah itu saja sudah cukup.

Kalau anak-anak kenapa takut dokter gigi? Padahal mereka juga perlu dokter gigi
Iya..iya... itu manusiawi sekali kalau anak-anak takut ke dokter gigi. Suatu studi sosiologis mengatakan, anak kalau sudah diperkenalkan sejak dini ke dokter biasanya tingkat ketakutan akan berkurang, bahkan akan hilang. Seorang anak yang tidak pernah kenal dokter gigi kemudian pada saat dia sakit dan mengajak dia ke dokter gigi, maka tidak akan mau. Itu wajar.

Apalagi kalau sudah sakit ke dokter gigi ya, disuntik pasti tambah sakit. Nah, seorang anak lebih baik kita memperkenalkan dengan sarana kesehatan pada saat dia tidak sakit kita bawa ke fasilitas sekadar kontrol, maka itu akan lebih positif sehingga dia anggap itu barang biasa, tapi kalo sudah sakit baru kita katakan ayo ke dokter, ya pikirnya pasti suntik ya jadinya takut.

Apakah sudah ada studi medis atau belum bahwa makan sirih itu menguatkan gigi?
Ada sisi positif, tapi sisi negatifnya lebih besar. Sisi positifnya hanya sedikit. Memang secara fisik dalam sirih pinang itu ada kandungan antiseptic dan ada sifat serat tadi. Jadi serat itu membantu membersihkan gigi sehingga bagi yang intensitas sirih pinangnya tinggi biasanya kejadian caries itu rendah karena ada antiseptic tadi dan bersifat serat.

Tetapi di balik itu, pengaruh negatifnya dia merusak jaringan penyangga gigi atau jaringan cariedental yang menyebabkan gusi dan jaringan di bawahnya mengalami iritasi dan ini berkepanjangan sangat mengganggu. Pada usia lanjut, biasanya akan terjadi goyangan gigi. Dan, sirih pinang yang terlalu berlebihan juga menjadi cikal bakal terjadinya kanker pada rongga mulut yang cukup tinggi.

Jadi kalau konsumsi kapur yang terlalu berlebihan itu juga menyebabkan kejadian kanker pada komunitas yang mengonsumsi sirih pinang. Jadi efek positifnya jauh lebih kecil dibanding dengan negatifnya. Tapi ini budaya, jadi untuk menghilangkan orang makan sirih pinang ya susahnya bukan main. Di sisi lain ditinjau estetikanya, kalao makan sirih pinang itu kan nanti buang sana, buang sini.

Akhir-akhir ini para dokter gigi terus mengkampanyekan kesehatan mulut dan gigi. Apakah ini terkait perilaku orang NTT yang belum sadar dengan kesehatan mulut dan gigi?
Ya.. tingkat kesadaran memang rendah, sehingga dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang memang mengkampanyekan pentingnya mulut dan gigi untuk kehidupan kita. Apresiasi yang positif untuk semua pekerja atau komunitas gigi yang tergerak untuk mengkampanyekan. Dari kami sendiri, institusi JKG ini merupakan satu-satunya institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan tenaga perawat gigi. Nah, kami punya visi menjadi kawah candara di muka dalam memperjuangkan pembangunan kesehatan gigi dan mulut di kawasan timur Indonesia.

Bagaimana dengan perhatian pemerintah?
Perhatian pemerintah ada tapi masih sangat kurang. Masih kurang karena dari sisi ketenagaan juga masih kurang. Kemudian dari sisi peralatan dan bahan itu yang paling dikeluhkan oleh banyak tenaga kesehatan gigi yang ada saat ini di lapangan, itu sangat kurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Tugas dari pemerintah untuk mensejahterakan dan menyehatkan masyarakat termasuk salah satu adalah gigi dan mulut.

Ada tenaga di puskemas tapi tidak ada alat dan bahan, jadi mau ngapain mereka? Dari sisi lain, kebutuhan riil dari sekitar 80 masyarakat dalam satu daerah butuh perawatan gigi, tapi alat dan bahan tidak ada. Ada dokter gigi PTT yang sudah digaji mahal-mahal, bertugas di puskemas itu tidak bisa berbuat banyak karena alat dan bahan untuk kesehatan gigi tidak ada. Jadi penempatan tenaga juga perlu dikaji dengan baik bahwa alat dan bahan itu harus tersedia untuk bisa menjamin tenaga yang sudah ada itu bisa diberdayakan untuk sesuai dengan bidangnya.

Di sekolah-sekolah juga ada UKGS (Unit kesehatan gigi sekolah). Bagaimana Anda melihat itu?
Untuk tenaga kesehahtan gigi, tenaga UKGS (Unit kesehatan gigi sekolah) harus direformasi. Kita tidak bisa lagi hanya berbicara- berbicara jadi penyuluh, tapi harus ada upaya proteksi terhadap caries gigi tadi. Tidak sekedar UKGS turun penyuluhan dan selesai tetapi juga menjadi pertnayan alat dan bahan itu menjadi masalah lagi.(alferd dama)


Menyukai Taman

KESIBUKAN sebagai tenaga pengajar sekaligus dokter gigi tidak membuat hobinya membuat dan merawat taman hilang begitu saja. Bahkan, jebatannya sebagai Ketua Jurusan Keperawatan Gigi (JKG) Polteskes Kemenkes RI ini digunakan untuk mengajak para mahasiswa untuk membuat taman gigi di halaman belakang kampus tersebut.

Tempat yang tadinya dijadikan untuk membuang sampah telah diubahnya menjadi sebuah taman dengan bunga-bunga yang indah. Di bawah pohon yang nyaman telah ada beberapa tempat duduk. Ia menamakan tempat ini Ganina Garden.

"Jadi itu sekilas saja, sejak 2006 saya ini mau dibilang sebagai tempat yang kotor. Jadi awal masuk, saya mau wujudkan green, saya juga ingin mengubah back office menjadi front office. Ini dulu tidak ada yang duduk-duduk begini," jelas suami dari Elisabet Tiwu ini.

Karena taman di berada di dalam kawasan Kampus JKG, maka taman ini dipasang beberapa gambar dan ajakan untuk merawat gigi. "Ini tematik outdor exebition. Banyak informasi untuk promosi kesehatan gigi dan mulut dan cukup banyak anak-anak SD yang kami bawa ke sini untuk penyuluhan. Jadi dengan sederet informasi tentang gigi dan mulut, jadi ini memang fasilitas untuk kampanye, " jelasnya.(alf)

Data Diri ---------------- Nama : drg.Jefferey Yap, M.Si Tempat Tanggal Lahir : Atambua 11 Mei 1964 Jabatan : Ketua Jurusan Kesehatan Gigi -Poltkes Pendidikan SDK I Atambua tamat 1981 SMPK Donbosko Atambya tamat 1984 SMAK Syurya Atambua tamat 1987 S1 Fakultas Kedokteran Gigi-Universitas Trisakti, Jakarta selesai thn 1993 S2 Universitas Airlangga-Surabaya selesai tahun 1999 Istri ; Natasya Juliano Jeson


Pos Kupang Minggu 16 Mei 2010, halaman 03 Lanjut...



LINGKUNGAN Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang di kampus utama, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kupang sekarang semakin asri saja. Nyaris sama seperti ketika universitas ini dipegang Pater Dr. Herman Embuiru, SVD.

Tetapi ada sesuatu yang lain. Tidak hanya baru, tetapi juga perlu di Unwira saat ini. Apa itu? Akses internet gratis untuk para mahasiswa dan dosen. Dengan sistem hotspot, siapa saja yang punya laptop atau komputer bisa berselancar di dunia maya, internet, di lingkungan kampus Unwira.

Layanan ini dimulai 1 November 2009, dua bulan setelah Pater Yulius Yasinto, SVD, MA, MSc, dilantik menjadi Rektor Unwira, 26 September 2009. Boleh dibilang, inilah tonggak pertama yang dipancang Pater Yulius setelah mengambilalih kemudi Unwira. "Kita ingin kembangkan sistem informasi ilmiah dan sistem informasi administrasi secara online. Dengan sistem informasi ilmiah, para dosen bisa gunakan website untuk memasukkan bahan ajar dan mahasiswa mengaksesnya melalui internet. Dengan sistem informasi administrasi, kita masukkan semua informasi dan data tentang Unwira ke portal Unwira, dan siapa saja bisa mengaksesnya," kata Pater Yul, panggilan akrab Rektor Unwira.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (6/5/2010), Pater Yul menjawab sejumlah pertanyaan penting tentang Unwira. Apa yang dilakukan di Unwira, katanya, tak lain untuk menekankan kembali Unwira sebagai menara ilmu pengetahuan sesuai makna pada namanya, widya mandira.


Tahun ini Unwira memasuki usia ke-28 tahun. Apa makna usia ini bagi Unwira?
Kalau dianalogikan dengan manusia, pada tahun ke 28 ini, Unwira telah memasuki usia dewasa, tapi belum sepenuhnya matang. Sebagai seorang 'ibu' (almamater), Unwira sudah melahirkan 9.600 alumni. Biasanya seorang manusia itu baru menjadi benar-benar matang menjelang usia 40 tahun. Tapi sebuah universitas mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk menjadi matang. Bahwa Unwira tetap eksis sampai usia 28 tahun di tengah masyarakat NTT, bagi kami menandakan adanya kepercayaan masyarakat terhadap produk Unwira dan proses pendidikan dan pembentukan manusia muda yang berlangsung di dalamnya. Namun pada sisi lain, masih ada banyak harapan masyarakat yang belum dapat kami penuhi. Mungkin inilah makna terdalam yang kami petik pada usia ke-28 tahun ini: rasa syukur untuk kepercayaan dan dukungan masyarakat dan sekaligus tantangan untuk menjadi lebih baik dan matang di tahun-tahun mendatang.

Dibanding dengan dulu, sekarang pamor Unwira kok makin menurun? Apa pendapat Pater?
Pamor itu berhubungan erat dengan kesan publik terhadap performans Unwira dan lulusan-lulusannya. Saya sering mendengar bahwa Unwira di masa Pater Herman Embuiru dulu pamornya luar biasa. Lalu makin menurun di periode berikutnya, sempat naik lagi, dan akhirnya anjlok. Tapi menurut saya, pamor dan kualitas itu berbeda. Kualitas itu punya instrumen-instrumen yang jelas untuk mengukur tinggi rendahnya, sedangkan pamor hanya tergantung dari kesan umum yang diperoleh masyarakat. Kalau diukur dari minat mahasiswa, dalam tahun akademik 2009/2010 mahasiswa baru yang masuk Unwira ada 1.300 orang, terbanyak dalam sejarah Unwira. Dulu akreditasi belum menjadi hal yang wajib, sekarang akreditasi merupakan ukuran untuk segala-galanya. Dan sebagian terbesar program studi di Unwira sudah terakreditasi. Dulu Unwira tidak mempunyai banyak saingan, sekarang sudah ada lebih dari 30 PTS di wilayah NTT yang menjadi pesaing Unwira. Dan paling kurang di mata DIKTI dan Kopertis Wilayah VIII, Unwira tetaplah salah satu yang terbaik di kalangan PTS di wilayah NTT untuk kualitas EPSBED, untuk jumlah dan kualitas dosen, dan untuk sarana-prasarana. Selain itu, lulusan-lulusan Unwira sampai sekarang masih relatif mudah memperoleh pekerjaan. Kalau sekarang dikatakan pamor Unwira menurun, saya menduga itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, kelambanan Unwira mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan-perkembangan baru. Dan yang kedua, kegagalan komunikasi publik Unwira.

Unwira adalah salah satu dari enam universitas SVD sejagat. Bagaimana sebetulnya perbandingan Unwira dengan lima universitas lainnya?
Betul, selain Unwira, SVD mengelola lima universitas lain, kebetulan semuanya di Asia dan Pasifik. Fu Jen University di Taipeh (dikelola bersama Jesuit, SSpS dan Keuskupan), Nanzan University di Nagoya, Jepang (dikelola bersama Keuskupan dan awam), San Carlos University di Cebu City, Filipina, Holy Name University di Tagbilaran City, Bohol, Filipina, dan Divine Word University di Madang, Papua New Guinea. Dibandingkan dengan tiga universitas yang pertama, Unwira masih kalah jauh dalam segala-galanya. Tapi perlu diingat, semua universitas itu sudah jauh lebih tua dari segi usia. Fu Jen, misalnya, sudah berusia hampir seratus tahun dan Nanzan sudah ada sejak tahun 1946. Demikian juga San Carlos sudah berusia cukup tua. Ketiga universitas tersebut mempunyai tradisi akademik yang sangat kuat, ditopang oleh staf dosen yang berkualitas, kegiatan penelitian yang intensif dan bermutu internasional, jaringan kerja sama internasional yang luas, dan tentu saja fasilitas/sarana prasarana berstandar internasional. Unwira masih perlu belajar banyak hal dari mereka. Tahun 2011 nanti, pimpinan ke enam universitas SVD sejagat itu akan mengadakan pertemuan koordinasi di Unwira sekaligus menjajagi kerja sama yang lebih luas antara Unwira dengan ke lima universitas SVD lainnya.

Apa komitmen Unwira di tengah persaingan global?
Komitmen kami tentu saja memacu Unwira untuk dapat mencapai standar internasional dalam bidang pengajaran dan penelitian, fasilitas dan mutu pelayanan terhadap masyarakat. Tapi hal ini sangatlah tidak mudah. Persaingan global sekarang berpusat pada inovasi ilmu pengetahuan melalui penelitian (research university) dan penggunaan teknologi secara meluas (technology based university). Untuk itu perlu perubahan etos akademik secara mendasar, terutama di kalangan dosen. Para dosen yang hanya mampu mengajar tapi tidak dapat melakukan penelitian secara kontinyu dan tidak mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran inovatif, tidak laku dalam persaingan global. Universitas yang ketinggalan dalam penggunaan teknologi informasi juga akan kalah dalam persaingan global. Unwira bertekad untuk melakukan perubahan mendasar dalam kedua hal tersebut.

Setelah 28 tahun berdiri, apa sebetulnya keunggulan yang jadi trade mark Unwira?
Dulu trade mark Unwira adalah disiplinnya. Tapi saya pikir itu hanyalah satu sisi dari keunggulan yang harus diciptakan. Unwira sudah, sedang dan akan mengembangkan tiga jenis keunggulan sebagai trade mark-nya: keunggulan akademik, keunggulan karakter lulusan, dan keunggulan citra lembaga. Keunggulan akademik ditunjukkan baik oleh pengakuan formal oleh negara dalam bentuk peringkat akreditasi, maupun oleh meningkatnya mutu penelitian yang dihasilkan Unwira dan bagaimana itu dipersembahkan sebagai kontribusi nyata kepada masyarakat. Keunggulan karakter lulusan ditunjukkan oleh performans alumni Unwira yang dilandasi nilai-nilai kemanusiaan universal (jujur, disiplin, menghargai martabat manusia), yang mandiri, terampil, dan mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Citra unggul lembaga ditandai oleh meningkatkan kepercayaan dan rasa hormat masyarakat terhadap lembaga Unwira.

Dulu orang bangga menyebut diri lulusan Unwira, sekarang ada kesan sebaliknya.....
Menurut saya, kesan seperti ini terlalu menggeneralisasi. Kalau ada sejumlah orang yang tidak berbangga sebagai lulusan Unwira sekarang, mereka pasti mempunyai alasan tersendiri dan kami harus menghormati sikap mereka. Tapi secara umum saya kok tidak mendapat kesan seperti itu. Hampir semua alumni Unwira yang pernah saya temui, entah dari masa dulu maupun yang baru lulus pada tahun-tahun terakhir, tetap bangga menyebut diri sebagai lulusan Unwira.

Juga ada kesan bahwa kuliah di Unwira itu mahal. Betul demikian?
Kesan bahwa kuliah di Unwira itu mahal menjadi semacam stigma yang sulit dihapus dari Unwira. Padahal, selama hampir 10 tahun terakhir Unwira tidak pernah menaikkan biaya kuliah secara signifikan. Pada saat yang sama, ada banyak lembaga pendidikan lain, termasuk lembaga pendidikan negeri, yang biaya pendidikannya sudah sama atau bahkan lebih tinggi dari biaya kuliah di Unwira. Biaya kuliah di Unwira bahkan lebih rendah dari biaya pendidikan di beberapa sekolah menengah swasta favorit di Kota Kupang. Adalah komitmen para pendiri dan pemilik Unwira untuk melayani masyarakat NTT yang mempunyai kemampuan ekonomi pada umumnya terbatas. Karena itu Unwira tetap menyesuaikan biaya kuliah dengan kemampuan ekonomi masyarakat NTT pada umumnya.

Saat menerima estafet, pater lihat apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan?
Di antara sekian banyak persoalan yang saya temukan, saya melihat bahwa problem komunikasi internal dan eksternal perlu mendapat perhatian serius. Sejak awal masa tugas saya, bahkan sebelum dilantik, saya coba memperbaiki komunikasi internal, yakni antara pimpinan dan perangkat struktural lainnya dalam lingkungan universitas, dan antara pimpinan dan para dosen pegawai, serta di antara para dosen dan pegawai. Saya juga mengusahakan komunikasi yang lebih cair dengan Yapenkar, yang adalah pengelola Unwira. Secara eksternal, komunikasi publik Unwira juga perlu perbaikan yang mendasar. Menyediakan informasi yang terbuka, lengkap, cepat dan akurat tentang Unwira kepada masyarakat luas merupakan salah satu prioritas saya.

Perubahan apa yang akan pater bawa untuk Unwira?
Seperti saya katakan di atas tadi, perubahan yang kami mau bangun di Unwira sekarang ini berhubungan dengan peningkatan keunggulan akademik, keunggulan karakter lulusan, dan keunggulan citra lembaga. Ada banyak program kerja yang telah kami tetapkan untuk mengejar tujuan tersebut. Untuk peningkatan kualitas akademik, misalnya, saya mendorong semua program studi untuk secara teratur mengadakan penyesuaian atau update kurikulum agar lebih menjawabi tuntutan masyarakat dan dunia kerja. Kami juga mengadakan perbaikan-perbaikan mendasar di bidang administrasi akademik, mendorong para dosen untuk lebih rajin meneliti. Sedangkan untuk membentuk karakter lulusan, kami menjalankan program-program tambahan untuk pembentukan karakter mahasiswa, agar penekanan tidak berat sebelah hanya pada aspek kognitif. Tapi di atas segala-galanya, ada satu perubahan mendasar yang ingin saya terapkan, yakni 'melayani dengan hati'. Ini menyangkut perubahan etos kerja secara mendasar. Para dosen yang mengajar dengan hati seorang bapa dan ibu, para pegawai yang melayani para mahasiswa dan sesama rekan kerja dengan hati seorang sahabat, para pejabat universitas dan fakultas yang melakukan koordinasi dengan hati seorang gembala.

Bagaimana kualifikasi dosen di Unwira saat ini? Berapa banyak S1, S2 dan S3?
Unwira sekarang ini mempunyai 21 orang dosen tetap berkualifikasi doktor, 108 orang dosen tetap berjenjang S-2 , dan sisanya 69 orang masih berjejang S-1. Dari antara 69 orang yang berjenjang S-1 ini, ada 20 orang yang sedang dan akan mengambil studi S-2 dalam tahun ini. Sisanya akan dibiayai studi lanjutnya dalam 2-3 tahun mendatang. Perlu dicatat, sebagian besar dari dosen yang berjenjang S-2 dan doktor ini dibiayai studi lanjutnya oleh Yapenkar/Unwira, dengan bantuan berbagai sponsor. Jadi, investasi Yapenkar/Unwira untuk peningkatan kualitas dosen selama 28 tahun usianya sangatlah besar.

Eksodus dosen dari Unwira juga banyak. Konon salah satu faktornya adalah gaji dosen yang kecil. Benarkah itu?
Haruslah diakui bahwa eksodus dosen Unwira ke tempat lain akhir-akhir ini cukup banyak. Eksodus paling menonjol terjadi ketika ada pemilihan legislatif. Pada pemilu legislatif 2009, ada 7 orang dosen dan pegawai Unwira yang lolos sebagai anggota DPRD Propinsi dan kota.

Eksodus lain terjadi pada dosen-dosen muda/baru, yang mengikuti test PNS dan lulus, tapi jumlahnya tidak signifikan. Apakah alasannya karena gaji yang kecil? Bisa saja. Toh, banyak orang sekarang yang mengejar kursi legislatif untuk motivasi kesejahteraan belaka, dan bukan karena idealisme, apalagi ideologi. Tapi persentase dosen dan pegawai Unwira yang bertahan dan tetap berkomitmen penuh pada Unwira, walaupun dengan gaji kecil, jauh lebih besar daripada mereka yang eksodus. Kami tetap melakukan usaha peningkatan kesejahteraan, dengan target minimal setara dengan gaji PNS.

Tapi tujuan kami bukan untuk mencegah orang eksodus menjadi anggota legislatif atau PNS. Kalau orang memang sudah lemah komitmennya terhadap profesi dosen, biar dibayar setinggi apa pun, kalau ada tawaran lain yang lebih tinggi dan menarik, dia akan tetap lari juga. Tujuan kami adalah membuat mereka yang masih setia dan kuat komitmennya pada profesi dosen dan pegawai Unwira, merasa mendapatkan imbalan yang layak untuk jasa dan komitmennya. (tony kleden)



Dua Gelar Ketimbang Doktor
DIBANDING dengan para pendahulunya, Pater Yulius Yasinto, SVD, MA, MSc, jauh lebih muda ketika memegang kemudi Unwira. Ketika dilantik menjadi rektor 26 September 2009, Pater Yul, nama panggilannya, baru menginjak usia 44 tahun. Sementara empat pendahulunya, Pater. Dr. Herman Embuiru, SVD, Pater Yan Menjang, SVD, MA, Pater Yan Bele, SVD, MA dan Pater Dr. Cosmas Fernandez, SVD memegang kendali Rektor Unwira ketika sudah di atas usia 50 tahun.

Tentu saja, usia juga ikut mempertebal pundi-pundi pengalaman. Pater Herman Embuiru, misalnya, siapa tidak kenal? Sosok ini seolah dilahirkan menjadi rektor. Dia rektor di mana-mana. Dia piawai, telaten dan punya kharisma menangani sekolah.
Pater Yul, apa yang ada padanya? Percaya diri kekuatan utamanya. Karena itu jangan ragu terhadap anak pasangan Alfonsus Tahu dan Dominika Unut yang lahir di Weleng, Satarteu, Manggarai (sekarang masuk Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur) ini. Meski belum selama para pendahulunya, Pater Yul juga punya pengalaman di dunia pendidikan. Pria yang ditahbiskan menjadi imam 19 September 1993 di Ruteng ini pernah menjadi Kepala SMUK Colegio Maliana, Timor Timur (1995-1998) dan juga Rektor Instituto de Ciencias Religiosas, Dili, Timor Leste (2002 2005).

Pater Yul memang 'muka baru' di Unwira. Dia baru bertugas di Unwira sebagai Sekretaris Yapenkar, pengelola Unwira, November 2008. 'Muka baru' itu seakan distigmakan kepadanya dalam suksesi Rektor Unwira medio tahun lalu. Tetapi dia kuat karena mendapat banyak dukungan. "Saya memang 'orang baru' di Unwira. Tapi saya sebenarnya sudah lama bersentuhan dengan Unwira. Paling kurang dua kali saya hampir ditempatkan di Unwira, yaitu tahun 1994 dan tahun 2002, tapi batal karena ada kebutuhan pada tempat kerasulan yang lain.

Kebetulan juga saya mengambil spesialisasi dalam studi perencanaan sosial bidang pendidikan ketika studi S2 di London. Karena itu saya merasa cukup percaya diri ketika diberi kepercayaan sebagai Rektor Unwira. Tapi lebih dari itu semua, saya merasa kuat untuk maju, karena saya yakin tidak berjalan sendirian. Ada banyak tenaga handal dan berpengalaman di Unwira yang siap membantu saya," kata Pater Yul yang lincah memainkan sejumlah alat musik ini.

Tentang studinya di London, Pater Yul punya cerita sendiri. Mulanya dia ingin mengambil S2 di London School of Economics and Political Science yang bergengsi itu. "Tetapi ijazah sarjana filsafat agama susah masuk di sana. "Makanya, saya kuliah duluan di Universitas Lancaster, Inggris. Di sini sebenarnya hanya batu loncatan untuk ke London School of Economics and Political Science," tuturnya.

Maka, dengan didukung sistem pendidikan di Inggris, Pater Yul menyabet dua gelar S2 sekaligus. Di Universitas Lancaster dia meraih gelar MA di bidang Contemporary Sociology dan di London School of Economics and Political Science, dia menyabet gelar MSc untuk bidang Social Policy and Planning.

"Waktu itu saya pikir, daripada ambil doktor, mendingan ambil dua gelar S2. Kalau dua gelar khan bisa saling komplementer, saling melengkapi, ketimbang hanya satu," katanya. Betul juga! (len)


Pos Kupang Minggu 9 Mei 2010, halaman 03 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA Djemi Lassa

MELEWATI masa kanak-kanak hingga remaja dengan bekerja keras merupakan masa lalu yang pahit bagi Djemi Lassa. Sebab, saat anak-anak seusianya menikmati masa muda dengan bermain dan berkreasi, pria asal SoE ini malah harus bekerja keras membantu kedua orangtuanya.

Orangtuanya sebagai pengusaha yang bangkrut menuntutnya ikut menanggung beban keluarga. Bukan saja sebagai penjual kue, dia juga pernah bekerja sebagai pembuat batako, pendorong kereta dan pemikul balok kayu di hutan.


Namun semua ini dijalaninya dengan senang hati, bahkan Djemi merasa ini pelajaran sangat berharga yang membentuk mentalnya untuk menjadi seorang pengusaha.

Usahanya yang kini mulai maju sebenarnya berawal dari usaha menjual komputer bekas. Namun kini Djemi memiliki beberapa unit usaha yang sedang berkembang.

Saat bercerita dengan Pos Kupang di ruang kerjanya di Kantor Timorese Group, Jalan Tom Pello-Kupang, dirinya sangat ingin memotivasi anak-anak dan remaja penjual kue, pendorong kereta dan pekerja lainnya untuk bersemangat.

Karena, kesempatan menjadi penjual kue merupakan sekolah menempa mental mereka. Berikut perbincangan Pos Kupang dengan Djemi Lassa.

Anda kini menjadi seorang pengusaha muda yang sukses. Bagaimana perjalanan Anda hingga sampai saat ini?

Yang menarik itu kalau dihubungkan dengan masa kecil, saya ini anak kedua dari enam bersaudara. Masa kecil saya tidak terlalu bagus. Dalam arti begini, waktu itu papa saya memiliki usaha, tapi bangkrut. Jadi saya ikut kerja membantu keluarga. Kerjanya ganti-ganti. Ini untuk menghidupkan keluarga kami. Bapak saya tanam padi di sawah di sekitar Takari dan tanam hasil bumi lainnnya, seperti bawang dan wortel. Nah, yang menarik saya ketika mulai masuk SD kelas VI sampai SMP itu saya berjualan kue. Kue itu ditaruh di keranjang lalu saya menjual kue keliling kota. Ini saya kerjakan sampai saya masuk SMA. Jualan kue keliling ini mulai pagi pukul 05.00 Wita. Mama mahir buat kue. Jadi kue yang dibuat mama ini saya yang jual. Jualan sampai jam 06.30Wita. Setelah itu kembali ke rumah karena harus sekolah. Nah pulang sekolah jual lagi.

Apa pekerjaan ayah Anda saat itu?
Papa saya itu penebang kayu di hutan. Jadi saya juga pernah ikut papa ke hutan. Kerjaan saya seperti yang lainnya, yaitu memikul balok kayu dari hutan untuk dibawa ke pinggir hutan bahkan sampai di tepi jalan atau di tempat yang bisa dijangkau oleh truk untuk mengangkutnya. Anda bisa bayangkan, saya memikul kayu di hutan, jalan jauh bahkan mungkin berkilo-kilo meter. Jadi dulu saya cari itu dengan cara begitu sampai pernah saya sakit malaria karena tinggal hampir satu bulan di kampung. Ya banyak hal. Saya juga pernah membantu papa waktu usaha sawah, misalnya usir burung di sawah. Itu hal yang bisa kita kerjakan. Bahkan sampai di SMA saya pernah ikut cetak batako. Waktu itu saya dapat honor Rp 100 per batu.
Nah, waktu berjalan saya masuk SMA.

Tapi Anda tetap sekolah? Apa cita-cita Anda waktu itu?
Saya tetap sekolah, dan saya punya cita-cita waktu itu mau jadi dokter. Cuma waktu kelas II dan kelas III SMA, saya mulai berpikir kalau saya sulit jadi dokter dan mama tidak mungkin mengizinkan saya sekolah dokter karena masalah ekonomi keluarga. Karena mama hanya seorang ibu rumah tangga yang membantu papa saya dengan menggoreng kripik dan jualan. Jadi mustahil bisa kuliah.

Tapi Anda bisa kuliah?
Ya, waktu itu ada peluang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan beasiswa. Peluang itu diberikan Universitas Petra- Surabaya tahun 1996. Waktu itu saya tes dan sangat bersyukur bahwa saya lulus. Meski lulus, saya masih bingung karena beasiswaa itu full tanpa uang makan dan minum. Nah, uang makan minum ini dari mana, saya sempat bingung juga karena saat itu ekonomi keluarga kami belum membaik. Tapi saya tetap kuliah, meski setengah mati, mama tetap mengirimkan saya uang Rp 150 ribu perbulan, itu untuk uang penginapan dan makan-minum. Meski hanya Rp 150 ribu, juga tetap sulit, tapi luar biasa juga karena meski dalam keadaan sulit mereka masih mau membiayai saya untuk bisa kuliah di Universitas Petra Surabaya. Waktu itu saya masuk jurusan teknik sipil.

Apa rencana Anda waktu itu?
Saya masuk teknik sipil juga sama seperti teman-teman lain, jadi cita-cita gampang yaitu tamat kuliah kerja pada kontraktor untuk menggarap proyek dan kita sebagai insinyur dan waktu itu lagi ramai-ramainya. Tapi anehnya waktu mulai tamat, pikiran saya berubah. Kebetulan skripsi saya judulnya manajemen proyek. Manajeman proyek ini lebih pada bisnis kontraktor. Jadi tidak ambil di struktur, tapi saya ambil strategi bisnis kontraktor.
Pada era krisis 1997-1999, waktu itu dosen saya bilang begini, Jimy, kamu hanya perlu mempelajari semua strategi bisnis yang ada. Sumber strategi bisinis apa pun dipelajari dan dirangkum. Ketika saya coba dan masuk mempelajari strategi bisnis jadi mulai dari bisnis retail, bisnis kontraktor, bisnis konsultan, maka ketertarikan saya lebih ke arah situ, jadi saya baru sadar memang mungkin jurusan yang saya ambil itu salah. Tapi, saya tetap menyelesaikan kuliah hingga selesai.

Bagaimana Anda bisa berbisnis jual beli komputer?
Jadi sebelum skripsi, saya kembali ke Kupang dan naik kapal lau. Waktu itu, saya baca-baca iklan di salah satu koran. Saya lihat ada orang jual komputer bekas dan komputernya murah yaitu hanya sekitar Rp 1 juta-an. Saya berpikir, wah... ini komputer kayaknya bisa dijual di Kupang. Waktu itu dengan uang sisa yang saya peroleh dari kaka, kebetulan kaka sudah kerja, jadi saya beli satu unit dan bawa ke Kupang. Di Kupang saya tawarkan kepada kawan-kawan, "hai mau komputer" waktu itu saya jual dengan harga Rp 2 juta-an dan ternyata mendapat sambutan baik dan banyak yang pesan. Masalah waktu itu adalah saya pergi beli sendiri di Surabaya dan membawanya ke Kupang dengan kapal Dobonsolo. Saya sendiri yang beli di Surabaya, saya yang pikir sendiri di kapal dan bawa sampai di Kupang. Anda bayangkan, saya pikul komputer ini dalam dos-dos bekas. Kalau komputer baru masih mendingan, ini komputer bekas. Jadi pertama orang pesan dua-tiga unit, lama-lama orang pesan lagi lima-enam unit. Jadi semakin banyak lalu terpikir oleh saya untuk punya tempat semacam rumah sendiri. Saya kontrak rumah. Nah, beta kemudian kontrak rumah di RSS Liliba No D 47. Saya kemudian kembali ke Surabaya dan membeli 10 unit komputer, kemudian mulai tawar kepada teman-teman dan begitu laku. Saya kemudian berpikir pasang iklan di koran. Waktu ikan koran belum ramai, iklan komputer di Pos Kupang juga belum ada. Saya pasang iklan tidak lama baru ada perusahaan penjualan komputer lainnya juga memasang iklan. Jadi saya yang pertama pasang iklan ini.

Berkembang terus usaha Anda ini?
Ya, saya terus berusaha jual beli komputer ini. Waktu berjalan tidak lama, mungkin ada sekitar setahun dan saya sudah punya modal sedikit sekitar Rp 20 juta. Waktu saya lihat iklan ada di gedung Percetakan Negara mau di kontrakan Rp 20 juta. Saya punya uang hanya Rp 20 juta, saya sudah tabung setengah mati dan harus kasih keluar lagi. Saya memang butuh tempat usaha, tapi saya punya uang hanya Rp 20 juta, sementara sewa tempat juga Rp 20 juta. Saya bayar Rp 20 juta berarti uang habis, modal habis, jadi saya merenung terus tentang ini. Tapi saya berpikir, kalau saya tidak kontrak, maka saya tidak akan maju juga, lalu saya terus merenung, saya berpikir kalau uang Rp 20 juta ini tidak dikeluarkan untuk kontrakan ini maka saya tidak akan maju juga. Waktu itu saya yakin saja dan serahkan uang Rp 20 juta ini untuk kontrak dua tahun, ada dua ruangan yang kita kontrak. Kemudian pelan-pelan kita mulai jual beli komputer bekas. Lama-lama mulai dengan jual beli komputer baru. Saya kontrak di percetakan negara selama sekitar tujuh tahun sejak 2002. Kita baru keluar dari situ tahun 2009 lalu.

Apakah Anda memiliki basic ilmu komputer?
Itu masalahnya, saya ini tidak memiliki basik komputer, saya lulusan teknik sipil. Hanya saya tertarik dengan bisnis ini dan saya percaya bahwa komputer ini bisa belajar sendiri. Waktu itu kasih kursus di Surabaya, akhirnya mereka pulang dan bergabung dengan saya.

Kelihatannya usaha Anda bukan jual beli komputer saja?
Benar, waktu berjalan dan memang banyak anugerah yang Tuhan berikan pada saya. Tahun 2002 kita mulai bisinis, ada pengusaha dari Surabaya yang datang ke saya. Pengusaha ini mengatakan, dia punya cabang di Kupang cuma kantor cabang ini bermasalah. Kantor cabangnya adalah distributor spare part sepeda motor, busi Denso. Pengusaha ini menawarkan kepada saya untuk menjadi distributor. Awalnya saya ragu, tapi saya diyakinkan tentang prospek usaha ini. Memang, namanya distributor itu pada awalnya sulit, tapi bisa pemasarannya sudah baik, maka usaha akan maju pesat. Pokoknya saya optimis. Akhirnya saya ambil dan mulai dengan distributor Denso.
Enam bulan kemudian, ada tawaran lagi untuk menjadi distributor SKF, yaitu merek bering atau laher (bagian dari kendaraan bermotor pada bagian as roda), ini ternyata luar bisa. Jadi semua sepeda motor pabrikan itu memakai laher merek SKF. SKF itu, selain memasok kebutuhan sepeda motor bermerk, juga untuk kebutuhan after market atau sebagai suku cadang yang dijual di toko-toko suku cadang ini. Jadi waktu itu saya ambil distributor itu dan berjalan baik. Yang luar biasa, setelah saya pegang SKF, kemudian banyak sekali produk yang ditawarkan kepada saya. Biasanya kalau produk besar itu memerlukan deposit atau semacam uang jaminan. Yang luar biasa, banyak sekali produk brand besar mempercayakan saya sebagai distributor tanda deposit, ini karena mereka percaya saya mampu. SKF itu berjalan sampai 2004-2005.
Tahun 2005 ini, kita juga dipercayakan menjadi servis resmi printer Cannon data skrip Jakarta.

Anda juga melebarkan sayap ke usaha distrubutor. Bagaimana dengan usaha jual beli komputer?
Usaha komputer ini tetap berjalan. Tahun 2005 akhir itu, saya berpikir untuk buka cabang. Cabang pertama itu Petra Komputer di Jalan WJ Lalamentik. Saya bikin dengan konsep berbeda sedikit dengan nama menggunakan nama Petra Komputer. Dua jenis usaha ini tetap berjalan, tahun 2006-2007, kami juga dipercayakan sebagai distributor band Mizzile. Itu kepercayaan yang sangat besar, karena bukan hal yang mudah untuk sebuah perusahaan itu ditunjuk sebagai distributor ban ini, karena dari sisi modal juga harus kuat, karena pesaing-pesaing kita di Kota Kupang sudah pegang merek ini. Tapi mereka bukan distributor. Mestinya mereka yang ditunjuk tapi justru kami yang ditunjuk. Memang deposit ada, cuma waktu itu masih muda dan akhirnya kami untuk ban ini sudah jadi market leader di NTT.
Tahun 2009, kami buka cabang Vision Notebook di Jalan WJ Lalamentik. Dalam satu bulan itu bisa terjual sampai 100 unit, jadi itu memang luar biasa. Hingga akhirnya sampai sekarang dan tempat ini kami bisa beli, ruko pertama kita dan ini sangat membanggakan. Akhir 2008 kami beli toko ini dan sudah tahun kami tempati.



Anda kini telah sukses. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada mereka yang masih berjibaku dengan jualan mereka?
Jadi, yang ingin saya bilang itu adalah kalau orang lihat latar belakang saya ya, orang heran. Ada teman saya yang bilang, wah Djemi kok bisa begini. Yang ada dalam pikiran ini adalah tidak menyangka saya bisa terjun di bisnis ini yang menurut mereka besar. Saya sendiri tidak menyangka bahwa apa yang saya lewati itu dengan senang dan tahu proses itu. Ketika Tuhan mengizinkan saya menjual kue, saya sadar itu suatu proses dan saya tidak pernah malu. Jadi waktu saya mulai bisnis komputer, saya pegang dos-dos bekas untuk isi komputer bekas itu saya tidak pernah malu. Nah, itu mental yang saya dapat luar biasa. Sehingga saya lihat anak-anak di pinggir jalan atau anak-anak yang menjual kue keliling dan mendorong kereta, saya panggil dan saya katakan bahwa saya juga seperti itu. Saya memang dulu pernah dorong kereta.

Apa yang Anda katakan kepada mereka?
Saya katakan kepada mereka, dulu saya kerja begini dan kumpul uang. Saya katakan kepada mereka kalian kumpul uang, menabung, berhemat. Kalau kamu punya cita-cita, maka suatu saat akan tercapai. Kita jangan pernah putus asa ketika kita dilahirkan dalam kondisi yang mungkin kurang beruntung, karena kita putus asa maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi ketika kita mengatakan bahwa saya bisa maju, saya bisa mengubah sesuatu maka saya pikir itu adalah kekuatan yang luar bisa. Saya sudah buktikan bahwa itu luar biasa. Ya perusahaan ini juga menjadi berkat bagi banyak orang, menjadi besar di bawah Payung Timorese Group. Ya, bersyukur karena punya istri yang mendukung dan anak baru satu.

Anda masih muda, apakah masih terus melebarkan sayap usaha?
Benar, tahun ini juga kami buka satu gerai kecil di Taman Kota Kupang, namanya Petra Digital. Kami khusus menjual kamera digital. Kami akan menjadikan tempat itu sebagai toko kamera digital paling lengkap di Kupang. Sudah buka dan sudah berjalan satu minggu. Selain itu mungkin bulan Juni, kami akan menjadi distributor printer Canon untuk area NTT.

Anda seorang sarjana teknik sipil, apa masih berpikir jadi seorang kontraktor?
Saya bermimpi ingin masuk ke bisnis dunia properti, entah mungkin dua atau tiga tahun lagi. Tapi kalau Tuhan mengizinkan ya, setahun lagi. Saya mau usaha properti khususnya membangun perumahan. Itu masih mimpi saya.
(alf)


Lari, Lihat Kawan Cewek

JADI penjual kue pada masa kecil menjadi cerita lucu bagi Djemi Lassa. Bahkan ayah satu anak ini sering dipanggil Djemi si penjual kue. Kenangan yang tak terlupakan itu adalah arus berjualan di depan teman-teman cewek yang dianggapnya cantik atau bahkan ada cewek yang disukainya. "Omong jual kue gini, masa-masa umur kita 13-14 tahun itu masa puber. Jadi malu setengah mati, apalagi ketemu kawan nona. Tapi saya berusaha tidak malu, seperti tadi saya bilang ini proses yang Tuhan izinkan untuk saya melawan rasa malu yang luar biasa," jelasnya.
Namun rasa malu itu tidak bisa melebihi rasa hormat dan keinginan sang mama agar ia menjual kue-kue buatan mamanya itu. "Mama saya bilang ya, kita bisa hidup dengan jual kue. Mama bisa menyekolahkan kita karena jual kue. Bahkan kawan- kawan nona panggil saya, kalau kawan saya maka saya lari. Makanya ada teman saya sekarang ini lihat saya masih ingat saya sebagai Djemi yang dulu jual kue," jelasnya.
Tidak ada siasat khusus dalam diri Djemi untuk melawan rasa malu, yang ada hanya uncapan sang mama yang memaksanya untuk menjual kue-kue tersebut. "Tiak ada siasat khusus, modal nekat saja. Karena mama saya bilang saya harus jual kue. Jadi saya juga harus jual kue, jadi rasa malu itu saya lawan sendiri," jelasnya.
Namun, Djemi mensyukuri apa yang dilakukan saat itu. Karena, menjual kue tersebut merupakan kesempatan baginya untuk menempa mental menjadi seorang pebisnis yang ulet. (alfred dama)


Data diri

Nama : Djemi Lassa
Tempat Tanggal Lahir : 13 Juni 1977
Jabatan : Presiden Direktur Timorese Group
Pendidikan : SD Inpres Nifuboko-SoE tamat tahun 1990
SMPN I SoE-TTS tamat tahun 1993
SMAN I SoE-TTS tamat tahun 1996
S1 Teknik Sipil-Universitas Petra Surabaya, tamat tahun 2001.
Istri : Eliyana Wirawan
Anak : Kineshia Lassa.

Pos Kupang Minggu 2 Mei 2010, halaman 3 Lanjut...


POS KUPANG/REDDY NGERA
Joko Sugeng Sriyanto


MENJADI seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dengan tugas menerbangkan pesawat tempur dan mengawal wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan kebanggaan bagi Letkol (Pnb) Ir. Joko Sugeng Sriyanto.

Menjadi penerbang merupakan cita-citanya sejak kecil. Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia berusaha sejak dini, baik fisik, mental maupun akademis, agar memenuhi syarat. Pengalaman terbang yang paling mengesankan yaitu pada saat dia bisa menggambar di langit dengan pesawat tempur.

Mencintai dunia penerbangan ini juga tergambar saat Pos Kupang berbincang-bincang dengan suami dari Dian Setiawati ini belum lama ini. Ia begitu bersemangat saat menerbangkan Hawk MK 53, pesawat tempur buatan Inggris.

Berikut petikan wawancara Pos Kupang dengan Joko Sugeng Sriyanto yang kini menjadi Komandan Pangkalan Udara (Lanud) El Tari Kupang.

Apa fungsi dan tugas satuan yang Anda pimpin ini?
Sesuai dengan tugas, peran dan fungsinya, sesuai dengan pasal 10 UU TNI 34 Tahun 2004, kita senantiasa siap untuk melaksanakan atau mendukung pelaksanaan operasi udara. Lanud El Tari merupakan Lanud operasi di mana kita selalu siap melaksanakan operasi udara.

Kenapa tidak ada pesawat yang berpangkalan di Lanud El Tari, padahal kita Lanud operasi?
Ya, idealnya memang demikian. TNI AU terus mengupayakan supaya seluru Lanud dilengkapi dengan pesawat, terlebih Lanud di wilayah perbatasan, seperti Lanud El Tari ini, karena kita berbatasan langsung dengan Australia dan Timor Leste. Keberadaan pesawat itu merupakan satu-kesatuan dengan sistem senjata yang lain. Bisa melengkapi, namun kita harus menyadari bahwa anggaran pertahanan kita juga terbatas.

Keberadaan pesawat ini dilaksanakan melalui operasi udara yang direncanakan oleh komando atas, sehingga dalam kurun waktu tertentu Lanud El Tari juga melaksanakan operasi udara. Pada saat itu, dalam jangka waktu tertentu, ada pesawat yang stand by di sini. Namun, perlu diketahui bahwa dalam satu bulan itu ada dua atau tiga kali operasi di wilayah udara kita, hanya kita tidak pernah tahu karena terbangnya cukup tinggi untuk melaksanakan pengintaian dan pemantauan terhadap wilayah kita ini, termasuk alur laut kepulauan.

Bila ada pesawat negara lain yang masuk wilayah kita. Apa tindakan Lanud El Tari?
Saat ini di NTT khususnya di Pulau Timor ada radar yang dapat memantau secara dini segala bentuk macam ancaman udara yang ada di NTT. Jika memang itu ada, maka akan dilaporkan ke komando atas, khususnya Komando Pertahanan Udara Nasional, dalam hal ini Sektor IV. Selanjutnya, Sektor IV yang mengerahkan pesawat tempur dari pangkalan udara terdekat dan lebih lanjut melaksanakan identifikasi secara visual. Di samping itu mereka akan siap melaksanakan penindakan kalau hal tersebut memang diperlukan. Penindakan itu bisa dengan cara pesawat asing itu diusir atau kemudian dipaksa untuk mendarat di pangkalan terdekat atau lebih lanjut akan dihancurkan kalau memang itu mengancam.

Apa peran Lanud agar tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat? Apa saja yang dilakukan Lanud untuk masyarakat sekitar?
Salah satu tugas TNI AU, khususnya operasi militer selain perang, adalah membantu pemerintah daerah. Salah satunya kita ikut menyukseskan pembangunan daerah, kita mendukung tugas-tugas pemerintah daerah. Pemerintahan daerah ini satuan terkecilnya adalah kelurahan, sehingga kita dengan masyarakat berusaha menjalin komunikasi yang baik. Harapan kita terjalin integrasi yang baik antara prajurit TNI AU, khususnya Lanud El Tari ini dengan masyarakat di sekitar kita. Implementasi dari kegiatan itu adalah kita memiliki satu kegiatan atau program yaitu pembinaan potensi dirgantara. Pembinaan potensi dirgantara ini adalah pembinaan sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Ada anggapan menjadi prajurit TNI AU relatif lebih sulit daripada masuk satuan lainnya. Apa benar demikian?
Sebetulnya tidak ada yang sulit, karena instansi mana pun tentu memiliki persyaratan sendiri untuk bisa diterima. Di AU ini kita membuka kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk bisa bergabung menjadi prajurit TNI AU sehingga ini kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengabdikan dirinya bagi masyarakat dan negara melalui TNI. Sebetulnya tidak ada yang sulit. Namun hal ini kita antisipasi dengan selalu berupaya menyosialisasikan kepada masyarakat luas bahwa menjadi prajurit TNI AU itu tidak susah. Ini sudah kita awali bahkan kita sudah sampai di Maumere, Tambolaka dan kemarin keliling ke Atambua, Kefamenanu dan SoE.

Kabarnya kelemahan anak NTT masuk TNI AU adalah fisik, apakah ini terkait dengan kebiasaan minum miras?
Yang jelas persyaratan masuk menjadi prajurit itu pertama adalah WNI, usia antara 18 sampai 22, sehat jasmani dan rohani kemudian mendapat izin orangtua atau wali dan berijazah. Khusus untuk pendaftaran taruna TNI AU, itu dibuka sebelum ujian nasional dilaksanakan. Itu sejak dulu sampai saat ini berlangsung demikian, tidak ada masalah asalkan mendapat surat keterangan sementara dari kepala sekolah setempat bahwa siswa yang bersangkutan sekolah di mana dan saat ini sedang mengikuti UN untuk mengikuti pendaftaran menjadi taruna TNI AU. Kemudian sehat jasmani dalam hal ini mampu mengikuti seleksi pembinaan jasmani seperti lari dan sebagainya. Kemudian juga belum menikah. Itu yang harus dipersiapkan.

Apakah ada semacam kuota dari Mabes TNI untuk NTT menjadi prajurit TNI?
Satu hal yang cukup menggembirakan adalah saat ini AU menerapkan sistem rekrutmen prajurit itu rayonisasi. Kalau dulu calon prajurit di Kupang ini bisa mendaftar di Jawa atau Sumatera, sekarang tidak lagi. Jadi pendaftaran di setiap pangkalan udara adalah putra daerah atau karena penugasan orangtua dia harus mendaftar dari Lanud El Tari atau dia memang bukan orang asli NTT, tapi sudah lama berdomisili di sini. Satu kebijakan yang diambil untuk memberikan kesempatan kepada putra daerah untuk bisa bergabung menjadi prajurit TNI AU. Kuota yang diterapkan sesungguhnya bisa dipengaruhi oleh animo masyarakat ataupun calon prajurit yang mendaftar. Ketika pendaftarnya banyak, maka kuota juga akan diberikan banyak. Tahun lalu kuota untuk menjadi calon taruna TNI AU itu menjadi lima seat. Harapan kita tahun ini meningkat kalau pelamar itu bertambah. Dan kalau saya melihat dari tahun ke tahun, kuota yang diberikan kepada Lanud El Tari ini terus bertambah, berarti animo menasyarakt juga meningkat.

Anak NTT kok sulit ya jadi penerbang, kira-kira persyaratan apa yang menyulitkan?
Untuk menjadi seorang penerbang, dari Akademi TNI AU tidak dibuka lagi ikatan dinas pendek, sehingga setelah masuk menjadi taruna TNI AU dan mengikuti pendidikan selama tiga tahun, dan tahun depan akan kembali lagi menjadi empat tahun. Setelah menjadi perwira baru akan diseleksi lebih lanjut untuk menjadi seorang penerbang. Seleksinya juga cukup ketat meliputi kesehatan, psikologi, keterampilan dan sebagainya, yang memang standar yang dibutuhkan lebih tinggi dari yang dilaksanakan sebelumnya dalam seleksi masuk taruna dan sebagainya. Dibutuhkan tingkat keterampilan yang cukup tinggi larena penerbang itu harus mengambil keputusan yang cepat dan tepat saat terbang mengingat kita membaca alutsista dan mungkin jiwa orang lain saat kita menjalankan tugas terbang itu.

Menurut Anda, apa yang menarik di TNI AU?
AU itu yang menarik adalah karakteristiknya, jadi kita mengoperasikan kekuatan udara yang memiliki keunggulan dan kekurangan. Tapi saya melihat keunggulan dan kekurangan ini jadi banyak sekali. Contohnya kecepatan, ketinggian kemudian mobilitas dan sebagainya. Kekuatan udara inilah yang menurut saya, kalau kita lihat luas wilayah yang menjadi tanggung jawab untuk kita amankan, kita lihat garis batas wilayah nusantara kita ini. Garis batas ini adalah garis pangkal kemudian ditarik keluar 12 mil itu keliling dari seluruh wilayah nusantara kita tarik secara vertikal ke atas adalah wilayah udara kita dan itulah yang menjadi tanggung jawab TNI AU untuk mengamankannya. Di atas daratan dan di atas lautan merupakan wilayah kita yang sangat luas.

Dibutuhkan suatu kekuatan udara yang besar untuk kita secara ideal mengamanankannya, sehingga saya memiliki satu harapan yang sangat besar pada masyarakat Indonesia khususnya NTT untuk dapat mengerti dan memahami tugas- tugas TNI AU. Dengan pemahaman yang sama tentunya antara TNI AU dengan masyarakat itu bisa menjalin kerja sama yang baik untuk tugas pertahanan maupun tugas-tugas yang lain untuk pemerintahan.

Kenapa memilih TNI AU?
Cita-cita awal saya memang ingin menjadi penerbang. Ketika mendaftar menjadi taruna, saya berusaha untuk mengikuti pendidikan ya bagaimana caranya saya berprestasi untuk menjadi seorang penerbang. Penerbang pun ada beberapa macam, seperti penerbang tempur, penerbang tranport dan penerbang helikopter. Sejak awal, saya bercita-cita menjadi penerbang tempur, dan puji Tuhan begitu lulus dari sekolah penerbang, saya menjadi seorang penerbang tempur yang berdinas di Lanud Iswahyudi-Madiun di Skuadron Udara 15.

Apa yang mendorong Anda mau jadi penerbang?
Satu hal yang membuat saya ingin menjadi seorang penerbang tempur adalah pesawat tempur. Dengan pesawat ini kita bisa bermanuver sehingga kita bisa membuat manuver apa pun di udara. Satu keinginan saya adalah saya ingin menggambar di langit dengan mengguna pena yang adalah pesawat saya itu. Dengan hidung pesawat saya itu, saya ingin menggambar apa pun yang saya bisa lakukan di udara, bukan di kanvas. Kanvas seorang penerbang tempur itu sangat luas. Itu yang mendorong saya berusaha mencapai cita-cita atau keinginan saya. Saya menerbangkan pesawat Hawk MK 53 buatan Inggris, yang dioperasikan oleh TNI AU mulai awal tahun 1980-an.

Apa yang Anda rasakan saat terbang dengan kecepatan maksinal dan apa yang Anda pikirkan saat mau terbang?
Bagi saya terbang adalah hobi. Ketika saya mendapat tugas- tugas terbang, maka hobi saya ini akan terpenuhi. Atau saat terbang, saya mendapat sesuatu yang menyenangkan. Saat terbang, ada perasaan senang, ada perasaan bangga dan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan. Apalagi dengan pesawat tempur bukan saja kita bermanuver di udara, tetapi juga bagaimana mengarahkan senjata kita pada lawan. Itu merupakan kegiatan yang membutuhkan keterampilan dan latihan, yang saat kita lakukan terasa ada kenikmatan tersendiri dalam hidup kita. Mungkin pesawat lain juga bisa terbang, tetapi terbang kita bernavigasi dan kita hanya duduk diam hingga satu tempat, kemudian terbang lagi ke satu tempat. Namun rasanya berbeda, kalau kita terbang dengan pesawat tempur yang bermanuver dan tidak, ya rasanya berbeda. Ketika bermanuver, ada kepuasan tersendiri.

Anda pernah bayangkan kalau tiba-tiba pesawat macet?
Untuk menerbangkan pesawat, ada beberapa prosedur yang harus kita pahami. Pertama adalah normal procedure yaitu ketika semua berjalan dengan normal, maka prosedur itulah yang kita jalankan. Tetapi, ketika terjadi sesuatu di luar dari kebiasaan, maka prosedur yang kita jalankan adalah emergency procedure. Semua itu harus ada di luar kepala karena menerbangkan pesawat tempur itu kita hanya terbang seorang diri, jadi kita tidak mungkin membaca buku pada saat emergency. Kita harus berpikir secara cepat sehingga kita mengambil keputusan yang cepat juga.

Pernah mengalami situasi luar biasa?
Ya, ada beberapa kejadian yang di luar dari kebiasaan, tapi puji Tuhan, kita bisa atasi dan selanjutnya pesawat bisa mendarat aman dan selamat. Satu kali di antaranya adalah saat melaksanakan tugas mengamankan wilayah udara di Kupang ini tahun 2010. Ada satu sistem pesawat yang mengalami kerusakan, sebetulnya sudah diketahui saat pesawat take off. Tetapi, karena misi ini mendesak sehingga kita paksa untuk terbang. Pada saat terbang juga terjadi lagi dimana indikator- indikator itu menunjukkan emergency, tapi kita bisa atasi dan pesawat bisa mendarat dengan aman.

Sering terbang malam juga?
Terbang malam merupakan bagian dari latihan terbang kita, di samping kita latihan pada siang hari. Kita juga dilatih untuk bertugas pada malam hari. Siklus kita dilatih itu untuk mempersiapkan diri kita atau personel kita khususnya penerbang kita untuk siap kapan saja dan di mana saja untuk menjalankan tugas. Ketika tidak sedang menjalankan tugas, latihan itu tetap jalan.

Apakah Anda punya olahraga khusus untuk menjaga kesehatan dan kebugaran Anda?
Olaharga saya semuanya kita laksanakan mulai dari lari, sepakbola, voli, basket dan lain-lain. Semua fasilitas ini disiapkan di pangkalan. Kebetulan saya suka lari, renang, sepakbola, golf, tenis dan lain-lain. (alfred dama/reddy ngera)

Data diri Nama : Ir. Joko Sugeng Sriyanto Jabatan : Komandan Lanud El Tari-Penfui Tempat Tanggal Lahir : Surakarta, 7 Juni 1970 Keluarga Istri : Dian Setiawaty Anak : Dinda Pratama (kelas III SMP) : Arnato Jodi (kelas III SD) Riwat Jabatan *Penerbang Skadron Udara 15-Madiun 1994-1998 *Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan Potensi Dirgantara Lanud Iswahjudi Mandiun 1998-1999 * Kasi Keselamatan Terbang dan Kerja Skuadron Udara 15 1999-2001 * Kasi Operasi dan Latihan Lanud Iswahyudi-Madiun 2001- 2003 * Kasi Base Operasi Lanud Iswahyudi 2003-2004 * Instruktur Penerbang Wing Dik Terbang Lanud Adisutjipto- Yogyakarta 2004-2005 * Kepala Sub Direktorat Perencanaan Operasi Pendidikan Kodikau 2008-2009 *Danlanud EL Tari 2009 sampai sekarang Pendidikan : 1. SD - SMA di Solo, Jawa Tengah 2. AKABRI TNI AU Tamat tahun 1989 3. Sekolah Penerbang Lulus Tahun 1994 4. S1 ITB Jurusan Aeronautika lulus 1998 4. Sekolah Instruktur Penerbang 2004 5. Sekolah Staf dan Komando TNI AU Tamat 2005 6. Australian Command and Staf Course Joint 2006-2007


Pos Kupang Minggu 18 April 2010, halaman 3 Lanjut...


POS KUPANG/BENNY JAHANG
Faried Harianto

PENEGAKAN hukum gencar dilakukan pihak kejaksaan. Beberapa kasus korupsi dibongkar oleh korps baju coklat di NTT ini. Pelakunya diseret ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) tanpa mengenal kompromi. Penegakan hukum adalah segala- galanya. Itulah komitmen yang terpatri dalam diri Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Faried Harianto, S,H. M.Hum. Kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian nasional juga terungkap ditangan pria paruh bayah ini.

Bagaimana semua kasus itu terungkap dan apa kiatnya mengisi waktu senggang setelah lelah urus korupsi. Berikut wawancara dengan Pos Kupang beberapa waktu lalu. Hadir saat wawancara Wakajati NTT, Suhardi, S.H, Asisten Intel, I Gusti Nyoman Subawa dan Humas Kejati NTT, Muib, S,H


Biasanya banyak pejabat keberatan ditugaskan ke NTT. Anda mau datang. Apakah karena NTT banyak kasus korupsi?
Begini ya...semula saya belum mendapat gambaran seperti apa NTT, apalagi tidak pernah bertugas di daerah ini. Namun karena pengalaman bertugas di daerah lain, sehingga saya pikir pastilah sama seperti daerah lainnya. Saya tidak tahu kalau di NTT banyak penyelewengannya. Saya mendapatkan informasi ini setelah mendapat masukan dari beberapa pihak di daerah ini. Saya menginginkan ada sesuatu yang harus saya buat selama bertugas di NTT, yaitu penegakan hukum. Orang yang melanggar hukum kita sikat.

Setelah mendalami informasi dari berbagai pihak, itu artinya benar di NTT banyak penyelewengan?
Memang, setelah saya pelajari dan mendapat informasi dari pemberitaan media cetak di Kupang, ternyata banyak dana pembangunan yang diselewengakan. Saya coba dalami dan tentunya pemberantasan korupsi di NTT tetap menjadi perhatian.

Apakah hanya mengedepankan penegakan hukum dalam upaya pemberantasan korupsi di NTT?
Oh...tidak. Penegekan hukum tetap jalan dan upaya pencegahan terjadinya korupsi kita lakukan juga. Saya sudah berkoordinasi dengan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, untuk melakukan sosialisasi dengan dinas-dinas dalam kaitan dengan upaya pencegahan korupsi. Bagimana melancarkan pembangunan sehingga dana yang dialokasi seperti dana alokasi umum (DAU), APBD I dan APBD II benar-benar bermanfaat bagi pembangunan demi kesejahtraan rakyat NTT. Sosialisasi sudah jalan.

Target apa yang Anda akan capai selama menjadi Kajati NTT?

Begini ya. Target saya hanya satu selama di NTT, yaitu supaya jangan ada lagi yang korupsi. Saya lebih mengedepankan upaya pencegahan terjadinya korupsi. Pencegahan itu jauh lebih penting daripada penindakan hukum. Untuk apa kita melakukan penindakan, sementara korupsi menyebar ke mana-mana.

Konkritnya seperti apa upaya pencegahan itu?
Kita akan memberikan pemahaman terhadap para pengelola proyek tentang petunjuk bagaimana upaya pencegahan korupsi, seperti membuat mekanisme kerja. Sehingga tidak ada ruang untuk melakukan korupsi. Saya ibaratnya seperti lalu lintas, saya menjaga di depan daripada mengumpet di bagian belakang. Mengantisipasi korupsi dalam pengerjaan proyek mulai dari perencanaan hingga pengerjaan proyek di lapangan harus diawasi ketat. Kerja saja sesuai dengan petunjuk, maka pasti aman dan tidak diutak-atik penegak hukum.

Dalam proses perencanaan dan pembahasan anggaran proyek memiliki ruang terjadinya korupsi?
Oh iya. saat proses perencanaan sudah bisa terjadi, karena akan terjadi diel-diel seperti itu ketika dilakukan pembahasan anggaran. Banyak kasus korupsi yang pernah kita ungkap di beberapa daerah terjadi saat perencanan anggaran.

Anda gencar memberantas korupsi, bagaimana internal kejaksaan agar tidak ada markus (makelar kasus) di lingkungan kejaksaan di NTT?
Setiap saat kita terus melakukan konsolidasi internal di Kejaksaan Tinggi NTT tentang melakukan penegakan hukum yang benar. Misalnnya, proses penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi dan pidana umum harus dilakukan dengan cepat. Tidak bertele- tele sehingga bisa memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Saya suka dikritik. Lebih banyak kritik lebih bagus sehingga aparat kejaksaan lebih termotivasi untuk bekerja lebih maksimal bagi kepentingan masyarakat. Saya tidak menghendaki ada kasus yang sampai berulang tahun. Kasihan rakyat NTT akan kecewa kalau penegakan hukum seperti itu. Kritik yang kontruktif sangat dibutuhkan, karena orang luar yang bisa mengetahui kelemahan kita di dalam.

Bagaimana dukungan Gubernur dan Pemprop NTT terhadap upaya penegakan hukum oleh kejaksaan ?
Dukungan Pak Gubernur NTT sangat besar. Kita sangat rasakan itu. Pak Gubernur selalu katakan kalau ada stafnya yang melakukan pelanggaran hukum silakan diproses. Saya merasa itu adalah dukungan bagi kita untuk menegakkan hukum.

Ada kesan bahwa penuntutan yang dilakukan JPU terhadap seseorang yang tersangkut masalah bisa diatur. Bahkan ada jaksa yang menjadi 'penasehat' hukum tersangka?

Tidak ada seperti itu selama saya menjadi Kajati NTT. Kalau ada yang nakal akan kita tindak. Saya sudah minta para jaksa koordinasi yang baik dengan penyidik kepolisian, dalam artian positif. Kalau ada kasus yang memang tuntutan ringan harus seperti itu. Jangan kasusnya yang harusnya dituntut ringan malah dituntut dengan hukuman berat. Apalagi kalau tidak terbukti maka dituntut bebas. Untuk mencegah aparat kejaksaan di NTT tenggelam dalam tindakan yang melawan hukum, Kajati NTT mulai pasang kuda- kuda dengan memajang 'rambu-rambu' di lingkungan gedung Kejati NTT. Ini untuk mengingatkan para jaksa agar bertindak profesional dalam penegakan hukum.

Selama menangani berbagai kasus, ada kasus berat yang Anda selesaikan atau ada upaya menyogok Anda?
Bagi saya tidak ada yang berat, kecuali kalau ada kepentingan dari yang paling atas. Itu yang paling susah, tetapi selama ini belum pernah ada. Kalau masalah uang atau rayuan- rayuan uang masih bisa kita tepis, tetapi kadang-kadang intervensi dari pihak lain yang sangat berat. Sering itu. Tetapi saya tidak peduli, tetap saya jalan. Daripada saya yang salah nanti.

Dalam penanganan kasus korupsi di NTT, seperti kasus korupsi dana APBD Ende, ada yang melakukan pendekatan dengan Anda?
Tidak ada itu. Kasus-kasus yang besar saja saya libas, apalagi kasus yang kecil seperti itu. Saya anggap kasus dana APBD Ende dan PD Flobamor adalah kasus kecil. Biasanya saya menangani kasus korupsi miliaran. ( Faried Haryanto lalu menceritakan tentang pengalamanya dalam penanganan kasus korupsi di Depertemen Hukum dan HAM yang menyeret sejumlah pejabat penting di instansi itu.

Bagiamana Anda meluangkan waktu agar tidak stres?
Saya lebih banyak meluangkan waktu untuk kumpul-kumpul dengan para jaksa di kejaksaan. Membahas hal-hal yang lucu, sehingga bisa tertawa lepas. Selain itu, membagi tugas yang jelas dengan para staf. Karena prinsip hidup saya, saya tidak mau susah. Tidak mau pikir yang susah. Cari yang gampang saja. Saya jalani saja apa adanya. Hidup ini hanya sebentar saja. Kita nikmati saja yang sudah ada. Apa yang kita cari lagi.

Apakah Anda sering olahraga?
Saya tidak pernah olahraga. Bagi saya orang sehat itu dari pikiran saja. Kalau pikiran senang, maka saya pasti bisa hidup sehat. Orang yang main golf dan olahraga lain belum tentu sehat apabila selalu dibebani pikiran. Saya tidak mau berpikir yang berat. Saya jalani saja hidup ini apa adanya, sehingga tetap sehat. Memang waktu kecil suka olahraga sepak bola. Saya pemain sepak bola waktu di SMP dan SMA. Sejak bekerja kegiatan olahraga mulai dibatasi. Tetapi kalau main tenis meja mungkin masih bisa sekalipun kurang cepatan dalam mengembalikan bola lawan.

Suka musik?
Kalau nyanyi sekali-sekali, kumpul-kumpul dengan para staf atau keluar. Itu pun nyanyi di rumah saja hanya bermodalkan orgen saja. Tidak pernah saya ke tempat hiburan.

Apa makanan kesukaan Anda?
Saya menyukai semua makanan. Mumpung masih hidup, semuanya kita nikmati. Yang penting senang saja, saya makan saja yang ada. Walaupun demikian karena usia semakin tua tentunya porsi makan juga tetap dijaga. Sampai saat ini belum ada pantangan makanan tertentu. Bagi saya apa saja makan. Kita ini sudah ditakdirkan kapan kita harus mati. Tidak perlu kita khawatir untuk mati sehingga tidak perlu pantangan segala. Yang ada kita makan.

Pengalaman Anda banyak menangani kasus besar. Apakah istri mengintervensi tugas- tugas Anda?
Tidak pernah. Mana berani istri saya mengintervensi. Selama ini tidak ada anggota keluarga saya yang terlibat dalam kasus korupsi. Kalau ada pasti saya proses. Termasuk anak-anak saya, mereka tidak pernah ikut campur kalau saya menangani kasus-kasus korupsi yang menjadi perhatian publik. Mereka tidak ikut campur kerja saya, sehingga saya tetap enjoy dengan tugas-tugas saya.

Banyak kasus korupsi melibatkan pejabat penting di negara ini yang Anda bongkar. Apakah pernah diancam dicopot?
Dalam menjalankan tugas, saya tidak takut dengan siapapun. Saya tidak takut dicopot. Bagi saya kalau dicopot hari ini, akan sama karena suatu saat akan berhenti juga. Makanya saya berani bongkar kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat penting di Jakarta, kalau saya merasa hal itu benar.

Istri dan anak-anak Anda pasti siap mental jika suatu waktu ada hal-hal yang buruk seperti itu?
Mereka selalu siap. Pekerjaan yang saya ini berisiko. Selama ini saya selalu bekerja sesuai aturan saja. Yang salah kita proses.

Anda sepertinya suka membaca?
Oh...membaca itu kesukaan saya. Semua bacaan saya baca. Setiap pagi yang saya utamakan adalah membaca koran terutama Pos Kupang. Semua berita yang ada saya baca untuk mendapatkan informasi terbaru. Kalau ada yang tidak membaca, keliru. Dengan membaca kita mendapat ilmu baru.

Bagaimana menjaga harmonisasi hubungan dengan staf di kejaksaan?
Saya menganggap para staf itu sama dengan saya. Tidak ada yang dibedakan. Saya tidak pernah merasa lebih dari yang lain. Kalau ada kesulitan, saya merasa hal itu merupakan kesulitan bersama. Kita bahas bersama-sama karena belum tentu pendapat saya selalu benar. (ben)


"Eksekutor Penembak Mati"

TUGAS sebagai jaksa dalam suatu perkara tidak mudah. Begitu banyak tuntutan tugas yang dihadapai. Termasuk menjadi jaksa eksekutor hukuman mati. Hal itulah juga dialami Faried Harianto, S.H. Di tangan dia tiga terpidana mati asal Thailand yang terlibat dalam kasus narkoba di Medan tahun 2004, yaitu Ayodya Prakash Cabey, Namsong Sirelak dan Saelow Praset. Ketiganya meregang nyawa setelah ditembak mati regu tembak.

Proses eksekusi itu berlangsung dalam hitungan detik. Tiga nyawa melayang di bawah perintah sang eksekutor. Ketiga terpidana dalam waktu berbeda dan semuanya dipimpin Faried Harianto, sebagai jaksa eksekutor.

"Saya yang melaksanakan eksekusi mati terhadap tiga terpidana mati itu. Saya hanya melaksanakan keputusan saja. Itulah pengalaman yang saya tidak bisa lupakan. Mereka bertiga mati di hadapan saya," ujarnya.

Detik-detik dilaksanakannya eksekusi membuat pria kelahiran Bangkalan, Madura-Jawa Tumur ini sempat stres. Ia stres karena melakukan eksekusi seperti itu tidak mudah. Ini erat kaitanya dengan nyawa seseorang. Apalagi salah seorang terpidana mati adalah wanita yang kala itu usianya sekitar 32 tahun sama dengan usia salah seorang putrinya.

"Waktu mau melakukan eksekusi, saya sempat mengingat anak saya, tetapi mau bilang apa, saya hanya melaksanakan eksekusinya. Memang hati saya tak tega saat itu," tutur Faried, yang kala itu menjabat Kejari Medan, Sumatera Utara.

Pengalaman itu yang terus dingat oleh Faried. Apalagi saat ditembak terpidana mati wanita, Faried berdiri tidak jauh dari korban yang ditembak/dieksekusi.

"Saya sangat kasihan melihat dia. Sulit sekali saya menceritakan perasaan saya kala itu. Saya sangat sedih, tetapi karena tuntutan tugas membuat saya harus melakukan hal itu," ujarnya sambil tatapan matanya memandang ruangan kerjanya seakan mencoba meredam kembali perasaan duka tahun 2004 silam.

Dengan pengalamannya itu, maka tugasnya sebagai jaksa, dari proses penyelidikan sampai eksekusi mati menjadi lengkap. Dalam tangan Faried yang menjadi 'pendekar ' pemberantasan korupsi itu membuat banyak pejabat dan pengusaha besar di Jakarta tidak berkutik ketika kasus korupsinya diungkap Faried.
(benny jahang)

Nama : Faried Harianto, S.H
TTL : Bangkalan, Madura, 31 Januari 1959

Pendidikan :
- Sarjana Hukum Universitas Airlangga Surabaya Tahun 1982
- Magister Sain Bidang Ilmu Hukum Universitas Airlangga 1984

Karier :
- Jaksa pada Kejaksaan Negeri Tanjung Perak -Surabaya 1986
- Kepala Kejaksaan Negeri Medan, Sumatera Utara
- Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi NTB

Pengalaman Kerja:
1. Jaksa eksekutor hukuman mati tiga orang terpidana mati kasus narkoba atas nama Ayodya Prakash Cabey, Namsong Sirelak Saelow Praset tahun 2004.
2. Tahun 2005 koordinator penyelidik intelejen Kejati DKI Jakarta dalam perkara korupsi di PT Indo Farma terkait pemberian bonus dan tantiem yang dilakukan direksi PT Indo Farma.
3. Ketua tim penyidik tindak pidana korupsi sisminbakum di Depertemen Hukum dan HAM dengan tersangka Prof. Dr. Romli Atmasasmita.
4. Ketua tim penyidik dalam kasus korupsi di kedubes RI di Cina dengan tersangka Letjen Pur Kuntara dan A.A. Kustia serta masih banyak kasus besar lainya.
5. JPU kasus pembunuhan Marsina di Surabaya, Jawa Timur tahun 1995.

Pos Kupang Minggu 25 April 2010, halaman 3 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Samuel Haning


MANUSIA bisa merencanakan, Tuhan yang menentukan. Kata-kata ini agaknya pas untuk Samuel Haning, S.H, MH. Pria bertubuh kekar ini dikenal sebagai seorang pemuda yang lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan. Ia pun tumbuh menjadi seorang petinju yang handal. Ini dibuktikan dengan meraih medali emas dalam suatu kejuraan tinju di Bali beberapa tahun silam.




Watak keras tidak terlepas dari kehidupan yang menempahnya. Meskipun sepintas berperilaku kasar, pria ini juga bisa melakukan pekerjaan yang lembut dan menggunakan kecerdasan pikiran. Tidak heran bila ia diterima menjadi staf pengajar di Universitas PGRI NTT-Kupang. Dan, siapa sangka pria yang kerap tampil pelontos ini kini memimpin Universitas PGRI NTT.

Ditemui di kantornya beberapa waktu lalu, pria yang bisa disapa Sam ini mengatakan, ia terpilih menjadi Rektor Universitas PGRI merupakan rencana Tuhan melalui kepercayaan pihak lembaga Universitas PGRI. Baginya, tanggung jawab ini berat untuk dilaksanakan. Namun sebagai pemimpin, ia memiliki cara untuk menjalankan tugas ini dengan baik. Cara yang dipilihnya adalah otak, watak dan otot. Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Samuel Haning.

Anda kini menjadi Rektor Universitas PGRI. Apa yang Anda lakukan?
Kegiatan pertama meningkatkan mutu pendidikan agar masyarakat dapat mengikuti dengan jelas, menilai dengan jelas perkembangan pendidikan di suatu institusi khususnya Universitas PGRI NTT. Baru-baru ini lembaga ini telah akreditasi 11 program studi. Masih dua program studi yang belum diakreditasi, sementara diproses.

Dua program studi yang belum diakreditasi, yaitu Ekonomi Akuntansi dan Bahasa Inggris. Dalam waktu dekat pasti terakreditasi karena semua persyaratan yang diminta oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi telah kami urus. Hanya masih perlu pembenahan staf administrasi dari segi pelayanan, termasuk dosen. Dosen lebih fokus pada kompetensi kegiatan perkuliahan tatap muka dan kompetensi yang dimiliki dosen itu sendiri. Juga kita perlahan-lahan memperbaiki satu kurikulum yang namanya kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi ini harus dimiliki semua institusi. Apalagi Universitas PGRI ini semakin dikenal luas.


Apakah ini merupakan langkah PGRI untuk bersaing dengan lembaga pendidikan lain di NTT?
Jangan pandang sebelah mata lembaga ini, pengguna lulusan perguruan tinggi tahu Universitas PGRI ini cukup berkualitas. Saya ambil contoh, dalam acara wisuda PGRI belum lama ini, di mana sambutan Gubernur NTT yang disampaikan Wakil Gubernur NTT, Ir.Esthon L Foenay, menyatakan

lulusan terbanyak dalam semua tes CPNS di NTT dan kabupaten/kota adalah lulusan Universitas PGRI. Itu hal yang luar biasa. Artinya, dari segi kualitas kami sudah siap melakukan hal-hal seperti itu. Kami juga masih melakukan perbaikan dan pembenahan infrastuktur. Pembangunan gedung yang sementara untuk menampung seluruh aktivitas kegiatan mahasiswa.

Tapi dulu ada juga alumni yang menyatakan tidak puas...
Memang jujur beberapa alumni dan mahasiswa yang menyampaikan pendapat rasa tidak puas dengan pelayanan. Ketika saya jadi rektor, maka yang utama saya lakukan memberikan pelayanan publik. Itu yang diutamakan. Contoh staf adiministrasi tidak ada pekerjaan yang ditunda sampai besok sehingga ketika setelah wisuda, lulusan langsung terima ijazah dan transkrip nilai. Jadi terobosan pertama yang saya lakukan itu. Sekarang tidak ada lagi yang mengeluh soal pelayanan. Jadi, saya sudah merapatkan barisan dengan para dekan, ketua program studi, untuk sama-sama menberikan perkuliahan dengan baik agar menciptakan SDM yang berkualitas untuk NTT dan Indonesia umumnya.

Anda tokoh muda, di lembaga ini banyak senior. Bagaiman Anda menempatkan posisi Anda?
Yang pertama kita sama-sama saling menghargai satu dengan lainnya. Yang senior saya anggap bapak saya, saya tidak anggap staf atau bawahan saya. Jujur, pembantu rektor 111 adalah senior saya. Di atas 60-an tahun. Tetapi saya anggap mereka itu orangtua saya dan ketika kita melakukan itu adalah keputusan bersama. Saya juga menerima pertimbangan-petimbngan dari mereka ketika saya mengambil keputusan. Supaya kita tidak ada ketersinggungan antar satu dengan lainnya. Saya katakan itu karena kita juga manusia, Saya katakan saya lebih muda dari mereka tapi saya tidak boleh dipermudahkan. Ketika saya menghormati, menghargai seluruh orang-orang tua yang ada di sini, pasti mereka menghargai dan menghormati saya.

Kenapa mau jadi rektor?. Ini merupakan lembaga pendidikan tinggi tidak muda untuk memimpinnya. Anda dulu kan petunju?

Jadi saya mau katakan, saya juga tidak tahu bisa sampai seperti ini. Tapi ini adalah maksud Tuhan yang menempatkan saya menjadi seorang pemimpin di institusi ini. Kenapa saya katakan begitu? Karena dulu saya di Undana hanya sebagai staf administrasi, sekitar 18 tahun. Setelah staf adiminstrasi saya tertarik menjadi dosen di Universitas PGRI pada Fakultas Hukum. Nah, dalam perjalanan itu kita tidak bisa menilai diri kita sendiri karena diri kita ini diatur dan dinilai oleh orang lain. Diukur oleh orang lain ini maksudnya, kita pantas dan mampu atau tidak? Ternyata dalam perjalanan ya seperti ini. Saya juga terkejut ketika teman-teman memilih saya menjadi rektor dan jadi saya pikir ini adalah suara senat dan suara teman-teman adalah suara Tuhan. Saya juga seperti terbangun dari mimpi. Karena saat saya mengajar, saya tidak ingin jadi pemimpin. Saya mengajar untuk menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat dan sehingga orang tahu perilaku saya yang hardstyle. Ternyata saya sekarang menjadi lembut diantara masyarakat dan teman-teman yang ada.


Waktu terpilih jadi rektor, apakah Anda pernah berpikir bisa atau tidak menjalani tugas ini?

Saya pikir apapun yang terjadi kita harus siap. Kenapa saya katakan harus siap karena seorang pemimpin, bukan sebagai seorang komando. Filosofi saya sebagai seorang pemimpin pertama adalah sebagai pelayan. Artinya, melayani dengan baik kepada seluruh masyarakat dan kepada seluruh jajaranan yang ada di kampus ini. Kedua bersikap manajer, mengambil keputusan bersama-sama, tidak dengan cara komando dari atas ke bawah. Ketiga bersikap sebagai seniman. Artinya ketika kita harus senang ya senang bersama-sama, susah juga harus sama-sama.

Tetapi tidak boleh menyusahkan orang lain, tidak boleh menyakiti orang lain. Itu penting. Keempat adalah gaya profesional. Kita harus bersikap profesional saat menjalankan tugas. Kenapa saya katakan itu karena kalau kantor saya buka satu kali 24 jam, maka saya juga ada di sini satu kali 24 jam. Di sini buka setiap saat dan siapa saja boleh masuk, termasuk masyarakat luas, mahasiwa dan pegawai boleh saja datang. Organisasi kepemudaan, OKP lain datang untuk diskusi, saya layani.

Anda menyinggung tentang kelembutan. Tapi gaya bicara Anda itu keras. Jadi anggapan orang Anda selalu marah....
Memang kalau orang sudah tahu saya, maka akan berkata itu hanya suara saja Pa Sam, tapi hatinya romantis..ha.. gitu... Suara memang besar tapi tidak marah, itu memang gaya saya. Saya memang begini, sehingga kadang-kadang orang langsung bilang wah Pa Sam ini suaranya keras. Tapi kalau sudah biasa sama saya, bapak itu suaranya memang keras, tapi hatinya lembut seperti salju dan romantis...

Menurut Anda, lebih gampang mana, latih tinju atau jadi rektor?
Jadi jujur saja, untuk tanggung jawab besar itu adalah jadi rektor. Anda pikir saja, sekarang ada lebih dari 5.000 mahasiswa ditambah dosen dan karyawan. Jadi ada sekitar 6.000 orang dengan karakter yang berbeda-beda, persoalan yang berbeda-beda. Ini tanggung jawab yang luar biasa berat sepertiya harus satu kapal semua sekitar 6.000 orang ini, kalau saya membawa salah maka ini bisa tenggelam semua. Ini tanggung jawab besar, karena untuk membina, membimbing, mendidik, orang itu sampai orang itu sukses tidak segampang kita membalik telapak tangan. Tapi yang itu saya katakan, kalau saya latih tinju paling top saya kontrol dua jam. Tapi jadi rektor ini saya bisa sampai 10 jam di kantor. Jam 5, jam 6 baru pulang. Bagaimana membangun kinerja institusi ini agar bisa bersaing dengan institusi yang lain itu penting, menjaring lobi-lobi dengan instansi terkait, baik pemerintah daerah maupun pemerintah itu sangat penting dan tidak gampang.

Bila latih petinju bisa dengan cara kasar, tapi di sini tidak bisa begitu?
Di sini hanya memakai otak, watak dan otot. Artinya, otot itu bukan pukul, otot itu fisik kerja kalau ada sakit ngapain dia kerja. Watak, bahwa tidak semua di sini dia main dengan cara-cara kekerasan, tinju harus keras. Watak, artinya seperti yang saya katakan tadi yaitu seni kita bermain, mencubit orang tapi orang tidak merasa sakit, hanya rasa saja. Jadi otak, sangat penting bagi kita karena kalau tidak ada otak sama seperti tong kosong nyaring bunyinya. Otak itu menyangkut intelektual, intelegensi. Watak, tidak harus keras dan kita selalu memilih jalan yang terbaik. Saya memang omongnya keras, tapi tidak kasar, hanya senyum saja.
Masih aktif di dunia tinju?
Kalao tinju masih aktif. Saya sebagai Sekretaris Pertina NTT.

Anda hoby tinju, apakah di sini juga ada sasana tinju?
Saya sudah bentuk semua cabang olahraga di Universitas PGRI ini, namanya unit kegiatan kemahasiswaan. Yang pertama adalah olahraga kempo, kedua silat, ketiga tim bola voly, keempat tinju, kelima atletik. Nah, sekarang ini kami melakukan pembinaan olahraga. Jadi suatu institusi itu ada UKMnya, tentu UKM itu kita laksanakan secara profesional. Kenapa demikian karena minat dan bakat mahasiswa itu harus sesuai dengan sasarannya. Contoh, Juni tahun 2008, ada mahasiwa kita, Muhamad Ledo, ikut kejuaraan kempo di Aceh. Dan, saat itu Ledo mendapat medali perak. Kejuaraan tinju di Bali, yang ikut Atris Neolaka. Dia mendapat medali emas. Di Surabaya, Adrianus Dae ikut silat juga sukses. Itu namanya pembinaan sehingga benar-benar bina bakat mahasiwa ini bisa mengharumkan NTT, bukan Universitas PGRI saja. Saya pikir begitu. Jadi membantu pemerintah untuk melaksanakan program kerja di bidang keolahragaan.


Anda hidup dalam dunia yang keras dan lembut. Bagaimana Anda mengelola diri Anda dalam dua dunia ini?
Begini, kita ini kan manusia, kalau ular saja bisa berubah kulit, bagaimana manusia berubah perilaku? Yang menentukan manusia hidup seseorang, kemajuan seseorang tergantung orang itu sendiri. Kenapa saya bilang begitu? Saya punya filosofi satu, saya ini maju, saya berhasil karena Tuhan dan saya juga berhasil karena memakai baju orang lain dan memakai sepatu orang lain. Anda paham? Karena dulu, saya memakai sepatu saya sendiri, misalnya, nomor 43, sekarang saya sudah mengubah nomor sepatu saya menjadi nomor 44. Maksudnya, perilaku yang lama jangan dipertahankan lagi. Sekarang kita harus mengubah perilaku kita untuk menjadi lebih baik. Kenapa orang lain itu bisa, lalu kita tidak bisa. Kita harus bisa berubah. Kalau kita mau mengubah diri kita, kita harus melihat orang lain. Kita harus mengubah perilaku kita bahwa orang lain bisa, maka kita juga harus bisa. Kalau bukan kita yang mengubah nasib kita, ya siapa lagi. Karena tidak ada orang lain. Kita juga harus tetap ora et labora.

Anda masuk kantor jam berapa?
Saya sekarang sudah terbiasa masuk pukul 07.00 Wita, dan pukul 07.30, semua harus sudah mengisi daftar hadir. Masuk kantor ini adalah kewajiban. Jadi terkadang saya duluan dari karyawan, tapi ada juga bersamaan masuk, tergantung kesibukan saja.

Saat pulang kantor, apakah karyawan menunggu Anda pulang dulu baru mereka pulang?
Tidak juga, karyawan bisa pulang usai jam dinas, yaitu pukul 02.00 Wita. Tapi saya biasanya selesai kerja pukul 17.00 Wita, baru pulang. Tergantung tingkat kesibukan juga. Karena saya tidak bisa atau tidak biasa tinggalkan pekerjaan sampai besok. Kerja hari ini harus selesai hari ini juga. Tapi kalau ada yang lembur, maka mereka dianggap melakukan kerja lembur. (alfred dama)



Data Diri Nama : Samuel Haning, S.H, M.H Tempat Tanggal Lahir : Kupang 9 September 1964 Agama: Kristen Protestan : Istri : Elisabet Waluwanja. S.H Riwayat Pekerjaan 1. PNS di Universitas Nusa Cendana 2. Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas PGRI NTT 3. Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Universitas PGRI NTT 4. Pembantu Dekan I (Bidang Akademik) FH Universitas PGRI NTT 5. Pembantu Dekan II (Bidang Administrasi dan Keuangan) Universitas Nusa Lontar Rote Ndao 6. Pembantu Dekan III (Bidang Kemahasiswaan) FH Universitas PGRI 7. Pembantu Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) Universitas PGRI NTT Profesi lain 1. Konsultas Hukum Kantor Bulog NTT 2. Penasehat Hukum Organisasi 1.Wakil Ketua I DPD I Partai Golkar NTT 2. Ketua Angkatan Muda Partai Golkar NTT 3. Ketua MPW Pemuda Pancasila 4. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Koni NTT 5. Sekretaris Pertina NTT.


Pos Kupang Minggu 4 April 2010 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda