SEMAKIN tinggi jenjang pendidikan yang dicapai dan semakin banyak gelar akademis yang disandang, isi otak orang semakin padat, wawasan semakin luas, way of thinking berubah dan orang semakin bertalenta.


Betulkah itu? Wallahualam bissawab! Tetapi titian sejarah hidup Romanus Woga membuktikan sebaliknya. Meski cuma tamat SMEA, Romanus menyingkirkan begitu banyak orang bertitel dari perguruan tinggi. Dia sukses meraih posisi puncak sebagai Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) di Indonesia 15 Mei 2010 lalu.

'Kursi panas' ini berhasil diraihnya tidak terutama karena prestasi akademik atau kemampuan inteligensi, tetapi karena kerja keras, kemauan membaja dan semangat pengorbanan.

Di tangan Romanus, nasib kopdit di Indonesia tiga tahun ke depan ditentukan. Bagaimana kisahnya sehingga laki-laki berkulit hitam ini meraih kursi Ketua Inkopdit? Seperti apa pandangannya tentang koperasi? Ikuti pendapatnya menjawab pertanyaan wartawan Pos Kupang, Tony Kleden, yang mewawancarainya di Hotel Marina, Kupang, Kamis (10/6/2010) lalu.


Bagaimana ceritanya sehingga Anda terpilih menjadi Ketua Inkopdit Indonesia?
Waktu pemilihan itu ada 12 orang maju. Masing-masing berbicara sekitar sepuluh menit memaparkan program kerjanya. Ada sekitar 600 orang yang hadir. Saya katakan kepada mereka semua yang hadir, if you can not be a clever person, be a kind one (jika Anda tidak bisa menjadi orang yang pintar, jadilah orang yang baik). Menurut saya, saya orang baik. Pernah menjadi anggota DPRD Sikka, menjadi penasehat Dekopin NTT, sudah keliling dunia kunjungi 20-an negara, tahun lalu dapat penghargaan dari presiden sebagai tokoh koperasi NTT. Kepada mereka saya katakan, pencalonan saya ini dari Maumere. Banyak pengurus kopdit di Indonesia memilih dan mendukung saya.

Anda nekad maju?
Ya, banyak yang tanya, Pak Romanus, mau kok jadi ketua? Kami mau dukung. Saya bilang, saya mau dan berambisi. Harus ada ambisi. The man without ambition, like a bird without wing. Orang yang tidak punya ambisi sama seperti burung yang tidak punya sayap.

Seberapa banyak sih dukungan untuk Anda?
Saya dapat 65 dari 90 suara yang memilih. Kemenangan besar seperti ini baru pertama kali terjadi. Biasanya selisih suara sedikit saja, lima sampai sepuluh suara. Berarti saya menang cukup mutlak.

Bagaimana perasaan Anda waktu terpilih?
Setelah kertas suara masuk ke kotak suara dan siap dihitung, saya pergi tidur di kamar di hotel. Kepada manejer saya, saya minta diberitahu hasil pemilihan melalui sms. Tidak lama, ketua lama dari Lampung, FX Siman, sms saya. Dia bilang, Romy (panggilan untuk Romanus), suara terbanyak. Saya belum percaya. Saya minta kawan satu kamar dengan saya coba sms tanya ke manejer saya. Manejer saya bilang, Mo'at dapat suara terbanyak. Saya langsung berlutut dan membuat tanda salib. Saya turun ke ruangan rapat. Semua yang hadir langsung serbu memberi ucapan selamat. Saya lihat sambutan luar biasa. Itu suatu kebanggaan. Padahal waktu itu saya hanya bilang dalam hati, untuk periode ini biar saya jadi pengurus saja, tidak berpikir untuk jadi ketua. Tetapi karena suara begitu mayoritas dan menang mutlak, saya tidak bisa tolak lagi.

Sebagai orang NTT, apa yang Anda rasakan waktu itu?
Itu suatu kebanggaan luar biasa, karena sama sekali di luar dugaan. Prof. Thoby Mutis, Rektor Trisakti bilang, Pak Romanus, Anda terpilih karena campur tangan dari Atas. Tetapi saya merasa punya beban berat, punya tanggung jawab besar. Pengurus di daerah-daerah meminta kunjungan kalau saya terpilih.

Saya terpilih tanggal 22 Mei 2010, dan tanggal 28 Mei saya jalankan tugas pertama meresmikan salah satu kantor kopdit di Jakarta Pusat. Saat membawakan sambutan, Prof. Thoby Mutis bilang, Pak Romanus, Anda punya sambutan ini luar biasa, sampai bulu badan saya berdiri..

Apa isinya?
He, he, he... Saya bilang, kemarin saya tiba di Jakarta. Malamnya saya ke Golden Truly beli buku tulis dan tadi pagi setengah enam saya tulis (sambutan). Saya tulis, vox audita perit, littera scripta manet. Apa yang didengar akan hilang, apa yang tertulis akan tetap tinggal. Saya bilang, peresmian kantor ini adalah langkah awal tugas saya.

Kiprah Anda terlibat di koperasi seperti apa, dan dari mana mulainya?
Saya ini cuma tamatan SMEA. SMEA Syuradikara, Ende. Saya dengan Prof Thoby Mutis itu teman sekolah, dia di SMA Syuradikara, saya di SMEA. Kami satu asrama. Ketika dia beri ceramah, saya bilang, Pak Thoby ini kami kawan sekolah, tetapi sekarang dia seorang profesor saya agresor. He.. he.. he... Tahun 1969 saya tamat SMEA. Setelah tamat, saya kerja dan bergabung dengan Pater Heinrich Bollen, SVD. Tetapi saya juga ingin kuliah pajak di Denpasar.

Pater Bollen bilang, banyak sarjana di Jakarta nganggur. Ada satu perspektus yang beredar, namanya Kuperda (Kursus Perkembangan Desa) di Bogor, cuma satu tahun. Itu terjadi tahun 1972. Setelah kuliah pajak itu juga tidak jadi, saya mau ke Malang, mau masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial di Malang. Saya sudah tanya kapal ke Malang. Pater Bollen tanya, di Malang berapa lama?

Saya jawab tiga tahun. Wah, lama juga, kata Pater Boleng. Dia tanya lagi, ke Malang dengan apa, saya bilang naik Kapal Ratu Rosari. Pater Boleng tidak putus asa. Dia bilang, kalau ke Kuperda Bogor, kau naik pesawat. Besok juga bisa pergi.

Wah, naik pesawat? Baik juga nih. Akhirnya saya katakan, baik pater, saya ke Bogor. Besoknya kami dua ke Kapolres urus tiket pesawat. Lalu saya dengan pesawat ke Surabaya, kemudian naik kereta api ke Bandung. Dari Bandung baru saya Bogor. Tahun 1973 waktu kembali ke Maumere, dia bilang kamu urus credit union (CU). Mulai tahun itu, selain tugas juga di Yaspem, saya mulai kembangkan CU dari desa ke desa beri motivasi.

Berijazah SMEA tapi fasih bahasa Inggris?
Ceritanya, tahun 1976 Pater Bollen ke Jerman. Banyak tamu dari luar negeri ke Maumere. Saya tidak tahu bahasa Inggris. Hanya yes no, yes no saja. Saya tulis surat ke Jerman, ke Pater Bollen, minta ikut kursus bahasa Inggris di Jakarta. Pater balas, kalau di Jakarta kamu hanya omong bahasa Inggris di dalam kelas, di luar kelas kamu omong bahasa Indonesia.

Lebih baik kamu ke Philipina. Makanya tahun 1977 saya ke Philipina ikut kursus South East Asia Rural Soscial Leadership Development di Xavier University Ataneo de Cagayan. Tahun 1979 saya kembali. Jadi bahasa Inggris saya bisa jadi baik.

Anda tetap kembali ke Maumere?
Ya, pulang dari sana saya kembali ke Maumere. Tahun 1982 ada program P3D (Program Pemugaran Perumahan Desa) dari Menteri Perumahan Rakyat. Karena Maumere jadi pilot project program itu, maka saya diminta beri ceramah di Yogya, di Malang tentang bagaimana melalui koperasi kredit orang bisa bangun rumah bertahap.

Tidak tertarik jadi PNS?
Oh, saya ditawari jadi PNS di Maumere. Suatu hari di rumah jabatan bupati (Dan Palle), kami bertemu dengan asisten menteri. Pak Dan Palle bilang, kalau besok masukkan lamaran, lusa diangkat. Waktu itu Pak Lorens Say juga ada. Dia bilang, sebaiknya kita tanya dulu Pater Bollen. Romanus ini dia punya orang. Malam-malam kami naik ke Watublapi tanya Pater Bollen.

Apa jawaban Pater Bollen?
Dia bilang, ya, Romanus sudah dewasa. Dia bisa tentukan sendiri bagaimana maksud saya membiayai dia. Wah, saya tidak bisa dengar jawaban seperti itu. Lemah memang. Malam itu juga kami kembali lagi ke rumah jabatan bupati.

Berat juga ya..?
Ya, Pak Dan tanya bagaimana? Saya bilang, saya pikir-pikir dulu malam ini. Pak Dan minta lagi, besok masukkan lamaran. Besoknya saya tidak masukkan lamaran. Waktu itu saya dijanjikan di Bagian Ekonomi.

Merasa rugi tidak jadi PNS?
Saya kemudian berpikir, kalau jadi PNS tidak mungkin saya keliling dunia seperti sekarang ini karena serba dibatasi.

Terus, kapan mulai gencarkan koperasi kredit?
Dari saat itulah kami mulai gencarkan koperasi kredit. Pater Bollen perintis, saya penggerak dari desa ke desa. Dalam perkembangan harus ada badan koordinasi untuk tingkat Flores. Dalam pertemuan kita di Ende dibentuk badan koordinasi CU seluruh Flores dengan kantor koordinatornya di Ende dan sub koordinatornya di Maumere.

Saya jadi Ketua Sub Koordinator Maumere. Karena semakin berkembang, maka wilayah kerja Sub Koordinator Maumere yang sudah mencakup Sikka, Flotim dan Lembata ditambah dengan daratan Timor. Karena itu saya mesti bolak-balik Kupang-Maumere.

Ada pengalaman istimewa waktu itu?
Ya, saya membuat kursus dasar tentang koperasi kredit pertama di Kupang. Saya lihat daftar peserta, wah, semua bergelar Drs, SH, Drs, SH. Saya gugup juga. Tetapi Pak Sumantri (pembantu di daratan Timor) bilang tidak apa-apa. Kami ini sarjana, tetapi tidak tahu credit union. Akhirnya saya berani juga.

Apa beda Kopdit dengan BK3D?
Ya, karena kita semakin berkembang dan maju, badan koordinasi tadi kita lepas dan membentuk BK3D (Badan Koordinasi Koperasi Kredit). Dan sejak zaman reformasi kita dapat badan hukumnya. Pada zaman orba sulit dapat badan hukum untuk koperasi kredit.

Kok susah dapat badan hukum?
(Angkat bahu) saya tidak tahu kenapa. Masuk zaman reformasi, Menteri Koperasinya, Pak Adi Sasono, dia kenal baik sama orang LSM. Dia minta agar masukkan berkas. Akhirnya Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) terbentuk dan berbadan hukum.

Berapa banyak anggota kopdit di wilayah Sikka, Flotim dan Lembata saat ini?
Sekarang anggota kita sekitar 80 ribu. Tetapi kalau dilihat dari penetrasi jumlah penduduk, itu belum apa-apa. Idealnya 30 persen dari jumlah penduduk.

Bagaimana Anda melihat penting dan bermanfaatnya koperasi kredit bagi masyarakat banyak?
Oh, masyarakat sendiri yang sekarang secara spontan katakan dengan adanya koperasi kredit saya bisa bangun rumah. Dengan koperasi kredit anak saya sudah sarjana. Dengan koperasi kredit saya bisa tebus gadai tanah. Itu kesan mereka. Ada pengalaman unik.

Waktu saya naik perahu motor dari Lembata ke Larantuka ada seorang haji datang ke saya. Dia bilang, Bapak Romanus, terima kasih. Tahun 1980-an bapak datang, kami bangun koperasi. Motor ini sebagian modalnya saya pinjam dari koperasi. Saya bangga, koperasi kredit betul-betul bermanfaat bagi masyarakat. Hal lain, kopdit juga membantu siapkan lapangan kerja. Sekarang ini kopdit itu butuh banyak sarjana untuk kerja. Kami juga umumkan kalau butuh tenaga. Dulu mana orang mau kerja di koperasi? Hanya orang-orang tua saja. Sekarang, ramai sekali.

Jalan Anda diwarnai banyak sukses. Apa sih rahasianya?
He... he... Tadi pagi sebelum ke sini, saya beri ceramah di Wisma Nazaret Nele, Maumere. Saya katakan, kenapa sekarang pengurus kopdit itu tingkat pendidikannya minim seperti yang saya alami? Tetapi saya mau katakan bahwa yang penting adalah niat, tekad dan mau mengabdi untuk masyarakat. Kalau mau mengabdi, maka Yang di Atas akan perhatikan. Kalau kita kerja hanya pikir uang, itu tidak bisa.

Semua staf saya waktu mereka lamar saya bilang, kalau mau uang cari kerja di tempat lain, tetapi kalau mau mengabdi untuk masyarakat boleh kerja dengan saya. Itu tertulis, sehingga kalau besok lusa tidak ada kenaikan gaji saya bilang, Anda kan mau mengabdi, bukan uang.

Gubernur gencar dengan Propinsi Koperasi. Apa komentar Anda?
Saya dukung langkah itu. Gubernur bertekad jadikan semua kabupaten di NTT kabupaten koperasi pada tahun 2013. Sekarang baru empat kabupaten. Kita ini sudah berjuang sejak dulu untuk majukan koperasi. Tetapi waktu Romanus Woga jadi Ketua Inkopdit, iklan ucapan selamat hanya dari kopdit-kopdit saja. Kenapa pemerintah tidak beri ucapan selamat? Kalau pemerintah juga beri ucapan selamat, maka masyarakat akan baca dan tahu bahwa ternyata benar pemerintah juga beri perhatian dan mendukung koperasi.

Apa langkah yang harus dilakukan pemerintah?
Tahun lalu saya berceramah di Larantuka tentang koperasi. Waktu itu ada orang pemerintah bilang akan hidupkan lagi KUD, hidupkan lagi koperasi-koperasi yang sudah mati. Saya bilang, omong gampang sekali. Menurut saya, KUD tidak mungkin hidup lagi.

KUD di mata masyarakat sekarang itu sama halnya dengan koperasi kopra dulu. Citranya sudah jelek, tidak mungkin hidup lagi. Menurut saya, jika kita ingin kembangkan koperasi maka yang harus dilakukan adalah memasyaratkan koperasi melalui jati diri koperasi.

Di KUD, orang masuk KUD hanya untuk jual komodoti, tetapi dia tidak tahu apa itu KUD. Tetapi di kopdit tidak. Jadi anggota harus pendidikan dulu, harus tahu tiga elemen penting koperasi, yaitu definisi koperasi, nilai-nilai koperasi dan prinsip-prinsip koperasi.

Penting sekali berarti pemahaman tentang koperasi, sehingga tidak macet....
Betul. Banyak koperasi macet justru karena orang tidak dibekali pengetahuan yang memadai tentang koperasi. Koperasi itu adalah sekumpulan orang yang bersepakat untuk sama-sama membentuk modal dengan menabung. Modal itu dipinjamkan lagi dan harus diangsur dengan membayar juga bunganya.

Pinjaman itu untuk usaha produktif demi kesejahteraan anggota. Sederhana sebenarnya koperasi itu. Pemahaman kepada masyarakat tentang koperasi itu harus diberikan secara baik dan benar sehingga masyarakat menjadi anggota yang berkualitas.

Sekarang banyak bantuan dari pemerintah untuk koperasi. Apa itu sudah benar?
Saya tidak setuju dengan program bantuan-bantuan melalui koperasi. Karena itu hanya memanjakan dan mematikan koperasi. Terbukti koperasi kredit yang mendapat bantuan itu mati. Tidak tahan bantingan. Karena kalau koperasi terima dana itu, berarti koperasi telah hilang daya swadaya dari para anggotanya. Anggota akan berpikir, tidak menabung juga dapat bantuan.

Di koperasi tidak bisa seperti itu. Tetapi kalau aset koperasi sudah besar dan bantuan dari pemerintah kecil, itu tidak apa-apa. Seperti Obor Mas, modalnya sudah Rp 150 miliar. Kalau ada bantuan Rp 5 miliar dari pemerintah, itu tidak apa-apa. Kalau aset masih kecil, dapat bantuan lebih besar, maka koperasi akan mati karena aset sendiri ditindis oleh bantuan. Ada tiga pilar koperasi yang harus dipahami jika ingin koperasi maju.

Yaitu pendidikan, swadaya dan sosial ekonomi. Jika masyarakat NTT mau koperasinya maju tiga pilar itu harus dipegang betul. Harus paham betul apa artinya koperasi. Koperasi bisa hidup dari swadaya anggota sendiri. Kemudian saling tolong menolong di antara anggota. Kalau tidak pinjam, harus kembalikan pinjaman sehingga menolong anggota lain yang mau pinjam.

Anda PD (percaya diri) kalau tampil di forum-forum resmi dan dihadiri orang-orang yang bertitel akademis?
Oh, PD saya. Saya pernah beri ceramah di India tentang kredit mikro. Sebelum saya ke sana, saya diwawancarai oleh seorang profesor yang datang ke Solo. Dari wawancara itu saya akhirnya disetujui untuk beri ceramah. Yang dengar itu sekitar 600 orang dari 20-an negara. Saya berani tampil. Waktu itu ada Profesor Mubyarto. Dia juga dorong dan katakan Indonesia harus tampil. *

Data Diri
-----------------

Nama : Romanus Woga
Istri : Matilde Klementina
Menikah : 27 Mei 1979
Anak-anak : * Emanuel Woda
* Robertus Woga
* Maria Matildis Woga





Pos Kupang Minggu 20 Juni 2010, halaman 03 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Soleman Dapa Taka


SEJAK berdiri tahun 2002 lalu, Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen Mercusuar Kupang sudah enam kali mengikuti Ujian Nasional (UN). Enam kali berturut-turut pula sekolah ini lulus 100 persen UN. Sungguh suatu yang luar biasa, sementara sekolah-sekolah yang lebih usia kebanyakan sulit lulus 100 persen, bahkan ada yang lulus nol persen.

Adalag Drs. Soleman Dapa Taka, MA yang mampu membawa sekolah ini meraih prestasi tersebut. Pria berdarah Sumba yang kini menjadi Kepala SMA Kristen Mercusuar ini mengatakan, daya dukung pihak yayasan sebagai pemilik sekolah serta penerapan metode mengajar yang tepat serta tenaga guru yang memiliki dedikasi tinggi merupakan kunci keberhasilan sekolah ini.

Karena konsisten menjaga kepercayaan dan kerja keras, lulus 100 persen setiap tahun menjadi hal yang biasa bagi sekolah ini.

Berikut petikan perbincangan dengan Pos Kupang dengan Soleman Dapa Taka.

Sekolah ini boleh dikatakan masih baru, tapi Anda sudah bisa membawa sekolah ini sukses enam tahun berturut-turut.

Saya sebagai kepala SMA Mercusuar sejak tahun 2002 saat sekolah ini dibuka diuntungkan oleh situasi yang memungkinkan saya untuk bisa maksimal di sekolah ini. Pertama, ini sekolah swasta. Konteks kita di NTT -- mungkin di daerah Jawa-Jakarta, swasta atau negeri itu tidak terlalu masalah, tapi di NTT beda.

Permasalahan pendidikan di NTT sangat jelas dan ini sudah sering dibawa ke forum-forum seminar, diskusi dan lainnya, tapi pendidikan kita begini-begini saja. Nah, bagaimana saya bisa membawa sekolah ini enam tahun lulus 100 persen, menjaga kualitas pendidikan pada swasta, yaitu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Hal lainnya adalah konsep dan kebijaksan yayasan yang memungkinkan kita bekerja maksimal.

Misalnya begini, kalau saya punya keinginan untuk memajukan sekolah ini, maka yayasan selalu mendukung. Jadi tidak sulit bagi saya untuk mengembangkan sekolah ini untuk bisa berprestasi secara akademik.

Bagaimana dukungan yayasan?
Baik, kita lihat bahwa konsep awal Mercusuar adalah harus memilih, menentukan sekolah model apa yang kita mau bangun. Tidak sekedar melihat orang lain bikin sekolah dan kita juga bikin sekolah ,tanpa mengetahui produk yang hendak kita jual itu apa dan bagaimana.

Karena itu Ketua Yayasan, Pak Hendri Riyadi ini sudah menentukan bahwa sekolah ini harus punya kelas sendiri. Mungkin itu tidak ditulis secara eksplisit, tapi cita-cita beliau sekolah ini harus punya kriteria sendiri. Untuk menciptakan sebuah sekolah yang punya standar tersendiri atau punya kelas tersendiri itu banyak hal yang harus dilakukan.

Pertama, harus punya modal, seperti punya gedung sendiri atau tidak pinjam-pinjam atau sewa gedung milik pihak lain dan modal untuk bisa survive untuk lima tahun itu harus ada. Sekolah baru itu masih harus mencari identitas, cari pengakuan dan lain-lain dan harus juga bisa membuktikan kepada masyarakat. Untuk bisa membuktikan kepada masyarakat, kerja keras luar biasa.

Apakah lulus 100 persen itu pembuktian sekolah ini?
Saya pikir bagaimana kita harus menghasilkan lulusan yang baik itu, ya kita butikan pada masyarakat, itu yang berdampak baik pada survive-nya sekolah ini. Kalau kita buka sekolah dan hasilnya sama saja, seperti anak-anak ikut ujian banyak yang tidak lulus, maka orang tidak melihat ada sesuatu yang menarik untuk mereka datang ke sekolah ini.

Tapi kalau kita berani tunjukkan bukti seperti lulus 100 persen, orang akan coba untuk mempertaruhkan anak-anaknya datang ke sekolah ini. Tapi lulus 100 persen bukan yang utama, menghasilkan lulusan yang berkualitas mungkin yang paling utama.

Apakah target 100 persen merupakan satu-satunya tujuan di sekolah ini?
Ah, salah satu satu saja sebenarnya, tapi orang biasanya melihat kalau lulus 100 persen itu menunjukkan kualitas sekolah yang kelihatan, tetapi lulus 100 persen itu merupakan hasil yang lumrah kalau sistem yang kita jalankan sudah bagus, karena tidak mungkin kita mau dapat hasil yang lulus semua, tapi sistem dan prosesnya tidak benar.

Kita sebenarnya sangat menekankan proses. Proses untuk bisa jalan dengan baik, bisa mengisi anak-anak dengan betul, anak- anak tidak saja lulus tetapi dia punya moral, punya etika. Sistemnya itu ada di dalam itu. Masa proses selama tiga tahun berada di sekolah ini, dididik di sini, itu sangat menentukan masa depannya. Untuk menentukan proses yang baik itu, kita harus menentukan varibel-varibel apa yang menentukan kelulusan itu.

Satu misalnya guru, guru itu tidak asal memilih guru, tidak asal menerima guru yang hanya bisa cari kerja, karena keluarga atau orang yang kita kenal karena bisa mengajar. Belum tentu keluarga atau kerabat itu bisa mengajar dengan baik, padahal kita harus punya kelas dengan standar tersendiri. Karena itu memang harus berani seleksi guru, siapa pun dia. Kebetulan keluarga, tetapi kalau dia tidak bisa yang memenuhi syarat, dia tidak masuk.

Bagaimana dengan jumlah siswa?
Kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas agar bisa berhasil dengan baik, bisa berkualitas itu harus dengan jumlah siswa yang ideal. Untuk sebuah KBM seperti halnya di luar negeri hany 15 orang paling banyak dan kita bisa bandingkan 15 orang dalam satu kelas dengan yang 40 orang, pasti yang lebih efektif yang 15 orang itu. Nah itu yang kita juga terapkan di sekolah ini dan secara konsisten.

Tidak boleh dipengaruhi faktor lain seperti inflasi atau ekonomi memburuk. Itu tidak boleh dan itu tetap kami pertahankan dan jaga dengan baik, konsistensi untuk mempertahankan jumlah siswa kami yaitu 20 orang perkelas.

Tidak hanya jumlah siswa yang perlu diatur, tetapi metode mengajar juga dan setingan ruang kelas. Nah untuk KBM yang efektif yang jumlah sudah ideal, ruang kelas juga memungkinkan anak-anak bisa berinteraksi yang baik dan semua bisa mendapat kesempatan dalam proses pembelajaran.

Kalau banyak siswa itu mungkin yang dapat giliran menjawab itu hanya satu atau dua saja. Tapi kalau jumlah kecil dan dibagi lagi dalam kelompok-kelompok kecil, maka dalam waktu yang bersamaan itu mereka ikut ambil bagian dalam kelas itu sehingga tidak ada yang pasif. Semua bisa aktif.

Setingan ruang kelas di sekolah ini bagaimana?
Setingan ruang kelasnya kita buat paling buruk itu leter U karena leter U itu tetap satu fokusnya, walaupun mereka masih dimungkinkan saling tatap, tapi yang paling bagus itu "O " kecil atau meja bundar, itu baru memungkinkan mereka berinteraksi satu dengan lainnya.

Dalam proses KBM tidak boleh dilarang siswa yang kerja sama, mereka memang membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, untuk berdiskusi. Kalau dengan guru mungkin ada faktor psikologis yang menghambat, mereka harus bebas untuk menyampaikan pertanyaan pada sesama teman dengan leluasa. Atau sesama teman dia bisa leluasa.

Jadi secara psikologis sangat membantu siswa untuk mengekspresikan diri sehingga turut membentuk kepribadiannya. Siswa yang diberi keleluasaan ini sangat berbeda dengan siswa yang dalam belajar mengajar dijaga dengan ketat, belajar juga harus menghadap ke depan. Mungkin penerapan manajemen ini, saya juga belajar dari sekolah-sekolah yang sudah lebih maju seperti SMAK Giovanni yang disiplinnya sangat terkenal, ada hal-hal penting yang juga memberi andil bagi saya bisa kelola sekolah ini dengan lebih baik.

Tentang guru, di sini guru masih muda semua. Apakah Anda sengaja memilih guru yang energik? Kenapa tidak pilih guru yang senior, kan lebih berpengalaman?
Kalau mau pengalaman ya kita cari guru-guru yang sudah tua atau yang senior, tapi saya pikir itu bisa kita tutupi dengan kemampuan atau potensi guru yang kita ambil, guru yang baru walau dia masih muda. Guru yang cukup cerdas sehingga hanya omong sekali, tapi langsung bisa mengerti, bahkan dia bisa kreatif. Orang-orang yang kita cari adalah orang-orang kreatif sehingga sekali baca buku, dia bisa kembangkan sendiri.

Guru senior juga memiliki kelebihan atau tidak kalah, tapi tidak selamanya umur atau masa kerja itu menentukan kualitas kerja. Juga yang senior-senior kita hindari di sini karena ini lima lantai dan standar kita sudah pasang tinggi sehingga mobilitas juga sangat tinggi, kalau kita punya guru yang umur 50 tahun wah bisa kacau.

Misalnya saya instruksikan apa dan ingin cepat lihat hasilnya, kalau senior kita suruh turun dan naik lagi, kalau lima kali ya bisa mati orang itu. Jadi memang disengajakan untuk itu dengan tidak bermaksud untuk tidak menghargai yang senior-senior. Saya malah kasihan yang senior, sudah tua dan harus naik sampai lantai dua dan sudah terengah-engah, nanti bagaimana dia bisa mengajar, bagaimana bisa naik lagi sampai lantai lima, bagaimana dia bisa mengawasi anak-anak.

Bagaimana bentuk pengawasan terhadap guru untuk bekerja seperti yang Anda harapkan?
Itukan ada evaluasi dan supervisi ataupun yang terus menerus, tidak harus masuk di kelas, tapi evaluasi secara terus menerus terhadap kinerja guru. Kebetulan saya tidak menggajar, jadi saya bisa leluasa melakukan begitu banyak hal pada manajemen, sehingga gampang ke sana-kemari untuk melihat pembelajaran di kelas. Manajemen itu yang sangat penting adalah delegation, memberi delegasi atau pembagian tugas kepada bawahan.

Karena itu, semua harus jelas, instruksi harus jelas dan kepala sekolah harus mampu menerjemahkan apa yang kita instruksikan. Dan, dia bisa dipercayakan untuk bisa mengerjakan sampai tuntas semua pekerjaan, antara lain mengawasi guru dan melaksanakan supervisi baik langsung maupun tidak langsung. Evaluasi bulanan itu yang rutin, tapi yang mingguan itu kita selalu lakukan untuk melihat hal-hal yang kurang yang mana sehingga kita bisa putuskan dengan cepat.

Satu kelas berapa wali kelas?
Jadi satu kelas itu antara 15 hingga 20 orang tetap dengan dua guru wali. Karena yang kita kejar adalah meminimalisir masalah yang ada pada siswa. Siswa kalau terlalu banyak, maka banyak pula masalah yang tidak terpecahkan, tidak tersentuh, tidak ada yang memperhatikan permasalahan yang dihadapi, maka sulit untuk pelajaran itu bisa berhasil. KBM sangat ditentukan bagaimana kita mengatasi kendala-kendala yang dihadapi siswa.

Bahkan kalau bisa tiga guru mengajar sekaligus dalam satu kelas. Lebih banyak guru yang memperhatikan, maka lebih ringan. Dan, standar kami dua orang guru untuk 20 orang, artinya satu berbanding 10. Nah, satu orang walaupun tidak ada pembagian secara khusus atau terpisah, tapi dengan ditangani dua orang, maka semua masalah menjadi ringan. Perkembangan siswa itu bisa diawasi, kelemehan bisa terdeksi sehingga lebih cepat diatasi. .

Apakah guru di sini juga memantau siswa belajar di rumah?
Jadi suasana yang kita ciptakan di sekolah ini adalah menganggap anak itu bukan murid atau bukan siswa, tetapi menganggapnya sebagai anak, sebagai adik atau sebagai keluarga.

Ikatan itu yang kita ciptakan, ikatan antara guru dan siswa, komunikasi antara mereka juga tidak terlalu formal apalagi saat istirahat dan memang saya tegaskan bahwa guru harus punya ikatan emosional dengan anak-anak, sehingga masalah apa pun itu anak-anak tidak akan sungkan-sungkan untuk menyampaikannya pada guru.

Guru berkunjung ke siswa bahkan siswa belajar kelompok ke rumah guru, ini karena demikian dekatnya hubungan mereka, sehingga selama tiga tahun siswa berada di sini tidak ada yang tidak pernah dikunjungi oleh guru atau tidak ada siswa yang tidak kenal gurunya di sekolah ini. Semua siswa pasti tahu di mana rumah gurunya terutama wali kelasnya.

Sekolah ini pada awalnya dianggap mahal atau sekolah mewah. Menurut Anda?
Sebenarnya mahal itu relatif sekali. Saya pikir semua orang akhirnya sadar bahwa slogan untuk sekolah murah berkualitas itu sebenarnya sangat tidak masuk akal. Ini sama dengan kebutuhan lain, misalnya kita ingin baju yang bagus tapi uangnya hanya Rp 10 ribu, jadi itu mustahil.

Oleh karena itu pendidikan berkualitas itu butuh biaya. Kita definisikan dulu apa itu pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas itu didukung dengan fasilitas, anak-anak itu tidak buta teknologi dan untuk itu diperlukan komputer di sekolah. Nah kalau tidak ada komputer satu unit pun karena uang sekolah hanya Rp 10 ribu perbulan, bagaimana pendidikan bisa berkualitas.

Apa saja fasilitas di sekolah ini?
Yang terakhir itu untuk bisa akses buku sekolah elektronik (BSE) itukan harus ada akses internet. Nah, anak-anak ini hampir sebagian besar bawa laptop ke sekolah. Itu karena kita pakai Wi-Fi, dengan hot spot dari lantai I sampai lantai V.

Jadi para siswa ini membawa laptop dan bisa akses internet dan mata pelajaran melalui internet. Karena guru memberikan penugasan mandiri dan mencari bahan untuk bikin tulisan atau rangkuman materi dan paling cepat dapat di internet itu. Dan, anak-anak diperkaya dengan teknologi seperti itu.

Kalau soal komputer, multimedia LCD, itu sudah dari dulu. Itu semua butuh biaya dan tidak murah. Gaji guru juga tidak kecil, karena ini terkait dengan motivasi para guru untuk mengajar. Di situlah terletak biaya tinggi, tapi istilah mahal ya tergantunglah, atau mau makan enak ya tidak bisa dengan modal Rp 2 ribu. Sama juga dengan pendidikan, jadi relatiflah.

Jadi IT di sekolah ini sudah hal yang biasa.
Ya..kalau ada sekolah yang belum ada IT, itu ketinggalan sekali. Tergantung kemauan sekolah. Tinggal kemauan kita untuk mengadakannya. Kita ada lab IPA yaitu Fisika, Kimia, Biologi dan Geografi. Kalau lab bahasa itu sebenarnya tidak terlalu efektif juga. Kita pakai cara mendengar melalui speaker saja, sehingga telinga siswa terbiasa mendengar yang demikian, kalau dengan headset kurang baik. Nanti di ujian juga mendengar pakai speaker juga.

Apakah seleksi ketat saat kenaikan kelas ini juga dilakukan sehingga sekolah ini terus meraih kelulusan 100 persen?
Berbicara untuk memastikan mereka lulus itu kita tidak bicara satu bulan atau satu tahun sebelumnya, jadi sistem pendidikan baik adalah keseluruhan sistem untuk menggodok siswa dari masuk hingga tamat.

Sehingga bagi kami untuk mempersiapkan anak hingga lulus harus dipersiapkan sejak dia masuk. Bagaimana anak yang kita didik ini lulus saat UN, setelah tiga tahun, setelah melalui tahapan naik kelas II dan ke kelas III itu benar-benar siswa yang siap untuk ikut UN. Harus serius, harus disiplin. Ini merupakan hal-hal yang menentukan. Ada orang yang pintar, tapi tidak disiplin ya sulit. Dan setiap tahun kenaikan kelas kami saring. Untuk naik kelas II, kami seleksi lagi. Jadi tidak semua naik kelas, demikian juga ke kelas III.

Tapi, dari kelas II ke kelas III ini harus lebih ketat karena ini ke kelas UN. Kita jangan hanya senang dipuji-puji karena bisa menaikkan semua anak. Jadi mau lulus 100 persen, jangan semua naik kelas. Karena di mana-mana ada yang paling pintar tapi ada yang paling kurang juga. Kekurangan ini mungkin karena tidak disiplin dan lain-lain.

Anda begitu memiliki motivasi untuk bekerja keras, mengapa?
Karena sudah diberi tanggung jawab, jadi kerja juga harus maksimal. Sia-sia kita membuang waktu kalau kita kerja hanya asal-asalan. Apalagi kita dipercaya oleh yayasan dan diberi penghargaan yang sesuai, jadi pantas juga buat kita untuk kerja maksimal dan tidak hanya yayasan yang kita puaskan, tetapi juga masyarakat. Sebenarnya saya juga merasa terbeban dengan harapan masyarakat pada sekolah ini.

Tidak gampang masyarakat mempercayakan anaknya selama tiga tahun di sekolah ini. Para orangtua ini sangat menginginkan anak-anak mereka bisa sukses dan ini menjadi motivasi bagi kami untuk maju, jadi dengan biaya tinggi menurut mereka.(alfred dama)
Data diri

Nama : Drs. Soleman Dapa Taka,MA
Tempat Tanggal Lahir : 22 Juli 1965
Jabatan : Kepala SMA Kristen Mercusuar-Kupang
Pendidikan :
SDN Lingu Lango-Kec. Tanah Ringhu, tamat tahun 1976
SMPN I Waikabubak, tamat tahun 1980
SMA Kristen Waikabubak, tamat tahun 1984
S1 Bahasa Inggris-FKIP Undana, tamat tahun 1991
S2 La Trobe University-Australia, tamat tahun 1999.

Istri : Maria Mengga
Anak-anak :Fani Dapa Taka
Fajar Dapa Taka
Farel Dapa Taka



Pos Kupang Minggu 13 Juni 2010, halaman 3 Lanjut...


POS KUPANG/ALFRED DAMA dr. Octavio A.J.O. Soares, M.Kes bersama keluarga

SAAT meninggalkan pekerjaan lama sebagai dokter pada Rumah Sakit Pertamina Balikpapan-Kalimantan Timur, dr. Octavio A.J.O. Soares, M.Kes dianggap telah melakukan keputusan yang keliru. Sebab, bekerja sebagai dokter di rumah sakit bertaraf internasional tersebut bukan saja mendapat penghasilan yang di atas rata-rata, tetapi juga kebanggaan.


Tidak semua tenaga kesehatan bisa diterima dengan muda bekerja di rumah sakit perusahaan minyak terbesar di Indonesia tersebut. Bagi dr. Octavio A.J.O. Soares, M.Kes bisa bekerja di rumah sakit tersebut juga merupakan sebuah kebanggaan. Tetapi baginya, kembali ke Timor merupakan panggilan yang harus dijawabnya. Apa saja rencana dan kiprah dokter ganteng ini, berikut perbincangan Pos Kupang dengannya.

Anda dulu ikut mengungsi dari Timor Timur ke NTT dan memilih hijrah ke Kalimantan. Mengapa?
Waktu saya pergi bukan hanya melarikan diri dari cita-cita. Tahun 2000-2001, kami memiliki problem sosial yang begitu besar. Kami pindah dari Dili akhir tahun 1999 sampai tahun 2000 tidak ada yang kami perbuat. Yang kami tahu adalah menyelamatkan diri karena banyak yang mati.

Saat mengungsi ke sini, saya tidak banyak berbuat karena saya mengungsi dengan nenek saya. Bisa bayangkan saya mengungsikan nenek-nenek usia 80-an tahun. Kita melewati perjalanan panjang dan hampir tiga kali mau dibunuh sama gerombolan Besi Merah Putih di perbatasan Maubara dan akhirnya kita bisa sampai di sini. Boleh dibilang akhir tahun 1999 sampai tahun 2000 kami hanya sekadar mau survive.

Pada masa itu muncul banyak ide dan pemikiran dengan Bapak Abilio Soares, dan kami sering diskusikan banyak hal termasuk pembangunan sebuah rumah sakit. Tapi, kita kami pikir-pikir di sini kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kebetulan kami hanya bisa mendirikan Yayasan Harapan Timor tahun 2000. Kami melihat NTT ini over load, satu hal yang kami lihat pada masa itu over load oleh anak-anak usia sekolah.

Anda mengungsi dengan siapa saja saat itu?
Saya dari Timor-Timur ke sini kami mengungsi dengan 12 KK, tidak terhitung dengan keluarga dekat saya seperti nenek, tanta, mama, adik, dan anak usia sekolah sebanyak 47 orang. Bisa dibayangkan. Kami pertama mengungsi di SD GMIT Atambua.

Saya melihat bahwa problem terbesar adalah anak-anak itu, mereka tidak sekolah, dan dengan yayasan ini kami mengungsikan mereka ke Jawa. Saya kebetulan ada hubungan baik dengan para suster di sana. Nah, tahun ini semua sudah tutup dan tidak ada lagi program itu, dan kita anggap pemerintah NTT setelah 10 tahun sudah punya infrasturuktur dalam hal ini sekolah yang cukup.

Karena ya, waktu itu kan tiba-tiba, pemerintah hanya berpikir resetlemen untuk orang hidup dan bukan untuk orang sekolah. Kami saat itu berusaha membantu walaupun sangat sedikit saat itu, yakni dengan membawa mereka ke Jawa untuk sekolah. Kami bersyukur sekarang di antara mereka ada delapan orang yang rencananya ada yang mau jadi suster dan pastor. Nah, mereka ini tidak pulang ke sini, ada yang di Boro, Kabupaten Progo, Magelang, di Mertoyudan. Dan ada yang di Wonosari.

Anda sendiri mengapa ke Kalimantan?
Saat itu situasi tidak menentu, muncul milisi bersenjata ngancam sana ngancam sini, hadang orang di sana-sini. Termasuk saya beberapa kali dihadang di Noelbaki, Tuapukan, karena saya masih sering bolak-balik untuk kegiatan asistensi kesehatan pengungsi Timor-Timur di sini. Pernah saya dihadang di Noelbaki oleh anak muda pengungsi. Mereka tidak tahu saya dan ketika saya memberitahukan siapa saya, baru mereka minta maaf.

Jadi bikin malu saja. Kondisi-kondisi seperti ini kan bikin kita harus prihatin. Tetapi itu bukan alasan untuk kita memperkenankan seperti itu. Itu juga yang membuat saya berpikir waktu itu dan apalagi saya baru menikah tahun 2001. Waktu itu saya berdoa, saya katakan Tuhan, saya baru menikah, istri saya juga bukan orang Timor. Di sini juga sudah banyak masalah, yah saya malu kalau hanya kumpul dan bikin masalah. Makanya saya mencoba merantau ke Kalimantan.

Saya sebenarnya minta waktu kepada almarhum Abilio Soares lima tahun. Setelah lima tahun saya bisa mengabdi, bisa menjadi pembantu di negeri orang, saya siap memimpin dan ayah saya mau kasih apa saja, saya siap. Saya pindah ke Kalimantan, semua Tuhan yang atur. Saya sampai ke sana dan saya hanya sempat menganggur empat bulan dan saya melamar di semua tempat. Akhirnya saya diterima di Rumah Sakit Pertamina, sesuatu yang saya tidak pernah bayangkan. Saya testing di semua perusahaan termasuk di pegawai negeri sipil, saya tidak diterima.

Masalahnya satu saja, yakni agama saya berbeda dengan umumnya orang di sana. Tapi berkat Tuhan datangnya sangat misterius dan saya tidak tahu. Di Balikpapan, tanpa persiapan apa-apa, tanpa ada koneksi apa-apa saya diterima dan saya mulai bekerja. Setelah tujuh bulan saya di Kalimantan, almarhum ayah saya datang hanya untuk memastikan kalau anaknya betul kerja atau apa.

Apa yang ayah Anda katakan saat ia temui Anda di Balikpapan?
Pertama, ketika ayah datang kami berdua bersitegang. Maklumlah, anak sama ayah, apalagi anak laki-laki. Dia lihat rumah, lihat kondisi kami dan dia bilang kalian bisa tinggal di sini. Tapi dia katakan kalian tetap harus pulang ke Kupang. Memang saat itu, kami sering bertemu karena kantor pusat Pertamina ada di Jakarta dan dia sering bolak-balik ke Jakarta dan kami bertemu di Jakarta.

Sementara dalam proses perjalanan, Tuhan juga mengatur yang lain dan saya sudah dalam posisi sudah siap-siap dan saya mundur dari pegawai Pertamina ketika almarhum Abilio meninggal. Tapi biasalah, idealisme kita kadang-kadang susah. Saya kerja di Pertamina sama seperti saya ketika tidak mau jadi PNS juga karena idealisme saya. Saya khawatir dengan profesi saya dengan latar belakang filosofi hidup saya. Saya anak yatim sejak lima tahun, ayah saya dibunuh oleh Fretelin dan kalau boleh dibilang kami hidup dari janda.

Makanya dalam filosofi hidup saya kalau boleh hidup yang normal-normal sajalah, tanpa kontaminasi yang aneh-aneh. Sama seperti ayah saya meninggal tanpa meninggalkan kami apa-apa, tapi mengagumkan. Buat saya itu suatu mujizat dan saya bisa jadi dokter, padahal saya tidak pernah bayangkan, dari lulusan UGM lagi. Suatu hal yang tidak ada di benak saya dan saya memaknai itu untuk hidup saya bahwa Tuhan itu bekerja, kalau kita juga bekerja.

Apa yang Anda lakukan setelah keluar dari RS Pertamina?
Dalam perjalanan setelah saya mundur dari Pertamina, kemudian balik lagi. Keluarga memang banyak kenal dengan tokoh-tokoh nasional. Salah satunya Prabowo Subiyanto. Beliau dengan almarhum Abilio dan paman saya di Denpasar sekarang seperti kakak adik. Waktu beliau masih letnan di Timtim, saya tidak sombong, tapi rumahnya di Cendana 9 itu saya sudah masuk keluar.

Bagaimana hubungan Anda dengan Prabowo?
Hubungan kami sangat baik, seperti keluarga. Kami juga sempat menghuni rumahnya di Cianjur dan sudah seperti keluarga, tetapi saya tetap hormat. Waktu beliau buat partai, dia menghubungi saya di Kalimantan. Dia katakan, kamu bisa bantu saya, dan katanya dia membutuhkan orang yang bisa membantunya.

Ya, saya tidak bisa buat apa-apa. Karena saya jujur saya ketemu Pak Subiyanto terakhir ketika pemakaman ayah saya. Walau almarhum (Abilio Soares) tidak ada tetapi beliau tetap menunjukkan hubungan kekeluargaan yang begitu besar. Dan ketika dia menelepon saya tahun 2009 untuk mengurus partainya di sini, sebagai tanda terima kasih saya harus menjawab permintaannya. Saya katakan saya siap.

Saya pulang memang agak kalut, karena sudah kerja baik-baik dan harus pulang, tetapi istri saya katakan, kan kamu sama beliau sudah seperti keluarga. Yah, akhirnya saya berpikir bahwa Tuhan menggiring saya untuk ke sini. Saya bersyukur bahwa walau kecil-kecil bantuan saya tetapi di NTT Partai kami lumayan punya gigilah.

Lalu Anda pulang?
Ya, akhirnya saya pulang ke sini dan saya pikir adik-adik saya banyak yang sudah selesai sekolah dan tidak bisa diserap oleh pekerjaan. Dan iklim investasi di sini untuk menciptakan pekerjaan sangat tidak kompetitif dan agak susah. Jadi saya pulang dengan misi sederhana, membangun klinik ini, dan berharap bahwa mimpi yang dulu pernah diungkapkan oleh almarhum belum sempat terwujud tetapi mulai perlahan-lahan.

Walau kami baru mulai merayap tetapi bisalah, sehingga adik- adik yang belum diserap oleh pasar bisa mulai belajar bekerja di sini dan sambil menemukan apakah bisa tidak.

Tapi di Kupang sudah banyak klinik....
Saya sih hanya berharap kepada masyarakat bahwa kami juga bisa menjadi alternatif. Artinya kesehatan itu semestinya bisa memberikan option. Jadi misalnya si A berobat ke dokter A dan penjelasan dokter A kurang jelas, dan si A bisa cari lagi dokter B. Sebenarnya bukan untuk menentukan diagnosis atau mengobati, tetapi paling tidak bisa memberikan ketenangan kepada pasien bahwa apa yang dijalaninya sudah benar atau apa yang diadvis oleh dokter sudah benar.

Itulah alternatif dari saya yang bisa ditawarkan kepada masyarakat di NTT khususnya Kota Kupang dan sekitarnya. Kalau untuk keluarga kami yah saya bisa memberdayakan adik- adik saya yang ada di sini dan bekerja sama dan merintis kembali apa yang diinginkan oleh almarhum tetapi tidak bisa. Jadi lebih pada perjalanan sejarah balik.

Rencana dirikan RS itu akan tetap dilanjutkan?
Oh jelas. Itu masih menjadi obsesi saya. Mungkin agak sombong kalau saya bilang saya punya network lumayan. Saya pernah bekerja dan saya punya cukup pengalaman. Saya dulu pernah ditawari oleh seorang teman saya, seorang dokter senior dari RS Mounth Elisabeth Singapura.

Terakhir baru sebulan yang lalu kami kontak dan dia ingin membangun rumah sakit. Biasalah kalau orang mau bangun rumah sakit, tapi ini pelayanan, dan tidak mungkin menghidupi rumah sakit kalau tidak ada targetnya untuk bisnis. Harus diakui bahwa membuat RS sekarang tu tidak mudah. Kalau dari sisi manajemen rumah sakit idealnya satu ruangan sekitar Rp 600 juta, kalau 10 ruangan silahkan bayangkan berapa. Artinya kalau ingin membangun RS yang ideal kita harus tahu bahwa dia oksigennya harus sentral, tidak ada yang namanya tabung didorong masuk sana-sini. Kalau kita mau bangun rumah sakit yang bagus mestinya biar kecil tapi nyaman. Jadi investasi untuk rumah sakit tidak main-main.

Saya pernah studi banding di beberapa negara di Amerika, Eropa, Jepang. Yang menarik buat saya sebetulnya di Jepang. Di sana perawat tidak pakai baju putih seperti yang punya kita. Jadi kalau di anak-anak, bajunya dibuat menarik sehingga anak-anak merasa tidak takut dengan perawat, kamarnya juga dibuat bagus.

Ini sebenarnya bisa kita ambil, bahwa orang Timor memang hitam, keriting yah, tetapi apakah karena dia hitam dan keriting dia tidak layak mendapatkan fasilitas seperti yang ada di Jepang. Saya pikir semua orang layak dan pantas untuk mendapatkan hal-hal seperti itu.

Kenapa Anda pilih keahlian di Manajemen RS, bukan keahlian pada penyakit tertentu?
Balik lagi ke filosofi saya, saya anak yatim. Jadi dokter saya sudah mujizat. From zero to hiro, saya selalu tahu diri. Jadi ketika saya mulai merencanakan saya punya masa depan, saya sudah berpikir bahwa saya harus sudah tahu diri. Kalau orang Jawa katakan ngono yo ngono, ngiyo ojo ngono, tetapi kalau boleh jangan begitu.

Orang Jawa katakan orang tu harus selalu ingat dan mawas diri. Nah, ini yang sering saya bawa. Ketika lulus sebagai dokter umum, ada yang menawarkan untuk lanjut ke spesialis bedah. Saya masih ingat sekali dengan beliau senior kami spesialis bedah anak, dr. Rohadi. Dia kejar saya seperti anaknya. Saya katakan tidak mungkin. Memang ini anugerah Tuhan buat saya, tetapi saya harus tahu bahwa ada hal lain yang saya pikir.

Saya ingat saja dari perang saudara tahun 1975 tahun 1999, suatu lagi dan saya katakan Tuhan masih cukup sayang buat saya dan saya jangan cari-cari penyakit baru. Saya memang berprinsip saya akan lanjut sekolah dengan meminimalisir problem dengan membayar sendiri sekolah saya. Dan Tuhan sudah mengatur, saya kerja di Pertamina selama tiga tahun, pertama saya punya duit untuk sekolah, saya punya rumah dan saya beli mobil.


Bagi masyarakat NTT yang tidak mampu, biaya ke dokter mahal sekali. Padahal dokter kerja untuk manusia. Apa alasan sekolah dokter mahal menjadi pembenaran?
Kalau saya lihat, saya ahli kesehatan masyarakat dan bicara dalam sistim kesehatan masyarakat tanpa tendensi apa-apa. Saya pertama melihat kewenangan itu harus dibatasi dan kami harus dikontrol oleh nilai-nilai yang benar-benar nilai kemanusiaan.

Saya biasa bicara kami dokter memang mudah sekali menjual dan mudah sekali dibeli. Tetapi bukan karena itu, tapi karena nilai kemanusiaan dan nilai profesi kami sebagai dokter. Kita semua boleh berhitung duitlah, ayah saya dan ibu saya menginvestasi berapa buat saya menjadi dokter.

Tapi begitu Anda dibayar oleh negara, dibayar oleh daerah, hukum itu tidak berlaku, itu semua mestinya dipotong. Kok kamu dibayar oleh daerah kok, mendapat pesan pegawai negeri, dikasih duit. Terus di sini tiga tahun, empat tahun terus mau keluar ke tempat lain, nggak ada. Saya tidak setuju itu. Saya berani omong karena saya sekolah bayar sendiri.

Mestinya budaya malunya harus ada, dan kita tidak ada budaya malunya. Itu harus dibatasi. Itu tadi regulator harus bisa main di situ. Kewenangan yang besar seorang dokter harus dibatasi, rule of game-nya apa. Kalau rule of game-nya sudah ada harus dilihat suplay and demain-nya seberapa. NTT ini suplay and demain masih kurang, masih sangat tinggi keinginan masyarakat untuk berobat, tetapi ketersediaan dokter sangat sedikit.

Kadang-kadang masyarakat tidak tahu karena harus ke dokter yang mahal, karena ke dokter yang mahal pasti obatnya paten, padahal tidak tahu kalau dokternya mahal juga sama saja. Di Jawa dan kalimantan memang sudah sampai ke titik seperti itu, yakni pemberdayaan pasien. Hampir setiap perusahaan kesehatan di Kalimantan sudah menggunakan jasa health manajer (manajer kesehatan) yang bisa menjadi karyawan, tetapi juga menjadi konsultan.

Kembali ke zero to hero. Waktu masih kanak-kanak sudah berpikir menjadi dokter atau seperti kebanyakan anak-anak begitu?
Lucu, saya ini hidup dari dua dunia. Saya lahir sebagai orang Portugis, besar sebagai orang Portugis. Ibaratnya kalau sekarang saya mau merevitalisasi kembali nasionalisme saya sebagai orang Portugis sebenarnya juga tidak susah. Tapi saya melihat bahwa pikiran saya adalah pikiran orang Indonesia, karena ayah saya almarhum, walau meninggal sebagai orang Portugis bukan orang Indonesia.

Waktu kecil, keluarga saya keluarga seminaris, kakek saya dosen di seminari, ayah saya sampai seminari tinggi di Baukau dan pulang tidak jadi pastor, malah jadi camat dan jadi bupati. Saya waktu kecil mau jadi pastor sampai SMP. Kemudian ketemu dengan teman-teman yang kebetulan dari sini, anak- anak polisi yang dari NTT.

Anak-anak polisi sekolah dengan saya dan saya ubah mau jadi polisi. Tapi ada cerita lucu, waktu masih di SDK Balidi, itu jauh sekali dari rumah karena kami tinggal di Farol, di SDK Balidi punya susteran. Kami harus jalan kaki selama empat tahun ke sekolah. Dalam perjalanan selalu berkelahi dan berkelahi dengan anak-anak polisi di Gargado. Dulu ada perumahan polisi di Gargado dan Kiwal, teman-teman saya anak polisi Kiwal dan kami berkelahi dengan anak polisi Gargado.

Ayah saya jadi benci juga, ngapain anak saya jadi polisi kok berkelahi terus. Tapi saya masih ingat, ketika masih SD, saya dikasih hadiah oleh mama saya yakni tas gambar UGM. Jadi kakak saya dapat yang UI, adik saya Unair dan dapat ITB dan saya yang di UGM.

Dari situ saya bayangkan kalau sudah besar mau kuliah di UGM dan saat itu saya bercita-cita mau jadi dokter. Saya sempat sekolah SMA di Bali di SMA Swastiastu dan saya mematok harga bahwa saya harus jadi dokter. Saya mulai belajar dan lebih banyak di A2 dan saya lulus dan masuk di UGM walaupun tidak termasuk mahasiswa brilian dan tidak termasuk mahasiswa terancam DO.

Apakah kuliah di kedokteran harus orang pintar?
Tidak juga. Saya punya teman yang mau jadi dokter sama seperti saya, kemudian ada dua orang yang kemudian tidak mau jadi dokter, satu malah menjadi ahli IT dan melupakan idealismenya sebagai dokter.

Yang satunya jadi pengusaha. Jadi sebenarnya bukan masalah pintar atau tidak pintar, tetapi profesi dokter atau profesi sebagai dunia medis lebih seperti gurulah. Ada panggilan. Jadi seperti pastor atau suster musti ada panggilan di dalam untuk bisa mengabdi. Karena kalau tidak seperti itu tidak akan bisa, karena walau dia lulus cum laude dengan IP 4,00 tetap tidak akan menjadi dokter yang baik.

Dalam perjalanannya, ada dokter yang bisa menjadi peneliti (saintis), dia pintar sekali tetapi hanya untuk menjadi peneliti, untuk mendiagnosis penyakit dia tidak bisa karena kemampuan komunikasi putus. Nah, ini yang jangan sampai terjadi dalam profesi dokter. Kalau saya tahu diri saya adalah saintis, jangan berhubungan dengan pasien, karena nanti semua pasien saya anggap seperti angka-angka penelitian saya (just only number). Nah, kalau pasien hanya number repot, semua bersifat kelinci percobaan terus. Wah ini susah. (apolonia dhiu/alfred dama)




Curriculum Vitae:
Nama : Octavio A.J.O. Soares, dr., M.Kes.
Tempat Tanggal Lahir 20 Juni 1969
Status : Menikah
Istri : Jaine Elisabeth Kamagi O.S.
Anak 4 orang :
- Zeze O. Soares,
- Deia O. Soares,
- Zsazsa O. Soares
- Bebe O. Soares
Pekerjaan : - Dokter Umum, praktek di Klinik Keluarga "Timor Medika"
- Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STiKes) CHMK, Kupang



POS Kupang Minggu 6 Juni 2010, hal 03 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda